Chapter Thirteen
Halte, dan Hari Jumat
POV: Danan
Hujan mulai jam delapan lewat dua puluh, waktu Kiara sedang mengeringkan gelas kedua.
Bukan hujan biasa. Hujan yang datangnya sekaligus, yang bunyinya di jendela lantai dua belas terdengar seperti seseorang menumpahkan kerikil dari ember.
Kiara berhenti mengelap dan menoleh ke jendela.
“Wah.”
“Ya.”
“Aku bawa payung nggak, ya.”
“Tidak.”
Dia menoleh ke arahku.
“Anda datang jam tujuh kurang dua,” kataku, “dan tangan Anda kosong kecuali tas. Tidak ada payung.”
Kiara menatapku beberapa saat dengan ekspresi yang tidak bisa kubaca — dan aku sudah cukup lama tidak berusaha membaca ekspresi orang, jadi mungkin itu bukan salahnya.
“Kamu inget kayak gitu?”
“Saya ingat semua,” kataku, dan mengambil piring terakhir dari rak.
Jam sembilan lewat sepuluh, hujannya belum berkurang.
Aplikasi taksi tidak menemukan satu pun mobil. Kiara mencoba tiga kali, lalu meletakkan ponselnya di konter dengan cara yang agak terlalu keras.
“Aku naik bus aja.”
“Sekarang?”
“Halte-nya deket kok, di seberang.” Dia sudah mengambil tas. “Bus terakhir jam sepuluh.”
“Hujan deras.”
“Iya, makanya buru-buru.”
Ada tiga hal yang bisa kulakukan.
Yang pertama: menawarkan mengantar dengan mobilku. Aku menghitung waktunya di kepala — enam menit ke basement, dua puluh delapan menit ke rumahnya dengan hujan seperti ini. Praktis, efisien, selesai.
Aku tidak melakukannya.
Bukan karena sopan. Karena aku tahu apa artinya seorang perempuan yang bekerja dengan kontrak, di malam hari, masuk ke dalam mobil kliennya di ruang bawah tanah tanpa ada satu pun orang yang tahu. Aku tidak peduli bahwa aku tahu diriku tidak berbahaya. Yang penting bukan apa yang aku tahu tentang diriku.
Yang kedua: membiarkannya pergi sendiri.
Aku juga tidak melakukan itu.
“Saya antar sampai halte,” kataku, dan mengambil payung dari belakang pintu.
Payung itu untuk satu orang.
Aku menyadarinya di tengah jalan menyeberang, sekitar sepuluh langkah dari trotoar, ketika air sudah masuk ke bahu kiriku dan bahu kanan Kiara sama basahnya.
Kami berjalan miring, terlalu dekat dan tetap tidak cukup dekat, dan dua kali bahu kami bertabrakan dan dua kali kami sama-sama minta maaf, dan di tabrakan ketiga tidak ada satu pun dari kami yang mengatakan apa-apa.
Haltenya kosong. Atapnya seng, bocor di dua tempat, dan bangku besinya basah di ujung.
Kiara duduk di bagian yang kering. Aku menutup payung dan berdiri.
“Duduk,” katanya.
“Basah.”
“Ya kan tinggal—“ Dia berhenti. Melihat sisa bangku. Sisa bangku itu selebar mungkin tiga puluh sentimeter. “Oh.”
“Saya berdiri saja.”
“Danan, bus-nya empat puluh menit lagi.”
“Ya.”
“Kamu mau berdiri empat puluh menit.”
“Ya.”
Dia menatapku. Lalu dia menggeser dirinya ke pinggir, ke bagian yang basah, tanpa mengatakan apa-apa, dan menepuk bangku di sebelahnya.
Rok gaunnya langsung menyerap air. Aku melihatnya terjadi. Warnanya berubah lebih gelap dalam dua detik.
“Kiara—“
“Duduk.”
Aku duduk.
Angin berbalik arah sekitar sepuluh menit kemudian.
Sebelumnya hujan masuk dari sisi kanan halte, yang mana tidak masalah karena kami duduk di sisi kiri. Lalu anginnya berputar, dan air mulai masuk menyamping, langsung ke arah kami.
Kiara memeluk dirinya sendiri. Sekali. Cepat. Lalu berhenti, karena dia jelas-jelas tidak ingin terlihat kedinginan.
Aku melihat itu terjadi dari sudut mata.
Solusinya jelas dan ada di badanku. Jaket. Aku memakainya sejak keluar apartemen.
Aku mengangkat tangan ke risleting.
Lalu aku berhenti.
Aturan dua. Tidak menerima apa pun di luar tarif. Tidak uang, tidak barang, tidak jasa.
Aku sudah dua kali membuatnya melanggar aturan itu. Dua kali aku mendorong kotak makan sepuluh sentimeter di atas konter dan berkata terserah Anda, dan dua kali dia mengambilnya, dan aku tahu — aku tahu betul, meskipun aku tidak menunjukkannya — bahwa yang kulakukan itu bukan menawarkan. Itu menaruh beban di depan orang lalu berpura-pura tidak ikut campur soal apakah dia mengangkatnya atau tidak.
Jaket di bahu itu bukan kotak makan. Jaket di bahu itu terlihat dari luar. Jaket di bahu itu masuk ke laporan.
Aku menurunkan tangan.
Dan lalu aku melakukan satu-satunya hal lain yang bisa kupikirkan.
Aku berdiri, memindahkan diriku ke sisi kanan bangku, dan duduk lagi — kali ini di antara Kiara dan arah datangnya angin.
Punggungku basah dalam sepuluh detik.
Kiara menoleh pelan.
“Kamu ngapain?”
“Duduk.”
“Kamu pindah ke sisi angin.”
“Bangkunya lebih kering di sini.”
“Bangkunya basah kuyup di situ, Danan.”
“Saya sudah basah.”
Dia menatapku. Air menetes dari ujung rambutnya yang lepas dari ikatan, dan riasan di bawah matanya sudah luntur sedikit di satu sisi, dan dia tidak tahu itu.
“Kenapa nggak kasih jaket aja,” katanya pelan.
“Aturan dua.”
Kiara menutup mata.
Lalu dia mengeluarkan bunyi — bukan tawa, bukan tangis, sesuatu yang keluar lewat hidung dan berhenti setengah jalan — dan menunduk sampai dahinya hampir menyentuh lututnya.
“Apakah saya salah?” tanyaku.
“Nggak.” Suaranya teredam. “Nggak, kamu bener. Kamu bener banget. Itu yang bikin—“
Dia tidak menyelesaikan kalimatnya.
Kami duduk di sana tiga puluh dua menit lagi. Punggungku basah seluruhnya. Kami hampir tidak bicara.
Dua kali dia bergeser sedikit ke arahku, dan dua kali dia berhenti sekitar lima sentimeter sebelum lengan kami bersentuhan, dan aku merasakan kedua-duanya dengan jelas yang tidak bisa kujelaskan secara teknis.
Busnya datang jam sembilan lewat lima puluh tiga.
“Rabu depan,” kataku.
“Iya.”
Dia naik. Pintu tertutup. Bus itu berjalan sekitar empat meter, lalu berhenti karena lampu merah, dan aku bisa melihatnya dari halte — duduk di jendela ketiga, menghadap ke depan, tidak menoleh.
Lalu, sekitar dua detik sebelum bus itu berjalan lagi, dia menoleh.
Kami saling melihat kira-kira satu setengah detik.
Lalu bus itu pergi.
Aku pulang, mandi air panas, dan menemukan bahwa aku tidak bisa berhenti memikirkan lima sentimeter itu.
Pesan itu masuk hari Jumat, pukul dua puluh satu lewat empat belas.
Bukan lewat aplikasi.
Nomor tidak dikenal, tapi aku tahu nomornya milik siapa sebelum membuka pesannya, dengan cara yang tidak masuk akal dan tidak akan kucoba jelaskan.
+62 812 xxx Halo. Ini Kiara. Maaf ganggu. Yang tepung buat gorengan itu yang mana ya? Aku lagi di Mart dan aku lupa. Yang biru apa yang merah?
Aku duduk di sofa dengan ponsel di tangan.
Ada dua hal yang kupahami sekaligus, dan yang kedua butuh waktu lebih lama.
Yang pertama: dia mendapatkan nomorku dari kuitansi pembayaran. Agensi mencantumkan kontak klien untuk keadaan darurat. Halaman terakhir, cetakan kecil.
Yang kedua: Aturan tiga. Tidak menghubungi klien di luar jam kerja. Komunikasi hanya melalui aplikasi.
Aku menatap pesan itu selama mungkin empat puluh detik.
Perempuan ini menanggung sesuatu. Aku tidak tahu apa. Aku tahu ada kantor koperasi, dan ada keranjang belanja berisi tiga barang, dan ada lingkaran di suatu tempat di hidupnya yang tidak pernah dia sebutkan.
Dan malam ini dia berdiri di depan rak tepung di Mart dan mengambil risiko mendapat teguran dari tempatnya bekerja —
untuk menanyakan tepung.
Aku mengetik:
Yang biru. Protein rendah.
Aku menatapnya. Menghapusnya.
Yang biru. Kemasan biru itu protein rendah, untuk gorengan dan kue. Yang merah protein tinggi, untuk roti. Kalau tidak ada yang biru, jangan pakai yang merah — campur terigu serbaguna dengan tepung beras 3:1, hasilnya lebih renyah dan tidak keras waktu dingin.
Kirim.
Lalu aku duduk, dan menyadari bahwa aku baru saja mengirim ceramah tepung kepada seseorang yang berdiri di minimarket, dan bahwa balasan yang seharusnya adalah terima kasih dan selesai.
Tiga titik muncul.
Hilang.
Muncul lagi.
Kamu ngetik ini semua dalam 40 detik
Ya.
Kamu hafal?
Ya.
Danan.
Ya.
Kamu lagi ngapain
Aku menatap tiga kata itu.
Yang benar adalah: saya sedang duduk di sofa dan sudah tiga puluh menit tidak melakukan apa pun.
Aku mengetik:
Tidak sedang apa-apa.
Sama
Anda sedang di Mart.
Iya tapi aku udah selesai belanja dari 10 menit yang lalu
Aku masih berdiri di lorong tepung
Aku membaca kalimat itu tiga kali.
Kami saling berkirim pesan selama satu jam empat puluh menit.
Tidak ada satu pun yang penting. Aku akan mencatat itu dengan jujur karena kalau ada yang bertanya, aku tidak akan bisa menyebutkan satu pun kalimat yang bermakna dari seluruh percakapan itu.
Dia bertanya kenapa orang menyebut telur “telur ayam negeri” padahal negerinya tidak jelas negeri mana. Aku menjelaskan. Dia mengirim foto rak telur. Aku bilang yang di sudut kiri sudah retak dan dia harus memberi tahu kasirnya. Dia bilang dia tidak mau jadi orang yang begitu. Aku bilang orang yang begitu adalah alasan kenapa ada yang tidak membawa pulang telur retak.
Dia mengirim tiga huruf: ”ya ampun”.
Lalu dia memberi tahu kasirnya. Lalu dia mengirim laporan hasilnya dalam empat pesan berturut-turut.
Jam sebelas dia mengirim:
Aku pulang ya
Baik.
Danan
Ya.
Makasih ya
Aku menatap layar.
Terima kasih untuk apa, adalah pertanyaan yang jelas dan wajar dan seharusnya kuketik.
Aku tidak mengetiknya. Aku sudah tahu apa jawabannya, dan aku juga tahu bahwa kalau aku bertanya, dia harus mengucapkannya, dan kalau dia mengucapkannya maka salah satu dari kami harus mengakui bahwa sesuatu sedang terjadi.
Sama-sama.
Lalu, karena aku tidak bisa menahannya:
Hati-hati di jalan. Trotoar di gang Anda rusak di dekat tiang listrik ketiga.
Tiga titik muncul dan hilang sekitar empat kali.
Lalu:
Kamu inget itu?
Saya ingat semua.
Aku menaruh ponsel jam sebelas lewat dua puluh.
Ruangan gelap. Aku bahkan tidak sadar kapan lampunya berhenti cukup — aku duduk di sofa dengan satu lampu berdiri di sudut menyala, sisanya mati, dan aku sudah duduk di posisi yang sama selama hampir dua jam.
Aku berdiri. Ke dapur. Membuka laci bawah lemari.
Mengeluarkan map.
Di bagian belakang ada selembar kertas yang kusut dan sudah kuluruskan, dengan kolom NAMA MASAKAN yang isinya dicoret dua kali sampai tintanya menekan bekas.
Aku mengeluarkan lembar kosong baru.
Dan di kolom paling atas, aku menulis:
JUMAT
Aku menatapnya.
Aku tidak mencoretnya.
Aku memasukkannya ke dalam map, di paling depan, di depan lembar yang bertuliskan RABU — lalu berhenti, mengambilnya lagi, dan menaruhnya di belakang lembar RABU, karena urutannya harus benar.
Lalu aku mendorong lacinya sampai bunyi klik.
Dan berdiri di dapur yang gelap dengan tangan masih di gagang laci.
Kalau aku jujur — dan aku sedang berusaha jujur, karena semua yang terjadi setelah ini akan lebih mudah dipahami kalau aku jujur di bagian ini — malam Jumat itu adalah malam pertama aku menyadari bahwa aku sedang membangun sesuatu.
Aku selalu membangun sesuatu. Itu pekerjaanku. Aku tidak bisa berhenti.
Yang tidak kusadari, dan tidak akan kusadari sampai lima bulan kemudian di tangga darurat gedung ini,
adalah bahwa aku sedang membangunnya sendirian lagi.
- 1 Klien yang Tidak Meminta Apa-apa
- 2 Denah Rasa
- 3 Tidak Ada Garam di Meja Ini
- 4 Lima Aturan
- 5 Toleransi
- 6 Porsi Untuk Dua Orang
- 7 Lorong Bumbu, Pukul 22.40
- 8 Di Luar Jadwal
- 9 Nasi Kuning untuk Enam Orang
- 10 Sabtu
- 11 Pukul Lima Pagi di Palmerah
- 12 Tarif Per Jam
- 13 Halte, dan Hari Jumat reading
- 14 Lantai Dua Puluh, Tanpa Listrik
- 15 Ibu Saya Datang Hari Rabu
- 16 Aturan yang Tidak Ditulis di Mana Pun
- 17 Kampanye
- 18 Data
- 19 Rabu Ketiga Puluh Satu
- 20 Penyesuaian Layanan
- 21 Enam Belas Karakter
- 22 Rabu yang Kosong
- 23 Enam Kali
- 24 Perempuan yang Punya Nama di Undangan
- 25 Tangga Darurat
- 26 Kamu Suka Apa
- 27 Yang Pertama Kupilih
- 28 Lorong Bumbu, Lagi
- 29 Yang Kedua
- 30 Tiga Menit
- 31 Seratus Tiga Pertanyaan
- 32 Kelapa Sangrai
- 33 Aturan Dapur
- 34 Yogyakarta
- 35 Tambahin Sesukamu
- 36 Kamu Mau Makan Apa