← Apartemen 12B

Chapter Thirty Three

Aturan Dapur

POV: Danan


“Aku mau masak buat kamu.”

Kami sedang di mobil, hari Minggu siang, dalam perjalanan pulang dari Palmerah. Ada empat tas kain di jok belakang dan tangan kami berdua bau ikan.

“Baik,” kata saya.

“Danan.”

“Ya sudah.”

“Kamu belum denger syaratnya.”

Saya menyalakan sein.

“Sebutkan.”

“Satu.” Dia mengangkat jari telunjuk. “Kamu nggak boleh masuk dapur.”

“Kiara, itu dapur saya.”

“Dua.” Jari kedua. “Kamu nggak boleh ngomong.”

“Bagaimana kalau ada yang berbahaya?”

“Kamu boleh ngomong kalau ada api yang bukan di kompor.”

“Itu terlalu terlambat. Kalau minyak sudah berasap di atas dua ratus derajat, jarak antara berasap dan menyala itu—“

Tiga,” katanya, lebih keras. “Kamu duduk di bangku jendela. Menghadap jendela. Membelakangi dapur.”

Saya berhenti di lampu merah dan menoleh.

“Kamu serius.”

“Aku serius banget.”

“Kenapa membelakangi?”

Kiara menatap saya dengan wajah yang sepenuhnya datar.

“Karena kalau kamu ngeliat,” katanya, “muka kamu ngomong.”


Saya duduk di bangku jendela selama satu jam empat puluh menit menghadap ke luar.

Saya ingin mencatat bahwa itu adalah salah satu pengalaman fisik paling sulit dalam hidup saya, dan saya pernah menahan gambar kerja selama tiga puluh enam jam tanpa tidur.

Menit ke sebelas. Saya mendengar bunyi bawang masuk ke wajan.

Wajannya belum panas. Saya tahu karena bunyinya salah — bawang yang masuk ke minyak panas berbunyi tajam dan langsung, bawang yang masuk ke minyak hangat berbunyi seperti orang menuang air ke pasir.

Saya menutup mata.

Menit ke tujuh belas. Bau gosong.

Bukan gosong yang parah. Gosong bawang putih, yang terjadi kalau bawang putih dimasukkan bersamaan dengan bawang merah, padahal bawang putih matang empat puluh detik lebih cepat.

Saya membuka mulut.

Saya menutupnya lagi.

Menit ke dua puluh tiga. Bunyi tutup panci.

Dia menutup pancinya. Yang mana, tergantung apa yang sedang dia masak, bisa berarti dia sedang merebus sesuatu — atau bisa berarti dia baru saja mengunci uap ke dalam sesuatu yang seharusnya menguap.

Menit ke tiga puluh satu. Bunyi sesuatu jatuh, lalu satu kata yang tidak akan saya tuliskan di sini.

“Kamu tidak apa-apa?”

“JANGAN NOLEH.”

“Saya tidak menoleh. Saya bertanya.”

“Aku nggak apa-apa!”

Menit ke empat puluh empat. Diam total selama sembilan menit.

Diam total di dapur selama sembilan menit hanya berarti dua hal: sesuatu sedang direbus dengan benar, atau seseorang sedang berdiri di tengah dapur tidak tahu harus apa.

Saya duduk menghadap jendela lantai dua belas, menatap kota, dengan kedua tangan di lutut.

Menit ke lima puluh dua, saya melanggar aturan dua.

“Kiara.”

“Apa.”

“Kalau santannya sudah pecah, itu masih bisa diselamatkan.”

Hening.

“Danan.”

“Ya.”

“Kamu tau dari mana santannya pecah?”

“Baunya berubah di menit ke empat puluh sembilan.”

Hening lebih lama.

“Aku benci kamu.”

“Kecilkan apinya sampai paling kecil, ambil dua sendok santan kental yang belum masuk, aduk pelan searah, jangan berhenti—“

DANAN.

“Maaf.”


Makanannya jadi jam delapan lewat sepuluh.

Saya diizinkan berbalik.

Di meja jati dua meter sepuluh ada dua piring — dua piring keramik putih tulang buatan Bandung, satu di sisi ini dan satu di sisi seberang, di mana ada kursi baru bersandaran tangan yang datang tiga hari lalu.

Di tengah ada satu mangkuk besar berisi sesuatu berwarna kuning kecokelatan.

Kiara berdiri di sebelahnya dengan rambut lepas dari ikatan, keringat di pelipis, dan bekas gosong di lengan bawah kirinya.

Dan kacamata.

Dia memakai kacamata. Di unit 12B. Untuk pertama kalinya dalam sebelas bulan.

Saya melihatnya dan harus berhenti berjalan selama satu setengah detik.

“Kenapa?”

“Tidak ada.”

“Danan, kalau kamu mau ngomong sesuatu tentang masakannya—“

“Bukan tentang masakannya.”

Dia menatap saya dengan curiga, dan mendorong kacamatanya naik dengan punggung jari telunjuk, dan sepenuhnya tidak menyadari apa yang baru saja dia lakukan.

“Duduk,” katanya.


Rasanya buruk.

Saya akan menuliskannya dengan jujur karena saya tidak akan mulai berbohong soal makanan sekarang.

Bawang putihnya gosong dan pahitnya masuk ke seluruh kuah. Santannya pecah dan tidak diselamatkan, jadi ada butiran minyak yang terpisah di permukaan. Ayamnya kurang matang di dekat tulang dan terlalu matang di bagian luar, yang berarti apinya terlalu besar sepanjang waktu. Garamnya kurang sekitar setengah sendok teh.

Saya menghitung lima kesalahan struktural dalam tiga suapan pertama.

Kiara duduk di kursi seberang dengan kedua tangan di pangkuan dan tidak menyentuh piringnya sama sekali.

“Gimana?”

Saya menelan.

Dan saya mengerti, dengan sangat jelas, bahwa apa pun yang saya katakan dalam empat detik berikutnya akan jadi salah satu dari dua hal.

Kalau saya bilang enak, saya berbohong, dan dia akan tahu — dia selalu tahu, dia sepuluh tahun menerjemahkan orang — dan lebih buruk lagi: dia akan tahu bahwa saya berpikir dia butuh dilindungi dari kenyataan.

Kalau saya menyebut lima kesalahan struktural itu, saya sedang mengoreksi hal pertama yang dia buat untuk saya dengan tangannya sendiri.

Ada pilihan ketiga, dan saya menemukannya di detik ketiga.

“Boleh saya jawab pakai pertanyaan?” kata saya.

“...Boleh.”

“Kamu mau tahu pendapat saya, atau kamu mau saya makan?”

Kiara menatap saya.

Dan matanya langsung basah, dan dia menutup wajahnya dengan kedua tangan, dan dia berkata dari balik telapak tangan:

“Aku mau kamu makan.”

Saya makan.


Saya menghabiskan seluruhnya.

Dua piring penuh, karena resepnya — dan dia mengatakan ini sambil menyendokkan yang kedua ke piring saya tanpa bertanya — resepnya memang porsi dua orang, dan dia tidak bisa membaginya jadi setengah.

Saya menghabiskannya sampai bersih.

Tidak ada yang tersisa di pinggir. Tidak ada cincin apa pun.

Dan ketika saya meletakkan sendok, Kiara duduk di kursi seberang dengan kedua tangan di pangkuan dan bahunya turun — satu sentimeter, mungkin kurang — dan dia menghela napas seperti orang yang baru saja meletakkan sesuatu yang berat.

Saya melihatnya terjadi.

Dan saya mengerti, sekitar delapan bulan terlambat, apa yang selama tiga puluh satu Rabu saya lakukan di kursi ini dan kenapa saya tidak pernah bisa menjelaskannya kepada siapa pun.

Bukan tentang makanan.

Tentang seseorang yang membuat sesuatu dengan tangannya sendiri, lalu duduk dan melihatnya sampai ke tujuan.

“Danan.”

“Ya.”

“Kamu nangis?”

“Tidak.”

“Danan.”

“Bawang putihnya gosong,” kata saya. “Itu menyengat.”

Dia melempar serbet ke arah saya.


Kami mencuci piring berdua.

Dia yang mencuci. Saya yang mengeringkan, karena saya kalah dalam sebuah perdebatan yang tidak akan saya rekonstruksi di sini.

“Kamu megang gelas dari dalem,” katanya.

“Apa?”

“Jari kamu masuk ke dalem gelas.” Dia tidak menoleh. “Nanti ada bekas di bagian yang diminum.”

Saya berhenti.

“Itu kalimat saya.”

“Iya.”

“Rabu kedua.”

“Iya.” Dia menutup keran. “Kamu bilang itu gelas kamu.”

“Itu memang gelas saya.”

“Itu bukan lelucon?”

“Itu lelucon,” kata saya.

Kiara berbalik dan menatap saya dengan mulut sedikit terbuka.

“Sebelas bulan,” katanya. “Sebelas bulan aku mikirin itu.”

“Saya tahu.”

“Kamu tau?”

“Kamu tersedak,” kata saya. “Setengah detik setelah saya mengucapkannya. Saya menghitungnya.”


Kami duduk di bangku jendela jam sepuluh.

Seratus empat puluh sentimeter. Punggung bersandar di dua sisi yang berlawanan, kaki bersilang di tengah.

Kota di luar menyala penuh. Tidak ada blok yang mati malam itu.

“Danan.”

“Ya.”

“Ini pas banget.”

“Ya.”

“Kamu ngukur ini pake bantal.”

“Dua kali.”

“Malem yang beda.”

“Ya.”

Dia diam beberapa saat.

“Aku nggak cemburu,” katanya. “Aku mau kamu tau itu. Aku nggak cemburu sama dia.”

Saya menatap kaki kami yang bersilang di tengah bangku.

“Aku cuma—“ Dia berhenti. Mencoba lagi. “Aku duduk di sini dan aku mikir, orang ini ngukur bangku pake bantal dua kali di malem yang beda buat seseorang, dan orang itu bukan aku.”

“Kiara—“

“Aku belum selesai.” Dia menarik napas. “Dan terus aku mikir: ya udah. Emang bukan aku. Waktu itu.”

Dia mengangkat wajah.

“Tapi yang duduk di sini sekarang aku.”


Saya tidak tahu siapa yang bergerak lebih dulu.

Saya ingin mengatakan dia, karena itu akan lebih jujur dengan seluruh cerita ini, tapi saya betul-betul tidak tahu.

Kaki kami tidak lagi bersilang di tengah. Kacamatanya ada di ambang jendela — dia melepasnya sendiri kali ini, dan melipatnya, dan menaruhnya di sana tanpa melihat, dan itu entah kenapa jauh lebih berat daripada kalau saya yang melepasnya.

Punggungnya di dada saya. Tangan saya di bawah tulang rusuknya, di atas kaus, dan saya bisa merasakan napasnya berubah setiap kali saya menggerakkan ibu jari.

Rambutnya bau bawang gosong dan sabun.

“Danan.”

“Ya.”

“Kamu gemeteran.”

“Ya.”

“Kenapa?”

Saya menyembunyikan wajah saya di rambutnya karena saya tidak sanggup mengatakannya sambil melihat ke arah mana pun.

“Karena saya sudah tiga tahun tidak disentuh siapa pun,” kata saya.

Dia berhenti bergerak.

Lalu dia berbalik — sepenuhnya, sampai menghadap saya — dan memegang wajah saya dengan kedua tangan, dan tidak menciumnya.

Dia cuma memegangnya. Selama waktu yang lama.

“Oke,” katanya pelan. “Oke.”


Kami tidak melanjutkan malam itu.

Bukan karena ada yang menghentikan. Tidak ada satu pun kalimat yang diucapkan tentang itu.

Kami cuma berhenti di suatu titik, sama-sama, tanpa dibicarakan — dan dia menarik selimut tipis dari sandaran sofa, dan menariknya ke atas kami berdua di bangku selebar seratus empat puluh sentimeter, dan meletakkan kepalanya di dada saya.

“Aku ngantuk banget,” katanya.

“Tidur.”

“Kamu bakal pegel.”

“Ya.”

“Kamu nggak bakal mindahin aku ke kamar kan.”

“Tidak.”

“Kenapa?”

“Karena kamu belum bilang kamu mau di kamar,” kata saya.

Dia tertawa ke dada saya, satu kali, sudah setengah tidur.

“Bener banget,” katanya.

Dia tidur empat menit kemudian.


Saya tidak tidur sampai jam tiga.

Bukan karena tidak bisa. Karena saya tidak mau.

Ada seorang perempuan tidur di bangku jendela yang saya ukur delapan tahun lalu dengan bantal dan meteran, dua kali, di malam yang berbeda, untuk seseorang yang pada akhirnya tidak pernah duduk di sana.

Di ambang jendela ada kacamata dengan minus dua setengah dan kiri dua tujuh puluh lima.

Di meja jati dua meter sepuluh ada dua piring kosong dan satu kursi baru bersandaran tangan.

Di ujung kanan meja itu, di tempatnya sejak sebelas minggu lalu, ada satu tempat garam keramik kecil yang belum pernah saya sodorkan kepada siapa pun.

Saya menatap benda itu cukup lama dalam gelap.

Lalu saya menutup mata.