Chapter Thirty Four
Yogyakarta
POV: Kiara
Surelnya masuk hari Selasa, jam sebelas siang, waktu aku sedang mengerjakan terjemahan kontrak asuransi yang honornya seperlima dari yang dulu.
Subjeknya: Hasil Seleksi — Program Residensi Penerjemah Sastra 2026.
Aku menatapnya selama sekitar sepuluh detik sebelum membukanya.
Aku mendaftar tujuh minggu lalu, malam-malam, setelah menulis baris kelima di halaman berjudul AKU SUKA APA. Baris kelimanya begini:
Nyari padanan kata sampe ketemu yang pas.
Aku menulisnya jam dua pagi setelah menghabiskan empat puluh menit untuk satu kalimat dalam kontrak asuransi yang tidak akan dibaca siapa pun kecuali pengacara, dan menyadari bahwa empat puluh menit itu adalah bagian paling menyenangkan dari hari itu.
Aku mendaftar tanpa memberi tahu siapa pun. Termasuk Danan.
Aku bahkan tidak memberi tahu Nadia.
Isinya:
Diterima.
Satu tahun. Yogyakarta. Menerjemahkan satu novel penuh dari bahasa Inggris — novel yang sudah kubaca dua kali sebelum aku tahu ada program ini, novel yang membuatku menangis di kereta tahun 2019 — dengan pendampingan seorang penerjemah senior yang namanya kutahu dari halaman kredit buku-buku yang kubaca waktu kuliah.
Ada uang saku bulanan. Jumlahnya kecil, tapi ada. Ada tempat tinggal.
Mulai empat puluh sembilan hari lagi.
Aku membaca surel itu delapan kali.
Lalu aku menutup laptop, dan berjalan ke dapur, dan berdiri di sana memegang konter dengan dua tangan selama sekitar tiga menit.
Dan lalu aku menangis, berdiri, di dapur kontrakan yang catnya hijau, jam sebelas lewat lima belas pagi.
Bukan karena sedih.
Karena aku dua puluh sembilan tahun dan aku baru saja menginginkan sesuatu dan mendapatkannya, dan aku tidak punya satu pun mekanisme di dalam badanku untuk menangani itu.
Aku tidak memberitahunya selama empat hari.
Aku ingin mencatat itu dengan jujur, karena itu bukan hal yang bagus dan aku tidak akan berpura-pura itu hal yang bagus.
Aku menyimpannya empat hari. Kami bertemu tiga kali dalam empat hari itu. Kami memilih dua benda di unit 12B — gorden ruang tengah (ganti, warna lebih terang, keputusan aku) dan lampu meja di ruang kerja (tetap, keputusan dia, dan aku setuju karena lampunya memang bagus).
Dan sepanjang tiga pertemuan itu ada satu surel di ponselku yang isinya satu tahun di kota lain, dan aku tidak mengatakannya.
Hari keempat, hari Sabtu, dia menjemputku jam setengah lima pagi untuk ke Palmerah, dan di dalam mobil yang masih gelap dia berkata:
“Ada sesuatu.”
“Nggak ada.”
“Kiara.”
“Kok kamu—“
“Empat hari,” katanya, sambil menyalakan sein. “Kamu memeriksa ponsel dua puluh tiga kali hari Kamis. Saya menghitungnya. Biasanya kamu delapan sampai sebelas.”
Aku menatap ke luar jendela.
“Kamu ngitung berapa kali aku liat hape.”
“Saya menghitung semuanya.”
Dan lalu dia mengatakan sesuatu yang membuat kerongkonganku menutup.
“Saya tidak akan menebak isinya,” katanya. “Saya cuma memberi tahu kamu bahwa saya melihat ada sesuatu, supaya kamu tahu kamu tidak perlu berpura-pura tidak ada apa-apa kalau kamu belum siap cerita.”
Dia menyalakan lampu sein yang lain.
“Kalau kamu belum siap, saya tidak akan tanya lagi.”
Aku menutup mata.
“Aku diterima,” kataku.
Aku menceritakannya di parkiran Pasar Palmerah, jam lima kurang sepuluh, dengan mesin mobil sudah mati dan orang-orang lewat membawa keranjang di luar jendela.
Program residensi. Satu tahun. Yogyakarta. Novel itu — dan aku menyebutkan judulnya, dan aku menyebutkan bahwa aku membacanya di kereta tahun 2019 dan menangis di gerbong.
Danan mendengarkan sampai selesai tanpa memotong satu kali pun.
Lalu dia diam.
Dia diam cukup lama sampai aku mulai mengisi sendiri, seperti biasa, seperti yang selalu kulakukan.
“Aku belum jawab,” kataku cepat. “Aku belum konfirmasi. Batas waktunya masih dua minggu lagi, dan sebenernya aku juga mikir mungkin aku bisa—“
“Kiara.”
Aku berhenti.
“Kamu mau apa?” katanya.
Dan aku marah.
Aku tidak menduganya. Sungguh. Aku duduk di kursi penumpang mobil itu dan aku merasakan sesuatu yang panas naik dari dada ke tenggorokan, dan yang keluar dari mulutku adalah:
“Kamu bisa nggak sih sekali aja nggak nanya?”
Danan menoleh.
“Sekali aja,” kataku, dan suaraku naik dan aku tidak menghentikannya. “Sekali aja, Danan. Bilang aja sesuatu. Bilang ‘jangan pergi’. Bilang ‘pergi aja, aku tunggu’. Bilang ‘aku ikut’. Bilang apa pun.”
“Kamu bilang saya tidak boleh mengisi.”
“AKU TAU AKU BILANG GITU.”
Saya mendengar suaraku sendiri memantul di dalam mobil.
Ada bapak-bapak lewat di depan kap mobil dan menoleh sebentar.
Aku menutup wajah dengan kedua tangan.
“Maaf,” kataku.
“Tidak apa-apa.”
“Nggak, itu—“ Aku menurunkan tangan. “Aku barusan marah ke kamu karena kamu ngelakuin persis yang aku minta.”
“Ya.”
“Kamu nggak marah?”
“Tidak.”
“Kenapa?”
Danan menatap setir.
“Karena saya juga ingin sekali mengatakan salah satu dari empat kalimat itu,” katanya. “Sejak dua menit yang lalu. Saya sudah menyusun ketiganya.”
“Terus kenapa kamu nggak—“
“Karena kalau saya bilang duluan,” katanya, “kamu akan menekuk.”
Aku menoleh.
“Apa?”
Danan menghadap ke depan, ke arah pagar pasar, dengan kedua tangan masih di setir mobil yang mesinnya sudah mati.
“Kalau saya bilang ‘jangan pergi’,” katanya, “kamu tidak akan pergi. Saya tahu itu. Kamu akan bilang tidak apa-apa, kamu akan bilang masih ada tahun depan, dan kamu akan mempercayainya sendiri selama kira-kira delapan bulan.”
Dia menelan.
“Dan kalau saya bilang ‘pergi saja, saya tunggu’, kamu akan pergi — tapi kamu akan pergi sebagai orang yang diizinkan. Bukan sebagai orang yang memilih.”
Dia menoleh.
“Dan kalau saya bilang ‘saya ikut’, saya akan mengambil satu tahun yang seluruhnya milik kamu dan menaruh nama saya di atasnya. Lagi.”
Aku tidak bisa bergerak.
“Saya punya jawaban, Kiara,” katanya. “Saya punya jawaban yang sangat kuat dan saya sudah tahu bentuknya sejak dua menit lalu, dan saya akan mengatakannya.”
“Kapan?”
“Setelah kamu mengatakan punya kamu.”
Kami tidak masuk ke pasar hari itu.
Kami duduk di parkiran Palmerah selama satu jam lima belas menit sampai matahari naik, dan sebagian besar waktu itu aku tidak bicara, dan dia tidak mengisi satu detik pun.
Aku memikirkan Mbah Sri.
Aku memikirkan uang.
Aku memikirkan bahwa aku baru saja punya sesuatu yang bagus setelah tiga tahun, dan bahwa meninggalkannya selama satu tahun untuk pergi ke kota lain adalah hal paling tidak masuk akal yang bisa dilakukan orang waras.
Dan lalu aku memikirkan halaman di buku catatan bekas terjemahan itu.
Sebelas baris. Sekarang enam belas.
Baris kelima: nyari padanan kata sampe ketemu yang pas.
Dan aku sadar, sambil duduk di parkiran pasar jam enam pagi, bahwa aku sedang mempertimbangkan untuk membuang satu-satunya hal di halaman itu yang bisa dijadikan pekerjaan —
demi seseorang yang seluruh keberadaannya di hidupku dimulai dari dia bertanya apa isi halaman itu.
“Aku mau pergi,” kataku.
Suaraku kecil.
“Aku mau pergi, Danan. Aku mau banget. Aku mau itu lebih dari apa pun yang pernah aku mau seumur hidup aku, dan aku takut setengah mati bilangnya.”
Danan menutup matanya.
Sebentar. Sekali. Lalu membukanya lagi.
“Baik,” katanya.
Dan untuk pertama kalinya dalam berbulan-bulan, dia tidak membetulkannya.
“Sekarang punya kamu,” kataku.
“Sekarang?”
“Danan.”
Dia menarik napas.
Dan mengeluarkan sesuatu dari saku kemejanya.
Aku menatapnya. Aku butuh waktu sekitar dua detik untuk memahami apa yang sedang kulihat, karena benda itu tidak masuk akal berada di sana.
Sebuah kunci.
Kunci baru — kuningan, masih terang, belum ada goresan. Dengan gantungan kulit cokelat yang masih kaku dan belum menghitam di bagian mana pun.
“Danan—“
“Ini kunci 12B,” katanya.
“Kamu—“
“Saya membelinya sebelas hari lalu.” Dia memutarnya sekali di jarinya. “Gantungannya saya beli di Yogyakarta. Bukan yang lama. Yang lama sudah saya buang dua bulan lalu bersama kuncinya.”
Dia meletakkannya di dasbor.
Bukan menyodorkan. Meletakkan. Di antara kami, di permukaan datar, dan menariknya sepuluh sentimeter ke arahku.
Dan berhenti.
“Yang saya mau,” katanya, “adalah kamu punya ini.”
“Aku mau pergi setahun.”
“Saya tahu.”
“Aku nggak akan ada di Jakarta, Danan. Kuncinya nggak akan kepake.”
“Saya tahu itu juga.”
Dia menoleh.
“Kiara, saya sudah tiga tahun tinggal di tempat yang kuncinya cuma saya yang punya,” katanya. “Dan saya menyebut itu aman. Ternyata itu bukan aman. Itu sepi yang saya rapikan sampai kelihatan seperti pilihan.”
Suaranya tidak rata.
“Saya tidak minta kamu tinggal. Saya tidak minta kamu memakainya. Saya minta kamu memilikinya, dan membawanya ke sana, dan menaruhnya di tas yang mana pun.”
Dia menatap kunci di dasbor.
“Dan kalau setahun lagi kamu pulang dan kamu masih mau, kamu tidak perlu menekan bel.”
Aku mengambilnya.
Aku ingin mengatakan aku melakukannya dengan anggun, tapi aku mengambilnya dengan tangan yang gemetar dan langsung menggenggamnya sampai gerigi kuningannya menekan telapak tangan.
“Danan.”
“Ya.”
“Aku sayang sama kamu.”
Aku belum pernah mengatakannya. Sebelas bulan, dan aku belum pernah mengatakannya, dan aku mengatakannya di dalam mobil yang parkir di Pasar Palmerah jam enam lewat dua puluh pagi dengan bau ikan masuk lewat jendela.
Danan menutup matanya lagi.
“Saya juga,” katanya. “Sejak buncis.”
“Sejak apa?”
“Tidak ada.”
“Danan—“
“Tidak ada,” katanya, dan menyalakan mesin, dan telinganya merah sampai ke bawah, dan saya tidak mendapatkan penjelasan tentang buncis sampai empat bulan kemudian.
Mbah Sri memutuskannya sendiri hari Minggu.
Aku sudah menyiapkan tiga skenario dan semuanya ada di kepalaku dengan urutan dan biayanya, dan aku belum sempat menyampaikan satu pun.
“Aku melu,” katanya.
Aku berkedip.
“Mbah—“
“Yogya kuwi cedhak karo Klaten,” katanya, sambil terus mengupas bawang. “Adhikku isih urip. Wis pitulas taun ora ketemu.”
“Mbah beneran mau pindah?”
Perempuan berumur tujuh puluh delapan tahun itu menaruh bawangnya dan menatapku dengan mata yang menyipit.
“Ra,” katanya. “Omah ki watu karo semen. Wis tau tak omongke.”
Lalu dia melanjutkan mengupas bawang.
“Lan kowe ora tau takon aku pengin apa,” katanya. “Kawit biyen.”
Aku berdiri di dapur itu dengan mulut terbuka.
“Mbah.”
“Hm.”
“Mbah pengin apa?”
Dan Mbah Sri — tanpa mengangkat wajah dari bawangnya, dengan nada yang sepenuhnya biasa, seperti orang menyebutkan harga di pasar —
“Aku pengin ndelok kowe seneng,” katanya. “Sadurunge aku mati.”
- 1 Klien yang Tidak Meminta Apa-apa
- 2 Denah Rasa
- 3 Tidak Ada Garam di Meja Ini
- 4 Lima Aturan
- 5 Toleransi
- 6 Porsi Untuk Dua Orang
- 7 Lorong Bumbu, Pukul 22.40
- 8 Di Luar Jadwal
- 9 Nasi Kuning untuk Enam Orang
- 10 Sabtu
- 11 Pukul Lima Pagi di Palmerah
- 12 Tarif Per Jam
- 13 Halte, dan Hari Jumat
- 14 Lantai Dua Puluh, Tanpa Listrik
- 15 Ibu Saya Datang Hari Rabu
- 16 Aturan yang Tidak Ditulis di Mana Pun
- 17 Kampanye
- 18 Data
- 19 Rabu Ketiga Puluh Satu
- 20 Penyesuaian Layanan
- 21 Enam Belas Karakter
- 22 Rabu yang Kosong
- 23 Enam Kali
- 24 Perempuan yang Punya Nama di Undangan
- 25 Tangga Darurat
- 26 Kamu Suka Apa
- 27 Yang Pertama Kupilih
- 28 Lorong Bumbu, Lagi
- 29 Yang Kedua
- 30 Tiga Menit
- 31 Seratus Tiga Pertanyaan
- 32 Kelapa Sangrai
- 33 Aturan Dapur
- 34 Yogyakarta reading
- 35 Tambahin Sesukamu
- 36 Kamu Mau Makan Apa