← Apartemen 12B

Chapter Nineteen

Rabu Ketiga Puluh Satu

POV: Kiara


Aku tahu ada yang berbeda sejak dia membuka pintu.

Bukan dari wajahnya. Wajah Danan tidak pernah memberi apa-apa, dan aku sudah berhenti berharap dari sana sejak minggu kedua.

Dari kemejanya.

Tiga lipatan, lebarnya sama, digulung sampai persis di bawah siku. Dia selalu begitu — tapi malam itu lipatannya lebih rapi dari biasanya, dan ada satu detail yang membuat perutku dingin sebelum aku tahu kenapa: dia sudah menggulungnya sebelum masak.

Biasanya ada bekas. Percikan minyak, noda kecil di manset, sesuatu.

Malam itu kemejanya bersih.

Artinya dia mengganti kemeja setelah selesai memasak.

“Selamat malam.” Suaranya sama seperti biasa. “Menu malam ini nasi liwet, ayam suwir, dan sambal cabai hijau. Silakan masuk.”

Nasi liwet.

Bukan rendang, bukan soto, bukan ikan bakar yang harus dilepas durinya. Sesuatu yang bisa dimakan tanpa berpikir.

Aku masuk dan duduk di kursi yang menghadap dapur, dan sepanjang empat puluh menit berikutnya aku makan dengan perasaan seperti orang yang sedang menunggu hasil laboratorium.


Dia menunggu sampai piringku kosong.

Sampai aku selesai minum. Sampai aku bersandar. Sampai dia mengumpulkan piring, menaruhnya di wastafel, dan tidak menyalakan keran.

Lalu dia kembali ke meja dan duduk di kursi seberang, delapan puluh sentimeter, dan meletakkan kedua tangannya di atas meja saling bertaut longgar.

“Kiara.”

Aku menegakkan punggung.

“Waktu di atap,” katanya, “saya berhenti di tengah kalimat. Saya bilang lain kali.”

“Danan, kamu nggak harus—“

“Ini lain kali.”

Aku menutup mulutku.


Dan dia menceritakannya.

Empat menit. Aku menghitungnya, karena aku menghitung semuanya, dan karena aku butuh sesuatu untuk dihitung supaya tidak melakukan hal lain.

Dia bilang dia bangun jam empat, karena dia selalu bangun jam empat.

Dia bilang setelannya abu-abu tua dan sudah digantung di pintu lemari sejak Kamis, dan ada dua kancing yang harus dipindahkan setengah sentimeter karena penjahitnya salah ukur, dan dia memindahkannya sendiri hari Rabu.

Dia bilang dia sampai di gedung jam enam empat puluh lima. Akad jam sembilan.

Dia bilang jam tujuh dua puluh ibunya menerima telepon, dan dia tidak mendengar isinya, tapi dia melihat tangan ibunya yang satu lagi naik menutupi mulut, dan dia sudah tahu sebelum ada yang mengatakan apa pun.

Dia bilang dia menelepon sebelas kali.

“Sebelas,” katanya. “Saya ingat angkanya karena saya menghitung semuanya.”

Dia bilang jam delapan lewat lima masuk satu pesan, tiga kata.

Dia menyebutkan ketiga kata itu.

Lalu dia bilang dia duduk sendirian di ruang tunggu pengantin selama empat puluh menit, dan bahwa ada cermin besar dan kursi berukir emas dan segelas air yang tidak dia sentuh, dan bahwa sambungan wallpaper di sudut kanan atas tidak rata sekitar dua milimeter.

“Saya memikirkan itu cukup lama,” katanya. “Sambungan itu.”

Lalu dia bilang jam sembilan lewat dia keluar dan berdiri di depan seratus dua puluh orang.

Dan dia mengulangi kalimat yang dia ucapkan malam itu, dengan intonasi yang sama, karena Danan tidak tahu cara mengucapkan sesuatu dengan intonasi yang berbeda dari aslinya:

“Makanannya sudah tersedia di belakang. Silakan dinikmati.”

Lalu dia berhenti.

“Itu saja,” katanya.

Dan mengangguk sekali, seperti orang yang baru selesai menyerahkan laporan.


Aku tidak bisa bergerak.

Aku ingin menuliskan ini dengan jujur karena semua yang terjadi setelahnya berawal dari sini, dan kalau aku tidak jujur di bagian ini maka aku akan terdengar seperti perempuan yang kehilangan kendali karena mendengar cerita sedih.

Bukan ceritanya.

Aku sudah mendengar cerita yang lebih buruk. Aku pernah duduk tiga jam mendengarkan seorang laki-laki bercerita tentang anaknya yang meninggal, dan aku menangani itu dengan baik, dan aku pulang dan tidur.

Yang membuat tanganku dingin di pangkuan adalah cara dia menceritakannya.

Tidak ada satu pun jeda. Tidak ada satu pun suara yang tertahan. Tidak ada satu pun kata yang dia pilih untuk membuatnya terdengar lebih ringan atau lebih berat.

Dia menceritakan hari paling hancur dalam hidupnya dengan intonasi yang persis sama dengan intonasi yang dia pakai untuk menjelaskan kenapa kunyitnya delapan gram dan bukan delapan setengah.

Dan itu bukan karena dia sudah sembuh.

Aku tahu bunyinya orang yang sudah sembuh. Orang yang sudah sembuh menceritakan hal buruk dengan ringan dan sedikit lucu dan sesekali menertawakan dirinya sendiri.

Danan menceritakannya seperti membacakan berita acara kerusakan bangunan.

Karena itulah satu-satunya cara dia bisa menyimpannya di dalam badannya selama tiga tahun tanpa hancur.

Dia mengubah hari itu jadi dokumen.

“Danan,” kataku.

“Ya.”

“Kamu tau kenapa dia pergi?”

“Tidak.”

“Sampai sekarang?”

“Sampai sekarang.”

“Kamu nggak pernah nanya?”

“Dia mengirim pesan,” katanya. “Pesannya jelas.”

“Tiga kata, Danan.”

“Tiga kata itu cukup untuk menyampaikan keputusan.”

“Itu nggak cukup buat ngasih tau kamu kenapa.”

Danan menatapku.

Dan lalu dia mengatakan sesuatu — dengan nada yang sepenuhnya rata, tanpa keluhan, tanpa kepahitan, seperti orang yang menyebutkan spesifikasi material —

“Kalau seseorang berpikir saya pantas tahu alasannya, dia akan memberi tahu.”

Aku berhenti bernapas.

“Apa?”

“Saya tidak mengejar penjelasan,” katanya. “Kalau orang mau memberi, dia memberi. Kalau tidak, artinya dia sudah menimbang dan memutuskan bahwa itu tidak perlu. Saya tidak berhak menagih sesuatu yang sudah diputuskan orang lain.”

“Danan—“

“Itu bukan kepahitan,” katanya, dan dia mengangkat tangannya sedikit, seperti orang yang mengoreksi salah paham teknis. “Saya betul-betul berpikir begitu. Saya tidak marah kepadanya. Saya tidak pernah marah kepadanya.”

“Kamu harusnya marah.”

“Kenapa?”

Satu kata. Betul-betul bertanya. Dahinya berkerut sedikit, seperti waktu dia bertanya menjelaskan apa? di tengah pasar dengan tiga ikan di tas kainku.

Dan itu — itu — yang membuat sesuatu di dadaku putus.

Bukan pesan tiga kata. Bukan sebelas panggilan. Bukan seratus dua puluh orang.

Tapi laki-laki berumur tiga puluh tiga tahun yang duduk delapan puluh sentimeter di depanku dan bertanya, dengan sungguh-sungguh ingin tahu jawabannya, kenapa dia berhak marah karena ditinggalkan di hari pernikahannya tanpa satu pun alasan.

Dia tidak menganggap dirinya berhak atas penjelasan.

Dia merancang bangku jendela seratus empat puluh sentimeter dan mengukurnya dua kali di malam yang berbeda dan memasang dua wastafel yang berlebihan untuk unit seluas itu, dan setelah semuanya dia berpikir bahwa dia bahkan tidak pantas tahu alasannya.


Aku berdiri.

Aku tidak ingat memutuskan untuk berdiri. Aku ingat kursi bergeser di lantai, dan aku ingat berpikir itu suara apa, dan lalu aku ingat aku sudah berdiri.

Danan mengangkat wajah.

“Kiara?”

Aku berjalan mengitari meja.

Dua meter sepuluh, jati bekas, dua kursi berhadapan, delapan puluh sentimeter antarpinggiran karena itu jarak di mana kamu bisa mengulurkan tangan tanpa berdiri.

Aku berdiri di sampingnya. Dia mendongak.

Dan aku menciumnya.


Aku tidak akan berbohong dan bilang itu indah.

Aku menunduk terlalu cepat dan hidungku menabrak pipinya lebih dulu, dan tanganku memegang bahunya terlalu keras, dan aku bisa merasakan seluruh badannya kaget — bukan menolak, kaget, seperti orang yang tersengat.

Bibirnya kering. Ada rasa asin sedikit, dari sambal.

Aku merasakan tangannya bergerak — naik, sekitar sepuluh sentimeter, ke arah pinggangku —

lalu berhenti.

Di udara.

Persis seperti di pasar Palmerah, waktu dia bilang awas licin dan mengangkat tangannya ke arah sikuku dan berhenti di sepuluh sentimeter dan menurunkannya lagi.

Aku menarik diri.

Kami saling menatap sekitar satu setengah detik.

Wajahnya — untuk pertama kalinya dalam tiga puluh satu Rabu, satu Selasa, satu Minggu, dan tiga anak tangga — wajahnya benar-benar terbuka. Tidak ada apa-apa di sana yang tertutup. Mulutnya sedikit terbuka. Matanya lebar.

Dan tangannya masih menggantung di udara sepuluh sentimeter dari pinggangku, tidak turun, tidak naik.

“Kiara—“

Aku mengambil tasku.

“Kiara.”

Aku sudah di pintu.

Aku mendengar kursinya bergeser di belakangku, keras, dan aku mendengar bunyi sesuatu jatuh di konter — piring, atau pisau, atau apa pun — dan aku mendengar namaku sekali lagi.

Aku menutup pintu 12B.


Lift itu turun dua belas lantai dan aku menatap angkanya menyala satu per satu.

Aku tidak menangis.

Aku ingin sangat jelas soal itu, karena orang selalu mengira bagian yang paling buruk adalah menangis. Bukan. Bagian yang paling buruk adalah kejernihan yang datang sekitar tiga puluh detik setelahnya, waktu tubuhmu berhenti dan otakmu mulai bekerja lagi dan mulai menyusun daftar.

Lantai delapan.

Aku menciumnya.

Lantai lima.

Aku tidak bertanya.

Lantai tiga.

Dia mengangkat tangannya dan berhenti. Dia berhenti, Kiara.

Lantai dasar.

Pintu terbuka. Satpam mengangguk sekali seperti biasa. Marmernya memantulkan langkahku terlalu keras seperti biasa.

Dan di trotoar depan Menara Kalyana, di bawah lampu jalan, aku mengeluarkan ponsel dan melihat jamnya.

20.47

Aku menatap angka itu cukup lama.

Dua puluh lewat empat puluh tujuh.

Sesi jam tujuh sampai jam sembilan.

Aku masih di dalam jam kerja.


Aku berjalan tiga ratus meter sebelum kakiku berhenti sendiri di depan sebuah toko yang sudah tutup.

Ada dua hal yang menghantam bersamaan dan aku tidak bisa memisahkan mana yang lebih dulu.

Yang pertama: aturan kelima. Aturan yang tidak pernah kutulis di mana pun, yang tidak punya tanggal pelanggaran, yang tidak akan pernah ada saksinya.

Sudah lama pecah. Aku tahu itu sejak kursi tunggu di Tebet. Yang barusan cuma bunyinya sampai ke luar.

Yang kedua, dan yang ini yang membuatku harus berpegangan ke pagar rolling door toko itu:

Aku dibayar.

Aku sedang berdiri di dalam rumah seorang laki-laki yang membayar tarif penuh, di dalam jam yang sudah dia bayar di muka tiga bulan, di menit ke seratus tujuh dari seratus dua puluh menit yang dia beli —

dan aku menciumnya tanpa bertanya.

Aku sudah tiga tahun bekerja di pekerjaan ini. Aku tahu persis, sampai ke tulang, bagaimana rasanya ketika seseorang memutuskan bahwa tubuhmu bisa disentuh tanpa ditanya lebih dulu karena posisimu di ruangan itu bukan posisi yang bisa bilang tidak.

Aku pernah mengunci diri di kamar mandi hotel jam dua pagi karena itu.

Dan malam ini aku melakukannya kepada seseorang yang dalam tiga puluh satu minggu tidak pernah sekali pun menyentuhku — yang menolak memberikan jaketnya di halte karena aturan dua, yang mengulurkan tangannya di tangga darurat dengan telapak terbuka menghadap ke atas dan menunggu sampai aku yang memutuskan.

Yang mengangkat tangannya ke pinggangku dan berhenti.

Aku memegang pagar rolling door itu dengan satu tangan dan menekan pangkal telapak tangan yang lain ke mataku sampai muncul bintik-bintik putih.

Bus terakhir lewat jam sepuluh.

Aku menaikinya dari halte yang sama, bangku besi yang sama, atap seng yang bocor di dua tempat.

Dan aku duduk di jendela ketiga dan menangis dengan sangat pelan, menghadap ke depan, sepanjang dua puluh delapan menit perjalanan, sambil sesekali menyeka wajah dengan lengan hoodie yang tidak kubawa dan karena itu aku menyekanya dengan tangan kosong.

Di rumah, Mbah Sri sudah tidur.

Aku duduk di kursi plastik yang catnya mengelupas dan membuka ponsel.

Tidak ada pesan.

Tentu saja tidak ada pesan. Aturan tiga. Dia membaca semua yang dia tanda tangani.

Aku menaruh ponsel telungkup di meja.

Dan aku duduk di dapur yang lampunya mati sebelah sampai jam empat pagi, menyusun kalimat permintaan maaf di kepala, membuangnya, menyusunnya lagi — dan tidak satu pun dari kalimat itu bisa mengubah kenyataan bahwa aku, di menit ke seratus tujuh dari seratus dua puluh menit yang sudah dibayar penuh, telah mengambil sesuatu dari seseorang tanpa bertanya.

Aku tertidur jam lima.

Ponselku bergetar jam enam lewat dua.