Chapter One
Klien yang Tidak Meminta Apa-apa
POV: Kiara
Ada dua hal yang selalu kubaca sebelum berangkat: brief klien, dan ruangannya.
Brief lebih dulu, karena itu yang dikirim Mbak Vera lewat aplikasi. Biasanya panjang. Klien suka menulis panjang, seolah dengan mendaftar semua yang mereka inginkan, mereka bisa menyamarkan satu hal yang sebenarnya mereka inginkan. Aku sudah terbiasa. Pekerjaanku dulu adalah menerjemahkan, dan menerjemahkan berarti membaca apa yang orang maksud, bukan yang orang tulis. Aku cuma ganti bahan baku.
Brief malam ini terdiri dari empat baris.
Nama: Danan. Alamat: Menara Kalyana, unit 12B. Waktu: Rabu, 19.00–21.00. Permintaan khusus: —
Garis datar. Bukan “tidak ada”, bukan dikosongkan. Dia mengetik satu tanda hubung, lalu berhenti.
Aku membaca ulang empat baris itu tiga kali di dalam taksi, mencari sesuatu di sela-selanya. Tidak ada. Empat baris itu tidak menyembunyikan apa pun, dan justru itu yang membuatku duduk lebih tegak.
Teks yang tidak menyembunyikan apa pun biasanya berbahaya.
Menara Kalyana berdiri di jalan yang terlalu sepi untuk ukuran gedung dua puluh lantai. Lobinya bersih dan dingin, dengan satpam yang mengangguk sekali tanpa bertanya apa-apa, dan lantai marmer yang memantulkan langkahku terlalu keras.
Aku melakukan pemeriksaan terakhir di cermin lift. Rambut tergerai, riasan penuh, lensa kontak sudah dipakai dari rumah. Gaun sederhana warna sage, panjang di bawah lutut. Tidak menantang, tidak juga terlalu sopan. Aku sudah lama tahu bahwa pakaian yang berteriak itu justru membuat klien canggung; yang mereka mau biasanya bukan perempuan yang mencolok, tapi perempuan yang terlihat seperti dia memang seharusnya ada di sana.
Aku menarik napas. Mengangkat sudut bibir sedikit. Menurunkannya lagi. Mengaturnya di titik yang pas.
Lift berhenti di lantai dua belas.
Koridornya kosong. Enam pintu, jarak antarpintu jauh — artinya unitnya besar. Aku berjalan pelan, membaca pintu-pintu itu seperti membaca paragraf pembuka. 12A punya keset bergambar kucing dan sepasang sandal anak di luar. 12C punya kotak paket yang belum diambil sejak entah kapan.
12B tidak punya apa-apa. Lantai depannya bersih. Tidak ada keset, tidak ada sandal, tidak ada debu.
Aku menekan bel.
Delapan detik. Aku menghitungnya karena aku selalu menghitung; delapan detik itu waktu orang yang sedang mengerjakan sesuatu, bukan orang yang sedang menunggu di balik pintu.
Lalu pintu terbuka.
Yang pertama kulihat bukan wajahnya. Yang pertama kulihat adalah lengan kemejanya, digulung rapi sampai siku, dan celemek abu-abu yang talinya diikat dua kali di pinggang. Tangannya masih setengah basah, baru dilap.
Baru setelah itu aku menaikkan pandangan.
Laki-laki. Awal tiga puluhan. Tinggi, dengan bahu yang agak membungkuk seperti orang yang terlalu sering menunduk ke meja kerja. Wajahnya bukan wajah yang langsung bagus; wajah yang butuh dilihat dua kali. Rahangnya keras, matanya tenang, dan tidak ada satu pun di sana yang sedang menilaiku.
Itu yang aneh. Semua klien menilai di tiga detik pertama. Aku bisa merasakannya seperti perubahan suhu.
Yang ini tidak.
“Selamat malam.” Suaranya rendah dan rata. “Menu malam ini ayam bakar bumbu kuning, tumis buncis, dan sup bening bayam. Silakan masuk.”
Aku berkedip.
Bukan halo. Bukan kamu Kiara, ya? Bukan wah, ternyata aslinya lebih cantik — yang mana selalu diucapkan dengan nada seolah itu pujian dan bukan pengumuman bahwa mereka sudah membandingkan aku dengan fotoku.
Dia menyebut menu. Seperti pelayan restoran yang sudah dua belas tahun bekerja di tempat yang sama.
“Terima kasih,” kataku, dan aku masuk.
Aku membaca ruangan dalam tiga detik. Itu keahlian yang tidak pernah kutulis di CV mana pun.
Unit ini besar. Lebih besar dari yang seharusnya ditinggali satu orang, dan aku langsung tahu satu orang yang tinggal di sini karena tidak ada suara lain, tidak ada barang kedua yang berserakan, tidak ada jejak kompromi. Rumah dua orang selalu punya jejak kompromi: remote di tempat yang salah, bantal yang warnanya tidak nyambung, sesuatu yang jelas-jelas dibeli karena ada yang ngotot.
Di sini tidak ada. Semuanya nyambung. Semuanya sengaja.
Dan itulah bagian yang membuat tengkukku dingin, karena rumah ini jelas-jelas dirancang untuk dua orang.
Aku melihatnya di mana-mana. Bangku di dekat jendela yang lebarnya cukup untuk dua orang duduk bersandar berlawanan arah. Rak sepatu dengan dua kolom. Dan meja dapur — meja dapur kayu panjang dengan dua kursi, berhadapan, dengan jarak yang tidak dipilih sembarangan. Aku pernah cukup lama menerjemahkan buku desain untuk tahu bahwa jarak seperti itu adalah keputusan, bukan kebetulan.
Dua kursi. Satu penghuni.
Ah, pikirku, dan tanpa sadar aku sedikit rileks. Ini aku paham. Ini bahasa yang aku bisa. Laki-laki yang ditinggalkan, rumah yang terlalu besar, kesepian yang butuh diisi dua jam seminggu. Aku sudah menerjemahkan versi cerita ini sekitar tiga puluh kali.
Aku salah, tapi malam itu aku belum tahu.
“Silakan duduk,” katanya dari arah dapur, tanpa menoleh. “Maaf, tinggal sepuluh menit lagi.”
“Mau kubantu?”
“Tidak perlu.”
Bukan penolakan yang sopan. Penolakan yang faktual. Dia benar-benar tidak butuh bantuan.
Jadi aku duduk di kursi yang menghadap dapur, menyilangkan kaki, dan mulai bekerja.
Ini bagian yang biasanya paling mudah.
Aku bertanya soal pekerjaannya. Dia menjawab: arsitek interior. Tiga kata, lalu diam.
Aku bertanya soal apartemennya, memuji pencahayaannya, dan itu selalu berhasil — orang senang sekali membicarakan rumahnya. Dia bilang, “Terima kasih,” dan menambahkan sesuatu soal suhu warna lampu 2700 Kelvin, lalu diam lagi.
Aku tertawa kecil di titik yang biasanya membuat laki-laki ikut tertawa. Dia mengangkat wajahnya dari talenan, memastikan aku tidak apa-apa, lalu kembali memotong.
Aku memiringkan kepala dengan cara yang sudah kupelajari dari cermin bertahun-tahun lalu.
Dia sedang menuang minyak.
Dan itu bukan penolakan. Aku tahu bentuk penolakan; penolakan punya ketegangan di dalamnya, punya perlawanan, punya laki-laki yang sedang keras kepala menahan diri. Ini bukan itu.
Ini seperti mengirim surat ke alamat yang memang tidak ada.
Aku duduk di sana, di kursi yang bukan kursiku, dan untuk pertama kalinya dalam tiga tahun aku merasa seperti sedang salah masuk ruangan.
Makanannya datang jam tujuh lewat delapan.
Dia menyajikannya dengan cara yang membuatku diam. Bukan mewah — tidak ada hiasan, tidak ada saus yang dilukis di pinggir piring. Tapi setiap benda diletakkan dengan sengaja. Sendok dan garpu sejajar. Sup di sebelah kanan atas. Piring diputar sedikit, dua atau tiga derajat, sebelum dia melepaskannya.
“Silakan,” katanya.
Aku mengambil sendok. Dia duduk di kursi seberang.
Dan tidak mengambil apa-apa.
Aku berhenti. “Kamu nggak makan?”
“Saya sudah makan tadi sore.” Sedikit jeda. “Silakan diteruskan.”
Kupikir dia akan mengambil ponsel, atau menyalakan televisi, atau mulai bicara. Itu yang biasanya terjadi. Dua jam adalah waktu yang panjang dan klien punya cara masing-masing untuk mengisinya — ada yang bicara tanpa henti tentang mantan istrinya, ada yang memintaku bicara tanpa henti tentang apa saja, ada yang cuma mau ditemani menonton bola dan sesekali dipuji.
Danan tidak melakukan satu pun dari itu.
Dia duduk. Punggungnya tegak. Kedua tangannya di atas meja, saling bertaut longgar. Dan dia melihatku makan.
Bukan tatapan yang lengket. Bukan tatapan yang menelanjangi. Aku tahu betul rasanya tatapan seperti itu, dan tubuhku sudah punya semacam alarm untuk itu.
Alarmnya tidak berbunyi.
Dia menonton suapan pertamaku sampai masuk. Lalu bahunya turun sedikit — satu sentimeter, mungkin kurang — dan dia menghela napas seperti orang yang baru saja meletakkan sesuatu yang berat.
Aku menelan, dan tiba-tiba tidak tahu harus taruh di mana tanganku.
“Enak,” kataku.
“Ayamnya diungkep empat puluh menit dengan api kecil. Kalau lebih dari itu, seratnya buyar.” Dia mengatakannya dengan nada yang sama seperti orang menyebutkan nomor rekening. “Bumbu kuningnya delapan gram kunyit segar. Bukan delapan setengah.”
“...Kamu nimbang kunyit?”
“Ya.”
“Pakai timbangan digital?”
“Ya.”
Aku menatapnya. Dia menatapku balik, sama sekali tidak merasa ada yang lucu, dan justru itu yang membuatku hampir tertawa untuk alasan yang sungguhan — bukan tawa kerja, yang biasanya keluar setengah detik lebih cepat daripada seharusnya.
Aku menahannya. Menunduk. Menyendok sup.
Dua puluh menit berikutnya berlalu nyaris tanpa suara. Cuma bunyi sendok, bunyi lalu lintas jauh di bawah, dan sesekali bunyi kursinya berderit pelan waktu dia mengubah posisi duduk.
Aku sudah biasa bekerja di keramaian. Aku bisa mengisi dua jam dengan cerita yang sudah kususun, dengan pertanyaan yang membuat orang merasa menarik, dengan tawa yang timingnya sudah kuhafal.
Aku tidak pernah dibayar untuk diam.
Dan yang membuatku tidak nyaman bukan diamnya. Yang membuatku tidak nyaman adalah aku sadar, di suapan entah keberapa, bahwa aku sudah berhenti berakting selama beberapa menit terakhir — dan dia sama sekali tidak menyadarinya.
Karena dia tidak sedang menonton aku.
Dia sedang menonton makanannya dimakan.
Jam sembilan kurang lima, aku meletakkan sendok. Piringnya bersih. Aku bahkan tidak sadar sudah menghabiskan semuanya.
“Terima kasih,” kataku, dan untuk sekali ini aku tidak yakin nada mana yang kupakai. “Ini... makan malam terbaik yang pernah aku dapat dari klien.”
Dia berdiri dan mulai mengumpulkan piring. “Ada yang kurang asin?”
“Nggak.”
“Kurang panas?”
“Nggak.”
“Anda tidak menyentuh buncisnya sampai terakhir.”
Aku berkedip. “Aku... nggak sadar.”
Dia mengangguk sekali, seolah itu data yang berguna, lalu membawa piring ke wastafel.
Aku berdiri, mengambil tas, dan berdiri canggung di tengah ruangan yang terlalu rapi ini. Biasanya bagian ini yang paling gampang. Biasanya di menit-menit terakhir ada permintaan — dipeluk sebentar, difoto berdua, ditemani sampai tertidur, atau hal-hal yang lebih dari itu dan langsung kutolak dengan kalimat yang sudah kuhafal di luar kepala.
Aku menunggunya.
Dia mencuci piring.
“Danan.”
“Ya.”
“Aku dibayar dua jam.” Aku menggeser tali tas di bahuku. “Kamu nggak minta apa-apa.”
Air keran berhenti.
Dia berbalik, mengelap tangannya di celemek, dan menatapku dengan ekspresi yang sungguh-sungguh bingung — seperti aku baru saja bertanya kenapa langit ada di atas.
“Saya minta Anda makan,” katanya.
“Itu aja?”
“Itu saja.”
Ada sesuatu di sana. Aku merasakannya lewat seperti arus dingin di bawah lantai — sesuatu yang besar dan tidak dia sebutkan, sesuatu yang membuat rumah ini punya dua kursi dan satu penghuni. Aku menunggu satu kalimat lagi, satu kata yang bocor, apa saja yang bisa kuterjemahkan.
Tidak ada.
Dia cuma berdiri di dapurnya, dengan lengan tergulung sampai siku dan celemek yang talinya diikat dua kali, dan menunggu dengan sabar sampai aku selesai memandanginya.
Aku berjalan ke pintu. Dia mengikuti, membukakan.
“Rabu depan,” katanya. Bukan pertanyaan. Bukan juga perintah. Sesuatu yang lebih rapuh dari keduanya, disamarkan jadi jadwal. “Jam tujuh. Kalau Anda tidak keberatan.”
Dan aku — yang sudah tiga tahun tidak pernah sekali pun menjawab pertanyaan klien tanpa menghitung dulu tarif, jarak, dan risiko —
“Iya,” kataku.
Setengah detik lebih cepat daripada seharusnya.
Pintu 12B tertutup pelan di belakangku. Koridornya kosong, lantai dua belas dingin, dan aku berdiri di sana beberapa saat sambil menatap pintu yang tidak punya keset.
Di dalam lift, aku membuka aplikasi. Menekan tanda bintang di profil kliennya.
Lalu aku menyadari perutku kenyang, dan itu sudah lama sekali tidak terjadi pada hari kerja.
- 1 Klien yang Tidak Meminta Apa-apa reading
- 2 Denah Rasa
- 3 Tidak Ada Garam di Meja Ini
- 4 Lima Aturan
- 5 Toleransi
- 6 Porsi Untuk Dua Orang
- 7 Lorong Bumbu, Pukul 22.40
- 8 Di Luar Jadwal
- 9 Nasi Kuning untuk Enam Orang
- 10 Sabtu
- 11 Pukul Lima Pagi di Palmerah
- 12 Tarif Per Jam
- 13 Halte, dan Hari Jumat
- 14 Lantai Dua Puluh, Tanpa Listrik
- 15 Ibu Saya Datang Hari Rabu
- 16 Aturan yang Tidak Ditulis di Mana Pun
- 17 Kampanye
- 18 Data
- 19 Rabu Ketiga Puluh Satu
- 20 Penyesuaian Layanan
- 21 Enam Belas Karakter
- 22 Rabu yang Kosong
- 23 Enam Kali
- 24 Perempuan yang Punya Nama di Undangan
- 25 Tangga Darurat
- 26 Kamu Suka Apa
- 27 Yang Pertama Kupilih
- 28 Lorong Bumbu, Lagi
- 29 Yang Kedua
- 30 Tiga Menit
- 31 Seratus Tiga Pertanyaan
- 32 Kelapa Sangrai
- 33 Aturan Dapur
- 34 Yogyakarta
- 35 Tambahin Sesukamu
- 36 Kamu Mau Makan Apa