← Apartemen 12B

Chapter Fourteen

Lantai Dua Puluh, Tanpa Listrik

POV: Kiara


Listriknya mati jam delapan kurang enam, di tengah suapan.

Semuanya sekaligus — lampu, kulkas, pendingin, bunyi samar yang selama ini ada di gedung itu dan tidak pernah kusadari sampai bunyinya hilang. Gelap total selama dua detik, lalu lampu darurat di koridor menyala redup dan masuk lewat celah bawah pintu.

Aku duduk diam dengan garpu masih di tangan.

“Danan?”

“Sebentar.”

Aku mendengar kursinya bergeser. Langkah kaki, delapan langkah, tanpa ragu sama sekali. Laci dibuka. Sesuatu diambil.

Lalu cahaya senter menyala di dapur, dihadapkan ke langit-langit, jadi ruangan itu terisi cahaya yang memantul, bukan sorot yang menusuk mata.

“Genset gedung menyala dalam dua puluh menit,” katanya. “Prosedurnya begitu.”

“Kamu hafal prosedur genset gedung?”

“Saya ikut rapat pengelola.”

“Kamu ikut rapat pengelola gedung.”

“Ya.”

Aku meletakkan garpu dan menutup wajah dengan satu tangan.


Dua puluh menit lewat. Tiga puluh. Empat puluh.

Genset itu tidak menyala.

Yang menyala adalah suhu ruangan. Unit 12B menghadap barat, dan sore itu panas, dan tanpa pendingin ruangan seluruh dinding beton yang sudah menyerap matahari sejak jam tiga mulai mengeluarkannya kembali.

Jam sembilan kurang lima aku sudah mengipasi diriku dengan tatakan gelas.

“Ini gerah banget.”

“Ya.”

“Jendelanya bisa dibuka?”

“Tidak sepenuhnya. Regulasi ketinggian.” Danan berdiri. “Ikut saya.”

“Ke mana?”

“Atap.”


Aku ingin mencatat bahwa yang terjadi berikutnya sepenuhnya kesalahannya.

Kami sudah sampai pintu. Aku sudah memakai sepatu. Lalu Danan berhenti, berbalik, dan menatap meja makan.

Meja itu masih penuh. Ikan bakar setengah, cah kangkung, tahu isi, sup. Semuanya baru dimasak dua jam lalu.

“Sebentar,” katanya.

“Danan.”

“Ini masih hangat.”

“Danan, listriknya mati.”

“Justru itu.” Dia sudah membuka lemari atas. “Kalau ditinggal di suhu segini sampai besok pagi, semuanya harus dibuang.”

Dan begitulah aku, jam sembilan lewat, memanjat delapan lantai tangga darurat dalam gelap dengan gaun kerja dan sepatu hak lima senti, membawa dua kotak makan kaca sementara laki-laki di depanku membawa empat lagi ditambah senter ditambah — entah kenapa, entah dari mana — satu alas piring anyaman.

“Kenapa bawa alas piring?”

“Lantai atap kotor.”

“Kita mau piknik?”

“Kita mau makan,” katanya, tanpa menoleh, naik dua anak tangga sekaligus. “Piknik itu istilah orang yang belum lapar.”


Atapnya kosong dan berangin dan lebih dingin sekitar tiga derajat.

Dan yang membuatku berhenti di anak tangga terakhir bukan anginnya.

Setengah kota sedang mati lampu.

Aku belum pernah melihat Jakarta seperti itu. Ada bagian yang gelap total — blok-blok besar tanpa satu pun titik cahaya, bentuknya tidak beraturan, seperti tinta tumpah — dan di antaranya ada wilayah yang masih menyala penuh dan kelihatan terlalu terang, tidak wajar, seperti pulau.

Di bawah, jalan raya masih hidup karena lampu kendaraan. Garis-garis merah dan putih bergerak pelan di dalam kegelapan.

“Wah,” kataku.

Danan menaruh kotak-kotak itu di alas anyaman, satu per satu, dan meratakan posisinya.

“Menteng masih menyala,” katanya. “Sudah biasa.”

“Kenapa?”

“Jaringannya beda.” Dia duduk. “Bukan konspirasi. Cuma infrastruktur lama yang kebetulan lebih baik. Itu yang paling menyebalkan dari infrastruktur.”

Aku duduk di sebelahnya, di alas anyaman selebar mungkin satu setengah meter, dan menarik lututku ke samping karena gaun.

Kami makan ikan bakar dingin di atap gedung dua puluh lantai sambil menonton setengah kota yang mati.


“Danan.”

“Ya.”

“Boleh aku nanya sesuatu yang bakal bikin kamu diem sembilan menit?”

Dia mengunyah. Menelan. “Silakan.”

Aku menarik napas.

Aku sudah menyiapkan pertanyaan ini sejak Rabu pertama. Aku sudah menyusun ulang kalimatnya belasan kali, membuangnya, menyusunnya lagi. Aku menunggu tempat yang benar, dan aku tahu tempat yang benar itu tidak akan pernah datang, sampai malam itu setengah Jakarta mati lampu dan kami duduk di beton dengan enam kotak makan di antara kami.

“Kenapa kamu sewa aku?”

Angin lewat. Kotak paling ujung bergeser sedikit dan Danan menahannya dengan telapak tangan.

“Saya sudah bilang.”

“Kamu bilang biar ada yang makan masakan kamu.”

“Ya.”

“Danan.” Aku menoleh. “Orang yang mau ada yang makan masakannya itu ngundang temen. Ngundang keluarga. Bikin acara. Bikin akun masak di internet. Ada seribu cara yang gratis.”

Dia tidak menjawab.

“Kamu bayar penuh, tiga bulan di muka, lewat agensi, dengan kontrak yang kamu baca sampai halaman lima.” Suaraku lebih pelan dari yang kumau. “Itu bukan orang yang pengen ada yang makan masakannya. Itu orang yang pengen mastiin nggak ada yang bisa pergi tanpa ngasih tau.”

Aku mendengar sendiri kalimat itu keluar dan langsung ingin menariknya kembali.

Danan berhenti mengunyah.

Sangat lama.

“Maaf,” kataku cepat. “Aku kelewatan. Maaf, itu—“

“Tidak.”

“Danan—“

“Anda tidak kelewatan.” Dia menaruh kotaknya. Meratakan tutupnya. “Anda benar.”

Aku diam.

Dan lalu, untuk pertama kalinya dalam sembilan Rabu, Danan mulai bercerita.


“Tempat ini saya rancang sendiri,” katanya. “Satu setengah tahun. Saya menggeser kamar mandi dua meter supaya orang yang membuka pintu depan langsung melihat langit.”

“Aku tau. Aku merhatiin itu di hari pertama.”

Dia menoleh.

“Anda memperhatikan itu?”

“Aku kerjanya baca ruangan, Danan. Sama kayak kamu.”

Sesuatu di bahunya turun. Satu sentimeter.

“Bangku jendelanya seratus empat puluh sentimeter,” lanjutnya, kembali menghadap kota. “Itu ukuran supaya dua orang bisa duduk bersandar berlawanan arah, kaki bersilang di tengah. Saya mengukurnya pakai bantal dan meteran di apartemen lama. Dua kali. Malam yang berbeda.”

Ada sesuatu yang mengetat di tenggorokanku.

“Ada dua wastafel di kamar mandi. Itu berlebihan untuk unit seluas itu. Saya tetap memasangnya karena saya pernah baca bahwa pertengkaran rumah tangga paling sering terjadi pagi hari, dan sebagian besar soal wastafel.”

Dia berhenti.

“Danan.”

“Meja makannya dua meter sepuluh. Dua kursi. Delapan puluh sentimeter antarpinggiran. Saya mencoba enam puluh lima dan sembilan puluh lima dulu.” Suaranya sama sekali tidak berubah. Itu yang paling sulit didengarkan. “Delapan puluh itu jarak di mana Anda bisa mengulurkan tangan tanpa berdiri.”

Aku tidak berani bergerak.

“Serah terima bulan Maret,” katanya. “Tiga minggu setelah itu, hari Sabtu—“

Dan dia berhenti.

Betul-betul berhenti. Di tengah kalimat, dengan kata Sabtu masih menggantung di udara di atas atap gedung dua puluh lantai.

Aku menunggu.

Lima detik. Sepuluh. Dua puluh.

Angin naik dari sisi barat dan kotak paling ujung bergeser lagi dan kali ini dia tidak menahannya. Kotak itu terguling sedikit, berhenti sendiri, tetap tertutup.

“Danan.”

“Lain kali,” katanya.

Suaranya tetap rata. Tapi ada sesuatu yang bergeser di rahangnya, sekali, dan aku melihatnya karena aku sedang menatap langsung ke arahnya.

“Lain kali,” ulangnya.

Aku mengangguk.

Dan aku duduk di sana dengan jantung yang berdetak terlalu cepat untuk seseorang yang sedang makan ikan bakar dingin, karena kata lain kali mengandung sesuatu yang tidak ada di dalam kontrak mana pun.

Lain kali berarti ada nanti.


Untuk membayar utang itu — karena aku tidak bisa membiarkan seseorang membuka setengah pintu lalu berdiri di sana sendirian — aku mengatakan sesuatu juga.

“Bapakku meninggal dua puluh sembilan bulan lalu.”

Danan menoleh.

“Serangan jantung. Di warung. Lagi ngopi.” Aku memutar kotak plastik di pangkuanku. “Orang-orang kira dia ketiduran. Baru sepuluh menit ada yang sadar.”

“Saya turut berduka.”

“Iya.” Aku mengangkat bahu. “Dia orang paling baik yang aku kenal, dan itu masalahnya.”

“Bagaimana bisa itu masalah?”

“Karena dia nggak pernah bisa bilang nggak.”

Aku menatap blok gelap di kejauhan.

“Dia tanda tangan buat orang lain. Temennya. Temen dari SD, katanya. Dia nggak pernah cerita ke siapa-siapa, bahkan ke ibuku waktu ibuku masih ada, bahkan ke neneknya sendiri.” Aku menghela napas. “Dan orang itu ilang. Bukan mati. Ilang. Itu beda.”

“Ya,” kata Danan pelan. “Itu beda.”

Ada sesuatu di caranya mengatakan itu.

Aku menoleh cepat, dan wajahnya sudah kembali datar seperti biasa, dan aku tidak sempat menangkap apa pun.

“Jadi sekarang aku yang bayar,” kataku. “Itu aja. Nggak ada yang dramatis. Cuma angka.”

“Berapa?”

Aku berhenti.

Tidak ada satu pun klien dalam tiga tahun yang pernah bertanya begitu, dan dia menanyakannya persis seperti dia menanyakan minus mata kiriku.

“Kamu nggak boleh nanya gitu,” kataku.

“Baik.”

“Danan.”

“Saya bilang baik.”

“Kamu nanya, terus pas aku bilang nggak boleh kamu langsung mundur. Kenapa kamu nggak nanya dua kali?”

Dia menoleh.

Dan menatapku cukup lama sampai aku menyesal membuka mulut.

“Karena Anda tidak menjawab ‘tidak apa-apa’,” katanya.

“Apa?”

“Anda bilang saya tidak boleh bertanya. Itu jawaban yang jelas.” Dia mengambil kotak yang terguling tadi dan menegakkannya. “Kalau Anda bilang ‘tidak apa-apa’, itu lain.”

Aku menatap sisi wajahnya di kegelapan.

Sepuluh Rabu. Satu Selasa. Satu Minggu. Satu malam Jumat di depan rak tepung.

Dan malam itu, di atap sebuah gedung dengan setengah kota mati lampu di bawah kami, aku akhirnya mengerti bahwa laki-laki ini bukan tidak peka.

Dia mendengarkan lebih teliti daripada siapa pun yang pernah kutemui. Dia menghitung semuanya, mengingat semuanya, mencatat semuanya.

Dia cuma tidak percaya bahwa dia berhak menebak apa pun yang tidak dikatakan langsung kepadanya.

Dan aku — perempuan yang selama tiga tahun dibayar untuk tidak pernah mengatakan apa pun secara langsung —

adalah orang paling salah di dunia untuk berada di depannya.


Lampu menyala jam sepuluh lewat dua puluh.

Seluruh blok sekaligus. Kota itu kembali dalam satu detik, dan kami berdua mengangkat wajah, dan atap yang tadinya gelap tiba-tiba jadi cuma atap: beton, antena parabola, genangan air di sudut.

“Ah,” kata Danan.

“Iya.”

Kami mengumpulkan kotak-kotak itu.

Di tangga turun dia berjalan di depan dengan senter, dan di lantai lima belas dia berhenti mendadak dan aku menabrak punggungnya.

“Maaf.”

“Anak tangganya kurang satu di sini,” katanya. “Bukan kurang. Tingginya beda tiga sentimeter. Kontraktornya salah.”

“Kamu tau anak tangga darurat lantai lima belas beda tiga senti.”

“Saya jatuh di sini tahun lalu.”

Aku tertawa di tangga darurat gedung dua puluh lantai, terlalu keras, dan bunyinya memantul naik turun di sumur tangga itu selama beberapa saat.

Danan menunggu sampai aku selesai.

“Hati-hati,” katanya.

Dan dia mengulurkan tangannya ke belakang.

Bukan menyentuh. Cuma terbuka, di udara, sekitar dua puluh sentimeter di depan dadaku — telapak menghadap ke atas, menunggu, dengan senter di tangan yang satu lagi menyorot anak tangga yang salah itu.

Aku menatap tangan itu selama satu setengah detik.

Lalu aku memegangnya.

Dan dia menuntunku turun tiga anak tangga, lalu melepaskannya, dan berjalan lagi tanpa mengatakan apa pun.

Tiga anak tangga.

Aku menghitungnya.