Chapter Twenty Seven
Yang Pertama Kupilih
POV: Kiara
Aku tidak tidur selama dua malam, dan pada malam ketiga aku melakukan sesuatu yang belum pernah kulakukan seumur hidupku.
Aku duduk di meja dapur dengan buku catatan bekas terjemahan, dan di halaman kosong aku menulis:
AKU SUKA APA
Lalu aku duduk di depan halaman itu selama satu jam empat puluh menit.
Yang kutulis dalam satu jam empat puluh menit itu ada empat baris, dan tiga di antaranya kucoret sebelum tinta keringnya hilang.
Yang tersisa satu:
Bau pasar jam lima pagi.
Aku menatapnya lama sekali.
Bukan kemenangan besar. Satu baris, empat kata, tentang bau. Tapi aku memeriksanya dari semua sisi seperti orang memeriksa uang palsu — apakah ini punya Bapak? Bukan, Bapak tidak pernah ke pasar. Punya Mbah Sri? Bukan, Mbah Sri belanja di tukang sayur keliling. Punya klien mana pun? Bukan.
Punya Danan? Aku berhenti lama di situ.
Lalu aku memutuskan: tidak. Danan memberiku tempatnya. Baunya milikku.
Aku menutup buku itu dan menangis selama sekitar empat menit karena satu baris tentang bau ikan dan kunyit, dan lalu aku mencuci muka, dan lalu aku menghitung.
Empat puluh tiga hari.
Itu sisa waktunya. Aku sudah berhenti membuat lingkaran di kalender dapur karena Nadia benar, tidak ada orang yang membuat lingkaran tanpa tulisan kecuali orang yang tidak mau ada yang membaca.
Sisa utang: seratus sembilan puluh empat juta, dikurangi cicilan yang berhasil kubayar, dikurangi nol karena uang yang bisa membuat selisih sudah kukembalikan dalam amplop cokelat.
Penghasilanku kalau semuanya lancar: dua belas juta sebulan.
Empat puluh tiga hari.
Angkanya tidak pernah berubah berapa kali pun aku menghitungnya, dan aku sudah menghitungnya ratusan kali, dan aku selalu berhenti di titik yang sama: tidak cukup.
Yang berubah malam itu bukan angkanya.
Yang berubah adalah aku berhenti menghitung bagaimana caranya mempertahankan rumah itu, dan mulai menghitung sesuatu yang lain.
Aku ke rumah — rumah Mbah Sri, rumah Bapak — hari Minggu pagi.
Aku sudah tinggal di sana, tentu saja. Yang kumaksud adalah aku masuk ke ruang depan dan duduk di kursi seberang perempuan berumur tujuh puluh delapan tahun itu, jam sembilan pagi, dan mematikan televisi.
Mbah Sri menoleh.
“Sik lagi rame kuwi, Ra.”
“Mbah.”
Sesuatu di wajahnya berubah. Perempuan itu tuli sebelah dan matanya sudah tidak bagus, tapi dia bisa mendengar bentuk sebuah kalimat sebelum kalimatnya keluar.
“Nopo?”
Dan aku menceritakan semuanya.
Aku mulai dari Bapak.
Bahwa Bapak menandatangani jaminan untuk temannya. Bahwa sertifikat rumah ini ada di brankas koperasi di Cempaka Putih dan sudah ada di sana sejak dua tahun sebelum Bapak meninggal. Bahwa aku tahu sejak bulan ketiga setelah pemakaman dan tidak pernah mengatakan apa-apa.
Bahwa sisanya seratus sembilan puluh empat juta.
Bahwa waktunya tinggal empat puluh tiga hari.
Mbah Sri duduk dengan tangan di pangkuan dan mendengarkan tanpa memotong satu kali pun.
Lalu aku menceritakan bagian yang kedua.
Bahwa aku berhenti dari penerbitan tiga tahun lalu bukan karena honornya kecil. Bahwa aku bekerja di sebuah agensi di Tebet. Bahwa pekerjaanku adalah menemani orang — makan malam, acara kantor, pertemuan keluarga — dan bahwa aku dibayar per jam, dan bahwa itulah dari mana datangnya uang yang kuberikan setiap bulan dan yang selalu kubilang dari terjemahan.
Aku menceritakannya sampai selesai, tanpa memperhalus satu kata pun, sambil menatap lantai.
Ketika aku selesai, ruangan itu sangat hening. Ada suara ayam tetangga dan suara motor lewat di depan.
“Mbah?”
Mbah Sri menghela napas.
“Kowe kuwi,” katanya.
Aku mengangkat wajah.
“Aku ngerti.”
Aku berkedip.
“...Ngerti apa, Mbah?”
“Ngerti kabeh,” katanya, dan mengangkat tangan sedikit, kesal, seperti orang yang sudah lama menunggu sesuatu yang jelas. “Ra. Aku pitung puluh wolu. Ora goblok.”
Dia tahu tentang koperasi sejak Bapak masih hidup.
Dia mendengar Bapak bertengkar di telepon dua kali di dapur, tahun 2021, dan dia tidak pernah bertanya karena — katanya — anak laki-laki tidak akan mengaku kalau ditanya, dan kalau tidak ditanya, suatu hari mereka akan cerita sendiri.
Bapak tidak pernah cerita. Bapak meninggal di warung sambil ngopi.
“Terus kenapa Mbah nggak pernah nanya ke aku?”
Mbah Sri menatapku.
“Kowe ora tau ngomong,” katanya. “Aku ngenteni.”
Dua tahun lebih. Dia menunggu dua tahun lebih.
Dan soal pekerjaanku dia bilang begini, persis begini, dan aku menuliskannya di buku catatan malam itu supaya tidak lupa satu kata pun:
“Aku ora ngerti kowe kerjane apa,” katanya. “Aku mung ngerti kowe mulih jam sewelas terus mangan sing wis adhem, terus esuke mesem.”
Lalu dia menepuk lututnya sendiri sekali.
“Sing tak pikirke ki kuwi,” katanya. “Dudu duite.”
Dan aku menangis di ruang depan rumah yang akan dilelang empat puluh tiga hari lagi, dengan televisi mati, sementara perempuan berumur tujuh puluh delapan tahun itu duduk di seberangku dan tidak memelukku karena kami bukan keluarga yang berpelukan, dan hanya sesekali menepuk lututku dengan punggung tangan seperti orang menepuk-nepuk adonan.
“Mbah,” kataku, ketika sudah bisa bicara lagi. “Aku mau ngomong sesuatu, dan Mbah boleh marah.”
“Yo wis, ngomong.”
“Rumah ini nggak bakal bisa aku pertahanin.”
Aku menunggu.
Mbah Sri mengangguk sekali.
“Aku nggak mau nunggu sampe dilelang,” kataku. “Kalau dilelang, harganya jatuh, terus utangnya nggak nutup, terus kita tetep kena sisanya. Aku udah tanya.”
“Terus?”
“Aku mau jual sendiri. Sebelum tanggalnya.” Suaraku bergetar dan aku menahannya. “Harga pasar. Aku udah tanya tiga orang. Cukup buat nutup semuanya, sisanya kita pake buat ngontrak. Aku udah liat dua tempat di deket sini, yang satu cuma dua gang dari sini, Mbah masih bisa ke pengajian jalan kaki.”
Mbah Sri tidak mengatakan apa-apa.
“Aku tau ini rumah Mbah,” kataku. “Aku tau Mbah lahirin Bapak di kamar itu. Aku tau—“
“Ra.”
Aku berhenti.
“Omah ki watu karo semen,” katanya.
Dia menoleh ke arah dinding ruang depan, ke foto Bapak dan foto Mbah Kakung yang sudah kuning, ke kalender dapur yang kelihatan dari sini.
“Sing tak simpen ki dudu omahe,” katanya. “Sing tak simpen ki fotone. Kuwi digawa.”
Lalu dia menoleh kembali ke arahku, dan matanya menyipit dengan cara yang sudah kukenal seumur hidupku, cara yang berarti aku akan mendapat sesuatu yang tidak enak.
“Sing tak takoni siji,” katanya.
“Apa, Mbah?”
“Kowe arep mandheg kerja kuwi?”
Aku ke kantor Beranda hari Senin, jam sepuluh pagi.
Aku sudah membaca prosedurnya dua kali di halte, malam Rabu itu, sampai hafal. Formulir, masa pemberitahuan empat belas hari, penyelesaian sesi berjalan, pengembalian kartu identitas pendamping.
Mbak Vera membaca formulirnya tanpa ekspresi apa pun.
“Alasan,” katanya, menunjuk kolom.
Aku sudah mengisinya. Satu baris.
Saya tidak bisa lagi mengerjakan ini dengan baik.
“Ini bohong,” katanya.
“Mbak—“
“Kamu masih bisa ngerjain ini dengan sangat baik. Kamu yang paling bagus di sini, dan kamu tau itu, dan aku tau kamu tau.” Dia menaruh formulirnya. “Aku nggak nolak pengunduran diri kamu. Aku cuma nggak mau kamu keluar dari sini sambil bohong.”
Aku menatap meja.
“Aku nggak bisa jawab pertanyaan ‘kamu suka apa’,” kataku.
Mbak Vera mengangkat wajah.
“Ada yang nanya itu ke aku minggu lalu,” kataku. “Dan aku nggak bisa jawab. Aku duduk satu jam empat puluh menit di depan buku catatan dan yang keluar cuma satu baris.”
“Karena kerjaan ini?”
“Bukan cuma karena kerjaan ini.” Aku menggeleng. “Aku udah begini dari dulu, Mbak. Kerjaan ini cuma bikin aku jago di dalemnya.”
Mbak Vera diam beberapa saat.
Lalu dia mengambil pulpen, mencoret satu baris di kolom alasan, dan menyodorkan formulirnya kembali kepadaku.
“Tulis yang bener,” katanya.
Aku menulis:
Saya mau tahu saya suka apa.
Dia membacanya. Lalu dia melakukan sesuatu yang membuatku hampir kehilangan seluruh ketenanganku: dia tersenyum.
“Nah,” katanya. “Itu alasan yang bagus.”
“Ra.”
Aku berhenti di pintu.
“Ini bukan urusan aku,” katanya, “dan aku nggak akan bahas lagi setelah ini.”
“Iya.”
“Klien Rabu kamu dateng ke sini hari Kamis kemarin.”
Aku berbalik penuh.
“Aku nggak kasih apa-apa,” kata Mbak Vera cepat. “Nggak alamat, nggak nomor, nggak apa pun. Sesuai prosedur.”
“Terus?”
“Aku tanya dia mau ngapain kalau ketemu kamu.”
Aku menunggu.
“Dia bilang,” kata Mbak Vera, “saya mau bertanya.”
Aku memegang gagang pintu.
“Terus aku tanya nanya apa,” lanjutnya. “Dan dia bilang dia nggak tau, karena dia belum pernah ngelakuin itu, dan dia nggak tau bentuknya kayak apa.”
Dia mengangkat bahu.
“Dua belas tahun aku baca laporan, Ra. Empat belas klien pernah dateng ke sini nyari alamat. Sebelas ngamuk, dua nawarin duit, satu nangis.”
“Dia yang keberapa?”
“Dia yang pertama yang jawabannya bukan tentang dia sendiri.”
Nadia menungguku di kursi tunggu dengan kotak plastik di pangkuan.
“Cireng?”
“Bu Ratih depan gang.” Dia menyodorkannya. “Terakhir. Abis ini lo nggak punya alasan buat ke sini.”
Aku mengambil satu dan duduk di sebelahnya.
Kami mengunyah beberapa saat.
“Lo tau nggak,” kata Nadia, “gua udah nyiapin ceramah dua puluh menit.”
“Terus?”
“Terus lo dateng bawa formulir yang udah diisi.” Dia menggigit cirengnya. “Nyebelin banget.”
“Maaf.”
“Lo mau ngapain sekarang?”
“Nerjemahin,” kataku. “Aku udah kirim surel ke empat penerbit. Satu udah bales.”
“Bayarannya?”
“Seperlima.”
“Anjir, Ra.”
“Iya.”
Nadia menghela napas panjang. Lalu dia bersandar ke kursi tunggu yang salah satu kakinya lebih pendek dan menatap bingkai plastik di dinding.
“Lo nggak keluar buat dia, kan?” katanya.
Aku memikirkan itu dengan sungguh-sungguh sebelum menjawab, karena Nadia pantas mendapat jawaban yang benar.
“Nggak,” kataku.
“Yakin?”
“Kalau aku keluar buat dia,” kataku, “aku tinggal nunggu dia manggil, terus aku dateng, terus semuanya beres.”
Aku menghabiskan cirengku.
“Aku belum bales pesen dia sama sekali, Nad. Udah sembilan hari.”
Nadia menoleh cepat.
“Serius?”
“Dia juga nggak ngirim lagi setelah yang pertama.” Aku mengangkat bahu. “Dia bilang dia nggak akan nungguin di gang lagi, dan dia nggak nungguin. Sembilan hari.”
“Terus lo nunggu apa?”
Aku menatap ruang putih sepuluh sentimeter di bawah aturan keempat, yang selama tiga tahun tidak pernah kusadari ada di sana.
“Aku nunggu sampe aku punya lebih dari satu baris,” kataku.
Aku menyerahkan kartu identitas pendampingku di meja resepsionis yang tidak ada resepsionisnya, dan menandatangani tanda terima, dan berjalan keluar melewati klinik gigi dan papan nama kursus Mandarin yang sudah tutup dua tahun lalu.
Di trotoar Tebet jam sebelas siang, aku berdiri sebentar.
Empat puluh dua hari sampai lelang. Rumah akan dijual. Penghasilanku turun jadi seperlima. Aku dua puluh sembilan tahun dan aku baru punya satu baris di halaman berjudul AKU SUKA APA.
Semua yang bisa dihitung menunjukkan bahwa aku baru saja membuat keputusan terburuk dalam hidupku.
Dan aku berdiri di trotoar itu dan menyadari, dengan sesuatu yang tidak enak dan asing dan agak mirip pusing, bahwa ini adalah hal pertama yang pernah kupilih sendiri.
Bukan karena ada yang butuh.
Bukan karena ada yang bayar.
Bukan karena Bapak menandatangani sesuatu delapan tahun lalu di ruangan yang tidak pernah kulihat.
Aku memilihnya.
Aku berjalan pulang, dan mampir ke Mart, dan berdiri lima menit di lorong tepung tanpa membeli apa pun, dan pulang.
Malam itu aku menulis baris kedua.
- 1 Klien yang Tidak Meminta Apa-apa
- 2 Denah Rasa
- 3 Tidak Ada Garam di Meja Ini
- 4 Lima Aturan
- 5 Toleransi
- 6 Porsi Untuk Dua Orang
- 7 Lorong Bumbu, Pukul 22.40
- 8 Di Luar Jadwal
- 9 Nasi Kuning untuk Enam Orang
- 10 Sabtu
- 11 Pukul Lima Pagi di Palmerah
- 12 Tarif Per Jam
- 13 Halte, dan Hari Jumat
- 14 Lantai Dua Puluh, Tanpa Listrik
- 15 Ibu Saya Datang Hari Rabu
- 16 Aturan yang Tidak Ditulis di Mana Pun
- 17 Kampanye
- 18 Data
- 19 Rabu Ketiga Puluh Satu
- 20 Penyesuaian Layanan
- 21 Enam Belas Karakter
- 22 Rabu yang Kosong
- 23 Enam Kali
- 24 Perempuan yang Punya Nama di Undangan
- 25 Tangga Darurat
- 26 Kamu Suka Apa
- 27 Yang Pertama Kupilih reading
- 28 Lorong Bumbu, Lagi
- 29 Yang Kedua
- 30 Tiga Menit
- 31 Seratus Tiga Pertanyaan
- 32 Kelapa Sangrai
- 33 Aturan Dapur
- 34 Yogyakarta
- 35 Tambahin Sesukamu
- 36 Kamu Mau Makan Apa