Chapter Eleven
Pukul Lima Pagi di Palmerah
POV: Kiara
Pak Yudi menelepon hari Sabtu jam sebelas siang.
Dia mengucapkan salam. Dia menanyakan kabar. Dia menyebut nama Bapak dua kali dengan nada yang dibuat sedih. Lalu dia menyampaikan bahwa manajemen sudah mengeluarkan surat peringatan ketiga, dan bahwa berdasarkan ketentuan, jaminan akan diproses ke lelang apabila dalam sembilan puluh hari tidak ada penyelesaian.
Sembilan puluh hari.
Aku menuliskan angkanya di kalender dapur dengan pulpen, di kotak tanggal yang jatuh di bulan depannya bulan depan. Lingkaran kecil. Tidak ada tulisan lain, karena Mbah Sri bisa membaca.
“Sopo, Ra?” tanyanya dari ruang depan.
“Bank, Mbah. Nawarin kartu kredit.”
“Ojo gelem.”
“Iya, nggak.”
Aku duduk di kursi plastik yang catnya mengelupas, dan menghitung, dan hasil hitungannya tidak berubah dari terakhir kali aku menghitung.
Seratus sembilan puluh empat juta. Sembilan puluh hari. Penghasilanku, kalau semuanya lancar dan aku menerima semua pekerjaan yang ditawarkan, sekitar dua belas juta sebulan.
Aku duduk di sana sampai jam satu.
Lalu aku menyalakan televisi karena Mbah Sri suka ada suaranya.
Malam Minggu aku tidak bisa tidur.
Itu bukan hal baru. Yang baru adalah jam empat pagi aku sudah berdiri di depan cermin kamar mandi, mengikat rambut, dan tidak sedang bersiap untuk apa pun.
Ada satu kalimat yang berputar di kepalaku sejak jam dua, dan kalimat itu bukan soal sembilan puluh hari.
Kalimat itu adalah: Bu Nengsih menyisihkan bagian dada kalau saya datang sebelum jam enam.
Danan mengatakannya di Rabu keempat, waktu aku bertanya kenapa ayam kampungnya beda. Dia menjelaskan soal ayam kampung selama tujuh menit dan menyebut nama itu sekali, di tengah, sambil lalu. Bu Nengsih. Pasar Palmerah. Sebelum jam enam.
Aku ingat karena aku mengingat semuanya. Itu penyakit, bukan bakat.
Jam empat empat puluh aku keluar rumah dengan hoodie, celana training, dan sepatu kets. Tanpa riasan. Kacamata.
Aku bilang pada diriku sendiri bahwa aku cuma ingin lihat pasar.
Aku bahkan tidak berusaha keras meyakinkan diriku sendiri. Aku sudah terlalu lelah untuk itu.
Pasar Palmerah jam lima pagi adalah tempat yang tidak seperti yang kubayangkan.
Aku pikir akan gelap. Ternyata terang di mana-mana — bola lampu kuning digantung di kabel-kabel yang saling silang di atas kepala, ratusan, sampai langit-langit pasar kelihatan seperti sesuatu yang sengaja dihias. Lantainya basah. Baunya bercampur: ikan, kunyit, darah ayam, kopi, dan asap rokok kretek.
Dan ramai. Ramai sekali. Bukan ramai orang jalan-jalan; ramai orang bekerja.
Aku berjalan pelan sambil merapatkan hoodie, merasa seperti orang yang salah masuk ke tempat kerja orang lain.
Aku tidak berencana menemukannya. Aku ingin mencatat itu dengan jujur. Pasar itu besar, ada mungkin dua ratus lapak, dan aku tidak tahu di sebelah mana bagian daging, dan aku sudah setengah menyerah di menit kedua belas.
Lalu aku mendengar suaranya.
“Bu, ini yang kemarin bukan?”
Aku berhenti.
“Ya sama, Mas.”
“Bukan. Yang kemarin lemaknya lebih tebal di bagian punggung. Ini beda peternak.”
Aku berbalik.
Dia berdiri di lapak ketiga dari ujung, membelakangiku, memakai kaus polos abu-abu — kaus, bukan kemeja, dan itu saja sudah membuatku merasa seperti melihat sesuatu yang tidak seharusnya kulihat — dengan tas belanja kain di bahu dan sandal karet.
Rambutnya belum rapi. Belum ada satu pun bagian dari dirinya yang disiapkan untuk dilihat orang.
“Ya emang beda, Mas.” Ibu penjualnya tertawa. “Yang biasa lagi nggak ngirim.”
“Kenapa?”
“Anaknya nikah.”
Danan diam sebentar.
“Ya sudah,” katanya. “Yang ini saja. Tapi saya kurangi setengah kilo.”
“Yaelah, Mas Danan.”
“Bu Nengsih, lemaknya beda tebal berarti pakannya beda. Kalau pakannya beda, waktu ungkepnya beda. Saya harus coba dulu.”
“Ngitung terus.”
“Iya.”
Aku berdiri di antara dua lapak sayur, sekitar delapan meter di belakangnya, dan aku tidak bergerak.
Ada versi diri seseorang yang cuma keluar kalau tidak ada yang menonton.
Aku tahu itu lebih baik daripada kebanyakan orang. Pekerjaanku seluruhnya dibangun di atas kenyataan itu.
Yang tidak pernah kuduga adalah bahwa versi Danan yang tidak ditonton ternyata lebih — bukan lebih lembut, bukan lebih hangat. Lebih cepat. Lebih hidup. Dia bergerak di pasar itu seperti orang yang tahu persis di mana semua benda berada, menyapa empat orang dengan nama, menawar tanpa basa-basi, tertawa sekali — pendek, satu kali, waktu tukang ikan mengatakan sesuatu yang tidak kudengar.
Dia tertawa.
Aku sudah tujuh kali makan malam di apartemennya dan tidak pernah sekali pun mendengar itu.
Aku masih berdiri di sana waktu dia berbalik dan melihatku.
Wajahnya melakukan hal yang sama seperti di lorong bumbu. Membeku, satu setengah detik.
Lalu dia berjalan ke arahku, berhenti di jarak yang wajar, dan berkata:
“Ini hari Minggu.”
“Iya.”
“Jam lima.”
“Iya.”
Kami saling menatap.
“Kamu mau bilang aku ngapain di sini,” kataku.
“Tidak.” Dia memindahkan tas kainnya ke bahu yang satu lagi. “Saya cuma menyebutkan fakta. Saya sering begitu.”
“Aku tau.”
“Anda tidak bisa tidur?”
Aku membuka mulut untuk mengatakan versi yang sudah kusiapkan sepanjang perjalanan — lagi pengen lihat pasar, katanya bagus, buat foto — dan yang keluar adalah:
“Nggak bisa.”
Danan mengangguk sekali.
Aku menunggu.
Aku sudah tahu polanya sekarang, dan aku tetap menunggu, dan itu bagian yang menyedihkan.
Dia tidak bertanya kenapa.
Yang dia lakukan adalah mengangkat tas kain kedua yang tergantung di bahunya, yang masih kosong, dan menyodorkannya ke arahku.
“Kalau sudah di sini,” katanya, “bawa ini. Tangan saya cuma dua.”
Aku mengikutinya selama satu jam empat puluh menit.
Itu bukan kencan. Aku ingin sangat jelas soal itu, karena selama satu jam empat puluh menit itu dia tidak menyentuhku sekali pun, tidak membelikanku apa pun, tidak sekali pun bertanya soal hidupku, dan sekitar delapan puluh persen dari yang dia ucapkan adalah informasi teknis tentang bahan makanan.
Dan itu adalah pagi terbaik yang kupunya dalam mungkin dua tahun.
Dia menjelaskan cara memilih ikan dengan cara memegang kepalanya dan menekan insangnya terbuka. “Merah tua. Bukan merah muda, bukan cokelat. Ini.” Dia mengangkatnya ke arahku. “Cium.”
“Aku nggak mau cium insang ikan.”
“Cium.”
Aku mencium insang ikan jam lima empat puluh pagi di Pasar Palmerah.
“Baunya laut,” kataku.
“Betul. Kalau baunya amis, itu sudah lewat.” Dia menaruhnya di timbangan. “Amis itu bukan bau ikan. Amis itu bau ikan yang mulai rusak. Orang salah menyebutnya seumur hidup.”
Dia menyerahkan tiga ikan ke tas yang kubawa.
Di lapak bumbu dia berhenti lama sekali di depan tumpukan cabai, dan aku pikir dia sedang menghitung, dan ternyata dia sedang menunggu ibu penjualnya selesai melayani orang lain karena — katanya — “Kalau dipotong antreannya, dia yang rugi, bukan saya.”
Di lapak kelapa, seorang bapak menepuk bahunya dan berkata, “Wah, sekarang bawa asisten.”
“Bukan asisten,” kata Danan.
Dan berhenti.
Aku menunggu.
Bapak itu menunggu.
Danan menatap tumpukan kelapa parut dengan konsentrasi penuh dan tidak menyelesaikan kalimatnya, dan setelah sekitar empat detik yang sangat panjang si bapak tertawa dan bilang, “Oh, ngerti-ngerti,” dengan nada yang jelas-jelas berarti dia tidak mengerti apa-apa tapi sudah menarik kesimpulan sendiri.
Danan membayar. Kami berjalan.
“Kamu nggak jelasin,” kataku setelah lima langkah.
“Menjelaskan apa?”
“Ke bapaknya.”
“Menjelaskan apa,” ulangnya, dan kali ini bukan pertanyaan retoris. Dia benar-benar berhenti berjalan dan menoleh, dengan kening berkerut, betul-betul ingin tahu jawabannya.
Dan aku berdiri di tengah pasar dengan tiga ikan di tas kain dan tidak punya satu pun kalimat yang bisa kuucapkan.
Karena jawaban yang benar adalah: jelasin bahwa aku dibayar buat ada di deket kamu.
Dan aku tidak mau mengatakan kalimat itu.
Untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, aku tidak mau mengatakan kalimat itu keras-keras.
“Nggak jadi,” kataku.
Danan mengangguk, dan berjalan lagi, dan tiga langkah kemudian dia berkata, “Awas, licin,” dan tangannya naik sekitar sepuluh sentimeter ke arah sikuku —
lalu berhenti di udara.
Lalu turun.
Dia berjalan terus.
Aku memikirkan sepuluh sentimeter itu selama tiga hari.
Jam tujuh kurang kami keluar dari pasar.
Matahari sudah naik. Tas kainku berat sebelah dan tanganku bau ikan, dan aku merasa lebih hidup daripada yang sudah lama sekali kurasakan.
Danan mengambil tas itu dariku di pinggir jalan.
“Terima kasih,” katanya.
“Buat apa?”
“Tangan tambahan.”
Aku mengangkat bahu.
Dan lalu — karena aku bodoh, karena matahari jam tujuh pagi membuat orang bodoh — aku berkata:
“Kalau aku dateng minggu depan gimana?”
Danan berhenti mengatur tas di bahunya.
Ada jeda. Cukup panjang untuk membuat perutku dingin.
“Aturan empat,” katanya pelan.
Oh.
Oh.
Dia tahu. Tentu saja dia tahu, dia membaca semua yang dia tanda tangani, halaman tiga, dia bilang sendiri. Dia tahu persis bahwa aku sedang berdiri di trotoar Palmerah jam tujuh pagi hari Minggu melanggar aturan yang dibuat untuk melindungiku.
Dan dia tidak mengatakannya untuk mempermalukanku. Dia mengatakannya seperti menyebut trotoar yang licin.
“Iya,” kataku. “Iya. Bego. Maaf.”
“Kiara.”
Aku mengangkat wajah.
Itu pertama kalinya dia menyebut namaku. Tujuh Rabu, satu Selasa, satu Minggu. Selalu Anda. Tidak pernah namaku.
Dia berdiri di pinggir jalan dengan dua tas kain penuh dan kaus abu-abu dan rambut yang belum rapi, dan dia mengatakan:
“Saya berangkat jam lima setiap hari Minggu.”
Lalu dia menaikkan tasnya, mengangguk sekali, dan berjalan ke arah parkiran.
Aku pulang naik angkot pertama.
Di angkot itu aku mencium tanganku sendiri — bau ikan, bau kunyit, bau pasar — dan aku duduk di dekat jendela dengan matahari pagi masuk ke pangkuanku, dan aku memikirkan satu kalimat berulang-ulang.
Saya berangkat jam lima setiap hari Minggu.
Itu bukan undangan. Aku tahu itu bukan undangan. Kalau itu undangan, itu melanggar aturan empat, dan Danan tidak akan pernah melakukan itu karena Danan membaca semua yang dia tanda tangani.
Itu cuma informasi.
Dia cuma menaruh informasi di depanku dan berjalan pergi, dan menyerahkan seluruh keputusannya kepadaku, persis seperti dia mendorong kotak makan sepuluh sentimeter di atas konter lalu berkata terserah Anda dan menyalakan keran.
Aku menyandarkan kepala ke jendela angkot.
Sembilan puluh hari, pikirku.
Dan lalu, tanpa aku izinkan sama sekali:
Enam hari lagi.
- 1 Klien yang Tidak Meminta Apa-apa
- 2 Denah Rasa
- 3 Tidak Ada Garam di Meja Ini
- 4 Lima Aturan
- 5 Toleransi
- 6 Porsi Untuk Dua Orang
- 7 Lorong Bumbu, Pukul 22.40
- 8 Di Luar Jadwal
- 9 Nasi Kuning untuk Enam Orang
- 10 Sabtu
- 11 Pukul Lima Pagi di Palmerah reading
- 12 Tarif Per Jam
- 13 Halte, dan Hari Jumat
- 14 Lantai Dua Puluh, Tanpa Listrik
- 15 Ibu Saya Datang Hari Rabu
- 16 Aturan yang Tidak Ditulis di Mana Pun
- 17 Kampanye
- 18 Data
- 19 Rabu Ketiga Puluh Satu
- 20 Penyesuaian Layanan
- 21 Enam Belas Karakter
- 22 Rabu yang Kosong
- 23 Enam Kali
- 24 Perempuan yang Punya Nama di Undangan
- 25 Tangga Darurat
- 26 Kamu Suka Apa
- 27 Yang Pertama Kupilih
- 28 Lorong Bumbu, Lagi
- 29 Yang Kedua
- 30 Tiga Menit
- 31 Seratus Tiga Pertanyaan
- 32 Kelapa Sangrai
- 33 Aturan Dapur
- 34 Yogyakarta
- 35 Tambahin Sesukamu
- 36 Kamu Mau Makan Apa