Chapter Seven
Lorong Bumbu, Pukul 22.40
POV: Kiara
Hari Selasa itu aku menghabiskan tiga jam empat puluh menit di kantor koperasi di Cempaka Putih.
Aku menulis waktunya karena aku menghitung semuanya, dan karena tiga jam empat puluh menit adalah waktu yang sangat lama untuk duduk di kursi besi sambil menunggu seorang laki-laki bernama Pak Yudi menjelaskan untuk kelima kalinya bahwa restrukturisasi tidak bisa diajukan oleh pihak yang bukan penanggung utang.
Penanggung utangnya sudah meninggal dua puluh sembilan bulan lalu.
“Ya makanya, Mbak,” katanya, dengan nada seseorang yang sedang menjelaskan sesuatu yang sangat sederhana kepada seseorang yang sangat bodoh. “Ini kan bukan utang Mbak.”
“Tapi yang bayar saya.”
“Ya itu urusan keluarga.”
“Rumahnya jaminan.”
“Nah.” Dia mengangkat telunjuk, senang, seperti aku baru saja lulus ujian. “Nah, itu yang harus Mbak pikirin.”
Aku pulang naik dua angkot. Kepalaku sudah mulai berdenyut di angkot pertama, dan di angkot kedua ada bapak-bapak merokok di sebelah jendela dan tidak ada satu pun yang menegurnya termasuk aku.
Sampai rumah jam tujuh. Mbah Sri sudah menyiapkan makan. Aku makan, karena selalu, dan mencuci piring, dan menonton sinetron sebentar di sebelahnya sampai dia tertidur di kursi dan aku memindahkannya ke kamar.
Lalu aku duduk di kamarku dan menyadari obat sakit kepalanya habis.
Aku tidak berdandan untuk pergi ke Mart.
Aku ingin mencatat itu, bukan sebagai pembelaan, tapi sebagai fakta yang penting untuk semua yang terjadi setelahnya.
Jam setengah sebelas malam, di Mart dua puluh empat jam di ujung jalan besar, tujuh menit jalan kaki dari mulut gang. Rambut kuikat asal dengan karet yang sudah longgar. Kacamata — kacamata betulan, minus dua setengah, yang tidak pernah kupakai keluar rumah sejak entah kapan karena lensa kontak membuat mata terlihat lebih besar dan lebih hidup dan itu bagian dari pekerjaan.
Hoodie abu-abu kebesaran yang dulu punya Bapak. Celana training. Sandal jepit.
Wajah kosong. Nol. Tidak ada apa pun di sana kecuali kulit dan lelah.
Aku membawa tas selempang kecil dan di dalamnya ada dompet, kunci, ponsel, dan satu kotak makan kaca dengan tutup plastik biru yang tidak punya urusan apa pun berada di sana malam itu.
Mart-nya terang seperti ruang operasi.
Aku masuk, mengambil keranjang, dan berjalan pelan ke rak obat.
Ini bagian dari hidupku yang tidak pernah dilihat siapa pun. Bukan bagian yang memalukan — cuma bagian yang tidak dijual. Aku berdiri di depan rak obat selama satu setengah menit membandingkan dua merek yang isinya sama persis dan selisihnya tiga ribu rupiah, dan aku mengambil yang tiga ribu lebih murah, dan aku melakukannya tanpa berpikir karena sudah otomatis.
Lalu roti tawar. Yang setengah lusin, bukan yang besar, karena Mbah Sri makan dua lembar sehari dan yang besar selalu berjamur di hari kelima.
Lalu kopi sachet. Isi sepuluh.
Aku sedang berdiri di ujung lorong empat, memasukkan kopi ke keranjang, waktu aku mendengar suara troli.
Aku tidak menoleh. Tidak ada alasan untuk menoleh. Ada mungkin sembilan orang di Mart itu dan semuanya sedang melakukan hal yang sama denganku, yaitu ada di tempat yang salah pada jam yang salah.
Aku berbelok ke lorong lima.
Lorong lima adalah lorong bumbu.
Rak kiri: kecap, saus, cuka, minyak. Rak kanan: bumbu instan, garam, merica, kaldu blok.
Dan berdiri di tengahnya, membelakangiku, dengan troli — bukan keranjang, troli — dan kemeja yang lengannya digulung sampai siku, adalah Danan.
Aku berhenti.
Bukan berhenti pelan. Berhenti seperti orang yang kabelnya dicabut. Salah satu sandalku berbunyi di lantai vinil dan bunyinya terdengar sampai ke ujung lorong.
Danan menoleh.
Dan aku melihat momen persisnya — momen ketika dia mengenaliku, yang butuh sekitar satu setengah detik lebih lama dari yang seharusnya — dan wajahnya melakukan sesuatu yang belum pernah kulihat.
Dia membeku.
Betul-betul membeku. Tangannya masih setengah terangkat ke arah rak, memegang sebotol kecap yang belum sempat dia masukkan ke troli.
Kami saling menatap selama waktu yang sangat panjang.
“Selamat malam,” katanya.
Aku membuka mulut.
“Menu—“ katanya.
Dan berhenti.
Aku melihat kalimat itu mati di tengah jalan. Aku melihat detik ketika dia menyadari bahwa dia baru saja memulai satu-satunya kalimat pembuka yang dia punya, dan bahwa kalimat itu tidak punya lanjutan di sini, di antara rak kecap dan rak saus tiram, pada hari Selasa.
Botol kecap di tangannya turun beberapa sentimeter.
“...Tidak ada menu,” katanya akhirnya. Pelan. Hampir ke dirinya sendiri.
Dan aku — dengan kepala berdenyut, dengan wajah tanpa apa pun, dengan sandal jepit dan hoodie almarhum ayahku, di lorong bumbu sebuah minimarket pada pukul dua puluh dua lewat empat puluh —
tertawa.
Bukan tawa kerja. Yang itu keluar setengah detik lebih cepat dari seharusnya dan berhenti di tempat yang tepat. Yang ini keluar terlambat, dari tempat yang salah, satu embusan lewat hidung yang langsung disusul yang kedua, dan aku harus menutup mulutku dengan punggung tangan.
Danan menatapku dengan ekspresi seseorang yang tidak tahu apa yang lucu.
“Maaf,” kataku. “Maaf. Maaf. Aku—“
“Anda memakai kacamata.”
Aku berhenti tertawa.
Ada beberapa cara laki-laki melihat perempuan yang mereka temui di luar konteksnya.
Yang pertama, dan paling sering: pura-pura tidak kenal. Ini sebenarnya pilihan paling sopan dan aku selalu berterima kasih untuk itu.
Yang kedua: terlalu ramah, terlalu keras, dengan sesuatu di nada suaranya yang bilang aku tahu siapa kamu dan menikmati kenyataan bahwa dia tahu.
Yang ketiga adalah yang paling kubenci: menilai ulang. Melihat wajahku tanpa apa pun dan diam-diam menghitung selisihnya.
Aku sudah bersiap untuk ketiganya sekaligus. Tubuhku sudah bersiap. Aku bisa merasakan bahuku naik.
Danan mengatakannya seperti orang menyebutkan cuaca.
Lalu dia menambahkan, “Minusnya berapa?”
“...Dua setengah.”
“Kanan-kiri sama?”
“Kiri dua tujuh puluh lima.”
Dia mengangguk. Memasukkan botol kecapnya ke troli. “Pantas.”
“Pantas apa?”
“Anda selalu memiringkan kepala ke kiri waktu membaca sesuatu di meja.”
Aku berdiri di lorong lima dan tidak bisa memikirkan satu pun kalimat.
“Kamu belanja jam segini?”
“Saya belanja hari Minggu di pasar,” katanya, mulai berjalan pelan, dan entah bagaimana aku berjalan juga. “Ini untuk yang tidak ada di pasar.”
“Kayak?”
“Kecap. Ini merek yang bagus tapi susah dicari. Kalau ada, saya beli tiga.”
Aku melihat ke trolinya. Ada tiga botol kecap.
“Kamu selalu beli tiga?”
“Kalau ada.”
“Kalau nggak ada?”
“Saya cari di tempat lain.”
Kami sampai di ujung lorong. Dia berbelok ke kanan, ke rak telur dan tepung, dan aku ikut, dan tidak ada satu pun dari kami yang membahas kenapa aku ikut.
“Ini.” Dia berhenti di depan tumpukan tepung. “Yang ini jangan.”
“Aku nggak beli tepung.”
“Suatu saat mungkin.” Dia mengangkat satu bungkus, menunjukkan sisi belakangnya seperti orang menunjukkan barang bukti. “Ini protein tinggi. Bagus untuk roti, tidak untuk gorengan. Orang salah beli terus, lalu bilang gorengannya keras, lalu menyalahkan minyak.”
“Kamu ngomong gini ke orang di Mart sering nggak?”
Danan berhenti.
Menaruh tepungnya kembali. Sangat pelan.
“Tidak,” katanya.
“Danan—“
“Maaf.”
“Aku nggak—“ Aku menarik napas. “Aku nggak lagi ngeledek. Aku nanya beneran.”
Dia menatapku dengan hati-hati.
Lalu, sedikit lebih pelan dari sebelumnya: “Biasanya tidak ada yang mendengarkan sampai selesai.”
Aku ingin mengatakan sesuatu di sana. Aku sungguh-sungguh ingin. Tapi kepalaku berdenyut dan tenggorokanku melakukan hal yang sama seperti Rabu lalu di meja makan yang catnya mengelupas, jadi aku cuma mengangkat bahu dan bilang, “Ya udah, lanjut. Tepung yang mana?”
Dia menjelaskan selama empat menit.
Aku mendengarkan sampai selesai.
Kami sampai di kasir bersamaan, yang mana bukan kebetulan karena aku memperlambat langkahku dua kali.
Ada satu kasir yang buka. Anak muda dengan mata setengah tertutup. Danan mempersilakanku duluan dengan gerakan tangan kecil.
Aku menaruh keranjangku di konter.
Obat sakit kepala. Roti tawar setengah lusin. Kopi sachet isi sepuluh.
Itu saja.
Aku mengeluarkan dompet, dan aku melihat Danan melihat keranjangku, dan aku tahu persis apa yang sedang dibaca.
Karena itu keahlianku juga. Aku bisa membaca isi keranjang orang seperti membaca paragraf. Obat sakit kepala berarti sakit kepala yang sudah diprediksi, bukan mendadak. Roti tawar setengah lusin berarti rumah dengan satu atau dua orang yang makannya tidak banyak. Kopi sachet berarti tidak ada yang punya waktu.
Dan tidak ada satu pun bahan makanan di sana.
Danan tidak mengatakan apa-apa selama kasirnya memindai barang. Tidak selama aku membayar. Tidak selama aku memasukkan belanjaan ke kantong plastik yang dia tolak, katanya bawa tas sendiri, dan aku tidak punya.
Baru waktu aku selesai dan menyingkir dari konter, dia berkata — pelan, tidak ke arahku, sambil menaruh trolinya —
“Anda tidak makan malam.”
Bukan pertanyaan.
Aku berdiri di sana dengan kantong plastik di tangan.
“Aku makan,” kataku.
“Baik.”
“Beneran. Aku makan tadi jam tujuh.”
“Baik,” ulangnya, dan mulai mengeluarkan belanjaannya ke konter, satu per satu, dan tidak melihat ke arahku sama sekali.
Dan aku berdiri di belakangnya di Mart yang terang seperti ruang operasi dan mendapati diriku ingin sekali dia bertanya lagi.
Sekali lagi saja. Sekali lagi dan aku akan bilang yang sebenarnya — bahwa aku makan, iya, tapi bahwa aku menghabiskan tiga jam empat puluh menit hari ini duduk di kursi besi mendengarkan seseorang menyebut rumah nenekku sebagai itu yang harus Mbak pikirin, dan bahwa sejak angkot pertama ada sesuatu yang ditekan turun terus-menerus di dadaku dan tidak ada tempat untuk menaruhnya.
Danan tidak bertanya lagi.
Dia membayar, mengambil dua kantong, dan berbalik.
“Arah mana?” tanyanya.
“Gang seberang. Deket.”
“Sama.”
Itu bohong. Menara Kalyana ada empat kilometer ke arah sebaliknya dan kami berdua tahu itu, dan aku tidak mengatakan apa-apa, dan dia juga tidak.
Jalanan jam sebelas kurang sepuluh itu kosong.
Kami berjalan pelan. Dia membawa dua kantong di tangan kiri, dan setelah dua puluh meter aku menyadari dia sudah pindah ke sisi luar tanpa aku lihat kapan — sisi jalan, sisi motor lewat — dan aku di sisi dalam, dekat pagar-pagar rumah.
Kami hampir tidak bicara.
Dia bilang trotoarnya rusak di depan, hati-hati. Aku bilang iya. Dia bilang lampu jalan di gang ini mati tiga dari lima. Aku bilang sudah dari tahun lalu.
Itu saja. Tujuh menit, kira-kira empat kalimat.
Dan sepanjang tujuh menit itu aku menunggu.
Aku menunggu dia bertanya kenapa aku kelihatan begini. Aku menunggu dia bertanya apa yang terjadi hari ini. Aku menunggu dia melakukan apa yang dilakukan semua orang, yaitu mencoba masuk lewat celah yang jelas-jelas terbuka lebar di wajahku.
Dia tidak melakukannya.
Dan aku tidak tahu — sampai sekarang aku tidak tahu — apakah malam itu dia sedang memberiku hadiah terbesar yang pernah kuterima dari siapa pun,
atau apakah itu adalah tanda paling awal dari hal yang nanti akan menghancurkan kami berdua.
Mungkin dua-duanya. Mungkin itu selalu dua-duanya, dengan Danan.
Kami berhenti di mulut gang.
“Sampai sini aja,” kataku. “Beneran deket.”
“Baik.”
Aku memindahkan kantong plastik ke tangan kiri. Membuka tas selempang. Dan mengeluarkan kotak kaca dengan tutup plastik biru itu.
Danan menatapnya.
Lalu menatapku.
“Anda membawanya,” katanya.
“Aku—“ Suaraku keluar lebih tinggi dari yang kumau. “Aku bawa terus. Biar nggak lupa. Buat besok. Ini kebetulan.”
“Ya.”
“Beneran kebetulan.”
“Ya,” katanya lagi, dan mengambilnya, dan menaruhnya di dalam salah satu kantongnya. “Terima kasih.”
Kami berdiri di mulut gang itu. Lampu jalan yang satu-satunya menyala di sebelah kiri, terlalu kuning, membuat semuanya terlihat seperti foto lama.
“Danan.”
“Ya.”
Aku tidak tahu apa yang akan kukatakan. Aku benar-benar tidak tahu. Ada terlalu banyak di sana dan tidak satu pun yang punya bentuk.
“Makasih,” kataku akhirnya. “Buat... anter.”
Dia mengangguk.
“Rabu besok,” katanya. “Jam tujuh.”
“Iya.”
Dia berbalik dan berjalan ke arah yang salah, ke arah yang jelas-jelas empat kilometer dari rumahnya, dengan dua kantong belanja di tangan kiri, dan tidak menoleh lagi.
Aku berdiri di mulut gang sampai dia hilang di tikungan.
Di rumah, aku menaruh belanjaan di meja dapur. Minum obat. Duduk di kursi plastik yang catnya mengelupas.
Dan aku menyadari sesuatu yang membuat perutku dingin.
Selama hampir satu jam — di lorong bumbu, di depan rak tepung, di kasir, di sepanjang tujuh menit jalan kaki itu — aku tidak sekali pun memakai suaraku yang untuk kerja.
Tidak sekali pun.
Tidak ada tawa yang keluar setengah detik lebih cepat. Tidak ada kepala yang dimiringkan. Tidak ada pertanyaan yang kususun supaya lawan bicaraku merasa menarik. Aku bahkan menyebut minus mata kiriku.
Aku duduk di dapur yang lampunya mati sebelah dan berpikir: itu bukan aku yang bekerja.
Lalu aku berpikir, dan ini bagian yang membuatku tidak tidur sampai jam dua:
Terus itu siapa?
- 1 Klien yang Tidak Meminta Apa-apa
- 2 Denah Rasa
- 3 Tidak Ada Garam di Meja Ini
- 4 Lima Aturan
- 5 Toleransi
- 6 Porsi Untuk Dua Orang
- 7 Lorong Bumbu, Pukul 22.40 reading
- 8 Di Luar Jadwal
- 9 Nasi Kuning untuk Enam Orang
- 10 Sabtu
- 11 Pukul Lima Pagi di Palmerah
- 12 Tarif Per Jam
- 13 Halte, dan Hari Jumat
- 14 Lantai Dua Puluh, Tanpa Listrik
- 15 Ibu Saya Datang Hari Rabu
- 16 Aturan yang Tidak Ditulis di Mana Pun
- 17 Kampanye
- 18 Data
- 19 Rabu Ketiga Puluh Satu
- 20 Penyesuaian Layanan
- 21 Enam Belas Karakter
- 22 Rabu yang Kosong
- 23 Enam Kali
- 24 Perempuan yang Punya Nama di Undangan
- 25 Tangga Darurat
- 26 Kamu Suka Apa
- 27 Yang Pertama Kupilih
- 28 Lorong Bumbu, Lagi
- 29 Yang Kedua
- 30 Tiga Menit
- 31 Seratus Tiga Pertanyaan
- 32 Kelapa Sangrai
- 33 Aturan Dapur
- 34 Yogyakarta
- 35 Tambahin Sesukamu
- 36 Kamu Mau Makan Apa