Chapter Twenty
Penyesuaian Layanan
POV: Danan
Saya ingin memulainya dari satu detik.
Bukan dari ciumannya. Dari satu detik setelahnya, ketika tangan kanan saya sudah naik sepuluh sentimeter ke arah pinggangnya dan berhenti di udara.
Orang akan mengira saya berhenti karena kaget. Itu masuk akal dan itu salah.
Saya berhenti karena saya menghitung.
Saya tidak bisa menjelaskannya dengan cara yang membuat saya terdengar seperti manusia, tapi saya akan mencoba: dalam satu detik itu, otak saya melakukan apa yang selalu dilakukannya sejak saya berumur dua puluh tiga tahun. Ia membuka daftar.
Satu. Perempuan ini sedang berada di dalam jam kerja yang saya bayar.
Dua. Saya yang memegang uangnya.
Tiga. Kalau saya salah membaca ini, dia yang kehilangan pekerjaan. Bukan saya.
Empat. Saya sudah pernah salah membaca seseorang selama satu setengah tahun, dengan sangat teliti, dengan sangat yakin, dan saya salah dari awal sampai akhir.
Jadi tangan saya berhenti.
Bukan karena saya tidak ingin.
Saya perlu menuliskan itu, karena tidak ada satu pun orang di dunia ini yang tahu, dan karena semua yang saya lakukan dua belas jam berikutnya tidak masuk akal tanpa kalimat ini:
Saya menginginkannya. Sangat.
Selama satu setengah detik itu saya menginginkan sesuatu lebih daripada apa pun yang bisa saya ingat dalam tiga tahun terakhir.
Dan justru karena itu saya tidak boleh mengambilnya, karena saya tidak punya satu pun cara untuk memastikan bahwa itu diberikan dengan bebas.
Lalu pintu tertutup, dan saya menjatuhkan sesuatu di konter, dan ruangan itu jadi sangat sunyi.
Saya tidak tidur.
Jam sembilan saya mencuci piring. Jam sembilan lewat dua puluh saya mengelap meja. Jam sepuluh saya duduk di kursi seberang — kursi yang bukan kursinya — dan tidak melakukan apa pun sampai jam sebelas.
Lalu saya membuka laci bawah lemari dapur dan mengeluarkan map.
Saya mengeluarkan semuanya. Seratus dua puluh dua lembar, di atas meja jati dua meter sepuluh, disusun berbaris seperti gambar kerja yang sedang diperiksa sebelum diserahkan.
Lembar nomor 41, soto ayam, dengan catatan di bawah: Seledri: 7/7 tidak dimakan. Disisihkan rapi, bukan didorong.
Dua puluh tiga lembar yang saya koreksi dalam satu malam sampai jam dua belas lewat empat puluh.
Lembar paling depan: RABU.
Di belakangnya: JUMAT.
Dan di paling belakang, kertas kusut yang sudah saya luruskan, dengan tulisan dicoret dua kali sampai tintanya menekan bekas: SELASA.
Saya duduk di depan seratus dua puluh dua lembar itu sampai jam dua pagi.
Ini yang saya kerjakan sepanjang malam itu, dan saya akan menuliskannya persis seperti saya mengerjakannya, karena kalau saya merapikannya sekarang saya akan sedang berbohong.
Pertanyaan: Kenapa dia melakukannya?
Kemungkinan A. Dia menginginkannya.
Kemungkinan B. Dia mengira saya menginginkannya, dan memberikannya karena itu bagian dari pekerjaan. Klien bercerita tentang hal yang berat; pendamping merespons dengan sesuatu yang menenangkan. Saya membayar untuk dua jam yang isinya ditentukan oleh apa yang dia baca dari saya.
Kemungkinan C. Dia kasihan.
Kemungkinan D. Dia takut kehilangan pemasukan. Ada beban finansial yang tidak pernah dia sebutkan angkanya. Saya klien tetap dengan pembayaran di muka tiga bulan. Ketika sebuah hubungan kerja terasa akan berakhir, orang meningkatkan penawaran.
Saya menulis keempatnya di kertas kosong.
Lalu saya duduk dan mencoba mencoret tiga di antaranya.
Dan saya tidak bisa mencoret satu pun.
Ada satu hal yang membuat saya tidak bisa, dan hal itu terjadi lima minggu sebelumnya, di ruangan yang sama, waktu ibu saya duduk di sofa itu.
Saya berdiri di dapur selama satu setengah jam dan menonton perempuan ini bekerja.
Dan dia sempurna.
Bukan bagus. Sempurna. Tidak ada satu pun jeda yang salah. Tiga detik diam sebelum menjawab ketika ibu saya menyebut almarhum ayah saya — tiga detik, jumlah yang tepat, jumlah yang membuat orang merasa didengarkan tanpa membuat suasana jadi berat.
Saya menghitung tiga detik itu dengan capit ikan masih di tangan.
Malam itu saya berdiri di depan wastafel dan mulai menyusun sebuah pertanyaan, dan saya berhenti sebelum menyelesaikannya karena saya tahu saya tidak akan suka ujungnya.
Jam dua pagi, di meja jati itu, dengan seratus dua puluh dua lembar kertas di depan saya, saya menyelesaikannya.
Kalau dia sebaik itu — bagaimana saya bisa tahu kapan dia sedang tidak bekerja?
Itu dia.
Itu seluruh masalahnya, dan tidak ada jalan keluarnya.
Bukan karena dia menipu. Saya tidak pernah, tidak sedetik pun, menuduhnya menipu. Justru sebaliknya: pekerjaannya adalah membuat orang merasa dilihat, dan dia melakukannya dengan sangat baik, dan dia melakukannya karena dia harus, dan tidak ada satu hal pun yang salah dengan itu.
Masalahnya ada di saya.
Saya tidak punya alat ukur.
Saya sudah pernah punya. Saya pernah sangat percaya bahwa saya bisa membaca seseorang — bisa membaca arah sofa, sisi ranjang yang lebih kusut, kursi keempat yang sudah lama tidak ditarik keluar. Saya membangun satu setengah tahun hidup saya di atas kepercayaan itu.
Alat ukur itu rusak hari Sabtu jam delapan lewat lima, dan saya tidak pernah menggantinya, karena kalau salah lagi saya tidak akan bisa.
Jam tiga pagi saya sampai pada hal yang membuat saya berdiri dari kursi.
Bukan A, B, C, atau D.
Ini:
Saya tidak boleh mengambil keputusan dari posisi ini.
Saya memegang uangnya. Perbedaan itu bukan perbedaan kecil dan bukan perbedaan yang bisa dianggap tidak ada karena saya tahu saya tidak berbahaya. Apa yang saya tahu tentang diri saya sendiri tidak relevan. Yang relevan adalah bahwa di dalam ruangan itu, satu orang bisa mengakhiri pemasukan orang yang lain kapan saja, dan orang itu bukan dia.
Bimo mengatakannya empat hari lalu di ruangan saya dan saya tidak punya jawaban untuk itu.
Kalau dia salah baca lo, dia yang kehilangan kerjaan, bukan lo.
Kalau dia menciumnya karena menginginkan saya, dan saya membalas, maka saya membalas seseorang yang sedang berada di dalam jam yang saya beli.
Kalau dia menciumnya karena B atau D, dan saya membalas, maka saya baru saja menerima sesuatu dari seseorang yang tidak berada dalam posisi untuk menolak.
Kedua-duanya tidak bisa saya lakukan.
Jadi yang tersisa cuma satu: saya harus mengeluarkan diri saya dari posisi itu.
Dan sebelum saya keluar, saya harus memastikan dia tidak dirugikan sepeser pun.
Jam empat pagi saya menghitung.
Kontrak berjalan sudah dibayar tiga bulan di muka. Sisa sesi yang belum terpakai: sembilan.
Kalau saya batalkan sekarang, agensi akan mengembalikan sebagian ke saya, dan porsi pendamping untuk sesi yang tidak jadi berjalan akan hilang.
Artinya kalau saya berhenti, dia kehilangan sembilan sesi.
Saya tidak akan melakukan itu.
Jadi saya menghitung ulang: nilai sembilan sesi penuh, ditambah — dan ini bagian yang saya pikirkan paling lama — sejumlah lagi.
Kenapa lebih?
Karena orang yang kehilangan klien tetap butuh waktu untuk mengisi slotnya. Karena ada beban finansial yang tidak pernah dia sebutkan angkanya tapi yang saya tahu ada. Karena kalau saya berhenti mendadak, dampaknya jatuh sepenuhnya ke satu sisi, dan sisi itu bukan sisi saya.
Saya menghitungnya sampai ketemu angka yang menurut saya menutup selisihnya.
Saya membuka aplikasi bank jam enam kurang sepuluh.
Kolom Keterangan Transfer panjangnya dua puluh empat karakter.
Saya duduk di meja jati itu, jam enam kurang lima pagi, dengan langit yang sudah abu-abu di luar jendela yang saya rancang supaya orang yang membuka pintu langsung melihatnya.
Saya mengetik:
Maaf.
Saya menghapusnya.
Maaf untuk apa? Kalau saya menulis maaf, saya sedang mengatakan bahwa telah terjadi sesuatu yang salah, dan kalau telah terjadi sesuatu yang salah maka salah satu dari kami yang salah, dan satu-satunya orang yang mungkin dianggap salah oleh pihak ketiga mana pun yang membaca ini adalah dia.
Saya tidak akan menulis satu kata pun yang bisa dipakai untuk menyalahkannya.
Saya mengetik:
Terima kasih untuk semuanya.
Saya menatapnya.
Itu benar. Itu sepenuhnya benar dan itu satu-satunya kalimat yang jujur yang bisa masuk dua puluh empat karakter.
Saya menghapusnya juga.
Karena kalau saya menulis itu, saya sedang menaruh sesuatu ke pundaknya. Saya sedang mengatakan ini bukan cuma transaksi bagi saya, dan begitu saya mengatakan itu sambil mengirim sejumlah uang, saya membuat uang itu jadi sesuatu yang harus dijawab.
Perhatian menciptakan utang. Saya sudah lama tahu itu. Saya menulisnya sendiri di kepala saya berbulan-bulan lalu, di depan wastafel, waktu memutuskan untuk tidak bertanya soal seledri.
Uang yang datang dengan kalimat menciptakan utang.
Uang yang datang tanpa kalimat cuma uang.
Saya duduk di sana selama sebelas menit.
Lalu saya mengetik dua kata yang paling netral yang bisa saya temukan — dua kata yang tidak menuduh siapa pun, tidak berterima kasih kepada siapa pun, tidak meminta apa pun, dan tidak menaruh beban apa pun di pundak siapa pun.
penyesuaian layanan
Enam belas karakter.
Saya menekan kirim jam enam lewat dua.
Lalu saya membuka aplikasi agensi dan membatalkan sesi Rabu depan.
Kolom alasan pembatalan tidak wajib diisi untuk pembatalan yang lebih dari 48 jam sebelumnya. Saya mengosongkannya.
Lalu saya mengirim satu pesan, lewat aplikasi, karena aturan tiga.
Saya menulis empat draf.
Draf pertama menjelaskan seluruh alasan saya. Enam paragraf. Saya membacanya ulang dan menyadari bahwa isinya adalah seorang laki-laki yang menjelaskan panjang lebar kenapa dia tidak bisa mempercayai sesuatu yang diberikan kepadanya, dan bahwa membaca itu akan terasa seperti dituduh.
Saya menghapusnya.
Draf kedua meminta bertemu untuk bicara. Saya menghapusnya karena bertemu untuk bicara berarti mengundang seseorang datang ke ruangan yang sama, di mana ketimpangannya persis sama seperti semalam.
Draf ketiga meminta maaf. Saya menghapusnya karena permintaan maaf menuntut jawaban, dan saya tidak berhak menuntut apa pun darinya lagi.
Draf keempat:
Saya rasa Anda butuh jarak. Terima kasih untuk semuanya.
Saya membacanya lima kali.
Kalimat pertama memberi dia alasan untuk pergi tanpa harus menjelaskan apa pun kepada siapa pun.
Kalimat kedua adalah satu-satunya hal jujur yang boleh saya kirim.
Saya menekan kirim jam enam lewat empat.
Lalu saya menaruh ponsel telungkup di meja jati dua meter sepuluh, di antara seratus dua puluh dua lembar kertas yang masih berserakan, dan saya duduk di sana sampai matahari naik penuh.
Saya tidak tahu.
Saya perlu menuliskan itu sekarang, di sini, sebelum bagian berikutnya, karena orang yang membaca ini sudah tahu apa yang saya lakukan dan mungkin sudah membencinya, dan saya tidak akan membela diri.
Tapi saya perlu menuliskan bahwa saya benar-benar mengira saya sedang melakukan hal yang benar.
Saya mengira saya sedang melindungi seseorang dari posisi yang tidak adil. Saya mengira saya sedang memastikan tidak ada yang dirugikan. Saya mengira saya sedang menyingkirkan diri saya sendiri dari sebuah ruangan di mana kehadiran saya membuat orang lain tidak bisa bilang tidak.
Saya duduk di sana jam enam pagi dan merasa — dan ini bagian yang paling memalukan dari seluruh cerita ini — saya merasa lega.
Lega, karena saya sudah menyelesaikannya.
Saya selalu menyelesaikannya.
Ada yang kurang, saya lengkapi. Ada yang rusak, saya ganti. Ada yang tidak nyaman, saya ukur ulang dan pindahkan dua meter dan bayar empat belas juta lebih mahal untuk pipa.
Ada perempuan yang mencium saya dan lari, dan saya tidak tahu kenapa, dan saya tidak punya alat untuk mencari tahu, jadi saya menghitung selisihnya dan saya mengirimkan uang dan saya menutup jadwalnya.
Butuh lima minggu, satu perempuan yang kembali dari tiga tahun lalu, dan satu percakapan di tangga darurat untuk membuat saya mengerti apa yang sebenarnya saya lakukan jam enam lewat dua pagi itu.
Saya menerima satu-satunya hal jujur yang pernah diberikan seseorang kepada saya di dalam ruangan ini —
dan saya memberinya harga.
Jam tujuh saya berdiri.
Saya mengumpulkan seratus dua puluh dua lembar itu dari meja, satu per satu, mengetuknya di permukaan meja sampai rata, dan memasukkannya kembali ke dalam map sesuai urutan.
Sampai di tiga lembar terakhir.
SELASA, yang kusut dan dicoret dua kali.
JUMAT.
RABU.
Bimo pernah berkata bahwa apartemen ini seperti proyek yang dibatalkan lalu arsipnya ditutup rapi. Dia mengatakannya seperti itu hal buruk. Saya tidak pernah mengerti kenapa, karena menutup arsip proyek yang dibatalkan itu prosedur yang benar; kalau tidak ditutup, arsipnya akan tercampur dengan proyek yang masih berjalan dan seluruh sistemnya kacau.
Saya memegang tiga lembar itu di tangan.
Ada tempat sampah di bawah wastafel, tiga langkah dari tempat saya berdiri.
Saya berdiri di sana cukup lama.
Lalu saya memasukkan ketiganya kembali ke dalam map — RABU di paling depan, JUMAT di belakangnya karena urutannya harus benar, SELASA yang kusut di paling belakang — dan menutup mapnya, dan memasukkannya ke laci, dan mendorong lacinya sampai bunyi klik.
Lalu saya membuka kulkas untuk mengambil air.
Di rak paling atas, sendirian di sebelah botol kecap, ada satu kotak kaca kosong dengan tutup plastik biru.
Saya menutup pintu kulkas tanpa mengambil apa pun.
Dan saya pergi bekerja, dan saya tidak salah skala satu kali pun hari itu, dan saya pulang jam sepuluh malam.
- 1 Klien yang Tidak Meminta Apa-apa
- 2 Denah Rasa
- 3 Tidak Ada Garam di Meja Ini
- 4 Lima Aturan
- 5 Toleransi
- 6 Porsi Untuk Dua Orang
- 7 Lorong Bumbu, Pukul 22.40
- 8 Di Luar Jadwal
- 9 Nasi Kuning untuk Enam Orang
- 10 Sabtu
- 11 Pukul Lima Pagi di Palmerah
- 12 Tarif Per Jam
- 13 Halte, dan Hari Jumat
- 14 Lantai Dua Puluh, Tanpa Listrik
- 15 Ibu Saya Datang Hari Rabu
- 16 Aturan yang Tidak Ditulis di Mana Pun
- 17 Kampanye
- 18 Data
- 19 Rabu Ketiga Puluh Satu
- 20 Penyesuaian Layanan reading
- 21 Enam Belas Karakter
- 22 Rabu yang Kosong
- 23 Enam Kali
- 24 Perempuan yang Punya Nama di Undangan
- 25 Tangga Darurat
- 26 Kamu Suka Apa
- 27 Yang Pertama Kupilih
- 28 Lorong Bumbu, Lagi
- 29 Yang Kedua
- 30 Tiga Menit
- 31 Seratus Tiga Pertanyaan
- 32 Kelapa Sangrai
- 33 Aturan Dapur
- 34 Yogyakarta
- 35 Tambahin Sesukamu
- 36 Kamu Mau Makan Apa