← Apartemen 12B

Chapter Twenty Nine

Yang Kedua

POV: Kiara


Kami membayar terpisah.

Aku ingin mencatat itu karena rasanya penting: aku menaruh belanjaanku di konter, dan Danan berdiri di belakangku dengan keranjang kosong, dan waktu kasir menyebut jumlahnya aku mengeluarkan dompetku sendiri seperti biasa.

Danan tidak bergerak sama sekali. Tidak mengulurkan tangan. Tidak melirik.

Anak muda dengan mata setengah tertutup itu memindai roti tawarku sambil melihat kami bergantian dengan ekspresi orang yang sudah menonton lima episode berturut-turut dan baru saja mendapat akhirnya.

“Ketemu, Mas?” katanya.

“Ya,” kata Danan.

“Alhamdulillah.”

Aku menutup wajahku dengan satu tangan dan Danan membayar satu botol air mineral yang dia ambil di detik terakhir supaya punya alasan berdiri di konter.


Di luar, udaranya lebih dingin dari yang kuduga.

Kami berdiri di depan pintu kaca Mart itu selama beberapa detik, dan tidak satu pun dari kami tahu harus ke arah mana.

“Aku—“

“Saya bisa—“

Kami berhenti bersamaan.

“Duluan,” kataku.

“Saya cuma mau bilang saya bisa membawakan kantongnya.”

“Itu doang?”

“Itu doang.”

Aku menyerahkan kantong plastikku.

Dia menerimanya dengan tangan kiri, dan kami mulai berjalan, dan setelah sekitar dua puluh meter aku menyadari dia sudah pindah ke sisi luar tanpa aku lihat kapan.

Sisi jalan. Sisi motor lewat.

Aku di sisi dalam, dekat pagar-pagar rumah.

Persis seperti sebelas bulan lalu.


Kami tidak bicara selama tiga menit pertama.

Aku sudah menyiapkan sekitar dua puluh kalimat di dalam Mart tadi dan tidak satu pun dari kedua puluhnya bisa keluar, karena ternyata berjalan di sebelah seseorang yang baru saja mengatakan hal itu kepadamu, di trotoar yang sama dengan sebelas bulan lalu, membuat seluruh kemampuan bahasamu berhenti bekerja.

Sepuluh tahun aku menerjemahkan.

Dan malam itu aku tidak bisa menyusun satu kalimat pun dalam bahasa ibuku sendiri.

“Trotoarnya rusak di depan,” kata Danan.

“Iya.”

“Hati-hati.”

“Iya.”

Empat kalimat.

Sama persis.

Dan aku tertawa — tiba-tiba, keras, di trotoar kosong jam setengah sebelas malam — dan Danan berhenti berjalan.

“Kenapa?”

“Kamu ngomong empat kalimat lagi.”

“Apa?”

“Sebelas bulan lalu kita jalan dari sini dan kamu ngomong empat kalimat.” Aku menyeka mataku dengan punggung tangan. “Trotoar rusak, lampu mati tiga dari lima, hati-hati, dan satu lagi aku lupa.”

Danan menatapku.

“Trotoarnya rusak di depan,” katanya. “Lampu jalan di gang ini mati tiga dari lima. Sudah dari tahun lalu — itu kamu yang bilang. Yang keempat: hati-hati.”

“Kamu inget.”

“Saya ingat semua,” katanya.

Dan aku berhenti di tengah trotoar dan menatapnya, dan dia berhenti juga, dan kami berdiri di sana dengan satu kantong plastik dan satu botol air mineral.


“Danan.”

“Ya.”

“Aku mau nyium kamu.”

Aku melihat kalimat itu mendarat di wajahnya. Aku melihat dia menerimanya, memprosesnya, dan tidak tahu harus ditaruh di mana.

“Sekarang?” katanya.

“Nggak sekarang. Aku lagi minta izin.”

“Minta izin.”

“Iya.”

Danan berdiri di trotoar dengan kantong plastik di tangan kiri.

“Kenapa?” tanyanya.

Dan itu pertanyaan yang tepat, dan dia tidak tahu bahwa itu pertanyaan yang tepat, dan itu membuat semuanya lebih buruk.

“Karena yang pertama aku nggak nanya,” kataku.

Sesuatu di wajahnya berubah.

“Kiara—“

“Aku tau kamu bilang itu bukan salah aku. Aku tau.” Suaraku bergetar dan aku membiarkannya. “Tapi aku bakal inget itu seumur hidup, dan aku nggak mau yang kedua ada di kepala aku sebagai sesuatu yang aku ambil.”

Dia diam beberapa saat.

Lalu dia menaruh kantong plastik itu di trotoar. Dan botol airnya. Keduanya, hati-hati, tegak.

Lalu dia berdiri lagi.

“Boleh,” katanya.

Dan lalu, karena dia tidak bisa tidak melakukannya, dia menambahkan:

“Saya juga boleh bertanya?”

“Ya Tuhan. Boleh.”

“Kiara.” Dia menelan. “Saya boleh mencium kamu?”

“Boleh.”

“Sekarang?”

“Danan.”

“Baik,” katanya.


Aku tidak akan berbohong dan bilang itu langsung berhasil.

Kacamataku bermasalah lebih dulu.

Dia sudah mengangkat tangannya — sepuluh sentimeter, dan kali ini tidak berhenti, dan aku merasakan telapaknya di rahangku dan seluruh badanku melakukan sesuatu yang belum pernah — dan lalu gagang kacamataku tersangkut di jarinya dan kacamata itu miring ke satu sisi.

“Ah.”

“Bentar.”

“Maaf—“

“Bentar, bentar.”

Aku melepasnya sendiri dan melipatnya dan tidak tahu harus menaruhnya di mana, dan akhirnya aku menyodorkannya kepadanya, dan Danan — laki-laki ini, laki-laki yang menimbang kunyit sampai delapan gram — menerima kacamataku dengan dua tangan seperti orang menerima dokumen penting dan memasukkannya ke saku kemejanya dengan sangat hati-hati, batangnya keluar, supaya tidak tergores.

Aku menatapnya melakukan itu.

Dan aku berpikir: aku sayang banget sama orang ini dan itu menakutkan.

“Sudah,” katanya.

“Sudah.”

Dunia tanpa kacamata jadi lembut di pinggirnya. Lampu jalan yang terlalu kuning itu jadi bulatan besar. Wajahnya cuma jelas kalau dekat.

Jadi dia mendekat.


Yang pertama, di menit ke seratus tujuh, berlangsung mungkin dua detik. Aku menunduk terlalu cepat dan hidungku menabrak pipinya dan tanganku memegang bahunya terlalu keras.

Yang kedua tidak begitu.

Tangannya di rahangku, ibu jarinya persis di depan telingaku, dan dia berhenti sekitar lima sentimeter dari wajahku — berhenti, betul-betul berhenti, cukup lama sampai aku harus mengangkat wajah sedikit —

dan lalu dia menciumku.

Pelan sekali. Bukan ragu. Pelan seperti orang yang sedang mengerjakan sesuatu yang tidak boleh dia rusak.

Tanganku naik ke depan kemejanya dan aku merasakan kain, dan kancing, dan di bawahnya dadanya naik turun jauh lebih cepat daripada yang ditunjukkan wajahnya sepanjang malam ini.

Itu yang membuat mataku panas. Bukan ciumannya. Jantungnya.

Aku menarik napas lewat hidung dan dia merasakannya dan tangannya yang satu lagi datang ke punggungku dan menarikku masuk, dan setelah itu tidak ada yang pelan lagi.


Aku tidak tahu berapa lama.

Aku tahu ada motor lewat sekali dan klaksonnya berbunyi dua kali dan tidak satu pun dari kami peduli.

Aku tahu punggungku akhirnya menyentuh pagar besi rumah orang dan pagar itu dingin dan aku tidak peduli itu juga.

Aku tahu tangannya masuk ke dalam tudung hoodie-ku dan berhenti di tengkukku, di bawah rambut, dan bahwa telapaknya hangat dan ada kapalan di pangkal telunjuknya, dan bahwa aku mengeluarkan suara yang membuatku sendiri kaget.

Dan aku tahu bahwa di suatu titik dia melepaskan bibirku dan menempelkan dahinya ke dahiku dan bernapas dengan cara yang benar-benar tidak terkendali, dan berkata — dengan suara yang tidak rata sama sekali, yang serak, yang bukan suara orang menyebutkan suhu oven —

“Maaf.”

“Buat apa?”

“Saya tidak tahu,” katanya. “Refleks.”

Dan aku tertawa ke dalam kerah kemejanya sampai bahuku bergetar, dan dia memelukku dengan kedua tangan di punggungku, dan kami berdiri seperti itu di trotoar depan pagar rumah orang selama waktu yang tidak masuk akal.


Kami duduk di halte.

Bukan halte yang itu — halte yang di jalan besar, dekat mulut gang, yang atapnya lebih baru dan tidak bocor. Bangku besi. Jam sebelas kurang sepuluh.

Kantong plastikku ada di antara kami. Botol air mineral yang dia beli untuk alasan berdiri di konter belum dibuka.

“Aku harus ngomong sesuatu,” kataku.

“Baik.”

“Berhenti bilang ‘baik’.”

“...Iya.”

Aku menarik lutut ke atas bangku.

“Aku nggak bisa masuk apartemen kamu lagi kayak dulu,” kataku.

Danan menoleh.

“Bukan karena kamu.” Aku menggeleng cepat. “Danan, denger dulu sampe selesai.”

Dia menutup mulutnya.

Dan menunggu.

Betul-betul menunggu. Dia memutar badannya sedikit ke arahku dan meletakkan kedua tangannya di lutut dan tidak mengatakan apa-apa, dan aku duduk di sana selama mungkin dua puluh detik menyusun kalimatnya, dan dia tidak mengisi satu detik pun dari dua puluh detik itu.

“Aku duduk di kursi itu tiga puluh satu kali,” kataku akhirnya. “Dan tiga puluh satu kali itu aku dibayar.”

“Ya.”

“Dan tiap kali aku ke sana sekarang, aku bakal inget itu. Aku bakal masuk, aku bakal liat kursinya, terus otak aku bakal ngitung jam.” Aku menatap aspal. “Aku nggak bisa matiin itu, Danan. Aku udah nyoba. Aku ngitung semuanya, sama kayak kamu.”

Danan tidak menjawab selama beberapa saat.

Lalu dia berkata:

“Saya juga.”

Aku menoleh.

“Saya duduk di kursi seberang tiga puluh satu kali,” katanya. “Dan setiap Rabu jam tujuh sekarang badan saya masih berdiri sendiri.”

Dia menatap tangannya.

“Apartemen itu punya dua kursi,” katanya. “Saya merancangnya untuk seseorang yang lain, delapan tahun lalu. Lalu saya pakai untuk sesuatu yang saya bayar. Sekarang—“

Dia berhenti.

“Sekarang apa?”

“Sekarang saya tidak tahu tempat itu untuk apa.”


Dan lalu aku menyaksikannya terjadi.

Aku menyaksikan seluruh mesin di dalam laki-laki itu menyala. Aku bisa melihatnya di wajahnya — sesuatu yang mengeras, sesuatu yang mulai menyusun, sesuatu yang sudah punya empat butir daftar sebelum kalimatnya selesai.

“Saya bisa—“ katanya.

Dan berhenti.

Dia menutup mulutnya. Dengan tangan. Betul-betul menutup mulutnya sendiri dengan telapak tangan selama sekitar tiga detik, seperti orang yang menahan bersin.

Lalu dia menurunkannya.

“Kiara,” katanya. “Saya barusan hampir menawarkan tiga hal.”

“Aku tau.”

“Kamu tahu?”

“Danan, muka kamu berubah kayak orang lagi ngitung anggaran.”

Dia menatap ke depan, ke jalan yang kosong.

“Yang pertama saya mau bilang saya akan merombak seluruh unitnya,” katanya. “Yang kedua saya mau bilang saya akan pindah dari sana sama sekali. Yang ketiga saya mau bilang saya akan jual tempat itu.”

“Danan—“

“Ketiganya bisa saya kerjakan,” katanya. “Yang ketiga butuh enam bulan tapi bisa.”

Aku menaruh tanganku di lengannya.

“Terus kenapa kamu nggak bilang?”

Dia menoleh.

Dan mengatakan sesuatu yang membuatku harus menekan bibir bagian dalam dengan gigi supaya tidak menangis lagi malam itu.

“Karena kamu bilang kamu tidak bisa masuk ke sana lagi,” katanya. “Kamu tidak bilang kamu mau tempat itu diapakan.”

Dia menarik napas.

“Jadi saya nanya,” katanya. “Kamu mau tempat itu diapakan?”

Dan aku duduk di halte itu jam sebelas malam dan berkata:

“Aku nggak tau.”

Danan mengangguk.

“Baik,” katanya.

Lalu, cepat: “Maaf. Bukan ‘baik’.”

“Nggak apa-apa.”

“Bukan,” katanya. “Maksud saya—“

Dia berhenti, dan menyusun ulang, dan mengucapkannya lagi dengan hati-hati sekali, seperti orang yang sedang belajar bahasa asing:

“Ya sudah. Nanti kita pikirin.”

Kita.


Dia mengantarku sampai mulut gang yang baru — gang yang berbeda sekarang, dua gang dari yang lama, dengan pagar rumah kontrakan yang catnya hijau dan lampu jalan yang menyala semuanya.

“Ini terang semua,” katanya, sambil melihat ke atas.

“Iya. Lumayan.”

“Bagus.”

Dia menyerahkan kantong plastikku.

Lalu dia mengeluarkan kacamataku dari saku kemejanya — masih dengan batang terbuka, masih hati-hati — dan menyodorkannya dengan dua tangan.

Aku memakainya.

Dunia kembali tajam di pinggirnya, dan wajahnya jadi jelas, dan aku bisa melihat bahwa ada bekas merah di sudut bibirnya dan bahwa kerah kemejanya sudah tidak simetris sama sekali dan bahwa dia sepenuhnya tidak menyadari kedua hal itu.

“Danan.”

“Ya.”

“Besok kamu ngapain?”

“Kerja.”

“Habis kerja.”

Dia berpikir.

“Tidak ada.”

“Aku juga nggak ada,” kataku. “Aku nggak punya jadwal apa-apa lagi sekarang. Hari apa pun.”

Dan aku melihat kalimat itu masuk, dan aku melihat dia mengerti apa artinya, dan aku melihat sesuatu di bahunya turun satu sentimeter.

“Rabu?” katanya.

“Nggak.”

Dia berkedip.

“Nggak Rabu,” kataku. “Sabtu.”

Danan berdiri sangat diam.

“Sabtu,” katanya.

“Iya. Sabtu.” Aku mengangkat bahu, dan suaraku goyang, dan aku tetap mengucapkannya. “Kita ambil balik hari itu.”


Dia pulang jalan kaki. Empat kilometer, lagi, dan aku tahu karena aku bertanya dan dia mengaku.

Aku masuk ke rumah kontrakan yang catnya hijau, dengan kantong plastik dan roti tawar setengah lusin, jam sebelas lewat dua puluh.

Mbah Sri belum tidur.

Dia duduk di ruang depan dengan televisi menyala tanpa suara, yang berarti dia menunggu, yang berarti dia sudah menunggu sejak jam sepuluh dan tidak akan mengakuinya.

Dia menoleh.

Dan menatapku selama sekitar empat detik.

“Ra.”

“Iya, Mbah.”

“Kacamatamu miring.”

Aku membetulkannya.

“Rambutmu.”

Aku membetulkannya juga.

Mbah Sri mengangguk sekali, pelan, dan berbalik ke televisi yang tidak ada suaranya.

“Yo wis,” katanya. “Turu kono.”

Aku berjalan ke kamar.

Di ambang pintu aku berhenti.

“Mbah.”

“Hm.”

“Sabtu ada tamu.”

Perempuan berumur tujuh puluh delapan tahun itu tidak menoleh dari televisi.

“Sing masak dhewe kuwi?”

Aku berpegangan ke kusen pintu.

“Mbah tau dari mana—“

“Ra,” katanya, dan menaikkan volume televisinya, dan tidak menjawab pertanyaanku sama sekali.