← Apartemen 12B

Chapter Thirty Six

Kamu Mau Makan Apa

POV: Kiara, lalu Danan


SATU

POV: Kiara

Satu tahun kemudian, aku turun di Stasiun Gambir jam empat sore dengan dua koper dan satu kardus berisi buku yang seharusnya kukirim lewat ekspedisi tapi tidak kupercayakan kepada siapa pun.

Novelnya sudah selesai delapan minggu lalu. Terbit bulan depan.

Di halaman kredit, di bawah judul, akan ada namaku. Bukan sebagai nama panggung, bukan sebagai kategori, bukan sebagai pendamping di kolom laporan mingguan.

Namaku.

Aku sudah melihat proofnya empat kali dan aku masih menangis di kali keempat, di indekos di Yogyakarta, sambil ditertawakan oleh perempuan berumur enam puluh dua tahun yang jadi pendampingku selama setahun dan yang sekarang mengirimiku pesan setiap Jumat menanyakan apakah aku sudah makan.

Mbah Sri tinggal di Klaten sekarang, di rumah adiknya, yang ternyata sama galaknya. Aku ke sana dua kali sebulan selama setahun. Mereka bertengkar setiap hari soal takaran gula dan tidak ada satu pun dari mereka yang mau tinggal sendirian.

Aku menawarinya ikut kembali ke Jakarta.

“Ra,” katanya, tanpa mengangkat wajah dari kacang panjang yang sedang dia potong. “Aku pitung puluh sanga. Aku ora arep pindhah maneh.”

Lalu, setelah beberapa detik:

“Lan aku wis ngerti kowe arep neng ngendi.”


Aku naik taksi dari Gambir.

Empat puluh menit. Aku melihat ke luar jendela sepanjang jalan dan tidak menghitung satu hal pun, yang mana adalah kemajuan.

Di lobi Menara Kalyana, satpam mengangguk sekali.

“Sore, Mbak.”

Aku berhenti.

“Sore, Pak.”

Dia sudah tahu namaku. Aku sudah tahu namanya. Namanya Pak Warsito dan dia punya dua anak dan yang bungsu masuk SMP tahun ini, dan aku tahu itu karena Danan menceritakannya lewat telepon di bulan keenam, dan aku ingat, karena aku mengingat semuanya, dan itu penyakit bukan bakat.

Lift naik dua belas lantai.

Koridornya sama. 12A masih punya keset kucing, dan sekarang ada tiga pasang sandal anak di luar, bukan satu, yang berarti sesuatu yang bagus terjadi di rumah itu.

12C masih punya kotak paket yang belum diambil.

12B tidak punya apa-apa di depan pintunya.

Aku berdiri di sana dengan dua koper dan satu kardus buku.

Dan aku tidak menekan bel.


Kuncinya sudah menghitam di bagian yang sering dipegang.

Aku memperhatikannya waktu mengeluarkannya dari tas — gantungan kulit cokelat yang setahun lalu masih kaku dan terang, sekarang lembut dan gelap di satu sisi.

Aku tidak pernah memakainya selama satu tahun.

Tidak sekali pun. Kunci itu tidak pernah masuk ke satu pun lubang pintu di Yogyakarta.

Tapi aku memegangnya. Di dalam tas, di dalam saku, di tangan waktu tidak bisa tidur. Setiap hari, selama tiga ratus enam puluh empat hari.

Kulit itu menghitam karena itu.

Aku memasukkannya ke lubang pintu unit 12B dan memutarnya.


DUA

POV: Danan

Saya sedang mengulek bumbu waktu mendengar bunyi itu.

Logam ke logam. Pelan sekali.

Saya berhenti.

Saya perlu mencatat bahwa saya tahu dia datang hari itu. Saya tahu nomor keretanya. Saya menawarkan menjemput ke Gambir dan dia bilang tidak, dan saya bertanya kenapa, dan dia bilang:

Aku mau dateng sendiri. Aku mau make kuncinya.

Jadi saya tahu. Saya sudah tahu selama sebelas hari.

Saya tetap harus meletakkan ulekan itu dan berpegangan ke konter selama sekitar tiga detik.

Pintu terbuka.

“Aku pulang,” katanya.


Saya berbalik.

Kiara berdiri di ambang pintu unit 12B dengan dua koper, satu kardus, hoodie abu-abu, kacamata, dan rambut yang lebih panjang dari setahun lalu.

Dan dia melangkah masuk tanpa berhenti di ambang pintu.

Saya melihatnya. Saya memperhatikannya secara khusus, karena setahun lalu dia berdiri di ambang pintu itu selama dua puluh detik dan tidak bisa memindahkan kaki kanannya, dan kami akhirnya duduk di lantai koridor selama empat puluh menit.

Dia masuk begitu saja.

Lalu dia berhenti di tengah ruangan dan melihat sekeliling.

“Kamu ganti gordennya.”

“Kamu yang memilih warnanya. Bulan keempat. Lewat telepon.”

“Iya, tapi aku belum pernah liat aslinya.”

Dia berjalan pelan, menyentuh sandaran sofa, melihat ke lorong pendek antara ruang tengah dan kamar.

Di sana ada foto sekarang.

Satu, dibingkai kayu tipis. Diambil di Palmerah, jam enam pagi, oleh seorang tukang ikan yang memaksa memegang ponsel dengan tangan yang bau ikan dan menghasilkan foto yang miring tiga derajat dan tidak fokus di bagian belakang.

Kiara berdiri di depannya cukup lama.

“Kamu pasang.”

“Bulan kesembilan,” kata saya. “Saya tanya dulu. Kamu bilang ya.”

“Aku tau aku bilang ya. Aku cuma—“ Dia menyeka wajahnya dengan lengan hoodie. “Aku nggak nyangka kamu beneran pasang yang miring.”

“Kamu tidak mengizinkan saya meluruskannya.”

“Iya. Karena itu bagus.”

“Ya,” kata saya. “Itu bagus.”


Dia sampai di meja makan.

Jati bekas, dua meter sepuluh. Dua kursi.

Dua kursi yang sekarang tidak sepasang — yang satu bersandaran tangan, kayu jati muda, dipilih oleh dia; yang satu lagi kursi lama saya, tanpa sandaran tangan, yang dia tolak untuk saya ganti waktu saya menawarkan di bulan kelima.

“Kenapa?” tanya saya waktu itu, lewat telepon.

“Karena kalau dua-duanya baru, artinya nggak ada yang pernah kejadian di sini.”

Dia berdiri di depan meja itu dan menyentuh sandaran kursinya sendiri.

Lalu dia melihat ke ujung kanan meja.

“Danan.”

“Ya.”

“Garemnya abis.”

Saya menoleh.

Tempat garam keramik krem itu ada di tempatnya, dan isinya tinggal seperempat, dan sendok kayu kecilnya sudah berubah warna di bagian gagang karena terlalu sering dipegang.

“Saya isi ulang dua minggu sekali,” kata saya.

“Kamu sendirian setahun.”

“Ya.”

“Kamu pake garemnya?”

Saya berdiri di dapur dengan ulekan di tangan.

“Setiap makan,” kata saya.

“Kamu nggak butuh.”

“Saya tahu.”

“Terus kenapa?”

Saya menaruh ulekan itu.

“Karena kalau tempatnya kosong terus,” kata saya, “artinya saya kembali jadi orang yang tidak butuh siapa pun mengubah apa pun.”


Dia menyeberangi ruangan itu dan memeluk saya dengan sangat keras, dari samping, dengan kacamata yang menekan tulang selangka saya, dan tidak mengatakan apa-apa selama sekitar satu menit.

“Bau bawang,” katanya akhirnya, dari dalam kemeja saya.

“Ya.”

“Kamu lagi masak apa?”

Dan saya berdiri di dapur unit 12B, hari Kamis, jam lima lewat empat puluh sore.

Bukan Rabu.

Rabu sudah tidak berarti apa-apa lagi selama sekitar delapan bulan terakhir, dan saya menyadarinya di suatu titik di bulan kelima ketika saya sedang memasak hari Senin sambil menelepon dan tidak terpikir sedetik pun bahwa itu hari yang salah.

Kalimat itu masih ada di dalam mulut saya. Tiga belas bulan, tiga puluh satu kali, selalu sama.

Selamat malam. Menu malam ini—

Saya membukanya.

Dan berhenti.

Karena menu malam ini belum ditentukan.

Saya baru mengulek bumbu dasar. Kunyit, kemiri, bawang. Dari titik itu bisa jadi lima hal berbeda, dan saya belum memutuskan, dan saya tidak memutuskannya selama sebelas hari terakhir meskipun saya bisa dan meskipun tidak memutuskan itu membuat saya gelisah setiap malam.

Saya melepaskan pelukannya sedikit supaya bisa melihat wajahnya.

“Kamu mau makan apa?” kata saya.


TIGA

POV: Kiara

Aku menatapnya.

Empat kata.

Ada seorang laki-laki berdiri di dapurnya sendiri dengan bumbu setengah jadi di ulekan, yang sudah menyiapkan segalanya kecuali satu hal, dan yang menahan satu hal itu selama sebelas hari supaya bisa menanyakannya.

Aku tidak bisa bicara selama beberapa detik.

“Kiara?”

“Bentar.”

“Kalau kamu tidak tahu, kita bisa—“

“Bentar, Danan.” Aku menekan wajahku ke kemejanya lagi. “Bentar.”

Dia menunggu.

Tentu saja dia menunggu.

“Soto,” kataku akhirnya.

“Soto?”

“Yang bening. Yang ada bihunnya.” Aku mengangkat wajah. “Sama sambel yang di sebelah, bukan di dalem.”

“Baik,” katanya.

Dan lalu, cepat, dengan telinga yang mulai merah:

“Maaf. Ya sudah.”

“Nggak apa-apa,” kataku. “Aku suka kamu bilang baik.”

“Kamu benci saya bilang baik.”

“Dulu.”


Dia memasak. Aku duduk di konter, di kursi tinggi yang tidak ada di sini setahun lalu — nomor delapan puluh tujuh dari dua ratus enam belas, keputusanku, bulan ketujuh, karena aku bilang aku mau bisa duduk di dapur sambil dia masak dan dia bilang baik lalu menghabiskan tiga hari mencari kursi dengan tinggi yang benar.

Dari dua ratus enam belas benda, kami sudah sampai seratus sembilan puluh satu.

Dua puluh lima sisanya masih ada. Aku sudah bilang tidak usah diburu-buru, dan dia sudah setuju, dan setiap dua minggu dia tetap menanyakan satu.

Aku menceritakan Yogyakarta.

Tentang novelnya. Tentang satu kalimat di bab dua puluh dua yang membuatku terjebak selama sebelas hari sampai akhirnya ketemu padanannya di angkringan jam dua pagi. Tentang perempuan berumur enam puluh dua tahun yang mengirim pesan setiap Jumat. Tentang Mbah Sri dan adiknya yang bertengkar soal gula.

Dia mendengarkan tanpa memotong, sambil mengiris bawang dengan pinch grip dan tangan kiri yang jari-jarinya melengkung ke dalam.

Dan sesekali dia bertanya.

Bukan pertanyaan besar. Pertanyaan kecil, spesifik, yang menunjukkan bahwa dia mengikuti sampai ke detail — kalimatnya yang mana?, dia bilang apa waktu kamu kasih hasilnya?, angkringan yang mana, yang dekat stasiun?

Setahun. Setiap hari. Dan dia masih bertanya.


Ponselnya bergetar di konter jam tujuh, waktu sotonya sudah jadi dan kami sudah duduk di meja jati dua meter sepuluh, delapan puluh sentimeter, dua piring dan satu tempat garam yang tinggal seperempat.

Dia melihatnya.

Lalu dia memutar layarnya ke arahku.

Sebuah foto.

Sebuah ruangan galeri, dinding putih, dengan tujuh atau delapan lukisan kecil yang digantung tidak sejajar. Ada orang-orang berdiri membelakangi kamera. Ada satu perempuan di sudut kiri, setengah masuk frame, memegang gelas, tidak sadar difoto.

Di bawahnya satu baris:

Pameran pertama yang aku kurasi sendiri. Nan, semua di dinding itu aku yang pilih.

Aku menatap layarnya cukup lama.

“Dia ngirim tiap berapa lama?”

“Tiga kali dalam setahun,” kata Danan. “Ini yang ketiga.”

“Kamu bales?”

“Selalu.”

Dia mengambil ponselnya kembali, dan mengangkat kameranya, dan mengarahkannya ke meja.

Dia tidak memotret aku. Aku memperhatikannya — dia menggeser sudutnya sedikit ke bawah supaya wajahku tidak masuk.

Dia memotret mejanya.

Dua piring soto. Dua kursi yang tidak sepasang. Satu tempat garam keramik yang tinggal seperempat, dengan sendok kayu yang gagangnya sudah berubah warna.

Dan dua tangan di atas meja jati itu, punyanya dan punyaku, yang kebetulan masuk di sudut bawah frame.

Dia mengetik satu baris dan mengirimnya, dan menaruh ponselnya telungkup, dan mengambil sendoknya.

“Kamu tulis apa?”

“Bagus,” katanya.

“Itu doang?”

“Iya.”

Aku menatapnya.

“Danan.”

“Ya.”

“Kamu nangis?”

“Bawangnya banyak,” katanya, dan mulai makan.


Aku mengambil sendok kayu kecil itu dari tempat garam.

Sotonya sudah pas. Tentu saja sudah pas — laki-laki ini menimbang garamnya satu koma dua gram per seratus gram daging dan dia tidak akan pernah berubah dan aku tidak mau dia berubah.

Aku menaburkannya sedikit ke atas kuahku.

Terlalu asin.

Aku memakannya sampai habis.

Dan di seberang meja, delapan puluh sentimeter — jarak di mana kamu bisa mengulurkan tangan tanpa berdiri — seorang laki-laki menaruh sendoknya dan duduk diam dan menonton, dan bahunya turun satu sentimeter, dan dia menghela napas seperti orang yang baru saja meletakkan sesuatu yang berat.

“Danan.”

“Ya.”

“Besok kamu masak apa?”

Dia mengangkat wajah.

Dan tersenyum — betul-betul tersenyum, yang masih jarang, yang masih membuat sesuatu di dadaku melakukan hal yang tidak kuizinkan setelah dua tahun.

“Saya tidak tahu,” katanya.

— TAMAT —