← Apartemen 12B

Chapter Twenty Eight

Lorong Bumbu, Lagi

POV: Danan


Saya mengirim satu pesan hari Minggu, dan setelah itu tidak mengirim apa-apa lagi.

Isinya:

Saya di 12B setiap hari. Bukan cuma Rabu. Tidak perlu dibalas.

Kalimat kedua itu saya tulis tiga kali dan hapus dua kali sebelum akhirnya saya biarkan.

Karena saya sadar apa yang sedang saya lakukan. Kalimat pertama adalah informasi. Kalimat kedua adalah saya melepaskan haknya untuk merasa berutang jawaban.

Itu satu-satunya hal yang bisa saya berikan tanpa merusak apa pun.

Sembilan hari berlalu.

Sepuluh. Sebelas.

Setiap hari saya membuka ponsel lebih sering daripada yang pantas untuk laki-laki berumur tiga puluh tiga tahun, dan setiap hari tidak ada apa-apa, dan setiap hari saya menaruh ponsel itu kembali menghadap ke bawah di atas meja.


Bimo memergoki saya hari Kamis kedua.

“Lo ngapain sih ngeliatin hape terus.”

“Tidak ada.”

“Nan.”

Saya menutup laptop.

“Gua nunggu,” kata saya.

Bimo berhenti di tengah ruangan dengan gulungan gambar di tangan.

“Nunggu apa?”

“Nunggu dia siap ngomong.”

“Terus lo nggak ngapa-ngapain?”

“Tidak.”

“Sama sekali?”

“Sama sekali.”

Bimo menatap saya. Lalu dia menaruh gulungan gambarnya di meja saya, menarik kursi klien, dan duduk tanpa diundang seperti dua belas tahun terakhir.

“Nan,” katanya. “Gua mau nanya satu hal, terus gua diem.”

“Silakan.”

“Lo nunggu, atau lo nyerah tapi lo sebut nunggu?”

Saya membuka mulut untuk menjawab.

Dan tidak ada yang keluar.

Karena Bimo baru saja menemukan sesuatu yang saya sendiri tidak menemukannya dalam sebelas hari, meskipun saya sudah memeriksanya dari semua sisi seperti memeriksa gambar kerja sebelum diserahkan.

Ada dua jenis tidak melakukan apa-apa.

Yang pertama adalah memberi ruang.

Yang kedua adalah bersembunyi di balik kata memberi ruang supaya tidak perlu berdiri di depan seseorang dan menerima jawaban yang mungkin tidak saya sukai.

Saya sudah pernah melakukan yang kedua. Selama tiga tahun. Saya bahkan punya nama untuknya: kalau seseorang berpikir saya pantas tahu alasannya, dia akan memberi tahu.

Bimo mengambil gulungan gambarnya lagi.

“Udah,” katanya. “Gua diem.”

Dia sudah di pintu waktu saya bicara.

“Bim.”

“Hm.”

“Kalau seseorang bilang dia butuh waktu,” kata saya, “berapa lama saya harus menunggu sebelum menunggu itu berubah jadi hal yang lain?”

Bimo berbalik.

“Nan, gua nggak tau,” katanya. “Nggak ada yang tau. Itu bukan angka.”

“Semuanya angka.”

“Nggak, Nan.” Dia menggeleng. “Itu bagian yang lo belum ngerti-ngerti dari dulu.”


Hari Selasa.

Saya perlu menjelaskan kenapa hari Selasa, karena kalau tidak, ini terdengar seperti kebetulan, dan tidak ada satu pun yang saya lakukan di bulan itu yang kebetulan.

Rabu bukan milik saya lagi. Rabu adalah hari yang saya rancang, saya jadwalkan, saya bayar tiga bulan di muka. Rabu adalah volume dengan dinding yang saya bangun sendiri, dan di dalam dinding itu saya tidak pernah sekali pun harus berdiri tanpa naskah.

Selasa adalah hari yang tidak pernah saya rancang.

Selasa adalah hari saya berdiri di lorong bumbu dengan sebotol kecap di tangan dan mengucapkan selamat malam lalu tidak punya kalimat kedua. Selasa adalah hari seorang perempuan tertawa di depan rak saus tiram dengan wajah tanpa apa pun di atasnya. Selasa adalah tujuh menit jalan kaki dengan empat kalimat.

Semua yang benar antara saya dan dia terjadi di luar jadwal.

Jadi saya pergi hari Selasa.

Mart dua puluh empat jam di ujung jalan besar, tujuh menit jalan kaki dari mulut gang.

Saya sampai jam sepuluh.


Malam pertama saya membeli tiga botol kecap.

Malam kedua saya membeli telur dan tepung terigu protein sedang dan berdiri sepuluh menit di depan rak tepung.

Malam ketiga saya tidak membeli apa-apa dan kasirnya — anak muda dengan mata setengah tertutup, yang sama, selalu yang sama — mulai mengangguk ke arah saya waktu saya masuk.

Malam keempat dia bertanya.

“Nyari apa, Mas?”

“Tidak ada.”

“Dari kemaren-kemaren keliatannya nyari sesuatu.”

Saya berdiri di depan konter kasir sebuah minimarket jam sepuluh lewat malam hari Jumat dan mempertimbangkan untuk mengatakan yang sebenarnya kepada seorang anak muda berumur dua puluhan yang jelas-jelas cuma ingin waktu shift-nya cepat lewat.

“Iya,” kata saya. “Saya sedang mencari sesuatu.”

“Semoga ketemu, Mas.”

“Terima kasih.”

Saya kembali hari Selasa berikutnya.


Dan hari Selasa berikutnya, jam sepuluh lewat empat belas, saya sedang berdiri di lorong lima ketika saya mendengar bunyi sandal berhenti di lantai vinil.

Saya tidak berbalik.

Saya perlu waktu sekitar dua detik untuk memastikan bahwa saya tidak sedang mengarang bunyi itu, karena saya sudah mengarang bunyi itu empat kali dalam tiga minggu terakhir.

Lalu:

“Kamu ngapain di sini.”

Saya berbalik.

Kiara berdiri di ujung lorong lima dengan keranjang di tangan.

Hoodie abu-abu. Rambut diikat asal. Kacamata. Sandal jepit.

Wajahnya lebih kurus dari terakhir kali. Ada bayangan di bawah matanya yang tidak ditutupi apa pun.

Dia terlihat seperti orang yang sudah tidak tidur dengan benar selama beberapa minggu, dan dia berdiri di sana menatap saya, dan saya berpikir — dengan sangat jelas, dengan sangat bodoh, di lorong bumbu sebuah minimarket —

ini yang paling bagus yang pernah saya lihat.


“Belanja,” kata saya.

“Ini Selasa.”

“Ya.”

“Kamu belanja hari Minggu di pasar.”

“Ya.”

Kiara menatap keranjang saya.

Keranjang itu kosong.

Dia menatapnya cukup lama.

“Danan.”

“Ya.”

“Udah berapa Selasa?”

Saya mempertimbangkan berbohong selama kira-kira setengah detik.

“Lima,” kata saya.

Dia menutup mata.

“Aku bilang aku nggak akan nungguin di gang lagi,” kata saya cepat, “dan saya tidak menunggu di gang. Saya tidak pernah kembali ke sana. Saya tidak pernah bertanya kepada siapa pun. Saya tidak—“

“Kamu nungguin di minimarket.”

“Ya.”

“Lima minggu.”

“Ya.”

“Setiap Selasa.”

“Ya,” kata saya. “Karena kalau kamu datang ke sini, itu keputusan kamu. Kalau saya berdiri di depan rumahmu, itu bukan.”

Kiara membuka matanya.

Dan mereka basah, dan dia tidak berusaha menyembunyikannya, dan dia berdiri di lorong bumbu dengan keranjang berisi — saya melihatnya, saya tidak bisa tidak melihatnya, saya melihat segalanya —

roti tawar setengah lusin, kopi sachet, sebungkus bawang bombai, dan dua ikat bayam.

Ada bahan makanan di keranjangnya.

Saya harus berpegangan sebentar ke rak.


“Aku berhenti kerja,” katanya.

“Saya tahu.”

“Gimana kamu—“

“Sistem agensi mengirim pemberitahuan ke klien lama kalau pendamping mengakhiri keanggotaan.” Saya menelan. “Tiga puluh dua hari lalu.”

“Kamu ngitung.”

“Saya menghitung semuanya.”

Dia tertawa. Sekali, patah, lewat hidung.

“Rumahnya udah kejual,” katanya.

Saya berhenti bernapas.

“Dua minggu lalu. Harga pasar, bukan lelang. Utangnya lunas.” Dia mengangkat bahu, dan bahu itu bergetar. “Aku sama Mbah Sri ngontrak sekarang. Dua gang dari situ. Dia masih bisa jalan kaki ke pengajian.”

“Kiara—“

“Aku nggak bilang ini biar kamu ngasih sesuatu.” Suaranya naik. “Danan, aku serius. Aku nggak—“

“Saya tidak akan menawarkan apa pun,” kata saya.

Dia berhenti.

“Saya ingin,” kata saya. “Saya ingin sekali. Saya sudah menghitungnya di kepala saya lima detik yang lalu dan saya bisa menyelesaikan seluruhnya sebelum bulan depan.”

Saya menggeleng.

“Saya tidak akan melakukannya.”

Kiara menatap saya dari ujung lorong lima.

“Kenapa?”

“Karena kamu bilang rumahnya sudah terjual,” kata saya, “dan itu artinya kamu sudah menyelesaikannya sendiri, dan kalau saya menawarkan sesuatu sekarang, yang saya lakukan bukan membantu. Yang saya lakukan adalah mengambil satu-satunya hal yang kamu selesaikan sendiri lalu menaruh nama saya di atasnya.”

Dia menutup mulutnya dengan punggung tangan.


“Aku punya sebelas,” katanya.

“Sebelas apa?”

“Sebelas baris.”

Saya tidak mengerti.

Dan lalu saya mengerti, dan saya harus menunduk sebentar dan menatap lantai vinil minimarket itu selama sekitar tiga detik.

“Aku nulis di buku catatan,” katanya. “Halamannya aku kasih judul. Sebulan setengah dapetnya sebelas. Satu-satu, Danan. Kadang seminggu nggak nambah apa-apa.”

“Sebelas,” kata saya.

“Iya.”

“Boleh saya dengar satu?”

Dia menatap saya.

“Bau pasar jam lima pagi,” katanya.


Saya meletakkan keranjang kosong itu di lantai.

Saya berjalan ke arahnya dan berhenti di jarak dua langkah, karena dua langkah adalah jarak di mana saya bisa mengulurkan tangan tanpa dia harus mundur.

“Kiara.”

“Iya.”

Saya sudah menyiapkan ini selama lima minggu. Saya menulisnya. Saya menulisnya seperti saya menulis segalanya — di kertas, dengan urutan bernomor, dengan kolom di bawah untuk toleransi.

Saya membuangnya semalam.

“Saya tidak tahu kamu merasakan apa,” kata saya.

Suara saya tidak rata. Saya membiarkannya.

“Saya sudah mengamati kamu selama sebelas bulan. Saya tahu kamu tidak suka seledri dan tidak tahan pedas dan kamu memiringkan kepala ke kiri waktu membaca. Saya punya lembar catatan tentang kamu di dalam map di laci dapur saya, dan di kolom paling atasnya tertulis satu kata, dan kata itu Rabu.”

Dia menangis sekarang, tanpa suara, tanpa bergerak.

“Saya bisa menyusun daftar tentang kamu yang panjangnya empat halaman,” kata saya. “Dan tidak satu pun dari empat halaman itu bisa memberi tahu saya satu hal yang paling saya perlu tahu.”

Saya menarik napas.

“Jadi saya tidak menebak.”

Saya menatapnya, dan saya tidak memalingkan wajah, dan itu adalah hal tersulit kedua yang pernah saya lakukan.

“Saya nanya.”


“Kiara. Waktu kamu mencium saya, itu kamu, atau itu pekerjaan?”

Dia mengeluarkan bunyi yang bukan tawa dan bukan tangis.

“Itu aku,” katanya. “Danan, ya Tuhan, itu aku. Itu aku banget sampe aku muntah besoknya.”

“Baik,” kata saya, dan suara saya pecah di kata yang paling tidak pantas untuk pecah, dan saya tidak peduli.

“Nanya lagi,” katanya.

“Apa?”

“Nanya lagi.” Dia melangkah maju satu langkah. “Kamu bilang kamu nanya. Ya nanya. Yang beneran.”

Saya berdiri di lorong bumbu sebuah minimarket dua puluh empat jam, di antara rak kecap dan rak saus tiram, pada hari Selasa pukul dua puluh dua lewat dua puluh satu.

“Kiara,” kata saya. “Saya jatuh cinta sama kamu.”

Dia menutup wajahnya dengan kedua tangan.

“Saya tidak tahu sejak kapan,” kata saya. “Saya sudah mencoba menentukan tanggalnya dan saya tidak bisa, dan itu belum pernah terjadi pada saya seumur hidup saya.”

“Danan—“

“Mungkin sejak saya berdiri di depan tumpukan buncis di pasar dan membeli sesuatu yang tidak ada di menu.”

Dia menurunkan tangannya dan wajahnya benar-benar hancur dan dia tertawa di tengah-tengahnya.

“Dan saya mau bertanya,” kata saya, “dan ini pertanyaan yang saya siapkan lima minggu dan tetap tidak tahu cara mengucapkannya dengan benar.”

Saya menelan.

“Kamu mau apa?”


Kiara berdiri di sana.

Lampu neon minimarket itu terang seperti ruang operasi. Ada bunyi kulkas minuman berdengung. Ada satu orang lagi di lorong tiga yang jelas-jelas sudah berhenti berpura-pura tidak mendengarkan.

“Aku mau—“

Dia berhenti. Menarik napas. Mulai lagi.

Dan ini bagian yang akan saya bawa sampai mati.

“Aku mau ini,” katanya. “Kamu. Aku mau kamu. Aku udah tau dari lama, aku tau dari malem di atep, aku cuma nggak boleh punya itu.”

Dia menghapus wajahnya dengan lengan hoodie.

“Dan aku mau satu hal lagi, dan ini nggak bisa ditawar.”

“Sebutkan.”

“Kalau aku bilang aku nggak tau,” katanya, “kamu nggak boleh ngisi.”

Saya menatapnya.

“Kamu tanya lagi,” katanya. “Terus kamu tungguin. Walaupun lama. Walaupun berhari-hari. Walaupun jawabannya jelek dan nggak efisien dan bukan yang kamu udah tau bener.”

Saya berdiri di lorong lima.

Dan saya berkata:

“Baik.”

Dan Kiara — dengan keranjang berisi roti tawar setengah lusin, kopi sachet, sebungkus bawang bombai, dan dua ikat bayam, di lorong bumbu, hari Selasa jam sepuluh lewat dua puluh tiga malam —

Kiara tertawa dan menangis di waktu yang sama dan berkata:

“Kamu bilang ‘baik’ lagi.”