← Apartemen 12B

Chapter Three

Tidak Ada Garam di Meja Ini

POV: Kiara


Aku terlambat empat menit, dan itu bukan kecelakaan.

Terlambat empat menit adalah keputusan profesional. Datang tepat waktu membuat klien merasa kamu sedang bekerja. Datang empat menit terlambat membuat mereka merasa kamu sedang datang. Perbedaannya tipis dan sepenuhnya palsu, tapi itulah seluruh isi pekerjaanku, jadi aku tidak akan sok suci soal itu.

Yang tidak kuperhitungkan adalah bahwa aku sudah berdiri di lobi Menara Kalyana sejak jam setengah tujuh.

Aku bilang pada diriku sendiri bahwa taksinya kebetulan cepat.


“Selamat malam. Menu malam ini ikan kembung bakar, oseng tempe kacang panjang, dan sup jagung. Silakan masuk.”

Kalimat yang sama. Struktur yang sama. Bahkan jedanya di tempat yang sama, setelah kata ”malam ini”, seperti orang yang sedang membaca dari kartu yang tidak ada.

Aku masuk, dan sesuatu di dadaku melakukan hal kecil yang tidak kuizinkan.

Celemek abu-abu. Tali diikat dua kali. Lengan kemeja digulung sampai siku — tapi minggu ini kemejanya biru muda, bukan putih, dan gulungannya lebih rapi. Tiga lipatan, lebarnya sama.

Berhenti, kataku pada diriku sendiri. Kamu menghitung lipatan lengan kemeja orang.

“Bagaimana perjalanan Anda?” tanyanya, sudah kembali ke dapur.

“Lancar.”

“Hujan tadi sore di daerah sini.”

“Di tempatku nggak.”

“Baik.” Dia mengangguk pada wajan. Percakapan selesai, rupanya.

Aku duduk di kursi yang sama seperti minggu lalu, dan baru menyadari setelah duduk bahwa aku memilihnya tanpa berpikir. Kursi yang menghadap dapur. Kursi yang bukan kursinya.

Kursi itu.


Aku sudah menyiapkan strategi baru sepanjang minggu, yang mana adalah hal paling memalukan yang pernah kulakukan untuk pekerjaan ini.

Minggu lalu aku gagal karena aku memperlakukannya seperti klien biasa. Laki-laki yang perlu dibuat merasa menarik. Tapi Danan tidak ingin merasa menarik. Danan bahkan tidak ingin merasa apa-apa, sejauh yang bisa kubaca.

Jadi malam ini aku mengubah pendekatan: aku akan membiarkan dia bicara soal satu-satunya hal yang jelas-jelas dia pedulikan.

“Boleh tanya sesuatu?”

“Silakan.”

“Kenapa kembung? Kenapa nggak kakap, atau salmon, atau apa pun yang biasanya orang beli buat tamu?”

Bahunya berhenti bergerak.

Lalu dia berbalik — betul-betul berbalik, menghadapku, dengan sotil masih di tangan — dan untuk pertama kalinya dalam dua Rabu, wajahnya berubah.

“Karena kembung itu ikan yang paling tidak dihargai di negara ini,” katanya.

Dan lalu dia bicara selama sebelas menit.

Tentang kandungan lemak, tentang kenapa orang salah membakarnya sampai kering, tentang kesalahan fatal menusuk badannya dengan garpu untuk membalik, tentang harga yang tidak masuk akal murahnya untuk sesuatu sebagus itu. Suaranya tetap rata. Kalimatnya tetap pendek. Tapi ada kecepatan di sana yang tidak ada minggu lalu, dan sekali — cuma sekali — dia menggunakan tangannya untuk menggambarkan sesuatu di udara, lalu langsung menurunkannya seperti orang yang ketahuan.

Aku duduk di sana dan mendengarkan seorang laki-laki membela ikan kembung dengan sepenuh hati, dan aku merasa geli, dan lalu aku merasa sesuatu yang bukan geli, dan aku memutuskan untuk tidak menamai yang kedua.

“Maaf,” katanya tiba-tiba. “Anda tidak menanyakan sepanjang itu.”

“Aku nanya, kok.”

“Anda menanyakan satu kalimat.”

“Iya,” kataku, “dan aku dapet sebelas menit. Untung besar.”

Dia menatapku. Aku menahan pandangannya, sengaja, dengan senyum yang biasanya bekerja.

Dia mengangguk sekali — baik, informasi diterima — lalu berbalik dan mengangkat ikannya dari pemanggang.

Aku menghela napas ke arah pangkuanku.


Makanannya datang, dan makanannya luar biasa, dan itu mulai jadi masalah tersendiri.

Ikannya utuh, kulitnya pecah di tempat yang benar. Ada tumis buncis kecil di piring, yang tidak dia sebutkan waktu menyebut menu tadi. Aku tidak memikirkannya. Waktu itu.

Dan lalu, karena aku manusia yang tidak bisa membiarkan hal berjalan mulus, aku melihat ke sekeliling meja.

Tidak ada garam.

Tidak ada lada. Tidak ada kecap. Tidak ada sambal, tidak ada botol apa pun, tidak ada nampan kecil berisi apa pun. Meja jati sepanjang dua meter sepuluh itu benar-benar kosong kecuali dua piring, dua gelas, dan satu vas tanpa bunga.

Aku sudah makan di sini seminggu lalu dan tidak menyadarinya. Itu yang membuatku merinding sedikit — bahwa ketiadaan bisa serapi itu.

“Danan.”

“Ya.”

“Garamnya di mana?”

Sendokku sudah setengah jalan ke sup. Aku bahkan tidak butuh garamnya. Aku bertanya karena aku ingin tahu apa yang akan dia lakukan.

Dia meletakkan gelasnya. Pelan. Dan dia bertanya, dengan nada yang benar-benar tenang tapi ada sesuatu yang mengeras di bawahnya:

“Kurang asin?”

“Bukan gitu—“

“Kalau kurang asin, saya akan catat. Ikannya saya garami di tahap kering, satu koma dua gram per seratus gram daging. Kalau menurut Anda kurang, berarti perhitungan saya salah dan saya harus—“

“Danan.”

Dia berhenti.

“Aku nggak bilang kurang asin,” kataku pelan. “Aku cuma nanya kenapa nggak ada garamnya di meja.”

Hening.

Dan lalu dia mengatakan sesuatu yang akan kuingat lebih lama daripada yang seharusnya, dengan cara orang menyebutkan fakta teknis yang sudah lama dia terima:

“Karena kalau saya sudah menghitungnya dengan benar, tidak ada yang perlu ditambahkan.”

Aku menatapnya.

“Garam di meja itu artinya saya gagal,” lanjutnya. “Artinya ada yang kurang, dan saya tidak tahu apa. Saya lebih suka tahu.”

“Tapi gimana kalau orangnya emang suka lebih asin?”

“Kalau begitu saya akan mengubah takarannya minggu depan.” Dia mengangkat gelasnya lagi. “Anda tinggal bilang.”

Anda tinggal bilang.

Aku tertawa. Pendek, satu embusan lewat hidung, benar-benar tidak sengaja. Dia melihatku dengan alis sedikit naik.

“Nggak apa-apa,” kataku. “Aku cuma... nggak. Nggak apa-apa.”

Yang tidak kukatakan adalah ini: aku sudah bertemu ratusan laki-laki yang mengira mereka tahu apa yang perempuan inginkan. Semuanya menyebalkan. Semuanya yakin. Semuanya salah.

Danan juga yakin. Danan juga tidak bertanya.

Tapi Danan menghitung sampai satu koma dua gram, dan menyediakan pintu keluar berupa kalimat ”Anda tinggal bilang”, dan sepenuhnya tidak menyadari bahwa perempuan seperti aku sudah lupa caranya bilang.

Aku menghabiskan supku.

Meja itu tetap kosong.


Setelah makan dia mencuci piring, dan aku berdiri di dekat konter karena tidak tahu harus di mana.

“Boleh aku lap?”

“Tidak perlu.”

“Aku dibayar dua jam dan udah selesai makan dalam empat puluh menit,” kataku. “Kalau aku cuma berdiri doang, aku merasa aneh.”

Air keran berhenti. Dia menoleh sedikit, tidak sepenuhnya.

“Anda tidak harus mengisi waktunya,” katanya.

“Semua orang harus ngisi waktunya, Danan. Itu namanya hidup.”

Aku tidak berencana mengatakan itu. Kalimatnya keluar dengan nada yang salah — bukan nada kerja, bukan nada hangat-terkontrol yang sudah kupakai bertahun-tahun. Nada asliku, yang lebih cepat dan lebih tajam dan menurut Nadia terdengar seperti orang yang selalu kurang tidur.

Danan berbalik penuh.

Dia menatapku selama tiga detik. Bukan menilai. Lebih seperti orang yang mendengar bunyi aneh dari mesin dan sedang mencoba menempatkan asalnya.

Lalu dia menyodorkan lap piring.

“Yang gelas saja,” katanya. “Piringnya berat kalau basah.”

Aku mengambil lapnya.

Kami berdiri berdampingan selama sekitar delapan menit. Dia mencuci, aku mengeringkan gelas. Bahunya sesekali hampir menyentuh bahuku waktu dia mengulurkan tangan ke rak, dan setiap kali dia menariknya kembali dengan jarak yang jelas-jelas dihitung, dan aku sadar dia melakukannya dengan sengaja, dan aku sadar itu seharusnya membuatku lega.

Tidak.

“Anda memegang gelas dari dalam,” katanya di suatu titik.

“Hah?”

“Jari Anda masuk ke dalam gelas waktu mengeringkan. Nanti ada bekas di bagian yang diminum.”

“...Oh.”

“Tidak apa-apa.” Jeda. “Itu gelas saya.”

Aku menoleh cepat, tapi wajahnya sepenuhnya datar, matanya di wastafel.

Aku tidak bisa memastikan sampai sekarang apakah itu lelucon.


Jam sembilan lewat tiga, aku di lorong lantai dua belas, dan pintu 12B baru saja tertutup.

“Rabu depan,” katanya sebelum menutup. Sama seperti minggu lalu. Bukan pertanyaan, bukan perintah, sesuatu yang lebih tipis dari keduanya.

“Iya,” jawabku. Sama seperti minggu lalu.

Di dalam lift aku membuka ponsel.

Aku punya sistem. Ini penting, dan ini bukan karena aku dingin; ini karena aku pernah menyimpan nomor klien dengan nama aslinya, lalu suatu hari nama itu muncul di layar waktu aku sedang makan siang bersama nenekku, dan Mbah Sri bertanya siapa itu, dan aku harus berbohong sambil menatap wajahnya.

Sejak itu semua kontak kusimpan dengan kategori, bukan nama.

Mr. Sabtu Golf. Mr. Reuni. Mr. Ulang Tahun Kantor. Ms. Pura-pura Kakak.

Kategorinya harus tiga hal: hari, keperluan, dan tidak ada yang personal. Kalau ponselku hilang, tidak ada satu pun yang bisa dirugikan.

Ibu jariku melayang di atas layar.

Mr. Rabu Makan Malam, ketikku.

Aku menatapnya. Terlalu telanjang. Kata makan malam di sana kelihatan seperti dua orang yang sedang berkencan.

Kuhapus. Mr. Rabu 12B.

Terlalu spesifik. Alamat tidak boleh ada di nama kontak.

Kuhapus lagi.

Lift sudah sampai lantai dasar dan pintunya terbuka, dan aku masih berdiri di dalamnya, dan seorang bapak-bapak dengan tas kresek harus berdeham supaya aku minggir.

Aku minggir. Berjalan keluar. Berhenti di lobi.

Dan mengetik:

Mr. VIP Rabu

Aku menekan simpan.

VIP karena tarifnya penuh dan dia membayar di muka. VIP karena dia tidak pernah menawar. VIP karena — dan ini alasan yang tidak akan pernah kutulis di mana pun — dia satu-satunya klien yang membuatku harus memutuskan, setiap Rabu jam sembilan, untuk berhenti berdiri di tengah ruangannya.

Aku memasukkan ponsel ke tas.

Di taksi pulang, aku baru sadar ada tumis buncis di piringku malam itu, padahal waktu menyebut menu dia cuma menyebut tiga hal.

Aku membuka ponsel lagi. Membuka kontak itu.

Menatapnya cukup lama sampai layarnya mati sendiri.