Chapter Twenty Six
Kamu Suka Apa
POV: Danan
Renjani pulang jam sembilan lewat.
Dia tidak mengatakan apa pun tentang perempuan yang baru saja keluar dari pintu itu, dan saya tidak bertanya ke mana dia pergi selama dua puluh menit sebelum pulang. Kami berdua sudah cukup lelah untuk satu malam.
Di ambang pintu dia berbalik.
“Nan.”
“Ya.”
“Aku nggak akan dateng lagi,” katanya. “Bukan karena marah. Karena aku udah selesai.”
“Baik.”
“Dan kamu—“ Dia berhenti. Menghela napas. “Kamu jangan bilang ‘baik’ terus.”
Saya membuka mulut untuk mengatakan baik.
Renjani mengangkat telunjuknya, dan untuk pertama kalinya malam itu, kami berdua tertawa — pendek, sekali, dua orang yang tidak lucu sama sekali menertawakan hal yang tidak lucu sama sekali.
Lalu dia pergi.
Saya menutup pintu dan berbalik menghadap ruangan.
Meja jati dua meter sepuluh. Satu piring ayam woku yang sudah dingin sepenuhnya. Satu tempat garam keramik di ujung kanan.
Dan satu amplop cokelat di sisi seberang, di tempat piring saya seharusnya ada.
Saya membukanya jam sepuluh.
Isinya uang. Utuh, sampai lembar terakhir, disusun rapi menghadap satu arah.
Tidak ada apa-apa lagi di dalamnya. Tidak ada surat, tidak ada kertas, tidak ada satu kata pun.
Saya menghitungnya. Tentu saja saya menghitungnya. Dua kali.
Jumlahnya persis.
Dan saya duduk di kursi saya dengan uang itu di atas meja dan mengerti bahwa saya sedang menatap hasil kerja saya sendiri: seseorang yang begitu berhati-hati mengembalikan sesuatu dalam keadaan yang tidak menyisakan apa pun, sampai ke rupiah terakhir, sampai ke arah lembarannya —
karena itulah yang dilakukan orang dengan barang yang tidak ingin mereka utangi.
Saya sendiri yang mengajarkan bentuk itu kepadanya.
Kotak makan yang dicuci sampai tidak ada satu pun bercak air di sudutnya. Sepuluh sentimeter di atas konter dan terserah Anda.
Saya tidak bisa mengirim pesan.
Saya mencobanya jam sepuluh lewat. Aplikasi Beranda, riwayat, Danan Prakoso — Tidak aktif. Kolom pesan tidak ada. Kontrak yang sudah ditutup tidak punya saluran komunikasi; itu memang cara sistemnya bekerja, dan saya sendiri yang menutupnya dua belas hari lalu.
Saya punya nomornya. Nomor yang dia pakai hari Jumat malam itu, dari kuitansi.
Saya membuka percakapan itu.
Pesan terakhir di sana masih ada. Saya ingat semua.
Saya mengetik tiga kalimat dan menghapus ketiganya.
Karena begini: dua belas hari lalu saya menyelesaikan sesuatu lewat layar. Saya mengirim uang lewat layar, saya menutup jadwal lewat layar, saya menulis satu kalimat empat belas kata lewat layar.
Kalau saya memperbaikinya lewat layar juga, saya cuma sedang mengulang gerakan yang sama dengan arah yang berbeda.
Saya menaruh ponsel.
Kantor Beranda ada di lantai tiga sebuah ruko di Tebet, di atas klinik gigi dan di bawah papan nama tempat kursus Mandarin yang sudah tutup.
Saya sampai jam sepuluh pagi hari Kamis.
Tidak ada plang. Pintunya kaca film gelap. Di dalam ada meja resepsionis tanpa resepsionis, empat kursi tunggu, dispenser, dan satu pot lidah mertua yang terlihat baru disiram.
Dan di dinding, dalam bingkai plastik, empat aturan yang sudah saya baca sampai halaman lima.
“Bapak Danan.”
Saya berbalik.
Perempuan berumur empat puluhan, rambut disanggul dengan pensil, memegang map. Dia tidak terlihat kaget sama sekali.
“Saya Vera,” katanya. “Duduk.”
Dia tidak menyuruh saya masuk ke ruangan belakang. Dia duduk di kursi tunggu di seberang saya, dengan map di pangkuan yang tidak dia buka.
“Saya mau minta alamatnya,” kata saya.
“Nggak bisa.”
“Saya tahu.”
“Terus kenapa nanya?”
“Karena mencarinya sendiri tanpa bertanya di sini dulu itu lebih buruk,” kata saya.
Perempuan itu menatap saya cukup lama.
Lalu dia meletakkan mapnya di kursi sebelah.
“Bapak tau nggak,” katanya, “berapa banyak klien yang dateng ke kantor ini dalam sembilan tahun buat nyari alamat pendampingnya?”
“Tidak.”
“Empat belas.”
“Berapa yang Anda kasih?”
“Nol.”
“Baik.”
“Dan dari empat belas itu,” lanjutnya, “sebelas ngamuk, dua nawarin uang, satu nangis.” Dia menyilangkan tangan. “Bapak yang keberapa belas?”
“Yang kelima belas.”
“Bapak mau ngapain kalau ketemu dia?”
Saya sudah menyiapkan jawaban untuk ini di mobil, dan jawaban yang saya siapkan panjang, ada empat bagian, dan mencakup penjelasan tentang transfer dan tentang alasannya dan tentang apa yang saya pahami dua belas hari terlambat.
Yang keluar cuma tiga kata.
“Saya mau bertanya.”
Mbak Vera tidak bergerak.
“Nanya apa?”
“Belum tahu.” Saya menatap tangan saya sendiri. “Saya tidak pernah melakukannya. Saya tidak tahu bentuknya seperti apa.”
Ruangan itu sangat hening. Dispenser berbunyi sekali, mendidih, lalu berhenti.
“Bapak Danan.”
“Ya.”
“Saya nggak akan kasih alamatnya,” katanya. “Itu nggak berubah.”
“Saya tahu.”
“Tapi saya juga nggak akan bohong dan bilang Bapak orang jahat.” Dia mengambil mapnya lagi. “Saya baca laporan dua belas tahun. Saya tau bentuknya orang jahat, dan bentuknya bukan ini.”
Dia berdiri.
“Yang saya nggak ngerti,” katanya, sambil berjalan ke arah pintu belakang, “orang yang bisa hitung sampai segitu detail, kenapa nggak kepikiran nanya.”
Dia berhenti dengan tangan di gagang pintu.
“Bukan pertanyaan,” katanya. “Saya cuma ngomong.”
Pintu tertutup.
Saya duduk di kursi tunggu yang salah satu kakinya lebih pendek selama beberapa saat lagi.
Lalu saya keluar.
Saya tidak butuh alamatnya.
Saya menyadarinya di tangga ruko itu, di antara lantai dua dan lantai satu, dan saya berhenti di sana selama sepuluh detik penuh karena rasanya seperti seseorang menyalakan lampu.
Saya sudah pernah mengantarnya pulang.
Selasa malam, sebelas minggu lalu, dari Mart dua puluh empat jam di ujung jalan besar. Tujuh menit jalan kaki. Dua kantong belanja di tangan kiri. Empat kalimat sepanjang perjalanan.
Trotoar rusak di depan. Lampu jalan di gang itu mati tiga dari lima. Mulut gang di sisi kiri jalan, setelah tikungan, dengan warung yang tutup jam sepuluh. Pagar-pagar rumah di sisi dalam trotoar, karena saya berjalan di sisi luar.
Saya ingat semua.
Saya mengatakannya kepadanya lewat pesan hari Jumat malam itu dan saya mengatakannya sebagai fakta netral tentang cara kerja kepala saya.
Malam itu saya berdiri di tangga sebuah ruko di Tebet dan mengerti bahwa itu satu-satunya hal berguna yang saya punya.
Saya sampai di mulut gang itu jam tujuh malam.
Saya tidak masuk.
Ada enam rumah di sepanjang gang itu sejauh yang bisa saya lihat, mungkin lebih di dalam, dan saya tidak tahu yang mana. Saya bisa masuk dan bertanya kepada orang. Saya bisa menyebut namanya di warung.
Saya tidak melakukan itu, karena seorang perempuan yang bekerja seperti dia bekerja tidak butuh ada laki-laki asing menyebut namanya di gang tempat neneknya tinggal.
Jadi saya berdiri di mulut gang, di bawah satu-satunya lampu jalan yang menyala di sisi kiri, terlalu kuning, membuat semuanya terlihat seperti foto lama.
Dan saya menunggu.
Jam delapan. Jam sembilan. Jam sepuluh — warungnya tutup, dan bapak yang menutupnya menatap saya cukup lama sebelum menurunkan rolling door.
Jam sepuluh lewat empat puluh, saya pulang.
Saya kembali hari Jumat. Berdiri dari jam tujuh sampai jam sebelas.
Saya kembali hari Sabtu.
Hari Sabtu jam sembilan lewat dua puluh, dia muncul dari arah jalan besar.
Dia melihat saya dari jarak sekitar lima belas meter dan berhenti.
Hoodie abu-abu. Celana panjang. Rambut diikat asal. Kacamata.
Dia membawa satu kantong plastik.
Kami saling menatap di jarak lima belas meter selama waktu yang cukup lama, dan lalu dia berjalan lagi, dan berhenti sekitar tiga meter dari saya.
“Kamu ngapain di sini.”
“Menunggu.”
“Berapa lama?”
“Tiga malam.”
Wajahnya berkedut sekali.
“Danan—“
“Saya tidak masuk ke gangnya,” kata saya cepat. “Saya tidak bertanya ke siapa pun. Tidak ada yang tahu nama Anda. Saya berdiri di sini saja.”
Dia menatap saya.
Lalu dia menutup mata dan menekan pangkal telapak tangannya ke dahi, sebentar.
“Ya Tuhan,” katanya pelan.
“Saya bisa pulang kalau Anda—“
“Nggak.” Dia menurunkan tangannya. “Nggak. Udah kepalang.”
Saya sudah menyiapkan urutannya. Tentu saja saya sudah menyiapkan urutannya; saya tidak tahu cara lain.
Saya membuangnya di kalimat pertama.
“Saya tidak bawa apa-apa,” kata saya.
Kiara mengerutkan kening.
“Saya tidak bawa uang. Saya tidak bawa tawaran. Saya tidak bawa rencana.” Saya mengangkat kedua tangan sedikit, menunjukkan bahwa keduanya kosong, yang mana adalah gerakan paling bodoh yang pernah saya lakukan seumur hidup dan saya tetap melakukannya. “Saya tidak punya solusi apa pun untuk apa pun.”
“Danan, apa—“
“Transfer itu salah,” kata saya.
Dia berhenti.
“Saya perlu mengatakannya sebagai kalimat, bukan sebagai penjelasan,” kata saya. “Yang saya lakukan tanggal dua puluh tiga jam enam lewat dua pagi itu salah. Bukan salah perhitungan. Salah.”
“Kamu—“
“Anda memberikan satu hal yang tidak ada di dalam kontrak,” kata saya. “Dan saya memberinya harga.”
Kiara berdiri di trotoar dengan kantong plastik di tangan dan tidak bergerak sama sekali.
“Saya tidak melakukannya karena saya tidak mau,” kata saya.
Dan saya berhenti, karena tenggorokan saya melakukan sesuatu yang belum pernah dilakukannya, dan saya butuh waktu sekitar tiga detik untuk memaksanya bekerja lagi.
“Saya melakukannya karena saya tidak bisa memastikan,” kata saya. “Saya pikir saya tidak berhak menerima sesuatu yang saya tidak bisa buktikan diberikan dengan bebas. Dan karena saya tidak bisa membuktikannya, saya menutup pintunya, dan saya menyebut itu melindungi Anda.”
“Danan—“
“Itu bukan melindungi Anda.” Saya mendengar suara saya sendiri dan suaranya tidak rata lagi. “Itu saya menyelesaikan sesuatu yang tidak saya mengerti supaya saya tidak perlu berdiri di depannya.”
Kiara meletakkan kantong plastiknya di trotoar.
“Kamu ketemu dia,” katanya.
“Ya.”
“Dan?”
“Dia bilang dia mencoba bicara enam kali,” kata saya. “Selama sebelas bulan. Dan enam kali saya mendengarnya, dan enam kali saya mengubahnya jadi pekerjaan.”
Saya menyebutkan tiga dari enam. Dapur. Ruang kerja. Cermin sepanjang lorong.
Saya tidak menyebutkan yang keenam. Saya belum sanggup malam itu.
“Dia bilang,” kata saya, “kamu nggak pernah tanya kenapa aku pergi. Kamu langsung merenovasi hidupmu jadi sendirian.”
Kiara menutup mulutnya dengan punggung tangan.
“Dan saya melakukan hal yang persis sama kepada Anda dua belas hari sebelumnya,” kata saya. “Anda melakukan sesuatu, dan saya tidak mengerti, dan saya tidak bertanya sekali pun, dan saya beresi.”
Lampu jalan yang terlalu kuning itu berdengung pelan di atas kami.
“Saya sudah melakukannya selama tiga puluh tiga tahun,” kata saya. “Saya tidak tahu cara lain. Saya tidak sedang meminta Anda memaafkan itu, karena itu bukan sesuatu yang bisa dibereskan dengan permintaan maaf, dan saya tidak akan berpura-pura saya sudah berubah dalam dua belas hari.”
“Terus kamu ngapain di sini?”
Saya menatapnya.
Tiga puluh satu Rabu. Satu Selasa di lorong bumbu. Satu Minggu di Palmerah jam lima pagi. Satu malam di atap dengan setengah kota mati lampu. Tiga anak tangga di lantai lima belas.
“Saya mau bertanya sesuatu,” kata saya.
“Nanya apa?”
Dan saya mengajukan satu-satunya pertanyaan yang saya punya. Bukan yang paling penting, bukan yang paling mendesak, bukan yang jawabannya paling saya butuhkan.
Yang paling saya tidak tahu jawabannya.
“Kamu suka apa?”
Saya melihat kalimat itu mendarat.
Saya melihat wajahnya bergerak dari bingung ke sesuatu yang lain, dan saya tidak tahu namanya, dan saya masih belum tahu namanya sampai sekarang.
“Apa?”
“Kamu suka apa,” ulang saya.
“Itu—“ Dia tertawa, satu embusan, salah tempat. “Itu pertanyaan macem apa?”
“Saya tidak tahu satu pun,” kata saya. “Saya tahu kamu tidak suka seledri. Saya tahu kamu tidak tahan pedas. Saya tahu minus mata kirimu dua tujuh puluh lima dan kamu memiringkan kepala ke kiri waktu membaca dan kamu selalu menyimpan buncis untuk terakhir.”
Saya menelan.
“Semua itu saya kumpulkan dengan mengamati,” kata saya. “Tidak satu pun kamu yang memberi tahu saya.”
“Danan—“
“Kamu suka apa, Kiara?”
Dia membuka mulut.
Lalu menutupnya.
Dan lalu — dan saya akan mengingat lima belas detik berikutnya sampai saya mati — dia mulai menjawab.
“Aku suka...” Dia berhenti. Mulai lagi. “Aku suka soto. Aku suka soto yang bening, yang—“
Dia berhenti.
“Itu Bapak,” katanya pelan. “Itu bapak aku.”
Dia menatap trotoar.
“Aku suka lagu-lagu lama. Yang tahun sembilan puluhan.” Suaranya jadi lebih cepat. “Itu Mbah Sri. Radio di dapur, tiap pagi.”
“Kiara—“
“Aku suka baca.” Dia mengangkat wajah dan matanya sudah basah dan dia bahkan belum sadar. “Aku suka baca, itu bener, itu aku, aku baca—“
Dia berhenti lagi.
“Aku baca yang aku terjemahin,” katanya. “Aku belum pernah baca buku yang bukan kerjaan sejak dua ribu delapan belas.”
Dia berdiri di trotoar itu dengan kantong plastik di kakinya dan mulai menghitung dengan jari, dan setiap jari yang dia angkat dia turunkan lagi.
“Aku suka—“
Dan lalu dia berhenti sepenuhnya.
“Aku nggak tau,” katanya.
Suaranya sangat kecil.
“Aku nggak tau, Danan. Aku nggak tau aku suka apa. Aku dua puluh sembilan tahun dan aku nggak bisa jawab pertanyaan yang bisa dijawab anak lima tahun.”
Ini bagian yang harus saya tuliskan dengan sangat hati-hati.
Setiap serat di badan saya ingin memperbaikinya.
Saya bisa merasakannya bergerak, persis seperti selalu — daftar sudah mulai tersusun sendiri di kepala saya sebelum dia selesai bicara. Kalau dia tidak tahu, saya bisa mencari tahu. Saya sudah punya data. Buncis. Kembung. Sayur asem dengan asam jawa, bukan belimbing wuluh. Saya bisa menyusun daftarnya dalam dua minggu. Saya bisa memberikan daftar itu kepadanya.
Saya bisa membangun seluruh jawabannya untuk dia.
Saya bisa melakukannya dengan sangat baik, dan hasilnya akan benar, dan itu adalah persis hal yang membuat seorang perempuan berdiri di lorong dengan cermin di kedua sisinya dan berlari keluar dari gedung pernikahannya sendiri.
Saya menutup mulut saya.
Saya berdiri di mulut gang itu di bawah lampu jalan yang terlalu kuning dan saya tidak melakukan apa-apa, dan itu adalah hal paling sulit yang pernah saya lakukan seumur hidup saya.
“Danan,” katanya. “Ngomong sesuatu.”
“Saya tidak akan menjawabnya untuk kamu.”
Dia mengangkat wajah.
“Saya bisa,” kata saya. “Saya sudah menyusun setengahnya di kepala saya barusan, sementara kamu bicara. Saya bisa memberikan daftarnya kepadamu minggu depan dan daftarnya akan benar.”
Saya menggeleng.
“Dan itu akan jadi hal terburuk yang pernah saya lakukan kepada siapa pun.”
Kiara menangis sekarang. Tanpa suara, sambil berdiri, dengan tangan di sisi badan.
“Terus aku harus gimana?” katanya.
Dan saya memberikan jawaban yang belum pernah saya berikan kepada satu orang pun dalam sebelas tahun bekerja, tiga puluh tiga tahun hidup, dan satu setengah tahun merancang sebuah rumah untuk dua orang.
“Saya tidak tahu,” kata saya.
Dia menatap saya cukup lama.
“Itu jawaban terburuk yang pernah aku denger,” katanya.
“Ya.”
“Kamu biasanya punya jawaban buat semuanya.”
“Ya.”
“Aku benci ini.”
“Ya,” kata saya. “Saya juga.”
Dia mengangkat kantong plastiknya dari trotoar.
“Aku nggak bisa ngomong sekarang,” katanya.
“Baik.”
“Danan.”
“Saya tidak akan menunggu di sini lagi,” kata saya. “Tiga malam itu sudah keterlaluan dan saya tahu itu. Saya tidak akan datang lagi.”
Sesuatu di wajahnya berubah, cepat, dan hilang.
“Oke,” katanya.
“Kalau kamu mau bicara, kamu tahu di mana saya.”
“Iya.”
“Setiap hari,” kata saya. “Bukan cuma Rabu.”
Dia berdiri di mulut gang itu dan menatap saya, dan tidak mengatakan apa pun, dan lalu dia berbalik dan berjalan masuk ke dalam gang yang lampunya mati tiga dari lima.
Saya menunggu sampai suara langkahnya hilang.
Lalu saya pulang.
Saya berjalan empat kilometer lagi malam itu, karena saya masih tidak bisa duduk di dalam mobil orang lain dengan kepala seperti itu.
Dan di suatu tempat di kilometer ketiga saya menyadari sesuatu yang membuat saya berhenti di trotoar dan berdiri di sana sampai ada tukang parkir bertanya apakah saya baik-baik saja.
Saya baru saja meninggalkan sebuah masalah dalam keadaan tidak selesai.
Dengan sengaja. Sadar penuh. Sambil tahu persis bagaimana cara menyelesaikannya.
Saya berumur tiga puluh tiga tahun dan itu pertama kalinya.
- 1 Klien yang Tidak Meminta Apa-apa
- 2 Denah Rasa
- 3 Tidak Ada Garam di Meja Ini
- 4 Lima Aturan
- 5 Toleransi
- 6 Porsi Untuk Dua Orang
- 7 Lorong Bumbu, Pukul 22.40
- 8 Di Luar Jadwal
- 9 Nasi Kuning untuk Enam Orang
- 10 Sabtu
- 11 Pukul Lima Pagi di Palmerah
- 12 Tarif Per Jam
- 13 Halte, dan Hari Jumat
- 14 Lantai Dua Puluh, Tanpa Listrik
- 15 Ibu Saya Datang Hari Rabu
- 16 Aturan yang Tidak Ditulis di Mana Pun
- 17 Kampanye
- 18 Data
- 19 Rabu Ketiga Puluh Satu
- 20 Penyesuaian Layanan
- 21 Enam Belas Karakter
- 22 Rabu yang Kosong
- 23 Enam Kali
- 24 Perempuan yang Punya Nama di Undangan
- 25 Tangga Darurat
- 26 Kamu Suka Apa reading
- 27 Yang Pertama Kupilih
- 28 Lorong Bumbu, Lagi
- 29 Yang Kedua
- 30 Tiga Menit
- 31 Seratus Tiga Pertanyaan
- 32 Kelapa Sangrai
- 33 Aturan Dapur
- 34 Yogyakarta
- 35 Tambahin Sesukamu
- 36 Kamu Mau Makan Apa