Chapter Twenty Four
Perempuan yang Punya Nama di Undangan
POV: Kiara
Aku menekan bel dua kali.
Yang pertama jam delapan tepat. Yang kedua sekitar dua puluh detik kemudian, karena aku mendengar ada suara di dalam dan tidak ada yang datang, dan karena kalau aku berdiri lebih lama di koridor itu aku akan pulang.
Aku memegang amplop cokelat di tangan kiri.
Tujuh halaman kalimat di kepalaku, dan aku sudah memilih yang mana yang akan kuucapkan lebih dulu. Danan, aku mau ngembaliin ini, dan aku mau kamu berdiri di sini sampai aku selesai ngomong.
Aku sudah melatihnya. Delapan belas kata.
Pintu terbuka.
Dan di baliknya berdiri seorang perempuan.
Aku ingin mencatat dengan jujur apa yang terjadi di tiga detik berikutnya, karena tiga detik itu berisi lebih banyak informasi daripada yang bisa ditanggung siapa pun.
Aku membacanya. Tentu saja aku membacanya. Aku tidak bisa mematikannya, tidak pernah bisa, bahkan dalam keadaan seperti itu — mungkin terutama dalam keadaan seperti itu.
Umurnya tiga puluhan. Lebih tua dariku, mungkin empat atau lima tahun.
Wajahnya tanpa riasan. Bukan tanpa riasan seperti aku di lorong bumbu, yang artinya lelah. Tanpa riasan seperti orang yang tidak menganggap ruangan ini butuh persiapan.
Sandal rumah. Bukan sepatu. Bukan bertelanjang kaki seperti tamu yang melepas sepatu di depan pintu. Sandal rumah, dari rak sepatu berkolom dua yang salah satu kolomnya kosong.
Gelas di tangan kanan. Teh. Dipegang dari badan gelasnya, bukan dari pegangannya, cara orang memegang gelas di rumah sendiri.
Dan matanya merah.
Tiga detik. Itu saja yang kubutuhkan.
“Oh,” katanya. “Maaf, aku—“
“Salah unit,” kataku.
“Nggak, ini—“
“Maaf. Aku salah unit.”
Aku sudah berbalik.
“Kiara?”
Suaranya datang dari dalam.
Aku berhenti di tengah koridor lantai dua belas dengan punggung menghadap pintu 12B.
Ada beberapa hal yang bisa kulakukan pada titik itu, dan yang paling waras adalah terus berjalan. Lift ada tujuh meter di depanku. Aku bisa sampai di sana dalam empat langkah.
Aku berbalik.
Danan berdiri di belakang perempuan itu, di ruang tengah, dan dia —
Dia sudah bergerak ke arah pintu. Setengah jalan. Tangan kanannya masih setengah terangkat dari sesuatu yang dia lepaskan.
Aku belum pernah melihatnya bergerak cepat di dalam apartemen itu. Tiga puluh satu Rabu, dan laki-laki itu tidak pernah sekali pun tergesa-gesa.
“Kiara.”
“Aku ganggu.”
“Tidak—“
“Aku ganggu,” ulangku, dan suaraku keluar dengan nada yang benar, nada kerja, nada hangat-terkontrol yang sudah tiga tahun kupakai dan yang malam itu datang sendiri tanpa kupanggil, seperti tangan yang menangkap benda jatuh. “Aku cuma mau ngasih ini. Bentar aja.”
Aku mengangkat amplop cokelat itu.
“Masuk dulu,” kata perempuan itu.
Aku menoleh ke arahnya.
Dan dia — dan ini bagian yang membuat seluruh malam itu jadi tidak bisa ditanggung — dia tersenyum. Dengan hangat. Dengan sepenuhnya tulus. Dia mundur selangkah dan membuka pintu lebih lebar dan memiringkan kepalanya sedikit ke dalam.
“Masuk, hujan kok kayaknya nanti.”
Aku masuk.
Meja jati dua meter sepuluh itu ada di sebelah kiri.
Di atasnya, di depan kursi yang menghadap dapur — kursiku, kursi yang kududuki tiga puluh satu kali, kursi yang dia geser sendiri delapan puluh sentimeter ketika aku memindahkannya —
ada satu piring penuh.
Ayam woku. Nasi yang ditakar. Sendok dan garpu sejajar. Piringnya diputar dua tiga derajat.
Sudah dingin. Aku bisa melihat lapisan minyak yang mulai mengeras di pinggirnya.
Dan di sisi seberang, di tempat dia selalu duduk, tidak ada apa-apa. Tidak ada piring. Tidak ada gelas.
Aku berdiri di ruang tengah unit 12B dengan amplop cokelat di tangan dan menatap meja itu, dan otakku — otak sialan yang tidak pernah bisa berhenti membaca — menyusun kalimatnya sendiri tanpa aku minta:
Dia masak. Dia naruh satu piring. Dia duduk di seberangnya. Dia nggak makan.
Dia ngelakuin ini hari ini. Jam tujuh. Rabu.
Sesuatu di dadaku menekuk.
Dan lalu aku melihat kunci di meja kecil di dekat sofa.
Gantungan kulit cokelat. Sudah menghitam di bagian yang sering dipegang.
Dan seluruh isi kepalaku berhenti sekaligus.
Aku tidak bodoh.
Aku ingin menekankan itu, karena orang selalu mengira perempuan dalam posisi seperti ini jadi bodoh. Aku tidak jadi bodoh. Aku justru jadi terlalu pintar, terlalu cepat, dan itu jauh lebih buruk.
Dalam waktu kurang dari empat detik aku sudah menyusun seluruh dokumennya.
Perempuan ini punya kunci.
Perempuan ini berumur tiga puluhan dan memakai sandal rumah dari kolom yang kosong.
Perempuan ini punya nama di undangan seratus dua puluh orang.
Perempuan ini adalah alasan mengapa ada dua wastafel di kamar mandi yang berlebihan untuk unit seluas ini. Perempuan ini adalah ukuran bangku jendela seratus empat puluh sentimeter yang diukur dua kali di malam yang berbeda dengan bantal dan meteran.
Perempuan ini adalah delapan puluh sentimeter.
Aku punya slot jadwal dan tarif per jam.
“Aku Renjani,” katanya.
Aku sudah tahu.
“Kiara,” kataku.
Dan aku mengulurkan tangan, dan aku tersenyum, dan aku merasakan seluruh mesin itu menyala di dalam badanku — postur, jarak, sudut kepala, durasi genggaman — dan aku membencinya lebih dari yang pernah kubenci seumur hidupku, dan aku tidak bisa mematikannya.
“Aku bentar aja,” kataku. “Serius.”
“Nggak apa-apa. Aku juga udah mau pulang kok.”
“Nggak usah karena aku.”
“Bukan karena kamu.” Dia mengangkat gelasnya sedikit. “Aku dari tadi jam tujuh.”
Jam tujuh.
Jam tujuh.
Aku menoleh ke Danan.
Dia berdiri sekitar dua meter dariku dan belum mengatakan satu kalimat pun sejak menyebut namaku.
Dan wajahnya —
Wajah Danan tidak pernah memberi apa-apa. Tiga puluh satu Rabu, satu Selasa di lorong bumbu, satu Minggu di Palmerah, satu malam di atap dengan setengah kota mati lampu. Aku sudah menyerah membaca wajah itu sejak minggu kedua.
Malam itu wajahnya terbuka lebar dan aku bisa membaca semuanya dan tidak satu pun dari yang kubaca ada gunanya bagiku.
Dia terlihat seperti orang yang sedang menonton dua bangunan runtuh sekaligus dan tidak bisa memilih mana yang mau dia tangkap.
Aku menaruh amplop itu di meja jati, di sisi yang kosong. Di tempat piringnya seharusnya ada.
“Ini punya kamu,” kataku.
“Kiara—“
“Semuanya. Utuh. Aku nggak ambil sepeser pun.”
“Saya tidak akan mengambilnya kembali.”
“Ya udah buang.”
Aku mendengar suaraku sendiri dan itu bukan nada kerja lagi.
Danan melangkah maju satu langkah.
“Kiara, saya harus—“
“Nggak usah.”
“Ada yang harus saya—“
“Danan.” Aku mengangkat tangan. “Nggak usah. Beneran. Kamu udah ngomong lewat transfer, kan? Enam belas karakter. Aku ngerti kok.”
Wajahnya berubah.
Dan itu satu-satunya kepuasan yang kudapat malam itu, dan rasanya menjijikkan, dan aku menyesalinya sebelum kalimatnya selesai keluar.
“Bukan itu maksudnya,” katanya.
“Terus apa maksudnya?”
Dia membuka mulut.
Dan berhenti.
Karena — dan aku baru mengerti ini berbulan-bulan kemudian, waktu aku sudah bisa memikirkannya tanpa sesuatu menekan di tenggorokanku — karena untuk menjawab pertanyaan itu, dia harus mengucapkan sesuatu di depan seorang perempuan yang baru saja datang untuk minta maaf setelah tiga tahun.
Danan bisa dituduh banyak hal. Dia tidak bisa dituduh melakukan hal itu.
Dia diam.
Dan aku membaca diamnya persis dengan cara yang paling salah dan paling manusiawi.
“Ya udah,” kataku.
Aku pamit dengan sangat sopan.
Itu bagian yang paling kubenci dari diriku sendiri. Aku pamit dengan sangat, sangat sopan. Aku mengucapkan terima kasih kepada Renjani karena sudah membukakan pintu. Aku bilang senang berkenalan. Aku bahkan — Tuhan tolong aku — aku bahkan memuji tehnya, yang bahkan bukan tehnya, yang jelas-jelas dibuatkan oleh Danan dengan air yang dia panaskan sampai delapan puluh derajat karena dia tidak pernah menuang air mendidih ke daun teh.
Lalu aku keluar.
Pintu 12B tertutup di belakangku.
Dan aku berjalan ke lift dan menekan tombolnya dan menunggu, dan angkanya bergerak dari lantai dua ke lantai tiga ke lantai empat dengan kecepatan yang tidak masuk akal lambatnya, dan di lantai enam aku menyadari bahwa aku tidak akan sanggup berdiri di dalam kotak logam itu selama dua belas lantai dengan cermin di ketiga sisinya.
Aku berbalik.
Pintu tangga darurat ada di ujung koridor.
Aku mendorongnya, masuk ke sumur tangga yang lampunya neon dan dingin dan berbau semen, dan aku turun sekitar setengah lantai dan lalu kakiku berhenti bekerja.
Aku duduk di anak tangga di antara lantai dua belas dan sebelas, dengan punggung ke dinding, dan menekan pangkal kedua telapak tangan ke mataku.
Dan aku duduk di sana entah berapa lama.
Sampai aku mendengar pintu tangga darurat di atasku terbuka.
- 1 Klien yang Tidak Meminta Apa-apa
- 2 Denah Rasa
- 3 Tidak Ada Garam di Meja Ini
- 4 Lima Aturan
- 5 Toleransi
- 6 Porsi Untuk Dua Orang
- 7 Lorong Bumbu, Pukul 22.40
- 8 Di Luar Jadwal
- 9 Nasi Kuning untuk Enam Orang
- 10 Sabtu
- 11 Pukul Lima Pagi di Palmerah
- 12 Tarif Per Jam
- 13 Halte, dan Hari Jumat
- 14 Lantai Dua Puluh, Tanpa Listrik
- 15 Ibu Saya Datang Hari Rabu
- 16 Aturan yang Tidak Ditulis di Mana Pun
- 17 Kampanye
- 18 Data
- 19 Rabu Ketiga Puluh Satu
- 20 Penyesuaian Layanan
- 21 Enam Belas Karakter
- 22 Rabu yang Kosong
- 23 Enam Kali
- 24 Perempuan yang Punya Nama di Undangan reading
- 25 Tangga Darurat
- 26 Kamu Suka Apa
- 27 Yang Pertama Kupilih
- 28 Lorong Bumbu, Lagi
- 29 Yang Kedua
- 30 Tiga Menit
- 31 Seratus Tiga Pertanyaan
- 32 Kelapa Sangrai
- 33 Aturan Dapur
- 34 Yogyakarta
- 35 Tambahin Sesukamu
- 36 Kamu Mau Makan Apa