Chapter Seventeen
Kampanye
POV: Kiara
Aku datang hari Rabu itu untuk mengundurkan diri.
Aku sudah menyiapkan kalimatnya. Tiga versi, dihafalkan, semuanya di bawah dua puluh kata. Aku melatihnya di angkot dengan bibir bergerak tanpa suara sampai ibu-ibu di sebelahku pindah tempat duduk.
Versi pertama: Danan, aku mau ngomong. Aku mau minta diganti pendamping lain.
Aku bertahan empat menit.
Dia membuka pintu, menyebutkan menu — sayur asem, ikan asin, sambal terasi, tempe goreng — dan aku sudah membuka mulut di ambang pintu, dan dia berkata:
“Bagaimana kabar nenek Anda?”
Aku berhenti.
“...Apa?”
“Nenek Anda.” Dia mundur selangkah untuk mempersilakanku masuk. “Yang menyangrai kelapa sendiri.”
Aku berdiri di ambang pintu unit 12B dengan tiga versi kalimat pengunduran diri di kepalaku dan tidak satu pun dari ketiganya bisa keluar.
“Baik,” kataku. “Dia baik.”
“Baik,” ulangnya, dan mengangguk, dan berjalan ke dapur.
Itu saja. Dia tidak bertanya lagi. Dia menanyakan satu hal, satu kali, dengan benar, setelah sebelas minggu — dan berjalan pergi seolah tidak baru saja meruntuhkan seluruh persiapanku dalam enam kata.
Aku duduk di kursi yang menghadap dapur.
Sayur asemnya, ternyata, dimasak dengan asam jawa, bukan belimbing wuluh.
Persis seperti yang kubilang soal masakan nenekku, di atap gedung, malam listrik padam.
Aku tidak mengatakan apa-apa soal itu. Dia juga tidak.
“Ya udah kalo gitu ubah strategi,” kata Nadia malam itu, sambil menggambar sesuatu di kertas bekas struk.
“Nggak ada strategi.”
“Ada.” Dia memutar kertas itu ke arahku. “Ini.”
Ada tiga kotak dan panah-panah.
“Nad.”
“Dengerin dulu.” Nadia menunjuk kotak pertama. “Masalah lo bukan dia nggak suka. Masalah lo dia nggak nangkep. Bedanya jauh, Ra. Kalo dia nggak suka, lo mundur. Kalo dia nggak nangkep, lo naikin volume.”
“Dia bukan radio.”
“Semua cowok radio.” Nadia mengetuk kotak kedua. “Fase satu: visual.”
“Nggak.”
“Fase dua: jarak fisik.”
“Nadia.”
“Fase tiga—“
“Nadia, aku bahkan nggak mau—“
“Ra.” Nadia menaruh pulpennya. “Lo hari ini berangkat mau berhenti kerja terus balik lagi bawa kotak makan. Lo nggak punya hak moral buat bilang ‘nggak mau’.”
Aku menatap kotak makan kaca di atas meja.
“Fase satu apa,” kataku.
FASE SATU: VISUAL
Aku memakai gaun yang paling tidak bisa kubela.
Hijau tua, potongan leher yang jelas maksudnya apa, panjang di atas lutut. Aku membelinya dua tahun lalu untuk satu acara dan tidak pernah kupakai lagi karena aku merasa seperti sedang berteriak.
Aku sampai jam tujuh kurang dua. Aku bahkan sengaja berdiri sedikit menyamping waktu dia membuka pintu.
Danan menyebutkan menu.
Lalu dia berkata, “Sebentar,” berjalan ke dinding, dan menaikkan suhu pendingin ruangan dari dua puluh empat ke dua puluh enam.
“Kenapa?”
“Anda kedinginan.”
“Aku nggak kedinginan.”
“Bahu Anda naik waktu masuk.” Dia kembali ke dapur. “Itu respons terhadap suhu.”
Aku duduk di kursi.
Sepanjang dua jam berikutnya suhu ruangan dua puluh enam derajat, dan aku berkeringat di leher, dan aku memakan sup panas, dan pada menit ke lima puluh dia bertanya apakah perlu dinaikkan lagi.
Hasil Fase Satu: gagal total.
FASE DUA: JARAK
“Geser kursi lo,” kata Nadia.
“Kursinya berat.”
“Lo bawa aja kursinya ke samping dia.”
“Nad, mejanya dua meter sepuluh. Dia duduk di seberang. Kalau aku pindah ke samping dia, itu keliatan banget.”
“Ya emang itu tujuannya!”
Rabu berikutnya aku menggeser kursiku.
Bukan ke sampingnya — aku tidak sanggup — tapi sekitar tiga puluh sentimeter ke kiri, ke arah sudut meja, sehingga kami tidak lagi berhadapan lurus tapi menyudut.
Danan berhenti dengan piring di tangan.
“Ah,” katanya.
“Kenapa?”
“Tidak.” Dia menaruh piringnya. Lalu, tanpa berkata apa-apa lagi, dia menggeser seluruh peralatan makanku mengikuti posisi baruku — piring, gelas, sendok, garpu — dan menyusunnya ulang di depan posisi baruku, sejajar, dengan piring diputar dua tiga derajat.
Lalu dia mengambil kursinya sendiri.
Dan menggesernya juga.
Ke arah berlawanan.
“Danan—“
“Sekarang jaraknya delapan puluh lagi,” katanya, duduk. “Tadi jadi seratus dua. Itu terlalu jauh untuk bicara tanpa mengeraskan suara.”
Hasil Fase Dua: gagal, dengan cara yang membuatku ingin membenturkan kepala ke meja jati dua meter sepuluh itu.
FASE TIGA: PUJIAN LANGSUNG
Aku memilih tangannya karena aku sudah kalah dan tidak berpura-pura lagi.
Aku sudah memperhatikan tangan itu sejak Rabu pertama. Bekas luka pisau di pangkal telunjuk kiri, satu lagi di punggung tangan kanan. Jari yang panjang. Cara dia memegang gagang pisau — tiga jari di gagang, ibu jari dan telunjuk menjepit bilahnya.
“Tangan kamu bagus,” kataku.
Danan berhenti mengiris.
“Terima kasih.”
“Serius. Aku merhatiin dari dulu.”
“Ini pegangan yang benar,” katanya.
Dan meletakkan pisaunya, dan berbalik menghadapku, dan mengangkat pisau itu setinggi dada.
“Kebanyakan orang memegang gagangnya saja. Itu salah. Kalau semua jari di gagang, kontrolnya ada di pergelangan, dan pergelangan tidak dirancang untuk presisi.”
Dia membalik pisaunya.
“Ibu jari dan telunjuk menjepit bilah, di sini. Tiga jari sisanya di gagang. Titik kendalinya pindah ke depan, dekat mata pisau.”
Enam menit.
Aku menghitungnya dengan jam dinding di belakangnya.
Enam menit tentang cara memegang pisau, disampaikan oleh seorang laki-laki kepada seorang perempuan yang baru saja memuji tangannya, dan di menit keempat dia menyebut istilah pinch grip dalam bahasa Inggris dan minta maaf karena tidak tahu padanan Indonesianya.
Hasil Fase Tiga: aku belajar cara memegang pisau.
FASE EMPAT: NADIA MENYERAH DAN AKU MENGARANG SENDIRI
Mesin cuci di rumah rusak hari Kamis.
Itu betul-betul terjadi. Aku tidak mengarangnya. Bantalan drumnya bunyi seperti orang menyeret peti mati dan tukang servisnya bilang dua ratus lima puluh ribu dan aku bilang nanti dulu.
Jadi hari Jumat aku ada di laundry koin di dekat pasar, jam sembilan malam, duduk di kursi plastik di depan mesin nomor empat.
Dan aku mengeluarkan ponsel.
Kalau baju kena minyak gorengan itu dicuci pakai air panas apa dingin
Balasannya masuk empat puluh detik kemudian.
Panas. 40-50 derajat. Minyak butuh suhu untuk lepas dari serat. Tapi tergantung bahan. Kalau katun, aman. Kalau ada campuran poliester, maksimal 40, lebih dari itu seratnya mengerut permanen dan noda justru terkunci di dalam. Deterjen bubuk lebih baik dari cair untuk minyak. Cair lebih baik untuk noda protein. Kalau di laundry koin, mesin yang panas biasanya cuma satu atau dua unit. Cek stikernya.
Aku menatap layar.
Aku nggak bilang aku di laundry koin
Anda menyebut “air panas apa dingin” jam sembilan malam hari Jumat. Orang tidak menanyakan itu di rumah sendiri, karena di rumah sendiri tidak ada pilihan.
Aku duduk di kursi plastik di laundry koin di dekat pasar, di depan mesin nomor empat, dan aku menutup mulut dengan punggung tangan dan tertawa sampai bahuku bergetar sampai ada bapak-bapak melihatku dengan khawatir.
Lalu, karena aku sudah tidak punya harga diri yang tersisa untuk dijaga:
Danan kalau aku bukan pekerjaan kamu bakal ngapain
Tiga titik muncul.
Hilang.
Muncul.
Hilang.
Selama tiga menit dua puluh detik.
Lalu:
Saya tidak mengerti pertanyaannya.
Aku menatap kalimat itu.
Dan aku sadar, dengan jelas yang menyakitkan, bahwa itu bukan penolakan. Kalau itu penolakan aku akan tahu bentuknya; penolakan punya ketegangan di dalamnya, punya perlawanan.
Tiga menit dua puluh detik dia mengetik dan menghapus.
Dan yang keluar adalah kalimat orang yang benar-benar berdiri di depan sebuah pintu dan tidak tahu bahwa pintu itu pintu.
Nggak apa-apa, balasku. Lupain.
Baik.
FASE LIMA
Rabu berikutnya aku meminta diajari memasak.
Aku tidak berkonsultasi dengan Nadia. Aku memutuskannya sendiri di angkot, dan aku tahu persis apa yang sedang kulakukan, dan aku tetap melakukannya.
“Kenapa tiba-tiba?”
“Karena aku dua puluh sembilan tahun dan cuma bisa masak mi instan.”
“Itu tidak benar. Mi instan tidak dimasak, mi instan direbus.”
“Danan.”
“Baik.” Dia mengeluarkan talenan. “Bawang merah.”
Aku berdiri di sisi konter. Dia menaruh pisau di depanku — pisau kecil, bukan yang besar — dan mundur satu langkah.
Aku memegangnya.
“Salah,” katanya.
“Aku pinch grip kok. Ibu jari sama telunjuk di bilah.”
“Bukan tangan itu.”
“Hah?”
“Tangan kiri Anda.” Dia melangkah maju. “Jari Anda lurus. Kalau lurus, ujungnya kena.”
Dan dia mengulurkan tangan.
Dan menyentuh jariku.
Bukan menggenggam. Dia meletakkan dua jarinya di atas buku-buku jariku dan menekuknya ke dalam, satu per satu, sampai jari-jariku melengkung dan ujungnya masuk ke dalam.
“Begini,” katanya. “Buku jari yang menyentuh sisi pisau, bukan ujung jari. Namanya claw grip.”
Tangannya di atas tanganku.
Dia berdiri sekitar dua puluh sentimeter di belakang bahu kananku, dan aku bisa mencium sabun dan bawang dan sesuatu yang bukan keduanya, dan tangannya hangat dan ada kapalan di pangkal telunjuknya, dan aku sepenuhnya berhenti bernapas.
“Coba,” katanya.
Aku memotong satu kali. Bunyi pisau ke talenan terdengar keras sekali di dapur itu.
“Bagus,” katanya.
Dan melepaskan tanganku.
Dan mundur satu langkah.
“Latihan lima menit setiap hari,” katanya, sudah berbalik ke kompor. “Pakai bawang bombai, lebih murah untuk latihan. Dua minggu sudah otomatis.”
Aku berdiri di depan talenan dengan pisau di tangan.
Bawang merah di depanku terpotong satu kali, tidak rata, miring ke kanan.
Dan aku tertawa — sekali, pendek, lewat hidung — lalu menunduk sampai rambutku jatuh menutupi wajahku, dan berdiri seperti itu selama beberapa detik, dan bersyukur setengah mati bahwa laki-laki itu sedang membelakangiku dan sedang sibuk dan tidak akan pernah, tidak akan pernah, tidak akan pernah menoleh.
- 1 Klien yang Tidak Meminta Apa-apa
- 2 Denah Rasa
- 3 Tidak Ada Garam di Meja Ini
- 4 Lima Aturan
- 5 Toleransi
- 6 Porsi Untuk Dua Orang
- 7 Lorong Bumbu, Pukul 22.40
- 8 Di Luar Jadwal
- 9 Nasi Kuning untuk Enam Orang
- 10 Sabtu
- 11 Pukul Lima Pagi di Palmerah
- 12 Tarif Per Jam
- 13 Halte, dan Hari Jumat
- 14 Lantai Dua Puluh, Tanpa Listrik
- 15 Ibu Saya Datang Hari Rabu
- 16 Aturan yang Tidak Ditulis di Mana Pun
- 17 Kampanye reading
- 18 Data
- 19 Rabu Ketiga Puluh Satu
- 20 Penyesuaian Layanan
- 21 Enam Belas Karakter
- 22 Rabu yang Kosong
- 23 Enam Kali
- 24 Perempuan yang Punya Nama di Undangan
- 25 Tangga Darurat
- 26 Kamu Suka Apa
- 27 Yang Pertama Kupilih
- 28 Lorong Bumbu, Lagi
- 29 Yang Kedua
- 30 Tiga Menit
- 31 Seratus Tiga Pertanyaan
- 32 Kelapa Sangrai
- 33 Aturan Dapur
- 34 Yogyakarta
- 35 Tambahin Sesukamu
- 36 Kamu Mau Makan Apa