← Apartemen 12B

Chapter Twenty Two

Rabu yang Kosong

POV: Danan


Saya membeli bahannya hari Minggu.

Itu penjelasan yang paling jujur yang bisa saya berikan, dan saya sadar betul bahwa itu penjelasan yang buruk.

Hari Minggu saya bangun jam empat, seperti biasa, dan pergi ke Palmerah, seperti biasa, dan Bu Nengsih menyisihkan bagian dada karena saya datang sebelum jam enam, seperti biasa.

Saya membeli ayam kampung satu setengah kilo. Kelapa parut. Kemiri. Serai empat batang. Daun jeruk. Cabai merah keriting tiga ons.

Saya membelinya dengan daftar yang sudah saya susun sejak Kamis — sebelum semuanya, sebelum Rabu ketiga puluh satu, sebelum jam enam lewat dua.

Menu untuk Rabu berikutnya sudah ditentukan sejak lama. Ayam woku. Saya belum pernah membuatnya untuk dia.

Saya berjalan pulang dari parkiran dengan dua tas kain penuh dan menaruhnya di konter dan berdiri di depannya.

Lalu saya menyimpan semuanya di kulkas.

Karena membuangnya akan lebih bodoh daripada menyimpannya.


Minggu itu berjalan seperti seharusnya.

Senin saya presentasi ke klien Bintaro dan mereka menyetujui alternatif kedua untuk tata ruang lantai satu. Selasa saya survei lokasi di Depok dan menemukan bahwa ukuran yang dikirim kontraktor meleset sebelas sentimeter di sisi utara, dan saya menemukannya karena saya selalu mengukur ulang sendiri.

Rabu pagi saya menyelesaikan tiga gambar potongan dengan skala yang benar.

Jam empat sore Bimo berdiri di pintu ruangan saya.

“Lo pulang?”

“Nanti.”

“Nanti kapan?”

“Nanti.”

Dia tidak masuk. Dia berdiri di ambang pintu dengan tangan di kusen, dan menatap saya cukup lama.

“Nan, ini hari Rabu.”

“Iya.”

“Lo biasanya udah pulang dari sejam yang lalu.”

“Sudah tidak lagi.”

Bimo menurunkan tangannya.

“Kenapa?” tanyanya, pelan.

“Sudah selesai.”

“Selesai gimana?”

“Selesai,” kata saya, dan menarik layar ke arah saya, dan mengetik sesuatu yang tidak perlu diketik.

Bimo berdiri di sana sekitar delapan detik lagi.

Lalu dia berkata — dan dia mengatakannya tanpa nada menuduh sama sekali, yang membuatnya jauh lebih buruk:

“Lo ngapain, Nan?”

Saya tidak menjawab.

Dia pergi.

Saya pulang jam lima lewat sepuluh.


Saya memasak ayam woku hari Rabu itu.

Saya perlu menjelaskan kenapa, karena kalau tidak dijelaskan itu terdengar seperti orang yang sedang menyiksa dirinya sendiri, dan saya bukan orang seperti itu. Saya tidak punya bakat untuk itu.

Ayamnya sudah dibeli. Kelapanya sudah disangrai hari Minggu — kelapa sangrai tidak tahan lebih dari lima hari sebelum tengik. Cabainya sudah dicuci dan ditiriskan.

Kalau saya tidak memasaknya hari itu, semuanya harus dibuang.

Jadi saya menggulung lengan kemeja sampai siku, tiga lipatan, lebarnya sama, dan saya memasak.

Bumbu woku diulek, tidak diblender. Itu bukan preferensi, itu perbedaan teknis: blender memotong, ulekan memecah, dan minyak dari kemiri hanya keluar kalau dipecah.

Saya mengulek selama dua puluh menit.

Ayam masuk jam enam lewat sepuluh. Api sedang. Empat puluh menit.

Dan jam enam empat puluh saya mengambil piring dari rak.

Dua.

Saya melihat tangan saya melakukannya. Saya betul-betul melihatnya, seperti orang menonton tangan orang lain, dan tangan saya mengambil dua piring keramik putih tulang buatan Bandung dengan pinggiran yang sedikit tidak rata karena dibentuk tangan, dan menaruhnya di meja jati dua meter sepuluh, satu di sisi ini dan satu di sisi seberang.

Saya berdiri di sana.

Lalu saya mengambil piring yang kedua dan mengembalikannya ke rak.

Lalu saya berdiri di depan rak itu selama mungkin satu menit.

Lalu saya mengambilnya lagi dan menaruhnya kembali di meja, dan saya mengatakan kepada diri saya sendiri, dengan suara di dalam kepala yang sangat masuk akal, bahwa resepnya memang porsi dua orang dan bahwa membagi masakan ke dua piring membuatnya lebih cepat dingin dan lebih aman disimpan.

Itu bahkan benar secara teknis.

Saya duduk jam tujuh kurang dua.


Saya tidak makan.

Saya duduk di kursi saya, yang mana adalah kursi yang membelakangi dapur, dan di seberang saya ada satu piring penuh ayam woku dan nasi yang ditakar, masih mengepul, di depan kursi yang kosong.

Delapan puluh sentimeter.

Jarak di mana Anda bisa mengulurkan tangan tanpa berdiri.

Uapnya naik selama sekitar sebelas menit, lalu menipis, lalu berhenti.

Saya duduk di sana dan tidak melakukan apa pun.

Bukan menangis. Saya tidak tahu caranya, dan itu bukan kalimat untuk membuat orang kasihan, itu keterangan teknis: saya betul-betul tidak tahu caranya, saya sudah mencoba sekali tiga tahun lalu di kamar mandi dan tidak ada yang keluar dan saya tidak mencoba lagi.

Saya cuma duduk.

Dan pikiran yang datang jam tujuh lewat empat belas adalah pikiran yang saya tolak selama dua belas hari, dan pikiran itu berbentuk pertanyaan Bimo yang saya tidak jawab di ruangan saya empat jam sebelumnya.

Lo ngapain, Nan?

Saya menghitung. Saya selalu menghitung.

Saya menghitung sembilan sesi. Saya menghitung dua bulan pemasukan. Saya menghitung dua puluh empat karakter dan memilih enam belas.

Yang tidak pernah saya hitung sekali pun, dalam dua belas jam antara ciuman itu dan jam enam lewat dua pagi, adalah berapa lama waktu yang saya berikan kepadanya untuk bicara.

Saya menghitung ulang malam itu, sambil duduk di depan piring yang bukan piring saya.

Dua belas jam.

Dia lari jam delapan lewat empat puluh tujuh, dan saya menutup pintunya jam enam lewat empat, dan di antara keduanya saya tidak sekali pun mengirim satu kalimat yang memungkinkan dia mengatakan apa pun.

Saya bilang kepada Bimo bahwa saya tidak akan menebak. Bahwa kalau dia mau bilang sesuatu, saya akan mendengar. Bahwa saya akan menunggu sampai dia bicara.

Dan lalu saya tidak menunggu.

Saya menunggu dua belas jam — dua belas jam yang seluruhnya dia habiskan dalam keadaan yang saya tidak tahu seperti apa — lalu saya menutup satu-satunya saluran yang dia punya untuk menghubungi saya, dan saya mengirim uang, dan saya menyebutnya melindungi.

Saya duduk di meja itu jam tujuh lewat dua puluh dan mengerti, untuk pertama kalinya, bahwa saya tidak menunggu apa pun.

Saya menyelesaikannya.

Seperti selalu.


Bel berbunyi jam tujuh lewat lima puluh sembilan.

Saya berdiri terlalu cepat. Kursi itu bergeser dan hampir jatuh dan saya menangkapnya dengan satu tangan tanpa berpikir.

Ada satu detik — satu detik penuh, dan saya akan mengakuinya di sini karena saya sudah tidak punya alasan untuk tidak — di mana seluruh badan saya melakukan sesuatu yang tidak pernah saya izinkan.

Saya berjalan ke pintu dengan langkah yang terlalu panjang.

Saya sudah menyiapkan kalimatnya di dalam kepala, dan kalimat itu bukan selamat malam, dan bukan menu apa pun, dan bukan permintaan maaf.

Kalimat yang sudah siap di mulut saya adalah dua kata yang belum pernah saya ucapkan kepada siapa pun seumur hidup saya:

Saya tanya.

Saya membuka pintu.


Renjani berdiri di koridor lantai dua belas.

Rambutnya lebih pendek. Dia memakai mantel tipis yang terlalu tebal untuk cuaca ini, dan sepatu datar, dan tidak ada satu pun bagian dari dirinya yang disiapkan untuk dilihat orang.

Di tangan kanannya ada kunci.

Kunci lama unit ini — yang sudah saya ganti dua puluh tiga hari setelah hari Sabtu itu karena mengganti kunci adalah prosedur standar — tergantung di gantungan kulit cokelat yang saya belikan di Yogyakarta empat tahun lalu.

Kami saling menatap.

Di belakang saya, di atas meja jati dua meter sepuluh, ada satu piring ayam woku yang sudah dingin di depan kursi yang kosong.

“Nan,” katanya.

Suaranya persis sama.

“Boleh aku masuk?”