Chapter Thirty
Tiga Menit
POV: Kiara
Minggu pertama itu, aku terus menghitung jam.
Bukan sengaja. Aku mendapati diriku melakukannya di tengah-tengah hal yang paling biasa — sedang duduk di warung kopi di Blok M sambil menunggunya memarkir mobil, dan otakku tiba-tiba berkata sudah empat puluh menit, seperti alarm yang tidak bisa kumatikan.
Empat puluh menit dari total berapa?
Tidak ada totalnya.
Itu bagian yang membuat kepalaku pusing selama sekitar sepuluh hari. Tiga tahun aku hidup dengan struktur yang sangat jelas: ada jam mulai, ada jam selesai, dan di antaranya ada seseorang yang membayar dan seseorang yang bekerja.
Sekarang aku duduk di warung kopi dan tidak ada jam selesainya, dan badanku tidak tahu harus bagaimana.
“Kamu ngitung,” kata Danan hari Selasa.
Aku hampir menjatuhkan gelasku.
“Nggak.”
“Kamu melihat jam empat kali dalam sepuluh menit terakhir.” Dia mengaduk kopinya. “Dan kamu tidak sedang menunggu apa pun, karena kamu tidak punya jadwal setelah ini. Saya sudah tanya tadi.”
Aku menutup wajah dengan kedua tangan.
“Aku nggak bisa berhenti,” kataku dari balik telapak tangan. “Danan, ini gila. Aku duduk sama kamu terus otak aku ngitung ‘udah empat puluh menit’ kayak ada yang mau nagih.”
Dia diam sebentar.
“Boleh saya usul sesuatu?”
“Boleh.”
“Kalau kamu tidak suka usulnya, bilang, dan saya tidak akan mengulanginya.”
“Danan, ngomong aja.”
Dia mengeluarkan ponselnya, membuka aplikasi jam, dan mengatur sesuatu.
Lalu dia menaruhnya di meja menghadap ke atas, di antara kami.
08.02.14. 08.02.15. 08.02.16.
Stopwatch. Berjalan.
“Sekarang ada yang menghitung,” katanya. “Bukan kamu.”
“Itu—“
“Ini akan berjalan terus sampai kamu bilang berhenti,” katanya. “Bukan sampai jam sembilan. Bukan sampai dua jam. Sampai kamu bilang.”
Aku menatap angka yang berdetak di layar.
Dan sesuatu di dadaku yang sudah mengencang selama sepuluh hari melepas sedikit — sedikit sekali, tapi cukup untuk kurasakan.
“Kamu gila,” kataku.
“Ya.”
Kami duduk di warung kopi itu tiga jam empat puluh dua menit.
Aku yang bilang berhenti.
Hari Kamis dia menjemputku dan kami tidak ke mana-mana.
Itu terdengar seperti tidak ada apa-apa, tapi itu bagian yang paling aneh dari seluruh minggu itu. Kami duduk di mobilnya yang diparkir di pinggir jalan dekat pasar, dengan jendela terbuka, dan mengobrol tentang tidak ada apa-apa selama dua jam.
Dia bertanya kenapa aku berhenti menerjemahkan fiksi dan pindah ke dokumen.
Aku bertanya kenapa dia tidak pernah membuka restoran, dan dia bilang karena restoran itu memasak untuk orang yang membayar, dan bahwa dia sudah pernah mencoba versi itu selama tiga puluh satu minggu dan ternyata itu bukan yang dia mau.
Dia mengatakannya tanpa nada apa pun, sambil melihat ke depan, dan aku harus melihat ke luar jendela selama beberapa detik.
“Danan.”
“Ya.”
“Kamu pernah marah nggak sih?”
Dia berpikir cukup lama.
“Saya marah waktu kontraktor salah ukur sebelas sentimeter.”
“Bukan itu maksudku.”
“Saya tahu.”
Dia diam.
“Saya tidak tahu caranya,” katanya akhirnya. “Bukan karena saya menahan. Saya sudah memeriksanya. Kalau saya menahan, harusnya ada yang terasa. Tidak ada.”
Aku menoleh.
“Aku nggak percaya,” kataku.
“Kenapa?”
“Karena orang yang nggak bisa marah nggak akan inget sambungan wallpaper yang miring dua milimeter selama tiga tahun.”
Danan tidak mengatakan apa-apa.
Tapi dia menoleh ke arahku, dan menatapku terlalu lama, dan lalu dia meletakkan tangannya di atas tanganku di kursi tengah dan membiarkannya di sana selama sisa percakapan.
Hari Jumat aku ke Menara Kalyana.
Aku memutuskannya sendiri. Aku tidak memberitahunya sampai aku sudah sampai di lobi, dan aku mengirim pesan dari sana:
Aku di bawah
Sekarang?
Iya
Sebentar. Saya turun.
Nggak usah. Aku naik.
Titik-titik muncul dan hilang tiga kali sebelum dia menjawab:
Baik.
Aku bisa masuk ke lift.
Aku bisa berdiri di dalam kotak logam dengan cermin di ketiga sisinya selama dua belas lantai, dan aku bisa berjalan di koridor melewati 12A dengan keset kucing dan 12C dengan kotak paket yang masih belum diambil.
Aku bahkan bisa menekan bel.
Danan membuka pintu, dan dia tidak mengatakan menu apa pun, dan itu satu hal.
“Masuk,” katanya.
Dan aku berdiri di ambang pintu unit 12B dan tidak bisa memindahkan kaki kananku.
Aku bisa melihat semuanya dari sana.
Ruang tengah. Bangku jendela seratus empat puluh sentimeter. Rak sepatu berkolom dua yang satu kolomnya kosong.
Dan meja jati dua meter sepuluh, dengan dua kursi, delapan puluh sentimeter.
Kursiku menghadap dapur.
Dan aku berdiri di ambang pintu dan otakku — otak sialan itu, yang tidak pernah berhenti, yang tidak pernah sekali pun mau berhenti — mulai bekerja tanpa aku minta.
Rabu pertama: gaun sage. Rabu keempat: dia ganti seledri jadi daun bawang dan bohong. Rabu kesebelas: nasi kuning empat lauk. Rabu ketiga puluh satu: menit ke seratus tujuh.
Tiga puluh satu kali aku melangkahi ambang pintu ini.
Tiga puluh satu kali aku dibayar untuk melakukannya.
“Kiara.”
“Bentar.”
“Kamu tidak harus—“
“Bentar, Danan.”
Aku berdiri di sana mungkin dua puluh detik.
Lalu aku mundur satu langkah, keluar, ke koridor.
Dan aku duduk di lantai koridor lantai dua belas dengan punggung ke dinding, di depan pintu 12B yang terbuka lebar, dan aku tertawa dengan cara yang sangat jelek.
“Aku nggak bisa,” kataku. “Aku nggak bisa masuk. Ini konyol banget.”
Danan keluar dan duduk di lantai koridor di sebelahku.
Laki-laki itu memakai kemeja kerja dan duduk di lantai koridor apartemennya sendiri tanpa satu kata pun protes.
“Nggak konyol,” katanya.
“Konyol banget.”
“Kamu tahu Bu Marni yang di 12A?”
“Nggak.”
“Dia tidak bisa naik lift ini selama enam bulan setelah suaminya meninggal di dalamnya,” kata Danan. “Dia naik tangga darurat setiap hari. Dua belas lantai. Sambil bawa anak.”
Aku menoleh.
“Terus?”
“Terus bulan ketujuh dia naik lift lagi.” Dia mengangkat bahu. “Saya tidak tahu apa yang berubah. Saya tidak pernah bertanya.”
“Kamu harusnya nanya.”
“Ya,” katanya. “Saya sedang belajar.”
Kami duduk di lantai koridor itu sekitar empat puluh menit.
Dia mengambil dua gelas air dari dalam dan kembali dan duduk lagi. Ada tetangga lewat sekali — bapak-bapak dengan tas kresek — dan dia menatap kami cukup lama dan Danan mengangguk sopan seolah duduk di lantai koridor adalah hal paling wajar di dunia.
“Danan.”
“Ya.”
“Kamu nggak nanya aku mau tempat ini diapain.”
“Saya sudah bertanya. Di halte.”
“Iya, terus aku bilang nggak tau.”
“Iya.”
“Terus?”
“Terus saya menunggu,” katanya. “Kamu bilang jangan diisi. Jadi saya tidak mengisi.”
Aku menatap gelas di tanganku.
Enam hari. Dia sudah menunggu enam hari, dan dia belum sekali pun menyinggungnya lagi, dan aku baru sadar itu sekarang.
“Aku belum tau,” kataku.
“Baik.”
“Danan.”
“Maaf. Bukan ‘baik’.” Dia menghela napas. “Ya sudah.”
Aku pulang jam sepuluh.
Dan di dalam bus — bus yang sama, jendela ketiga, karena badanku sudah memilih tempat duduk itu sendiri sejak lama — aku mengeluarkan ponsel.
Aku membuka kontak.
Mr. VIP Rabu
Aku menatapnya cukup lama.
Aku sudah pernah mencoba ini sekali, di kegelapan kamarku, berbulan-bulan lalu. Aku menghapus tiga huruf dan berhenti, karena aku sadar kalau kuhapus semuanya, aku harus mengetik sesuatu yang lain, dan satu-satunya hal lain yang bisa kuketik adalah namanya.
Dan nama itu — tanpa kategori, tanpa hari, tanpa keperluan — akan berarti bahwa dia bukan pekerjaan lagi.
Aku menekan Edit.
Kursor muncul di ujung nama. Berkedip.
Dan aku menghapusnya.
Semuanya. Huruf per huruf, sampai kolomnya kosong dan yang ada cuma kursor berkedip di ruang putih.
Aku duduk di jendela ketiga bus terakhir dengan ponsel di tangan dan kolom nama yang kosong, dan aku tidak bisa mengetik.
Ini konyol.
Aku tahu ini konyol. Ini enam huruf. Ini nama yang sudah kudengar diucapkan oleh ibunya, oleh Bimo lewat telepon, oleh tukang kelapa di Palmerah, oleh perempuan bernama Renjani di tangga darurat lantai dua belas.
Tapi aku punya sistem, dan sistem itu ada alasannya, dan alasannya adalah suatu hari nama seorang klien muncul di layar ponselku waktu aku sedang makan siang bersama nenekku dan Mbah Sri bertanya siapa itu dan aku harus berbohong sambil menatap wajahnya.
Sejak itu semua kontak kusimpan dengan kategori.
Mr. Sabtu Golf. Mr. Reuni. Ms. Pura-pura Kakak.
Kategorinya harus tiga hal: hari, keperluan, dan tidak ada yang personal.
Kalau ponselku hilang, tidak ada satu pun yang bisa dirugikan.
Dan aku duduk di bus itu dan mengerti, dengan sangat pelan, bahwa selama tiga tahun sistem itu bukan untuk melindungi mereka.
Itu untuk melindungi aku.
Selama semua orang punya kategori, tidak ada satu pun dari mereka yang bisa jadi orang.
Bus itu berhenti di lampu merah.
Aku mengetik huruf pertama.
D
Aku berhenti.
Sesuatu di dadaku melakukan hal yang sangat aneh, dan aku harus menarik napas lewat mulut.
Da
Bus jalan lagi.
Dan
Aku mengangkat wajah dan menatap ke luar jendela — lampu-lampu toko, tukang bakso mendorong gerobak, papan reklame yang setengah mati lampunya — dan aku menyadari tanganku gemetar untuk sesuatu yang benar-benar tidak masuk akal untuk membuat tangan orang gemetar.
Dana
Danan
Aku menatapnya.
Lalu, karena aku tidak bisa menahan diri, karena aku dua puluh sembilan tahun dan aku baru saja belajar bahwa aku boleh menginginkan sesuatu:
Aku menambahkan satu huruf lagi di depannya, huruf yang tidak pernah kupakai di kontak mana pun seumur hidupku, huruf yang cuma dipakai orang untuk nama yang mereka simpan bukan karena keperluan.
Dan aku menekan Simpan.
Aku melihat jam.
Tiga menit dua puluh dua detik.
Aku menutup mata dan menyandarkan kepala ke jendela bus dan tertawa tanpa suara sampai bahuku bergetar, dan seorang ibu di kursi seberang memindahkan tasnya ke pangkuan.
Ponselku bergetar sepuluh menit kemudian.
Dan untuk pertama kalinya dalam sebelas bulan, yang menyala di layar bukan kategori.
Yang menyala di layar adalah nama seseorang.
Kamu sudah sampai?
Belum. Lima menit lagi.
Baik.
Danan.
Ya.
Sabtu jam berapa?
Titik-titik muncul.
Kamu maunya jam berapa?
Aku duduk di bus terakhir, jendela ketiga, dengan kepala di kaca yang dingin.
Jam 5 pagi
Pagi?
Iya. Pasar dulu.
Tiga titik muncul dan hilang dan muncul lagi selama waktu yang jauh lebih lama dari yang dibutuhkan untuk mengetik satu kata.
Baik.
Lalu, tujuh detik kemudian:
Maaf. Bukan “baik”.
Saya jemput jam setengah lima.
- 1 Klien yang Tidak Meminta Apa-apa
- 2 Denah Rasa
- 3 Tidak Ada Garam di Meja Ini
- 4 Lima Aturan
- 5 Toleransi
- 6 Porsi Untuk Dua Orang
- 7 Lorong Bumbu, Pukul 22.40
- 8 Di Luar Jadwal
- 9 Nasi Kuning untuk Enam Orang
- 10 Sabtu
- 11 Pukul Lima Pagi di Palmerah
- 12 Tarif Per Jam
- 13 Halte, dan Hari Jumat
- 14 Lantai Dua Puluh, Tanpa Listrik
- 15 Ibu Saya Datang Hari Rabu
- 16 Aturan yang Tidak Ditulis di Mana Pun
- 17 Kampanye
- 18 Data
- 19 Rabu Ketiga Puluh Satu
- 20 Penyesuaian Layanan
- 21 Enam Belas Karakter
- 22 Rabu yang Kosong
- 23 Enam Kali
- 24 Perempuan yang Punya Nama di Undangan
- 25 Tangga Darurat
- 26 Kamu Suka Apa
- 27 Yang Pertama Kupilih
- 28 Lorong Bumbu, Lagi
- 29 Yang Kedua
- 30 Tiga Menit reading
- 31 Seratus Tiga Pertanyaan
- 32 Kelapa Sangrai
- 33 Aturan Dapur
- 34 Yogyakarta
- 35 Tambahin Sesukamu
- 36 Kamu Mau Makan Apa