Chapter Ten
Sabtu
POV: Danan
Bimo datang ke apartemenku hari Kamis sore tanpa memberi tahu.
Itu bukan hal luar biasa. Bimo sudah punya kebiasaan itu sejak kami masih di ruko Fatmawati, dan dia selalu punya alasan yang terdengar masuk akal selama tiga detik pertama.
“Gua bawa sampel granit,” katanya, mendorong pintu dengan bahu. “Yang buat Bintaro.”
“Bisa lo foto.”
“Warna granit nggak bisa difoto, Nan. Lo tau itu.”
“Bisa kalau lo pakai referensi warna standar.”
“Ya udah gua nggak mau ribut.” Dia sudah masuk. Sudah melepas sepatu. Sudah berjalan ke arah dapur seperti orang yang punya urusan di sana. “Ada makanan nggak?”
“Ada.”
“Nah.” Dia berhenti. Berbalik. Menunjuk ke arah kompor dengan wajah menang. “Nah. Kamis. Lo masak apa?”
“Sisa.”
“Sisa apa?”
“Nasi kuning.”
Bimo diam.
Lalu dia membuka kulkasku — tanpa izin, seperti biasa, seperti dua belas tahun terakhir — dan berdiri di depannya cukup lama.
Aku tahu apa yang dia lihat. Empat wadah kaca. Ayam goreng lengkuas, telur balado, orek tempe, semur daging. Tersusun berdasarkan tinggi.
Dan di rak paling atas, sendirian di sebelah botol kecap, satu kotak kaca kosong dengan tutup plastik biru.
“Nan,” katanya, masih menghadap kulkas.
“Hm.”
“Lo masak nasi kuning empat lauk hari Rabu.”
“Iya.”
“Buat berapa orang?”
Aku tidak menjawab.
Bimo menutup pintu kulkas. Pelan.
Lalu dia duduk di kursi meja makan — kursi itu, kursi yang menghadap dapur — dan aku merasakan sesuatu yang tidak masuk akal, semacam keberatan fisik, dan aku menekannya turun.
“Duduk,” katanya.
“Ini rumah gua.”
“Duduk, Nan.”
Aku duduk.
“Dia siapa?”
“Bim—“
“Gua nggak nuduh apa-apa.” Bimo mengangkat kedua tangan. “Sumpah. Gua cuma nanya. Lo dua bulan terakhir pulang jam lima tiap Rabu, lo salah skala gambar, dan lo nanya gua kemaren gimana caranya nanya orang dua kali.”
Aku memutar gelas di tanganku.
Ada beberapa cara untuk mengatakannya. Aku sempat menyusun tiga versi di kepala, semuanya lebih halus, semuanya menyisakan ruang untuk salah paham yang menguntungkan.
Aku memilih yang paling pendek, karena tiga versi lain akan membuatnya terdengar seperti sesuatu yang perlu disembunyikan.
“Gua sewa orang,” kataku. “Dari agensi. Buat nemenin makan malam. Tiap Rabu, dua jam.”
Bimo tidak bergerak.
“Namanya Kiara,” lanjutku. “Dia dibayar penuh, lewat agensi, ada kontraknya. Gua nggak pernah minta apa-apa selain dia makan.”
Hening panjang.
“Anjir,” kata Bimo akhirnya.
“Kalau lo mau ceramah—“
“Nan.” Suaranya berubah. “Gua nggak lagi mikirin dia.”
“Terus?”
Bimo menatapku lama sekali. Lalu dia menggosok wajahnya dengan kedua telapak tangan, dari dahi sampai dagu, dan menghela napas ke dalam telapak tangannya.
“Gua mikirin lo yang duduk sendirian di apartemen ini selama tiga tahun sampai akhirnya lo mikir bahwa cara paling masuk akal buat ada orang makan masakan lo itu adalah bikin kontrak,” katanya.
Aku tidak punya jawaban untuk itu.
Jadi aku minum.
Dia bertahan hampir empat menit sebelum mengatakannya.
“Lo tau nggak,” katanya, ke arah meja, bukan ke arahku, “gua nggak pernah sekali pun denger lo nyebut nama dia lagi.”
“Siapa.”
“Nan.”
Aku meletakkan gelas.
“Renjani,” kataku.
Suaraku keluar normal. Aku memeriksanya sendiri sambil mengucapkannya, seperti orang memeriksa apakah sambungan las masih kuat, dan sambungannya kuat.
“Tuh,” kata Bimo. “Kayak nyebut nama vendor.”
“Lo mau gua gimana.”
“Gua mau lo cerita.”
“Lo ada di sana.”
“Gua ada di luar,” katanya. “Gua ada di aula sama seratus dua puluh orang yang nggak tau apa-apa. Gua nggak ada di dalem sama lo.”
Baiklah.
Ini yang terjadi hari Sabtu itu, dan aku akan menceritakannya sekali, dengan urutan yang benar, tanpa menambahkan apa pun.
Aku bangun jam empat. Aku selalu bangun jam empat.
Aku mandi, mencukur, dan memakai setelan yang sudah digantung di pintu lemari sejak Kamis. Abu-abu tua. Ada dua kancing yang harus dipindahkan setengah sentimeter dan aku sudah memindahkannya sendiri hari Rabu karena penjahitnya salah ukur.
Aku sampai di gedung jam enam empat puluh lima. Akad dijadwalkan jam sembilan.
Jam tujuh dua puluh, ibunya menelepon ibuku.
Aku tidak mendengar isi teleponnya. Aku melihat ibuku berdiri di ujung ruangan dengan ponsel menempel di telinga, dan aku melihat tangannya yang satu lagi naik dan menutupi mulutnya, dan aku sudah tahu sebelum ada yang mengatakan apa pun.
Kamarnya kosong. Tasnya tidak ada. Mobilnya tidak ada.
Ponselnya aktif tapi tidak diangkat. Aku menelepon sebelas kali. Aku ingat angkanya karena aku menghitung semuanya.
Jam delapan lewat lima, masuk satu pesan.
Tiga kata.
Maaf. Aku nggak bisa.
Itu saja. Sampai hari ini, itu saja.
Aku duduk di ruang tunggu pengantin selama empat puluh menit setelah itu. Sendirian. Ada kursi berukir emas dan cermin besar dan meja dengan gelas air yang tidak kusentuh, dan aku ingat aku memperhatikan bahwa sambungan wallpaper di sudut kanan atas tidak rata, sekitar dua milimeter, dan aku memikirkan itu selama waktu yang tidak wajar.
Jam sembilan lewat, aku keluar.
Aku yang bicara ke tamu. Bukan ayahku, bukan penghulu, bukan MC. Aku berdiri di depan seratus dua puluh orang dan mengatakan bahwa akadnya tidak jadi dilaksanakan, bahwa saya mohon maaf atas ketidaknyamanannya, dan bahwa makanannya sudah tersedia di belakang dan silakan dinikmati.
Aku ingat kalimat terakhir itu paling jelas dari semuanya.
Makanannya sudah tersedia di belakang. Silakan dinikmati.
Karena makanannya memang sudah dibayar, dan sudah dimasak, dan tidak ada gunanya dibuang.
Bimo diam sangat lama.
“Nan.”
“Hm.”
“Lo nyariin dia nggak?”
“Tidak.”
“Nggak sama sekali?”
“Tidak.” Aku memutar gelasku. “Dia mengirim pesan. Pesannya jelas.”
“Tiga kata, Nan.”
“Tiga kata itu cukup untuk menyampaikan keputusan.”
“Itu nggak cukup buat ngasih tau lo kenapa.”
“Kalau dia mau memberi tahu, dia sudah memberi tahu.”
Bimo menatapku dengan tatapan yang sama seperti di kantor kemarin. Kaget yang pelan. Lantai yang ternyata sudah lama miring.
“Terus lo ngapain?” tanyanya. “Habis Sabtu itu, lo ngapain?”
“Gua kerja hari Senin.”
“Nan.”
“Gua ganti sprei. Gua pindahin barang-barang dia ke kardus dan gua kirim ke rumah orang tuanya lewat ekspedisi. Gua ganti kunci karena itu prosedur standar. Gua jual dua wastafel—“ aku berhenti. “Tidak. Wastafelnya tidak jadi gua jual.”
“Kenapa?”
“Bongkarannya merusak keramik dinding.”
Bimo menutup mata.
“Tiga minggu,” katanya. “Gua inget. Tiga minggu abis itu lo udah presentasi ke klien Kemang kayak nggak ada apa-apa.”
“Klien tidak perlu tahu.”
“Gua bukan klien.”
“Lo juga nggak perlu tahu.”
Kalimat itu keluar lebih keras dari yang kumaksudkan.
Kami berdua diam.
Bimo tidak marah. Itu yang lebih buruk. Dia cuma menyandarkan punggungnya dan menatap langit-langit apartemenku yang kurancang sendiri, dengan pencahayaan tersembunyi yang kuhitung sampai ke sudut jatuhnya.
“Lo tau apa yang bikin gua ngeri, Nan?” katanya pelan. “Bukan lo yang nggak nangis. Gua udah nyerah soal itu dari dulu.”
“Terus?”
“Lo langsung beresin.” Dia mengangkat kepalanya. “Orang normal tuh berantakan dulu. Mabuk. Nelfon-nelfon. Ngamuk. Nyalahin diri sendiri di kamar sampe subuh. Baru habis itu beresin, kalau sempet.”
Dia menunjuk sekeliling dengan dagunya.
“Lo nggak pernah berantakan. Lo langsung ke tahap beresin. Dalam tiga minggu rumah ini udah rapi banget sampe kayak nggak pernah ada rencana apa-apa di sini.”
“Itu bagus.”
“Itu bukan bagus, Nan. Itu—“ Bimo mencari kata dan tidak menemukannya. “Rumah ini tuh kayak proyek yang dibatalin terus arsipnya ditutup rapi. Bukan kayak rumah orang yang patah hati.”
Aku menatap meja jati sepanjang dua meter sepuluh itu.
Dua kursi. Delapan puluh sentimeter.
“Gua nggak tau caranya berantakan,” kataku.
Itu keluar begitu saja, dan aku langsung ingin menariknya kembali, dan tidak bisa.
Bimo tidak berkomentar. Untuk sekali seumur hidupnya, dia tidak berkomentar.
Dia pulang jam tujuh, setelah makan tiga porsi sisa nasi kuning dan memuji semur dagingnya empat kali dengan mulut penuh.
Di depan pintu dia berhenti.
“Nan.”
“Hm.”
“Yang Rabu itu.”
“Kenapa.”
Bimo memutar-mutar kunci mobilnya di jari.
“Gua nggak akan bilang berhenti,” katanya. “Gua nggak berhak, dan jujur aja gua lebih seneng lo masak buat seseorang daripada lo buang setengahnya tiap Minggu.”
“Terus?”
“Cuma—“ Dia menarik napas. “Orang itu bukan proyek, Nan.”
“Gua tau.”
“Nggak, lo nggak tau.” Dia membuka pintu. “Lo tau tanggapan yang bener buat kalimat itu. Itu beda.”
Pintu tertutup.
Aku mencuci piring bekasnya. Mengelap meja. Mematikan lampu sampai tinggal satu di atas konter.
Lalu aku membuka kulkas.
Empat wadah kaca, tersusun berdasarkan tinggi. Dan di rak paling atas, sendirian, satu kotak kaca kosong dengan tutup plastik biru.
Aku mengeluarkannya. Menimbang-nimbangnya di tangan. Kaca bening, tutup plastik biru, kapasitas kira-kira tujuh ratus lima puluh mililiter.
Aku ingat membelinya. Toko peralatan dapur di Pasar Mayestik, dua puluh tiga ribu, satu setengah tahun lalu. Aku membeli tujuh sekaligus karena ada diskon kalau beli lebih dari lima.
Yang enam kupakai bergantian.
Yang ketujuh tidak pernah kubuka bungkusnya sampai Rabu kelima bulan ini.
Aku berdiri di depan kulkas yang terbuka selama entah berapa lama, memegang kotak kosong itu di dapur yang cuma satu lampunya menyala.
Lalu aku menaruhnya kembali di rak atas, sendirian, di sebelah botol kecap, dan menutup pintunya.
Empat hari lagi.
- 1 Klien yang Tidak Meminta Apa-apa
- 2 Denah Rasa
- 3 Tidak Ada Garam di Meja Ini
- 4 Lima Aturan
- 5 Toleransi
- 6 Porsi Untuk Dua Orang
- 7 Lorong Bumbu, Pukul 22.40
- 8 Di Luar Jadwal
- 9 Nasi Kuning untuk Enam Orang
- 10 Sabtu reading
- 11 Pukul Lima Pagi di Palmerah
- 12 Tarif Per Jam
- 13 Halte, dan Hari Jumat
- 14 Lantai Dua Puluh, Tanpa Listrik
- 15 Ibu Saya Datang Hari Rabu
- 16 Aturan yang Tidak Ditulis di Mana Pun
- 17 Kampanye
- 18 Data
- 19 Rabu Ketiga Puluh Satu
- 20 Penyesuaian Layanan
- 21 Enam Belas Karakter
- 22 Rabu yang Kosong
- 23 Enam Kali
- 24 Perempuan yang Punya Nama di Undangan
- 25 Tangga Darurat
- 26 Kamu Suka Apa
- 27 Yang Pertama Kupilih
- 28 Lorong Bumbu, Lagi
- 29 Yang Kedua
- 30 Tiga Menit
- 31 Seratus Tiga Pertanyaan
- 32 Kelapa Sangrai
- 33 Aturan Dapur
- 34 Yogyakarta
- 35 Tambahin Sesukamu
- 36 Kamu Mau Makan Apa