← Apartemen 12B

Chapter Twelve

Tarif Per Jam

POV: Kiara


Aku orang yang bisa berdebat dengan diriku sendiri dan menang.

Itu bukan kesombongan, itu keluhan. Bertahun-tahun aku bisa menaruh apa pun di atas meja, memeriksanya dari semua sisi, lalu memutuskan bahwa aku baik-baik saja — dan aku jadi baik-baik saja, karena tubuhku patuh pada kesimpulan.

Jadi malam Senin itu aku melakukan hal yang biasa kulakukan. Aku duduk di kamar dan menyusun perkaranya dengan jujur.

Fakta satu. Klien Rabu adalah pekerjaan paling ringan yang pernah kudapat. Dua jam, tidak ada sentuhan, tidak ada akting, tidak ada laki-laki yang tangannya harus dialihkan tiga kali. Wajar kalau aku menantikannya. Siapa pun akan menantikannya.

Fakta dua. Aku makan gratis di sana. Aku sedang menanggung utang seratus sembilan puluh empat juta dan setiap piring yang tidak kubayar itu berarti. Wajar.

Fakta tiga. Makanannya enak. Aku manusia. Wajar.

Fakta empat. Aku pergi ke pasar jam lima pagi hari Minggu tanpa dibayar sepeser pun, membawa tas kain berisi tiga ikan, dan mencium insang ikan karena disuruh.

Aku memandangi fakta keempat itu cukup lama.

Lalu aku mematikan lampu dan tidur, karena kesimpulannya jelas: fakta keempat adalah kecelakaan yang tidak akan terulang.


Hari Selasa Mbak Vera menelepon.

“Ada job besar.”

Aku sedang di angkot. Aku menempelkan ponsel lebih rapat ke telinga.

“Gimana, Mbak?”

“Klien lama. Yang Bapak Halim, yang tahun lalu bawa kamu ke acara perusahaan itu.”

Aku ingat. Laki-laki lima puluhan, sopan, membosankan, sepenuhnya aman. Salah satu klien paling gampang yang pernah kupegang.

“Dia ada acara keluarga di Bali. Empat hari.” Mbak Vera menyebut angkanya.

Aku diam.

Angkanya adalah dua puluh dua juta.

Bersih, setelah potongan agensi. Untuk empat hari yang isinya makan malam keluarga, foto-foto, dan tersenyum sopan di tiga acara.

Dua puluh dua juta itu hampir dua bulan penghasilanku dalam empat hari. Dua puluh dua juta itu sebelas persen dari utang. Dua puluh dua juta itu, kalau digabung dengan yang bisa kukumpulkan dalam sembilan puluh hari, adalah selisih antara punya kemungkinan dan tidak punya kemungkinan sama sekali.

“Kapan?” tanyaku.

“Berangkat Selasa depan. Balik Jumat.”

Aku menghitung di kepalaku.

Selasa. Rabu. Kamis. Jumat.

“Ra?”

“Iya, Mbak.”

“Gimana?”

Ini bagian yang harus kuceritakan dengan jujur, meskipun aku tidak keluar dengan baik dari sini.

Aku tahu jawabannya. Jawabannya adalah iya. Tidak ada satu pun manusia waras yang akan menjawab tidak, dan aku selama tiga tahun ini adalah manusia yang sangat waras — waras dengan cara yang keras dan dingin dan menghitung semuanya sampai ke digit terakhir.

Yang keluar dari mulutku adalah:

“Aku ada jadwal Rabu, Mbak.”

Hening di seberang.

“Ra.”

“Kan udah dibayar di muka.”

“Bisa di-reschedule. Kliennya bayar tiga bulan di muka, artinya kalau geser seminggu ya nggak ada yang rugi.” Suara Mbak Vera berubah sedikit. “Kamu tau itu.”

“Iya.”

“Kamu tau itu, Ra.”

“Iya, Mbak.”

“Terus?”

Aku menatap ke luar jendela angkot. Ada tukang bakso mendorong gerobak di pinggir jalan dan aku menatapnya seperti dia menarik perhatianku sekali.

“Kasih ke Nadia aja,” kataku.


Mbak Vera tidak berdebat.

Itu yang paling buruk. Dia tidak berdebat, dia tidak menceramahi, dia cuma diam sekitar tiga detik dan berkata, “Oke,” lalu menutup telepon.

Perempuan itu bekerja dua belas tahun di HRD. Dia tahu persis apa artinya ketika seorang karyawan menolak sesuatu yang tidak masuk akal untuk ditolak, dan dia tahu persis bahwa menanyakannya sekarang tidak ada gunanya.

Dia akan menunggu. Dia selalu menunggu.


Nadia menemukanku di kamar jam sembilan malam sambil membawa dua gelas teh.

“Dua puluh dua juta,” katanya, dan duduk di ujung kasur.

“Selamat.”

“Ra.”

“Serius. Selamat. Kamu pantes.”

Nadia menaruh gelasnya di lantai. Lalu dia menatapku dengan wajah yang membuatku ingin keluar dari kamarku sendiri.

“Rumah nenek lo mau dilelang.”

“Aku nggak pernah bilang gitu.”

“Lo nulis di kalender dapur, Ra.” Nadia mengangkat bahu. “Lingkaran doang, tanpa tulisan. Siapa yang bikin lingkaran di kalender tanpa tulisan? Orang yang nggak mau ada yang baca.”

Aku menarik lututku ke dada.

“Sembilan puluh hari,” kataku.

“Terus lo nolak dua puluh dua juta.”

“Iya.”

“Buat makan malem yang lo udah dibayar penuh, yang bisa digeser seminggu tanpa ada yang rugi sepeser pun.”

“Iya.”

Nadia mengambil gelas tehnya lagi. Meniupnya. Minum. Semuanya pelan sekali, seperti orang yang sengaja memberi lawan bicaranya waktu untuk mundur.

“Gua nggak akan ngomong apa-apa,” katanya akhirnya.

“Bagus.”

“Gua cuma mau lo denger sendiri gimana kedengerannya.”

“Aku udah denger.”

“Terus?”

Aku menatap dinding kamarku. Cat hijau muda yang sudah pudar, ada retak kecil di dekat plafon yang bentuknya seperti sungai.

“Kalau aku pergi empat hari,” kataku pelan, “dia bakal masak Rabu itu juga.”

Nadia berhenti minum.

“Dia bakal masak porsi dua orang,” lanjutku, “terus dia bakal makan sendirian, terus sisanya masuk kulkas, terus hari Minggu dia buang.”

Diam.

“Dan dia nggak bakal bilang apa-apa,” kataku. “Dia bakal bilang ‘baik’. Dia selalu bilang ‘baik’.”

Aku mendengar suaraku sendiri dan aku membencinya.

Nadia menaruh gelasnya di lantai, pelan sekali sampai tidak bunyi.

“Ra,” katanya. “Dengerin gua.”

“Nad—“

“Yang lo bilang barusan tuh alesan lo nolak dua puluh dua juta.” Suaranya sama sekali tidak sinis. Itu yang paling menakutkan. “Bukan makanannya. Bukan gampangnya. Lo nolak karena lo nggak tahan mikirin dia makan sendirian.”

Aku tidak menjawab.

“Itu namanya apa, Ra?”

“Jangan.”

“Gua nanya doang.”

“Nad, jangan.”

Nadia menghela napas panjang. Lalu dia melakukan hal yang tidak pernah dia lakukan sebelumnya: dia bergeser mendekat dan menyandarkan bahunya ke bahuku, dan duduk begitu saja, tidak bicara, selama mungkin dua menit.

“Ya udah,” katanya akhirnya. “Ya udah.”


Malam itu aku tidak bisa tidur lagi, jadi aku melakukan hal yang selalu kulakukan kalau tidak bisa tidur: aku bekerja.

Aku masih punya satu pekerjaan penerjemahan yang belum kutinggalkan sepenuhnya. Novel, terbitan kecil, honornya menyedihkan, tenggatnya sudah lewat dua minggu. Aku mengerjakannya karena kalau berhenti sepenuhnya berarti aku benar-benar berhenti.

Bab yang harus kukerjakan malam itu, kebetulan — dan aku bersumpah ini kebetulan, semesta memang punya selera humor yang buruk — adalah bab di mana tokoh utamanya menyadari sesuatu.

Kalimatnya begini di bahasa aslinya:

She had been counting the days, which was, she supposed, the whole of it.

Aku duduk di depan laptop dengan kursor berkedip selama sekitar empat menit.

Menerjemahkan itu pekerjaan yang aneh. Kamu tidak bisa lewat begitu saja. Kamu harus masuk ke dalam kalimat orang lain, tinggal di sana sebentar, mencari tahu apa persisnya yang dia maksud, lalu keluar lagi membawa maksud itu dalam bahasamu sendiri.

Kamu tidak bisa menerjemahkan sesuatu tanpa memahaminya lebih dulu.

Itu masalahnya.

Aku mengetik:

Dia sudah menghitung hari, dan barangkali itu saja sudah seluruh jawabannya.

Lalu aku menutup laptop.

Dan duduk di kegelapan cukup lama.

Karena aku memang menghitung hari. Aku menghitung sejak Rabu malam terakhir, aku menghitung di angkot pulang dari Palmerah, aku menghitung waktu bangun tidur tanpa sengaja, seperti orang yang punya alarm di dalam badannya.

Enam hari lagi. Lima. Empat.

Dan aturan kelima — aturan yang kubuat sendiri di kamar mandi hotel di Kuningan, aturan yang selama tiga tahun terasa seperti aturan termudah di dunia karena tidak ada satu pun yang mendekatinya —

aturan kelima tidak pernah kutulis di mana pun.

Itu yang membuatku merinding malam itu. Bukan karena aku hampir melanggarnya.

Karena aku tidak pernah menuliskannya di mana pun, jadi tidak ada satu pun bukti bahwa aturan itu ada, jadi tidak akan pernah ada momen di mana seseorang menunjuk selembar kertas dan berkata ini, kamu langgar yang ini.

Aku bisa melanggarnya perlahan-lahan selama berbulan-bulan dan tidak ada yang akan memberitahuku.


Aku mengambil ponsel dari nakas.

Membuka kontak.

Mr. VIP Rabu

Aku menatapnya di kegelapan, dengan cahaya layar bikin mataku perih.

Aku menekan Edit.

Kursor muncul di ujung nama. Berkedip.

Aku menghapus satu huruf. Lalu satu lagi.

Mr. VIP Rab

Mr. VIP Ra

Mr. VIP R

Aku berhenti.

Kalau aku menghapus semuanya, aku harus mengetik sesuatu yang lain, dan satu-satunya hal lain yang bisa kuketik adalah namanya.

Dan nama itu — nama asli, tanpa kategori, tanpa hari, tanpa keperluan — akan berarti bahwa dia bukan pekerjaan lagi.

Aku duduk di kegelapan dengan ibu jari melayang di atas layar selama waktu yang tidak masuk akal untuk sesuatu sesepele nama kontak.

Lalu aku mengetik ulang.

Mr. VIP Rab

Mr. VIP Rabu

Simpan.

Aku menaruh ponsel telungkup di nakas, menarik selimut sampai bahu, dan menatap retakan di dekat plafon yang bentuknya seperti sungai.

Tiga hari lagi, kata sesuatu di dalam badanku, tanpa izin, tanpa pernah kusuruh.