← Apartemen 12B

Chapter Twenty Five

Tangga Darurat

POV: Kiara


Aku tidak mengangkat wajah.

Aku mendengar langkah kaki turun beberapa anak tangga, lalu berhenti. Lalu terus turun, pelan, dengan sandal karet yang berbunyi pelan di beton.

Dan lalu seseorang duduk di anak tangga di sebelahku, dengan jarak yang wajar — dua anak tangga di atas, sedikit ke samping — dan tidak mengatakan apa-apa.

Aku menurunkan tangan dari mataku.

Renjani duduk dengan lutut ditekuk dan lengan disandarkan di atasnya, menatap dinding di seberang, tidak ke arahku.

“Ini tangganya bagus,” katanya.

Aku tidak menjawab.

“Serius. Coba liat pegangannya.”

Aku menoleh, mau tidak mau.

Pegangan tangganya besi bulat, dilas rapi, dengan ujung yang dibulatkan dan menempel ke dinding, bukan yang menggantung terbuka seperti di gedung-gedung lain.

“Dia yang ngerancang tangga darurat gedung ini?”

“Nggak,” kata Renjani. “Dia cuma ikut rapat pengelola dan komplain tiga kali sampai diganti.”

Aku menutup mata.

“Iya,” kataku. “Iya, itu dia banget.”

Renjani tertawa satu kali. Pendek. Lelah.

Lalu diam lagi.


“Aku nggak akan nanya kamu siapa,” katanya setelah lama.

“Kenapa?”

“Karena bukan urusan aku.”

Aku menoleh penuh.

Dia masih menatap dinding di seberang.

“Aku ninggalin dia di hari pernikahan kami,” katanya. “Tiga tahun lalu. Aku kabur pagi-pagi, aku kirim tiga kata, aku matiin ponsel enam hari.”

Aku tidak bisa bergerak.

“Jadi apa pun yang terjadi di ruangan itu tadi,” lanjutnya, “aku bukan orang yang berhak nanya apa-apa ke siapa pun.”

“Kenapa kamu cerita ke aku?”

“Karena kamu lagi duduk di tangga darurat,” katanya, “dan aku tau persis kenapa orang duduk di tangga darurat.”


Kami duduk di sana beberapa saat.

Neon di atas kami berkedip sekali, lalu stabil lagi.

“Aku dibayar,” kataku.

Aku tidak tahu kenapa aku mengatakannya. Aku betul-betul tidak tahu, sampai hari ini.

Mungkin karena aku sudah tidak punya apa pun lagi yang bisa hilang. Mungkin karena kalau perempuan ini akan menganggapku sesuatu, aku ingin dia menganggapku hal yang benar dan bukan hal yang dia karang sendiri.

“Aku kerja di agensi,” kataku. “Pendamping. Orang bayar buat ditemenin ke acara, makan malem, ketemu keluarga. Dia bayar tiga bulan di muka. Tiap Rabu, jam tujuh sampai sembilan. Tiga puluh satu kali.”

Renjani tidak bergerak.

“Sekarang kamu boleh nanya,” kataku.

“Nggak.”

“Renjani—“

“Aku nggak punya pertanyaan,” katanya.

Dan lalu dia berkata, sangat pelan, ke arah dinding:

“Aku cuma mikirin dia bayar orang buat makan masakannya selama tiga tahun.”

Suaranya patah di kata terakhir.

Dia mengangkat tangan dan menutupi mulutnya, dan bahunya bergerak sekali, dan dia menahannya di sana sampai selesai.

Aku duduk di anak tangga itu dan tidak melakukan apa pun, karena tidak ada satu pun yang bisa kulakukan yang bukan penghinaan.


“Kamu tau ada garem di meja?” katanya.

Aku mengangkat wajah.

“Apa?”

“Di meja makan. Tempat garem kecil, keramik, di ujung kanan.” Renjani menyeka wajahnya dengan telapak tangan, cepat, sekali. “Kamu liat tadi?”

Aku memutar ulang ruangan itu di kepalaku.

Meja jati. Satu piring ayam woku yang dingin. Sendok garpu sejajar. Piring diputar dua tiga derajat.

Dan di ujung kanan meja, di luar area yang kuperhatikan, sebuah benda keramik kecil yang tidak ada di sana tiga puluh satu Rabu berturut-turut.

“Nggak,” kataku. “Nggak, aku nggak liat.”

“Ada.”

“Sejak kapan?”

“Nggak tau. Tapi dulu nggak pernah ada.”

Aku menatapnya.

“Renjani, itu cuma garem.”

Dan Renjani menoleh — pertama kalinya sejak duduk — dan menatapku dengan mata yang masih merah.

“Kamu makan masakan dia tiga puluh satu kali,” katanya. “Kamu pernah minta garem?”

Sesuatu di perutku turun.

“Sekali,” kataku. “Rabu kedua.”

“Dia jawab apa?”

Aku membuka mulut.

Dan kalimat itu keluar sendiri, dengan intonasi yang sama persis, karena aku mengingat semuanya dan itu penyakit bukan bakat:

”Karena kalau saya sudah menghitungnya dengan benar, tidak ada yang perlu ditambahkan.”

Renjani menutup mata.

“Iya,” katanya. “Itu.”

“Itu apa?”

“Sebelas bulan,” katanya. “Aku sebelas bulan tinggal setengah di rumah itu dan aku nggak pernah sekali pun minta garem, karena masakannya selalu bener. Nggak pernah kurang, nggak pernah lebih, nggak pernah ada satu hal pun yang perlu aku ubah.”

Dia membuka matanya.

“Dan itu yang bikin aku kabur.”


Aku duduk di tangga darurat lantai dua belas Menara Kalyana dan mendengarkan seorang perempuan menjelaskan kepadaku, dalam waktu kurang dari sepuluh menit, seluruh isi laki-laki yang selama tiga puluh satu minggu tidak bisa kubaca.

“Dia bakal bangun seluruh rumah buat kamu,” katanya. “Dan semuanya bakal pas. Tinggi mejanya pas, lampunya pas, sisi ranjangnya pas. Kamu bakal masuk ke sana dan ngerasa kayak ada yang ngerti kamu lebih dari kamu sendiri.”

“Terus?”

“Terus lima tahun lagi kamu bakal berdiri di tengah rumah itu,” katanya, “dan sadar nggak ada satu benda pun yang kamu pilih.”

Aku merasakan dingin naik dari beton ke tulang belakangku.

“Dia nggak jahat,” kata Renjani cepat. “Aku perlu kamu tau itu, dan aku bakal ngomong ini walaupun aku nggak berhak ngomong apa-apa. Dia nggak pernah maksa aku sekali pun. Dia nggak pernah ngelarang aku apa pun. Dia nggak pernah bentak, nggak pernah ngambek, nggak pernah nyakitin aku dengan cara mana pun yang bisa aku tunjuk.”

“Terus salahnya apa?”

“Dia nggak nanya,” katanya.

Satu kalimat.

“Dia denger semuanya. Dia inget semuanya. Terus dia terjemahin sendiri ke bahasa yang dia bisa, dan dia beresin, dan dia nggak pernah balik nanya apakah terjemahannya bener.”

Renjani menoleh ke arahku.

“Enam kali aku coba ngomong,” katanya. “Enam kali dia dateng bawa palu.”


“Kenapa kamu ngomong ini ke aku?” tanyaku.

Renjani menatap tangganya sendiri.

“Karena aku nggak ngomong ke dia,” katanya. “Sebelas bulan aku nggak ngomong terus terang sekali pun. Aku ngasih sinyal, aku ngasih setengah kalimat, aku ngasih ‘aku nggak tau’. Dan aku nunggu dia nangkep.”

Dia menggeleng pelan.

“Aku nunggu orang yang ngukur bangku jendela pakai bantal dua kali di malem yang beda buat nebak isi kepala aku. Dan waktu dia nggak nebak, aku bilang dalem hati ya udah berarti dia nggak peduli.”

“Renjani—“

“Dia peduli banget,” katanya. “Dia peduli sampai ke tingkat yang bikin ngeri. Dia cuma nggak punya satu alat, dan aku nggak pernah ngasih tau dia bahwa alat itu ada.”

Dia menghela napas.

“Terus aku kabur, dan sekarang aku duduk di tangga darurat sama perempuan yang nggak aku kenal, tiga tahun kemudian, ngasih tau dia hal yang harusnya aku omongin ke Danan di dapur bulan Juni.”


Kami duduk di sana lama sekali.

Aku tidak tahu berapa lama. Neon di atas kami berkedip dua kali lagi.

“Kiara.”

“Iya.”

“Dia bakal bangun rumah buat kamu tanpa nanya,” katanya.

Aku menoleh.

“Jangan dibiarin.” Suaranya sepenuhnya tenang sekarang. “Paksa dia nanya.”

“Gimana caranya maksa orang nanya?”

“Nggak tau,” katanya, dan mengangkat bahu, dan tersenyum dengan cara yang paling lelah yang pernah kulihat. “Aku sebelas bulan nggak nemu caranya. Mungkin caranya adalah kamu yang ngomong duluan, dan kamu ngomong sampai selesai, dan kamu nggak berhenti di tengah walaupun dia nggak nanya.”

Dia berdiri.

“Tapi itu berarti kamu harus tau kamu mau apa,” katanya. “Dan itu bagian yang paling susah.”

Aku menatap tangan sendiri.

Kamu mau apa.

Aku tidak tahu apa yang kumau. Aku tahu berapa utangku sampai ke digit terakhir, aku tahu berapa hari tersisa sebelum lelang, aku tahu ukuran sepatunya dan minus mata kiriku dan tinggi meja itu.

Aku tidak tahu apa yang kumau.

Aku bahkan tidak tahu aku suka apa.


Renjani naik dua anak tangga, lalu berhenti.

“Kunci itu aku tinggal di meja,” katanya. “Yang di ruang tengah.”

“Kenapa kamu bilang ke aku?”

“Biar kamu tau aku nggak bawa pulang.”

Dia melanjutkan naik.

Di pintu tangga darurat dia berhenti sekali lagi, dengan tangan di gagang, dan berbalik.

“Kiara.”

“Iya.”

“Aku nggak ke sini buat balikan,” katanya. “Aku ke sini buat ngasih dia satu kalimat yang harusnya dia dapet tiga tahun lalu. Udah aku kasih. Aku pulang sekarang, dan aku nggak akan dateng lagi.”

Aku mengangguk.

“Dan satu lagi,” katanya.

“Apa?”

“Waktu bel bunyi tadi.” Renjani menatapku dari atas. “Dia berdiri lebih cepet dari waktu aku dateng.”

Pintu tangga darurat menutup dengan bunyi berat.


Aku duduk di anak tangga itu sekitar dua puluh menit lagi.

Lalu aku berdiri, dan turun sebelas lantai dengan kaki, karena aku masih tidak sanggup masuk ke kotak logam dengan cermin di ketiga sisinya.

Di lantai lima belas aku berhenti mendadak.

Anak tangga di situ tingginya beda tiga sentimeter. Kontraktornya salah, dan seseorang pernah jatuh di sini tahun lalu, dan seseorang pernah berhenti di depanku di sini dengan senter di tangan dan mengulurkan tangannya ke belakang dengan telapak menghadap ke atas, menunggu sampai aku yang memutuskan.

Tiga anak tangga.

Aku duduk lagi di lantai lima belas, dan kali ini aku menangis, dan tidak ada satu pun orang di sumur tangga itu selain aku dan bunyinya memantul naik turun sampai ke atas.


Di lobi, satpam mengangguk sekali seperti biasa.

Di luar, hujan yang dijanjikan Renjani belum turun. Langitnya cuma berat dan diam.

Aku berjalan ke halte. Bangku besi, atap seng, bocor di dua tempat. Aku duduk di bagian yang kering.

Dan aku mengeluarkan ponsel dan membuka kontak.

Mr. VIP Rabu

Aku menatapnya cukup lama.

Lalu aku membuka aplikasi Beranda, dan menggulung ke bawah, ke bagian paling akhir dari menu pengaturan akun, di bawah Riwayat Pembayaran dan Data Rekening dan Bantuan.

Ada satu baris di sana yang tidak pernah kubuka selama tiga tahun.

Pengakhiran Keanggotaan Pendamping

Aku menekannya.

Bus terakhir datang jam sepuluh, dan aku tidak menaikinya, dan aku duduk di halte itu sampai jam sebelas lewat membaca seluruh prosedurnya dari atas sampai bawah, dua kali, sampai aku hafal.