← Tiga Putri Jatuh Cinta

Chapter Nine

Proyek Agnes

POV: Agnes

Aku benci ketika Al benar.

Sebenarnya, aku benci ketika siapa pun benar dan aku salah. Tapi kalau orang itu Al, rasanya jauh lebih menyebalkan.

Proyek aplikasiku gagal dalam uji coba pertama.

Bukan gagal kecil yang masih bisa ditutupi dengan senyum. Aplikasinya berhenti bekerja saat juri mencoba fitur utama. Layar membeku, suara notifikasi berulang, dan aku harus berdiri di depan ruangan sambil berpura-pura tidak ingin menghilang.

Setelah acara selesai, pembimbingku bilang desainnya bagus, tetapi sistemnya belum stabil.

Aku tahu maksudnya.

Aplikasiku belum siap.

Di rumah, aku meletakkan laptop di meja ruang tengah lalu menjatuhkan diri ke sofa. Clara sedang membaca dokumen. Eve sedang merekam video untuk agensinya. Tidak ada yang bertanya bagaimana lombanya karena mungkin mereka sudah melihat wajahku.

Al lewat sambil membawa gelas kopi.

Dia berhenti ketika melihat layar laptopku.

“Fitur utamanya berhenti karena kamu manggil dua proses yang sama secara bersamaan.”

Aku menatapnya. “Aku nggak tanya.”

“Aku tahu.”

“Kalau tahu, kenapa ngomong?”

“Karena kamu nampilin error-nya di layar besar.”

Aku menutup laptop. “Jangan ikut campur.”

Al berjalan lagi.

Aku ingin membiarkannya pergi. Sungguh. Tapi setelah lima menit, rasa penasaranku lebih kuat daripada harga diri.

“Al.”

Dia berhenti di dekat tangga.

“Kamu benar-benar tahu masalahnya?”

“Kemungkinan.”

“Bisa benerin?”

“Mungkin.”

“Kamu jawab apa aja selalu pakai kemungkinan.”

“Karena aku nggak lihat kodenya.”

Aku membuka laptop lagi dan memutarnya ke arah dia. “Lihat.”

Al tidak langsung duduk. Dia memandang Clara dan Eve lebih dulu.

Clara mengangkat alis. “Apa?”

“Nggak apa-apa,” kata Al.

Dia duduk di samping sofa, bukan di sebelahku. Jaraknya cukup jauh seolah takut aku menuduhnya mengambil tempat.

Aku membuka folder proyek dan menunjukkan bagian yang bermasalah.

Al membaca kode itu beberapa menit tanpa bicara.

“Kamu makai terlalu banyak lapisan.”

“Aku mau aplikasinya fleksibel.”

“Fleksibel bukan berarti semua hal dimasukkan sekaligus.”

“Aku bisa ngaturnya.”

“Kalau bisa, aplikasimu nggak bakal berhenti.”

Aku menggigit bibir. “Bisa ngomong tanpa kedengeran ngehina?”

“Bisa.”

“Coba.”

Al menunjuk layar. “Strukturnya berantakan.”

Aku mengambil bantal dan memukul lengannya.

Dia hanya melihat bantal itu, lalu kembali ke layar.

Clara menahan tawa dari balik dokumen. Eve bahkan tidak berusaha menyembunyikannya.

“Kalian semua senang?” tanyaku.

“Sedikit,” jawab Eve.

Al mengambil mouse. “Aku bakal hapus bagian ini.”

“Jangan. Itu fitur penting.”

“Fitur itu nggak dipakai.”

“Nanti bakal dipakai.”

“Kalau nanti belum tentu, jangan bikin sistemmu mati buat sesuatu yang belum ada.”

Aku menatap tangannya yang bergerak di atas keyboard. Dia mengubah beberapa bagian kode dengan cepat, tetapi tidak asal. Setiap perubahan punya alasan.

“Kamu belajar dari mana?” tanyaku.

“Banyak tempat.”

“Kuliah?”

“Sebentar.”

“Sebentar itu berapa lama?”

“Sampai aku bosan.”

“Kamu putus kuliah karena bosan?”

“Aku nggak putus. Aku berhenti datang.”

“Itu namanya putus.”

“Kalau kampusnya masih ngirim tagihan, mungkin mereka nganggep aku masih terdaftar.”

Aku menatap wajahnya. Dia memang sedang bercanda, tetapi ekspresinya tetap datar.

Setelah hampir satu jam, aplikasi itu bisa berjalan lagi. Al tidak menyelesaikan semuanya. Dia hanya membuat fitur utama tidak saling bertabrakan dan menunjukkan bagian yang harus kukerjakan sendiri.

“Kenapa nggak kamu perbaiki sampai selesai?” tanyaku.

“Karena ini proyekmu.”

“Kamu bisa.”

“Bisa bukan berarti harus.”

“Kamu takut aku menang karena bantuanmu?”

“Aku malas jelasin semuanya ke juri nanti.”

Aku memandangnya kesal. “Kamu benar-benar nggak bisa ngasih dukungan normal.”

“Aplikasimu nggak butuh dukungan. Aplikasimu butuh perbaikan.”

Clara menutup dokumennya. “Aku rasa itu cara Al nyemangatin.”

“Nggak bantu,” kataku.

“Aku nggak lagi bantu,” jawab Al.

Aku memandang layar laptop. Ada banyak bagian yang harus kukerjakan malam itu. Biasanya aku akan menunda, mencari alasan, lalu mengeluh kepada semua orang.

Namun, kali ini aku membuka catatan dan mulai menulis ulang alur aplikasinya.

Al berdiri.

“Mau pergi?” tanyaku.

“Kamar.”

“Tunggu.”

“Apa?”

“Besok… kamu bisa lihat lagi?”

“Kalau aku sempat.”

“Kamu harus sempat.”

“Kenapa?”

“Karena aku belum selesai.”

Al memandangku. “Itu bukan alasan.”

“Aku minta tolong.”

Dia diam sebentar, lalu mengangguk. “Satu jam.”

“Dua jam.”

“Satu.”

“Satu setengah.”

“Satu.”

“Kamu pelit waktu.”

“Aku punya pekerjaan.”

Aku baru sadar bahwa dia belum pernah menjelaskan pekerjaan apa yang sedang dia lakukan. Dia selalu membawa laptop, sering menerima pesan dari nomor asing, dan kadang menatap layar seperti sedang membaca sesuatu yang tidak bisa dipahami orang lain.

“Al.”

“Hm?”

“Kamu sebenarnya programmer biasa?”

“Nggak ada programmer biasa.”

“Maksudku, kamu emang cuma ngerjain proyek kecil?”

Al menatapku beberapa detik. “Kamu mau tahu karena penasaran atau karena masih curiga?”

Aku kehilangan jawaban.

Dia akhirnya tersenyum tipis. “Kerjakan dulu proyekmu.”

Al naik ke lantai dua.

Aku kembali menatap laptop. Untuk pertama kalinya, kegagalan aplikasiku tidak terasa seperti akhir dunia.

Mungkin karena seseorang yang menyebalkan sudah menunjukkan cara memulainya lagi.

Aku mengambil ponsel dan mengirim pesan kepadanya.

Besok jam delapan. Jangan telat.

Balasannya datang kurang dari satu menit kemudian.

Aku belum setuju.

Aku tersenyum sendiri.

Sekarang sudah.

Tidak ada balasan setelah itu.

Keesokan paginya, aku bangun lebih cepat dari biasanya. Aku membawa laptop ke meja makan sebelum siapa pun bangun, lalu mencoba menjalankan ulang aplikasi dengan perubahan yang kubuat semalam.

Aplikasi itu tidak langsung sempurna. Satu tombol masih terlalu lambat, dan tampilan notifikasi perlu diperbaiki. Namun, fitur utama berjalan tanpa berhenti.

Aku hampir berteriak karena senang ketika suara Al terdengar dari belakang.

“Jangan terlalu cepat puas.”

Aku menoleh. Dia berdiri sambil membawa kopi.

“Aku berhasil bikin jalan.”

“Itu baru syarat paling dasar.”

“Kamu bisa bilang selamat.”

“Selamat.”

“Kedengarannya terpaksa.”

“Karena emang.”

Aku ingin kesal, tetapi senyumku telanjur muncul. Al duduk di hadapanku dan memeriksa hasil kerjaku. Kali ini dia tidak mengambil alih. Dia hanya menunjuk bagian yang perlu kuperbaiki dan membiarkanku menulis sendiri.

Aku baru sadar bahwa selama ini aku tidak membutuhkan seseorang yang mengerjakan semuanya untukku. Aku hanya membutuhkan seseorang yang tidak langsung menyerah ketika melihat pekerjaanku berantakan.

Tapi beberapa menit kemudian, Al turun lagi dan meletakkan satu kabel charger baru di samping laptopku.

“Punya kamu rusak,” katanya.

Lalu dia naik tanpa menunggu ucapan terima kasih.

Aku menatap kabel itu cukup lama.

Al memang menyebalkan.

Tapi mungkin, sedikit saja, dia tidak seburuk yang kukira.