← Tiga Putri Jatuh Cinta

Chapter Thirty Six

Tidak Sendirian Lagi

POV: Al

Enam bulan setelah identitas Zero terbuka, orang-orang mulai bosan membicarakanku.

Aku tidak mengeluh.

Kebosanan publik adalah bentuk kedamaian yang paling menyenangkan.

Aegis kembali berjalan dengan sistem yang lebih transparan. Semua kode inti diaudit oleh tim independen. Sebagian modul dibuka untuk penelitian. Sebagian lainnya tetap terlindungi karena masih berkaitan dengan keamanan pengguna.

Aku tidak lagi menjadi satu-satunya orang yang memegang kunci.

Mikael memimpin tim pengembangan. Agnes menjadi konsultan termuda dalam proyek audit. Dia masih mengeluh setiap kali rapat terlalu panjang, tetapi sekarang orang-orang mencatat setiap kalimatnya.

Clara mengambil posisi sebagai direktur utama divisi baru yang mengurus kerja sama teknologi. Dia tidak lagi mencoba mengendalikan semua hal sendirian, meski sesekali tetap mengirim pesan pada pukul dua pagi karena baru menemukan kesalahan dalam laporan.

Eve mengelola komunikasi publik dan membangun program literasi keamanan digital untuk mahasiswa. Dia masih bercanda terlalu banyak, tetapi semua orang tahu dia mampu membaca krisis sebelum orang lain menyadarinya.

Helena dan Damar tidak lagi terikat oleh pernikahan legal. Mereka tetap tinggal di rumah yang sama untuk sementara, tetapi hubungan mereka berubah menjadi sesuatu yang lebih jujur. Tidak ada lagi kepura-puraan tentang alasan mereka bersama.

Damar akhirnya meminta maaf kepada Al karena dulu terlalu sering menganggap diam sebagai bentuk baik-baik saja.

Helena meminta maaf kepada ketiga putrinya karena membiarkan mereka merasa harus menjaga keluarga sendirian.

Tidak ada permintaan maaf yang menghapus masa lalu.

Namun setidaknya, rumah kami tidak lagi dipenuhi hal-hal yang sengaja tidak dibicarakan.

Sore itu, aku berdiri di taman belakang dengan empat cangkir kopi.

“Kenapa kamu bawa empat?” tanya Eve.

“Karena kita berempat.”

“Biasanya kamu lupa kopi buat dirimu sendiri.”

“Aku lagi berkembang.”

Clara mengambil cangkirnya.

Agnes duduk di kursi rotan.

“Apa yang kita rayakan?” tanyanya.

Aku meletakkan cangkir terakhir di meja.

“Hari pertama tanpa wartawan di depan pagar.”

Eve melihat ke arah gerbang. “Benar juga.”

“Terus hari pertama setelah pengadilan nutup perkara utama,” tambah Clara.

“Victor dihukum?” tanya Agnes.

“Prosesnya masih jalan,” jawabku. “Tapi bukti udah cukup buat bikin nggak bisa kembali ke perusahaan.”

“Raka?” tanya Eve.

“Nunggu sidang.”

“North Vale?”

“Kehilangan lisensi di beberapa negara.”

Eve mengangguk puas. “Bagus. Sekarang tinggal satu masalah.”

“Apa?” tanya Clara.

“Hubungan kita.”

Aku mengangkat alis.

“Kita nggak pernah benar-benar ngebahas tahap berikutnya,” lanjut Eve. “Kita punya aturan, jadwal kencan, batas privasi, dan kesepakatan kalau ada yang cemburu. Tapi kita nggak pernah ngebahas apa yang kita mau setelah semuanya tenang.”

Agnes menatapku.

Clara menyandarkan tubuh ke kursi.

Aku duduk di depan mereka.

“Aku mau denger kalian dulu.”

Clara berbicara pertama.

“Aku nggak mau hubungan ini jadi sesuatu yang cuma hidup karena ancaman. Aku nggak mau kita terus bersama karena pernah ngelewatin masalah besar.”

“Aku juga,” kata Agnes.

Eve mengangguk. “Aku nggak mau jadi lelucon yang kebetulan kamu sukai.”

Aku menatap mereka.

“Terus apa yang kalian mau?”

Clara mengambil napas. “Aku mau kita punya rumah sendiri. Bukan karena mau ngejauh dari Mama atau Damar, tapi karena hubungan kita butuh ruang yang bukan sisa dari pernikahan orang tua.”

Agnes mengangguk. “Aku mau tetap nyelesein pendidikanku tanpa dianggep harus selalu tersedia.”

“Aku mau pergi liburan tanpa ada yang meriksa kamera setiap lima menit,” kata Eve.

“Itu nggak aman,” jawabku.

“Al.”

“Oke. Aku bakal meriksa kamera cuma tiga menit.”

Eve melempar bantal kecil kepadaku.

Aku menangkapnya.

“Terus kamu?” tanya Clara.

Aku melihat rumah lama di belakang mereka.

“Dulu aku mau hidup tenang,” kataku. “Aku ngira hidup tenang berarti nggak punya kewajiban ke siapa-siapa. Nggak punya orang yang bisa dijadiin ancaman. Nggak punya rumah yang harus dijaga.”

“Sekarang?” tanya Agnes.

“Sekarang aku mau hidup yang nggak bikin aku terus bersembunyi.”

Clara meraih tanganku.

“Aku mau milih kalian setiap hari,” lanjutku. “Bukan cuma saat ada masalah, bukan cuma ketika kita takut kehilangan. Aku mau milih kalian ketika hari biasa terasa ngebosenin.”

Eve tersenyum.

“Jawabanmu terlalu bagus,” katanya. “Aku curiga kamu nulisnya dulu.”

“Aku nggak nulis.”

“Buktikan.”

Aku berdiri, lalu berlutut di depan mereka.

Eve langsung membelalakkan mata.

“Al.”

“Aku nggak bawa cincin,” kataku.

“Syukurlah,” jawab Clara cepat.

“Aku juga nggak bakal ngelamar siapa aja malam ini.”

Agnes menghela napas lega.

“Aku cuma mau nanya,” lanjutku. “Maukah kalian pindah ke rumah yang kita pilih bersama? Dengan ruang masing-masing, aturan yang jelas, dan nggak ada yang merasa jadi tamu?”

Clara menatapku.

Eve menutup mulutnya.

Agnes mulai menangis lebih dulu.

“Ini bukan lamaran?” tanya Eve.

“Bukan.”

“Nggak ada cincin?”

“Nggak.”

“Nggak ada makan malam mahal?”

“Ada mi rebus.”

Eve memukul bahuku.

Clara tertawa. Agnes mengusap matanya.

“Kami mau,” kata Clara.

“Aku juga,” kata Agnes.

Eve menatapku dengan senyum yang terlalu lebar.

“Aku mau. Tapi aku milih kamar paling besar.”

“Nggak,” kata Clara dan Agnes bersamaan.

“Kenapa?”

“Karena kamu bakal ngubahnya jadi ruang pakaian,” jawab Clara.

“Terus itu alasan paling masuk akal.”

Kami tertawa sampai Helena memanggil dari dalam rumah.

Malam itu, kami makan bersama. Tidak ada rapat, tidak ada kamera, tidak ada layar merah. Damar bercerita tentang rencana pindah kantor. Helena membahas rumah baru yang sedang dicari. Clara berdebat tentang anggaran. Agnes memperbaiki jadwal. Eve mengusulkan kolam renang meski tidak ada satu pun dari kami yang meminta.

Aku duduk di ujung meja dan mendengarkan.

Dulu, aku sering membayangkan meja makan sebagai tempat yang harus kulewati sebelum bisa kembali ke kamar.

Sekarang, aku tidak ingin makan malam selesai.

Setelah semua orang tidur, aku keluar ke balkon.

Tiga perempuan itu menyusul satu per satu.

Clara berdiri di sebelahku.

Eve menyandarkan punggung ke pagar.

Agnes memegang lenganku.

“Kamu ngelamun lagi,” kata Eve.

“Aku lagi ngitung.”

“Apa?”

“Berapa banyak hal yang berubah.”

Clara menatap kota. “Terlalu banyak?”

“Nggak.”

Agnes menggenggam tanganku. “Kamu bahagia?”

Aku memandang mereka.

“Bahagia.”

“Yakin?” tanya Clara.

“Yakin.”

Eve mendekat. “Kalau gitu, jangan cuma bilang.”

Dia menciumku lebih dulu.

Clara menyusul, ciumannya dalam dan tenang.

Agnes terakhir, masih sedikit gugup tetapi tidak lagi ragu.

Aku memeluk mereka bertiga, satu per satu, lalu membiarkan dahi kami saling bersentuhan.

Tidak ada janji yang terdengar seperti kontrak.

Tidak ada aturan baru yang harus ditulis.

Kami hanya saling memilih.

Di bawah balkon, taman rumah lama tetap sama. Lampu kecil menyala. Jalanan di luar mulai sepi. Kota masih penuh masalah yang tidak bisa kuselesaikan.

Namun untuk pertama kalinya, aku tidak merasa harus menyelesaikan semuanya.

Aku punya pekerjaan yang harus kujaga.

Aku punya nama yang akhirnya tidak kusembunyikan.

Aku punya keluarga yang tidak sempurna, tetapi mau belajar.

Dan aku punya tiga perempuan yang mencintaiku bukan karena Zero, bukan karena aset, bukan karena algoritma yang membuat namaku terkenal.

Mereka mencintaiku sebagai Algo.

Sebagai Al.

Sebagai orang yang kadang terlalu diam, terlalu keras kepala, dan terlalu sering lupa makan.

“Aku masih mau hidup tenang,” kataku.

Eve tersenyum. “Kamu selalu bilang begitu.”

“Sekarang aku tahu caranya.”

“Bagaimana?”

Aku melihat rumah di belakang kami.

“Nggak sendirian.”

Clara mencium pipiku.

Agnes memeluk lenganku.

Eve menarik tanganku menuju pintu balkon.

“Kalau gitu, masuk. Kamu belum nyuci piring.”

Aku menatapnya. “Aku baru aja nyelametin sistem keuangan dunia.”

“Terus aku baru aja ngasih kamu tugas rumah.”

Clara tertawa. Agnes ikut menarikku.

Aku membiarkan mereka membawaku masuk.

Dulu, aku hanya ingin pergi dari rumah ini.

Sekarang, aku akhirnya mengerti.

Rumah bukan tempat yang tidak pernah gaduh.

Rumah adalah tempat di mana, setelah semua kekacauan selesai, masih ada orang-orang yang menunggumu pulang.

Dan kali ini, aku memilih untuk pulang.