← Tiga Putri Jatuh Cinta

Chapter Six

Kebocoran Pertama

POV: Al

Aku pulang dari kantor bersama Clara menjelang sore.

Sepanjang perjalanan, dia lebih banyak diam. Sesekali ponselnya bergetar, tetapi dia hanya membaca pesan lalu meletakkannya kembali di dashboard.

“Kamu bisa berhenti lihat ponsel sambil nyetir,” kataku.

“Aku nggak lihat.”

“Kamu baru aja lihat.”

“Aku baca notifikasi.”

“Itu tetap lihat.”

Clara mengeraskan rahang. “Kalau kamu mau nyetir, bilang.”

“Aku nggak bilang mau.”

“Kalau gitu jangan ngomentarin caraku nyetir.”

Aku kembali melihat jalan di depan. Ada banyak hal yang bisa kukomentari, tetapi sebagian besar tidak akan membuat perjalanan lebih cepat.

Begitu sampai di rumah, Clara langsung masuk ke ruang kerja Helena. Aku menuju dapur untuk mengambil air. Baru saja membuka kulkas, ponselku bergetar.

Pesan itu berasal dari nomor luar negeri.

Public leak detected. Wijaya report is online.

Aku membaca pesan tersebut dua kali.

Laporan penjualan yang dibahas di kantor tadi pagi seharusnya hanya tersimpan di server internal. Kalau sudah muncul di luar, berarti ada orang yang berhasil mengambilnya.

Aku membuka tautan yang dikirim. Sebuah forum bisnis anonim memuat tangkapan layar laporan cabang timur. Nama perusahaan memang disamarkan, tetapi format tabel, waktu pembaruan, dan jumlah transaksinya terlalu jelas.

Seseorang sengaja membocorkannya.

Aku menutup tautan dan berjalan menuju ruang kerja.

Pintu terbuka. Clara berdiri di depan laptop, sementara Helena dan Victor berada di sisi lain meja.

“Laporan itu bocor,” kata Clara sebelum aku sempat bertanya.

“Aku tahu.”

Tiga orang langsung menatapku.

Victor tersenyum tipis. “Kamu tahu dari mana?”

“Ada di forum.”

“Kamu sering buka forum anonim?”

“Kadang.”

“Menarik.”

Aku tidak menjawabnya. Aku mendekati layar laptop Clara. “Boleh lihat?”

Clara ragu sebentar, lalu memutar layar ke arahku.

Tangkapan layar itu diambil dari file PDF internal. Aku memperbesar bagian bawah halaman. Ada potongan kecil dari nama printer dan waktu ekspor yang hampir tidak terlihat.

“File ini dibuat pukul sepuluh lewat dua belas,” kataku.

“Kamu bisa tahu dari gambar sekecil itu?” tanya Helena.

“Metadata yang tersisa.”

Victor tertawa pendek. “Atau kamu tahu karena kamu yang ngunggahnya.”

Ruangan langsung sunyi.

Clara menoleh kepadanya. “Victor.”

“Apa? Dia ngaku kerja di bidang IT. Dia ada di kantor pagi ini. Dia juga lihat laporan sebelum rapat.”

Aku memandang Victor. “Kalau aku yang bocorin, aku nggak bakal ninggalin metadata.”

“Mungkin kamu sengaja ninggalinnya.”

“Berarti aku bodoh.”

“Bisa aja.”

“Kemungkinannya kecil.”

Clara menatapku tajam. “Al.”

“Aku cuma jawab.”

Victor membuka laptopnya. “Log akses nunjukin ada perangkat baru yang buka folder laporan pada pukul sembilan lewat empat puluh.”

Aku melihat layar itu. “Nama perangkatnya?”

“AL-GUEST.”

Helena menatapku.

Aku menarik napas. “Aku makai Wi-Fi tamu di kantor.”

“Jadi emang perangkatmu,” kata Victor.

“Nama perangkat bisa diubah.”

“Tapi tetap perangkatmu.”

“Belum tentu.”

Clara mengambil laptop dari tangan Victor. “Bisa dibuktikan?”

“Bisa.”

Aku mengambil kursi dan duduk di depan komputer. Clara berdiri di sampingku. Aku membuka log koneksi yang tersedia, lalu mencari waktu akses perangkat tersebut.

Alamat perangkatnya memang sama dengan laptopku, tetapi ada satu bagian yang tidak cocok. Perangkat yang dipakai untuk membuka folder menggunakan sistem operasi berbeda.

“Ini bukan laptopku,” kataku.

Victor mendekat. “Bagaimana kamu tahu?”

“Laptopku makai sistem lain.”

“Bisa aja kamu makai perangkat kedua.”

“Aku cuma bawa satu laptop.”

“Kamu berharap kami percaya gitu aja?”

Aku berdiri. “Nggak.”

“Bagus.”

“Aku juga nggak butuh kalian percaya sekarang.”

Clara menatapku. “Terus kamu mau apa?”

“Putuskan akses semua perangkat dari jaringan. Jangan hapus log. Salin dulu, terus simpan di tempat yang nggak terhubung ke internet.”

“Kamu ngasih perintah di rumahku?” tanya Victor.

“Aku ngasih saran.”

“Nggak ada yang minta.”

“Kalau gitu abaikan.”

Aku berbalik meninggalkan ruangan.

Di lorong, aku mendengar Victor berkata bahwa Helena terlalu mudah mempercayai orang asing. Aku tidak berhenti.

Malamnya, suasana rumah berubah. Clara tidak lagi menyuruhku pergi, tetapi juga tidak menatapku seperti sebelumnya. Eve beberapa kali hendak bertanya sesuatu, lalu membatalkannya. Agnes bahkan tidak muncul di dekat kamarku.

Aku sedang bekerja ketika pintu diketuk.

Clara berdiri di sana.

“Boleh masuk?”

“Kamu udah masuk.”

Dia menatapku. “Aku mau minta maaf.”

“Buat apa?”

“Karena Victor nuduh kamu.”

“Dia emang begitu.”

“Kamu nggak marah?”

“Aku malas.”

“Kamu selalu bilang malas.”

“Karena emang sering.”

Clara masuk dan menutup pintu. “Tim keamanan nemu perangkat yang makai identitas laptopmu, tapi alamat fisiknya berbeda.”

“Berarti?”

“Ada orang yang niru identitas perangkatmu.”

“Aku tahu.”

“Kamu bisa bantu nyari siapa?”

“Bisa.”

Clara diam.

“Tapi?” tanyanya.

“Aku nggak punya akses resmi.”

“Kalau aku ngasihnya?”

“Aku perlu izin Helena dan tim keamanan.”

“Kamu nggak bakal nyalahgunain akses itu?”

Aku menatapnya. “Kalau aku mau, aku udah bisa ngambil lebih banyak daripada laporan penjualan.”

Wajah Clara menegang.

“Itu bukan ancaman,” lanjutku. “Itu alasan kenapa akses nggak cukup buat buktiin seseorang bersalah.”

Dia menunduk. “Oke. Aku bakal urus izinnya.”

“Jangan cari orangnya cuma dari nama perangkat.”

“Kenapa?”

“Karena dia sengaja bikin keliatan kayak aku.”

Clara mengangkat wajah. “Kamu udah tahu itu sejak awal?”

“Aku curiga.”

“Kenapa nggak bilang?”

“Kamu nggak nanya.”

Clara memejamkan mata sebentar. “Kamu nyebelin.”

“Aku tahu.”

Dia hampir tersenyum, tetapi buru-buru menahannya.

Sebelum keluar, Clara berhenti di ambang pintu.

“Al.”

“Hm?”

“Jangan pergi dulu.”

Aku menatapnya.

“Maksudku, dari rumah ini,” katanya. “Sampai masalah ini selesai.”

Aku bersandar ke kursi. “Aku belum berencana pergi.”

“Padahal aku udah ngasih kamu waktu seminggu.”

“Waktunya belum habis.”

Clara mengangguk kecil lalu pergi.

Aku kembali menatap layar laptop. Di luar kamar, rumah itu masih ramai dengan suara orang-orang yang mulai saling mencurigai.

Aku membuka kembali salinan log yang sempat kusimpan sebelum keluar dari ruang kerja. Perangkat yang meniru laptopku tidak hanya mengambil laporan penjualan. Ia juga mencoba membuka folder kontrak lama, tetapi gagal karena izin aksesnya berbeda.

Seseorang sedang mencari sesuatu yang lebih besar daripada angka penjualan.

Ponselku bergetar sekali lagi. Kali ini tidak ada nama pengirim.

Jangan ikut campur.

Aku menghapus pesan itu tanpa membalas. Ancaman biasanya dibuat untuk mendapatkan reaksi. Aku tidak ingin memberi apa yang mereka cari.

Untuk pertama kalinya sejak datang, aku merasa masalah di rumah ini bukan cuma urusan uang dan pernikahan.

Ada seseorang yang sengaja ingin membuat keluargaku terlihat bersalah.