← Tiga Putri Jatuh Cinta

Chapter Twenty Five

Serangan terhadap Aegis

POV: Al

Pesan dari Mikael hanya terdiri dari tiga kata, tetapi cukup untuk membuat seluruh tubuhku menegang.

We have a problem.

Aku meninggalkan ruang keluarga tanpa menjelaskan apa pun.

Clara langsung menyadarinya. “Ada apa?”

“Pekerjaan.”

“Pekerjaan apa?”

“Aku perlu ruangan tenang.”

Aku naik ke kamar dan mengunci pintu. Laptop utama tidak cukup aman untuk digunakan. Aku mengambil perangkat cadangan dari bagian bawah lemari, menyalakannya, lalu menghubungkan saluran komunikasi yang hanya kupakai untuk keadaan darurat.

Mikael muncul melalui panggilan video. Wajahnya terlihat serius.

“Berapa luas serangannya?” tanyaku.

“Tiga node utama terkena. Mereka nggak nyoba nyuri aset.”

“Terus?”

“Mereka nyoba ngambil struktur inti Aegis.”

Aku melihat data yang dia kirim. Serangan itu tidak bekerja seperti pencurian biasa. Seseorang memasukkan kode kecil ke dalam sistem, membiarkannya berjalan perlahan, lalu menunggu sampai sistem membuka akses yang lebih besar.

“Ini bukan kelompok amatir,” kataku.

“Kami tahu.”

“Mereka makai pola yang sama dengan perangkat palsu di perusahaan Wijaya.”

Mikael mengangguk. “Kami juga lihat kemiripan.”

Aku membuka dua layar sekaligus. Di satu sisi, jaringan Aegis berusaha menahan serangan. Di sisi lain, aku melihat log dari sistem perusahaan Helena yang dikirim Clara beberapa jam sebelumnya.

Polanya sama.

Seseorang sedang menggunakan perusahaan Wijaya sebagai pintu masuk menuju Aegis.

“Putuskan semua koneksi dari node Indonesia,” kataku.

“Itu bakal ganggu transaksi.”

“Lebih baik terganggu daripada diambil alih.”

“Kalau kita mutus jaringan, mereka bakal tahu kita sadar.”

“Mereka udah tahu.”

Mikael menghela napas. “Kamu yakin mau ngambil alih sendiri?”

“Nggak ada orang lain yang paham inti sistemnya.”

“Itulah masalahnya. Kalau identitasmu terbuka, semua perusahaan yang makai algoritmamu bakal nyari kamu.”

“Mereka udah nyari.”

Aku mulai menulis ulang beberapa jalur akses. Serangan itu mencoba meniru pola keamanan lama, tetapi orang yang membuatnya tidak memahami alasan di balik desain Aegis. Dia hanya menyalin hasil akhirnya.

Aku bisa menghentikannya.

Tapi kalau aku melakukannya dari jaringan rumah, jejakku akan terlihat.

Pintu kamarku diketuk.

Aku tidak menjawab.

Ketukan kedua terdengar.

“Al, ini aku,” kata Clara.

Aku mematikan kamera laptop. “Tunggu.”

Aku menyimpan layar utama, lalu membuka dokumen kosong.

Clara masuk setelah aku membuka pintu. “Kamu kenapa?”

“Nggak apa-apa.”

“Kamu ninggalin ruang keluarga kayak baru lihat mayat.”

“Aku dapet masalah pekerjaan.”

“Masalah kayak apa?”

“Masalah teknis.”

Clara melihat dua laptop di meja. “Kamu punya dua laptop?”

“Iya.”

“Sejak kapan?”

“Udah lama.”

“Kenapa nggak pernah keliatan?”

“Aku nyimpennya.”

“Itu bukan jawaban.”

“Tapi benar.”

Clara mendekat. “Apa yang lagi kamu kerjakan?”

Aku menatapnya. “Aku belum bisa jelasin.”

“Kita udah sepakat nggak ada rahasia.”

“Kita sepakat soal hubungan kita.”

“Aku nggak mau ngebedain.”

Aku berdiri. “Clara, ada sesuatu yang lagi terjadi di luar. Kalau aku salah langkah, perusahaan Helena bisa terkena dampaknya.”

Wajahnya berubah. “Victor?”

“Mungkin.”

“Kamu punya bukti?”

“Belum cukup.”

“Terus kenapa kamu nggak ngasih tahu aku?”

“Karena aku lagi mastiin.”

Clara menatap laptop yang layarnya sudah kumatikan. “Kamu selalu ngelakuin ini.”

“Ngelakuin apa?”

“Mutusin sendiri apa yang boleh diketahui orang lain.”

“Karena nggak semua orang perlu terlibat.”

“Aku terlibat.”

“Nggak dalam pekerjaan ini.”

“Kalau pekerjaanmu ngebahayain perusahaan keluargaku, aku terlibat.”

Aku diam.

Clara mengambil napas, lalu suaranya melembut. “Al, kami nggak minta kamu nyerahin semua rahasiamu. Tapi jangan bikin kami berdiri di luar ketika kamu lagi ngadepin sesuatu yang besar.”

Aku menatap wajahnya.

Beberapa bulan lalu, aku pasti akan menyuruhnya pergi. Sekarang, kalimat itu terasa lebih sulit.

“Aku butuh waktu,” kataku.

“Berapa lama?”

“Nggak tahu.”

“Jawabanmu nyebelin.”

“Aku tahu.”

Clara menyentuh tanganku. “Kalau kamu butuh bantuan, bilang.”

“Aku bakal bilang.”

“Jangan cuma berjanji.”

Aku mengangguk.

Dia pergi setelah beberapa detik, tetapi tidak menutup pintu sepenuhnya.

Aku kembali ke laptop. Mikael masih menunggu.

“Keluargamu?” tanyanya.

“Salah satunya.”

“Kamu kedengeran lebih takut ngadepin mereka daripada serangan ini.”

“Serangan ini bisa dihentiin.”

“Mereka nggak?”

Aku tidak menjawab.

Aegis bukan sekadar perusahaan. Ia adalah nama yang dipakai untuk jaringan lisensi algoritma yang kubangun sejak masih kuliah. Semua orang mengenal patennya, tetapi hampir tidak ada yang tahu siapa pemilik rancangan awalnya. Di dunia maya, orang-orang memanggilku Zero. Di dunia nyata, aku hanya Algo yang ingin dibayar tepat waktu dan tidak ditanya terlalu banyak.

“Amankan mereka. Jangan biarkan siapa aja pulang sendirian.”

“Termasuk kamu?”

“Aku bisa jagain diri.”

“Itu bukan jawaban yang bikin aku tenang.”

Aku menatap layar. “Jangan buang waktu buat merasa tenang.”

Mikael mendengus. “Kamu masih nyebelin sebagai Zero.”

“Kamu masih terlalu banyak ngomong.”

Aku membuka rekaman lalu lintas jaringan. Ada jeda tujuh belas detik sebelum serangan berpindah node. Jeda itu bukan kesalahan. Seseorang sedang menunggu konfirmasi dari pihak lain.

Aku mengambil ponsel dan mengirim pesan kepada Clara, tanpa menjelaskan identitas siapa pun.

“Kirim semua laporan perangkat asing yang muncul di jaringan kantor dalam tujuh hari terakhir. Jangan lewat email perusahaan.”

Balasannya datang kurang dari satu menit kemudian.

“Kamu akhirnya mau nerima bantuan?”

“Aku nerima data.”

“Tetap aja bantuan.”

Aku hampir tersenyum. Clara mengirimkan berkas terenkripsi. Di dalamnya ada daftar perangkat yang masuk ke sistem keamanan perusahaan Wijaya. Salah satu alamat terhubung dengan vendor lama yang sudah dinyatakan bangkrut.

“Mikael, cocokin nama vendor ini sama jalur serangan.”

“Udah. Ada hubungan sama perusahaan keamanan yang kerja buat grup asing.”

“Berarti seseorang bayar mereka.”

“Atau makai mereka tanpa sepengetahuan.”

Aku membaca ulang daftar itu. Kalau jaringan perusahaan Wijaya memang dipakai sebagai pintu masuk, serangan berikutnya tidak akan berhenti di Aegis. Mereka bisa mengakses dokumen keuangan, data karyawan, bahkan rumah pribadi keluarga.

Aku mengaktifkan lapisan isolasi tambahan. Semua perangkat di rumah akan kehilangan koneksi selama beberapa menit, tetapi itu lebih aman daripada membiarkan penyerang memetakan jaringan.

Dari luar kamar, terdengar Eve mengeluh karena internet mati.

“Al!” teriaknya. “Kalau ini ulahmu, aku bakal nagih kompensasi!”

Aku memejamkan mata.

Mikael tertawa pendek. “Keluargamu tahu cara milih waktu.”

“Diam.”

Aku membuka pintu sedikit. Eve berdiri di lorong bersama Agnes, sementara Clara berada beberapa langkah di belakang mereka.

“Internet mati,” kata Eve.

“Sementara.”

Agnes menatap wajahku. “Kamu pucat.”

“Aku baik-baik aja.”

Clara tidak membantah. Dia hanya mengangkat ponselnya. “Aku nemu sesuatu dari laporan kantor.”

“Nanti.”

“Sekarang.”

Nada suaranya membuatku berhenti.

Aku membiarkan mereka masuk, tetapi menutup laptop utama dengan telapak tangan. Aku belum siap memperlihatkan semuanya. Namun kali ini, aku juga tidak ingin mengusir mereka.

“Aku belum bisa jelasin semua,” kataku. “Tapi ada orang yang nyoba makai jaringan perusahaan kalian buat nyerang sistem yang lagi kujaga.”

Eve menelan ludah. “Sistem apa?”

“Belum penting buat kalian ketahui.”

Clara menyilangkan tangan. “Kalimat itu bakal bikin kami marah.”

“Aku tahu.”

“Tapi kamu tetap ngomonginnya.”

“Karena aku belum punya cara aman buat jelasin.”

Agnes mendekat. “Apa kami dalam bahaya?”

Aku menatap mereka bertiga. Itulah pertanyaan yang paling ingin kuhindari.

“Aku belum tahu,” jawabku jujur. “Karena itu mulai sekarang, jangan buka pintu buat orang yang nggak dikenal. Jangan ngirim lokasi rumah. Dan kalau aku minta kalian pergi ke tempat aman, jangan berdebat.”

Eve memucat, tetapi tetap mencoba bercanda. “Kalau aku berdebat sedikit?”

“Aku bakal ngangkat kamu.”

“Kamu berani?”

“Sangat.”

Tidak ada yang tertawa kali ini.

Clara menyentuh lenganku. “Kamu nggak sendirian.”

Aku ingin menyangkalnya, tetapi kata-kata itu tidak keluar. Untuk pertama kalinya sejak serangan dimulai, aku membiarkan mereka berdiri di sisiku meski hanya dalam bentuk yang terbatas.

Serangan memasuki fase kedua. Sistem mengirimkan pola baru. Aku mengenali potongan kode yang digunakan untuk melewati salah satu lapisan keamanan Aegis.

Kode itu pernah kubagikan kepada tim riset tiga tahun lalu.

Seseorang dari lingkaran lama telah menjualnya.

“Mikael,” kataku. “Aktifkan protokol gelap.”

Dia terlihat ragu. “Kalau protokol itu aktif, identitasmu bisa terlacak.”

“Aku tahu.”

“Zero.”

“Lakukan.”

Layar berubah hitam selama beberapa detik. Kemudian semua jalur serangan mulai terputus satu per satu.

Sistem berhasil diamankan, tetapi satu pesan muncul di tengah layar.

We know where you live.

Aku menatap kalimat itu tanpa berkedip.

Mikael memanggil namaku, tetapi aku tidak menjawab.

Di luar kamar, terdengar suara Eve dan Agnes sedang berbicara. Clara mungkin masih berdiri di lorong. Damar dan Helena berada di lantai bawah.

Semua orang yang ingin kujaga berada di rumah yang sama.

Dan seseorang baru saja memberitahuku bahwa mereka tahu tempat tinggal kami.