← Tiga Putri Jatuh Cinta

Chapter Eighteen

Satu Tahun Pernikahan

POV: Al

Satu tahun pernikahan Helena dan ayah jatuh pada hari Senin.

Aku tahu karena Helena mengingatkanku saat sarapan.

“Hari ini tepat satu tahun,” katanya.

Aku sedang mengoleskan selai ke roti. “Selamat?”

“Terserah.”

“Kalian mau ngerayain?”

Damar menatap Helena. “Kita bisa makan di rumah.”

“Aku nggak mau pesta,” kata Helena.

Clara meletakkan cangkirnya. “Memangnya ada yang mau pesta?”

Eve mengangkat tangan. “Aku.”

“Kamu selalu mau pesta.”

“Karena pesta lebih nyenengin daripada rapat keluarga.”

Agnes tidak ikut bicara. Dia memeriksa laptopnya sambil makan cepat.

Aku meliriknya. Sejak pengakuannya, dia menjaga jarak dengan sangat rapi. Tidak ada lagi permintaan bantuan. Tidak ada lagi pesan singkat tentang proyek.

Aku tidak tahu apakah itu membuat keadaan lebih mudah atau justru lebih buruk.

Setelah sarapan, Helena dan Damar pergi ke kantor pengacara. Aku tidak bertanya banyak. Aku sudah tahu bahwa pernikahan mereka memiliki batas waktu yang harus dipenuhi untuk melindungi saham Helena.

Yang tidak kuketahui adalah apa yang akan terjadi setelah batas itu selesai.

Malamnya, mereka mengumpulkan kami di ruang keluarga.

Helena duduk di samping Damar. Tangannya menggenggam tangan ayahku, dan untuk beberapa saat mereka tidak terlihat seperti pasangan yang sedang membicarakan perceraian.

“Secara hukum, syarat pernikahan udah terpenuhi,” kata Helena.

Eve langsung menatap ibunya. “Jadi?”

“Jadi kami bakal batalin pernikahan ini.”

Agnes menunduk. Clara tidak terlihat terkejut, tetapi jarinya berhenti bergerak di atas tablet.

Aku melihat ayah.

Dia terlihat tenang, meskipun aku tahu terlalu banyak hal sedang terjadi di kepalanya.

“Kapan?” tanyaku.

“Minggu ini,” jawab Damar.

Eve berdiri. “Tunggu. Kalian benar-benar bakal bercerai?”

Helena menatapnya. “Kami nikah karena kesepakatan. Kesepakatannya udah selesai.”

“Tapi kalian keliatan kayak pasangan sungguhan.”

Damar dan Helena saling pandang.

Ada keheningan yang lebih jelas daripada jawaban apa pun.

“Kalian saling cinta,” kata Clara pelan.

Helena tersenyum, tetapi matanya terlihat basah. “Itu nggak ngubah alasan kami nikah.”

“Bisa aja kalian nggak bercerai,” kata Eve.

“Bisa,” jawab Damar. “Tapi kami mau tahu apakah kami masih bakal milih satu sama lain setelah nggak ada kewajiban.”

Aku menatap ayah. “Ayah mau bercerai?”

Damar menghela napas. “Ayah mau Helena bebas milih.”

“Terus kalau pilihannya bukan Ayah?”

Damar tersenyum kecil. “Berarti Ayah harus nerima.”

Aku tidak suka jawaban itu.

Helena memegang tangannya lebih erat. “Aku nggak nikah samamu selama satu tahun cuma karena kontrak.”

Damar menatapnya. “Aku tahu.”

“Aku milih kamu sebelum kontraknya selesai.”

Ruangan menjadi sangat sunyi.

Eve menutup wajah dengan kedua tangan. “Kenapa orang tua selalu lebih romantis daripada anak-anaknya?”

Agnes berdiri dan pergi tanpa mengatakan apa-apa.

Aku ingin mengikutinya, tetapi Clara menahanku dengan tatapan.

Sebelum itu, Helena memintaku menemaninya berjalan di taman.

“Kamu marah?” tanyanya.

“Nggak.”

“Kamu keliatan kayak lagi ngitung semua kemungkinan buruk.”

“Itu kebiasaan.”

“Karena perceraian kami?”

“Karena semua orang bakal berubah setelah ini.”

Helena berhenti di dekat kolam kecil. “Aku nggak bakal ngusir kamu.”

“Aku tahu.”

“Damar juga nggak mau kamu pergi.”

“Aku tahu.”

“Tapi kamu tetap takut kehilangan tempat.”

Aku tidak menjawab.

Helena tersenyum lembut. “Al, aku nikah sama ayahmu karena aku percaya sama dia. Aku nerima kamu di rumah ini karena aku mau kenal orang yang paling dia sayangi.”

“Aku nggak mudah dikenalin.”

“Nggak apa-apa. Aku nggak lagi terburu-buru.”

Aku memandang air kolam yang bergerak pelan.

“Kalau kalian nggak lagi nikah, aku nggak tahu harus manggil kamu apa.”

“Panggil Helena.”

“Aku udah ngelakuinnya.”

“Kalau gitu nggak ada yang berubah.”

Setelah berjalan bersama Helena, aku kembali ke ruang keluarga. Eve sedang menghias kue kecil yang dibeli dari toko, sementara Clara menyiapkan teh. Agnes duduk di sudut sofa dan pura-pura membaca.

“Kita makan kue?” tanya Eve.

“Itu kue perayaan atau perpisahan?” tanyaku.

“Dua-duanya bisa.”

Clara menatapnya. “Jangan bikin suasana semakin berat.”

“Aku lagi berusaha bikin ringan.”

Helena dan Damar duduk berdampingan. Mereka tidak terlihat sedih, tetapi ada kecemasan yang tidak bisa disembunyikan.

“Kalau nanti kalian berubah pikiran, nggak ada yang bakal maksa,” kata Clara.

Damar mengangguk. “Itu alasan kami nunggu satu tahun.”

“Nunggu apa?” tanya Agnes.

“Nunggu sampai kami bisa milih tanpa tekanan.”

Helena melihat ketiga putrinya. “Kalian juga harus belajar milih tanpa tekanan keluarga.”

Aku melirik Agnes. Dia menunduk, lalu menggigit ujung garpu.

Eve memotong kue menjadi beberapa bagian. Potongannya tidak sama besar, dan Clara langsung memprotes.

“Kenapa punyaku paling kecil?”

“Karena kamu paling banyak ngeluh.”

“Itu bukan aturan.”

“Sekarang jadi aturan.”

Damar tertawa. Helena ikut tertawa. Aku mengambil potongan yang paling kecil sebelum Clara sempat mengambilnya.

“Al,” katanya.

“Aku nggak ngeluh.”

“Kamu juga nggak dapet bagian paling besar.”

“Aku nggak minta.”

Agnes diam-diam mendorong potongan kuenya ke arahku.

“Ambil,” katanya pelan.

Aku menatapnya. “Kamu nggak suka?”

“Aku udah kenyang.”

Dia jelas belum menyentuhnya.

Aku tidak membantah. Aku hanya mengambilnya dan mengangguk.

Jawaban itu sederhana. Mungkin karena itu terasa masuk akal.

Malam itu, aku duduk di teras bersama ayah.

“Kamu kecewa?” tanyanya.

“Nggak.”

“Kamu selalu jawab terlalu cepat kalau lagi kecewa.”

Aku menatap halaman. “Aku cuma nggak tahu apa yang harus dilakuin setelah ini.”

“Kamu bisa kembali ke rumah lama.”

“Aku tahu.”

“Atau tinggal di sini.”

“Mereka bukan lagi keluargaku secara hukum.”

Damar menatapku. “Sejak kapan keluarga cuma ditentuin hukum?”

Aku tidak menjawab.

“Al, kamu nggak perlu pergi cuma karena pernikahan Ayah selesai.”

“Tapi semuanya bakal berubah.”

“Emang.”

“Agnes udah ngomong dia suka sama aku.”

Damar terdiam.

“Aku nolaknya,” lanjutku. “Karena kalian masih nikah.”

“Kamu ngelakuin hal yang benar.”

“Kalau setelah kalian bercerai dia masih merasa begitu?”

Damar memandangku lama. “Jangan ngambil keputusan cuma karena merasa bertanggung jawab atas perasaan orang lain.”

“Aku nggak mau nyakitinnya.”

“Kamu juga nggak boleh berbohong sama dia.”

Aku menunduk.

Di dalam rumah, terdengar Eve memanggil Clara. Agnes masih tidak terlihat.

“Ayah,” kataku, “kalau Helena milih Ayah setelah semua ini, apakah Ayah bakal nikah lagi?”

Damar tersenyum. “Kamu udah nyiapin pidato?”

“Aku cuma nanya.”

“Kalau dia milih Ayah, Ayah bakal nanya apakah dia benar-benar yakin.”

“Kenapa?”

“Karena kali ini, nggak boleh ada alasan lain.”

Aku melihat ayah dan Helena dari balik kaca. Mereka berbicara pelan di ruang keluarga, sesekali tertawa kecil.

Pernikahan mereka mungkin dimulai sebagai kesepakatan.

Tapi malam itu, aku sadar keduanya sudah terlanjur menjadi rumah bagi satu sama lain.

Masalahnya, aku tidak tahu apakah aku masih punya tempat di rumah itu setelah semua kesepakatan selesai.