Chapter Thirty Five
Pilihan yang Tidak Bisa Dibalik
POV: Al
Penyelidikan berlangsung selama hampir tiga minggu.
Victor ditahan. Raka ditangkap ketika mencoba keluar melalui perbatasan. North Vale kehilangan izin operasional di beberapa negara. Perusahaan-perusahaan yang memakai Aegis mulai mengaktifkan kembali sistem mereka secara bertahap.
Kabar baik datang satu per satu.
Namun kabar baik tidak selalu membuat rumah terasa ringan.
Media masih berada di depan gerbang. Beberapa orang mengirim surat. Ada yang meminta wawancara, ada yang menawarkan kerja sama, dan ada yang menulis pesan seolah mereka mengenalku lebih baik daripada diriku sendiri.
Aku mulai jarang keluar.
“Al,” kata Eve suatu pagi, “kamu udah tiga hari nggak beli mi.”
“Aku lagi kerja.”
“Kamu kerja di rumah.”
“Aku bisa masak.”
“Kamu bikin telur gosong kemarin.”
“Itu bukan gosong. Itu terlalu matang.”
Clara masuk membawa map.
“Pengacara selesai meriksa tawaran mediasi,” katanya.
“Aku nggak mau mediasi sama North Vale.”
“Mereka nawarin pengembalian sebagian aset sebagai imbalan agar kamu nggak buka semua jaringan mereka.”
“Nggak.”
“Aku tahu. Aku cuma ngasih tahu.”
Agnes muncul dari belakangnya.
“Terus ada kabar lain,” katanya.
“Apa?”
“Publikasi teknis Aegis udah diterima oleh tiga jurnal keamanan.”
Aku menatapnya.
“Algoritmamu bakal dicek oleh peneliti independen,” lanjut Agnes. “Kalau hasilnya terbukti, klaim North Vale bakal runtuh sepenuhnya.”
“Bagus.”
“Kenapa kamu keliatan kayak baru denger kabar buruk?”
“Karena setelah itu semua orang bakal semakin tahu.”
Eve duduk di meja.
“Kamu nggak bisa balikin nama Zero ke dalam kotak.”
“Aku tahu.”
“Kalau tahu, berhenti bertingkah kayak kamu masih punya pilihan itu.”
Aku menatapnya.
Dia tidak mundur.
“Dulu kamu nyembunyiin diri karena mau hidup tenang,” katanya. “Sekarang kamu mau bersembunyi karena takut kami ikut terkena dampaknya. Tapi kami udah terkena dampaknya. Kami milih tetap tinggal.”
Clara meletakkan map di meja.
“Terus jangan nganggep kami tinggal karena nggak punya pilihan,” katanya. “Aku bisa pergi kapan aja.”
“Aku tahu.”
“Agnes juga bisa.”
“Aku tahu.”
“Eve bahkan mungkin bakal bikin pengumuman publik kalau kamu nyoba ngusir kami.”
“Pasti,” kata Eve.
Aku menghela napas.
“Aku nggak mau kehilangan kalian.”
“Kalau gitu jangan ngejauh sebelum kehilangan itu benar-benar terjadi,” kata Agnes.
Kalimat itu membuatku diam cukup lama.
Malamnya, aku menerima undangan dari universitas lama tempat aku mengembangkan algoritma pertama.
Mereka ingin mengadakan kuliah umum.
Judulnya: Teknologi, Anonimitas, dan Tanggung Jawab.
Aku hampir menolak.
Namun Clara membaca undangan itu dan berkata, “Kamu harus pergi.”
“Kenapa?”
“Karena itu tempat semuanya dimulai.”
“Aku nggak mau ngebahas masa terus.”
“Bukan buat ngebahas masa terus. Buat balikin kendali atas ceritamu.”
Eve langsung menyukai ide itu.
Agnes membantu menyiapkan materi.
Kami pergi tiga hari kemudian.
Kampus terlihat lebih kecil daripada yang kuingat. Gedung laboratorium masih memiliki cat tembok yang sama. Tangga di belakang perpustakaan masih menjadi tempat mahasiswa menyimpan sepeda. Di sudut lantai tiga, ada ruangan kecil tempat aku pertama kali menulis kode Aegis.
Aku berdiri di depan pintunya.
“Kamu sering berada di sini?” tanya Eve.
“Dulu.”
“Sendirian?”
“Sering.”
Clara menyentuh gagang pintu. “Boleh masuk?”
Aku mengangguk.
Ruangan itu hampir kosong. Hanya ada meja tua dan jendela yang menghadap lapangan.
“Aku ngebangun versi pertama Aegis di sini,” kataku. “Komputernya sering mati. Internetnya lambat. Aku pernah nggak tidur tiga hari karena satu fungsi nggak mau jalan.”
Agnes memandangku. “Kamu nggak punya tim?”
“Ada. Tapi sebagian besar pergi setelah proyek mulai keliatan sulit.”
“Terus kamu tetap lanjut,” kata Clara.
“Aku nggak tahu cara berhenti.”
Eve menatapku. “Sekarang kamu harus belajar.”
Aku tersenyum.
Kuliah umum penuh. Mahasiswa memenuhi aula. Banyak yang datang bukan hanya untuk teknologi, tetapi untuk melihat orang di balik nama Zero.
Aku berdiri di panggung.
Pertanyaan pertama tentang algoritma.
Pertanyaan kedua tentang keamanan.
Pertanyaan ketiga tentang kekayaan.
Pertanyaan keempat tentang mengapa aku menyembunyikan diri.
Aku menjawab semuanya sejujurnya.
Lalu seorang mahasiswa mengangkat tangan.
“Kalau Anda bisa kembali ke awal, apakah Anda bakal tetap milih anonim?”
Aku memandang tiga perempuan yang duduk di baris depan.
“Ya,” jawabku. “Pada saat itu, anonimitas lindungi pekerjaan saya. Tapi saya nggak bakal lagi nganggep nyembunyiin diri sebagai satu-satunya cara buat hidup aman.”
“Apa yang berubah?”
“Aku bertemu orang-orang yang bikin aku ngerti bahwa perlindungan nggak selalu berarti sendirian.”
Aula menjadi hening.
“Apakah Anda nyesel identitas Anda terbuka?”
“Nggak.”
“Kenapa?”
“Karena sekarang saya bisa milih siapa yang berdiri di samping saya.”
Aku menyelesaikan kuliah tanpa menyebut hubungan kami secara detail.
Namun setelah turun dari panggung, Eve memelukku di depan banyak orang.
“Bagus,” katanya. “Kamu hampir kedengeran menarik.”
Clara menyentuh lenganku. “Kamu tadi jujur.”
Agnes tersenyum. “Terus nggak ada yang pingsan.”
Kami berjalan keluar gedung bersama.
Di halaman, beberapa wartawan menunggu. Salah satu dari mereka bertanya, “Apakah tiga perempuan itu pasangan Anda?”
Aku bisa saja menghindar.
Namun kali ini, aku tidak ingin mereka dijadikan gosip tanpa suara.
Aku menggenggam tangan Clara. Eve berdiri di sisi kananku. Agnes di sisi kiri.
“Mereka adalah orang-orang yang saya cintai,” jawabku.
Pertanyaan langsung meledak.
“Apakah hubungan Anda terbuka?”
“Apakah mereka setuju?”
“Apakah ini legal?”
Aku mengangkat tangan.
“Hubungan pribadi kami nggak bakal kami jadikan tontonan. Kami udah dewasa, kami saling nyetujuin, dan kami paham batas hukum serta keluarga. Cukup sampai di situ.”
Clara menatapku.
Eve tersenyum lebar.
Agnes memegang tanganku lebih erat.
Kami masuk ke mobil tanpa menjawab pertanyaan tambahan.
Di dalam, tidak ada yang bicara selama beberapa detik.
“Jadi kamu benar-benar ngomonginnya,” kata Eve.
“Aku nggak mau orang lain bikin keputusan tentang kita.”
Clara menyentuh bahuku. “Kamu tahu ini bakal sulit.”
“Iya.”
“Orang bakal ngomong.”
“Iya.”
“Orang bakal nilai.”
“Iya.”
Agnes menatapku. “Terus kamu tetap milihnya?”
Aku melihat mereka bertiga.
“Aku milih kalian.”
Eve langsung mencium pipiku.
Clara mencium bibirku dengan tenang.
Agnes tertawa malu ketika aku menariknya mendekat.
Di luar mobil, dunia mungkin sedang membuat kesimpulan sendiri.
Di dalam, kami sudah membuat keputusan.
Di rumah, Damar menungguku di ruang kerja.
“Boleh ngomong?” tanyanya.
“Boleh.”
“Dulu aku pikir kalau aku bawa kamu tinggal di rumah, kamu bakal punya tempat yang lebih aman.”
“Aku nggak pernah nyalahin kamu.”
“Aku tahu. Itu yang bikin lebih buruk.”
Aku memandangnya.
“Kamu nggak bisa lindungi semua orang sama bikin mereka nggak tahu apa-apa,” kataku.
Dia mengangguk. “Helena ngomong hal yang sama.”
“Dia benar.”
“Aku mau kamu tetap nganggep rumah ini sebagai rumahmu.”
“Aku pernah nganggep tempat persinggahan.”
“Sekarang?”
“Aku lagi belajar nganggep tempat pulang.”
Di ruang makan, Helena, Clara, Eve, dan Agnes sedang membahas rumah baru. Mereka memilih tempat seolah masa depan adalah sesuatu yang boleh direncanakan.
Helena bertanya, “Kamu mau kamar deket taman atau ruang kerja?”
Aku tertawa. “Kalian udah nyari rumah?”
“Eve nemu enam pilihan,” jawab Clara.
“Aku nggak minta rumah.”
“Bukan buat menuhin permintaanmu,” kata Agnes. “Buat menuhin kebutuhan kita.”
Malam semakin larut. Aku membuka laporan aset dan melihat sebagian kontrak yang hilang setelah pemadaman Aegis. Jumlahnya besar, tetapi tidak ada angka yang membuatku menyesal.
Clara muncul di pintu.
“Matikan laptop.”
“Aku belum selesai.”
“Kamu mau kabur ke angka.”
Dia benar.
Aku menutup laptop.
“Aku takut ketika semua masalah selesai, kalian nyadar bahwa aku nggak semenarik itu,” kataku.
Clara menatapku. “Kami tinggal ketika kamu kehilangan kendali. Kami tinggal ketika kamu buka rekening dan identitasmu. Kami tinggal ketika kamu jadi nyebelin, takut, dan keras kepala.”
“Jadi?”
“Kamu nggak punya alasan buat nganggep kami cuma suka sama versi sempurnamu.”
Dia menciumku. Ciuman itu dalam dan membuat dadaku terasa longgar.
Setelah Clara pergi, Eve mengirim pesan.
Besok rapat tentang kamar. Aku mau jendela besar.
Agnes menyusul.
Aku mau ruangan yang tidak dekat sumber suara.
Clara mengirim pesan terakhir.
Aku mau kamu tidak menghilang tanpa kabar.
Aku membalas semuanya.
Aku tidak akan pergi.
Itu bukan janji bahwa hidup kami selalu mudah. Itu keputusan untuk berhenti melarikan diri setiap kali sesuatu menjadi rumit.
Dan untuk pertama kalinya, aku tahu keputusan itu benar.
Malam itu, aku kembali ke rumah dengan perasaan yang berbeda.
Untuk pertama kalinya, identitas Zero bukan lagi bayangan yang mengikuti Algo Djikstra.
Keduanya berjalan bersama.
Dan aku tidak perlu memilih salah satunya.
- 1 Bab 1 — Pernikahan Ayahku
- 2 Tiga Putri dan Satu Meja
- 3 Perjanjian Anti-Pewaris
- 4 Kamar Tamu dan Kamera Tersembunyi
- 5 Pria Biasa di Ruang Direksi
- 6 Kebocoran Pertama
- 7 Masalah Clara
- 8 Skandal Eve
- 9 Proyek Agnes
- 10 Satu Payung untuk Tiga Orang
- 11 Makan Malam yang Hampir Damai
- 12 Pembelaan Pertama
- 13 Jam Dua Pagi
- 14 Eve Takut Sendirian
- 15 Agnes Mengatakan yang Tidak Seharusnya
- 16 Victor Mulai Bergerak
- 17 Nama yang Tidak Pernah Dicari
- 18 Satu Tahun Pernikahan
- 19 Status yang Berubah
- 20 Clara Mengajak Berkencan
- 21 Eve Tidak Lagi Bercanda
- 22 Agnes Memilih dengan Sadar
- 23 Clara Melepas Kendali
- 24 Tiga Pengakuan, Satu Keputusan
- 25 Serangan terhadap Aegis
- 26 Clara Menjadi Umpan
- 27 Eve Tidak Mau Diam
- 28 Agnes Menemukan Celah
- 29 Zero Terbuka
- 30 Rumah yang Diserang
- 31 Nama yang Keluar dari Bayangan
- 32 Clara Melawan Dewan
- 33 Agnes Membuka Kunci
- 34 Zero di Depan Dunia
- 35 Pilihan yang Tidak Bisa Dibalik reading
- 36 Tidak Sendirian Lagi