Chapter Twenty Nine
Zero Terbuka
POV: Al
Aku tidak pernah berniat memberitahu mereka dengan cara seperti ini.
Seharusnya aku memilih tempat yang tenang. Mungkin restoran kecil yang tidak memiliki kamera, atau ruang kerja yang pintunya bisa kukunci. Aku akan menjelaskan semuanya secara perlahan, memberi mereka waktu untuk marah, bertanya, dan pergi jika perlu.
Tapi rumah kami sudah diawasi.
Data center lama akan menjadi medan pertama yang benar-benar mempertemukan kami dengan orang-orang yang mencari Zero.
Aku tidak bisa lagi meminta mereka berdiri di sampingku tanpa mengetahui apa yang sebenarnya mereka hadapi.
Setelah Agnes menemukan lokasi server, aku meminta mereka berkumpul di ruang kerja.
Eve duduk di atas meja, Clara berdiri dengan tangan terlipat, dan Agnes membawa laptop yang sudah ditempeli tiga stiker kecil.
“Kalau ini rapat rahasia, aku minta makanan,” kata Eve.
“Ada biskuit,” jawabku.
“Kamu punya aset ratusan miliar, tapi stok makananmu biskuit?”
Aku menatapnya.
“Aku lagi nyoba nyairin suasana,” katanya.
“Nggak berhasil.”
Clara menatapku. “Katakan aja.”
Aku berdiri di depan mereka.
“Nama Zero bukan sekadar nama pengguna.”
Agnes menutup laptopnya.
“Kami udah nyangka,” katanya.
“Sejak kapan?”
“Sejak kamu benerin sistem keamanan perusahaan Mama dalam waktu satu malam,” kata Clara.
“Aku kira kalian nganggep aku cuma terlalu pintar.”
Eve mengangkat tangan. “Aku nganggep kamu nyebelin.”
“Itu juga benar.”
Aku menarik napas.
“Aku ngebangun algoritma inti Aegis ketika masih kuliah. Bukan sendirian, tapi rancangan utama berasal dariku. Algoritma itu dipakai buat ngamanin transaksi digital, nebak pola serangan, dan ngurangin kebutuhan energi dalam proses validasi.”
Agnes menatapku tanpa berkedip.
“Paten dan lisensinya makai beberapa perusahaan luar negeri,” lanjutku. “Aku nggak pernah muncul sebagai pemilik utama. Semua kontrak lewat perusahaan pengelola.”
“Berapa banyak?” tanya Eve.
“Apa?”
“Asetmu.”
“Eve.”
“Aku cuma mau tahu seberapa kaya orang yang selama ini beli mi rebus sama uang receh.”
Aku mengusap kening.
“Nilainya berubah-ubah. Kalau diitung dari saham, lisensi, dan aset digital, jumlahnya besar.”
“Besar itu berapa?”
“Cukup buat beli gedung tempat Clara kerja.”
Clara memandangku tajam.
“Aku nggak bakal beli gedung tempatmu kerja,” kataku.
“Bagus. Karena aku nggak jualnya.”
Agnes terlihat lebih tertarik pada bagian lain. “Kenapa kamu nyembunyiinnya?”
Pertanyaan itu membuat ruangan terasa lebih sunyi.
“Karena setiap kali orang tahu, mereka berhenti lihat aku sebagai Al.”
“Kami tahu kamu adalah Zero,” kata Clara.
“Belum semuanya.”
“Kami tahu kamu kaya,” kata Eve.
“Kalian baru tahu.”
“Tapi kamu tetap orang yang sama,” lanjutnya.
Aku memandang mereka satu per satu.
“Kalian belum lihat sisi terburuknya.”
“Sisi terburuknya apa?” tanya Agnes.
“Orang-orang yang mau makai namaku. Orang-orang yang mau maksa, nyulik, atau ngancam siapa aja yang deket sama aku.”
Clara melangkah mendekat.
“Itu udah terjadi sebelum kami suka sama kamu,” katanya.
“Sekarang risikonya lebih besar.”
“Al, kami nggak jatuh cinta ke rekeningmu,” kata Clara.
Kalimat itu membuat dadaku terasa sesak.
Eve menyilangkan tangan. “Aku bahkan nggak tahu kamu punya rekening kayak apa. Kamu masih nyebelin ketika kaya, jadi nggak ada perubahan besar.”
Agnes tersenyum kecil. “Yang berubah cuma alasan orang-orang ngejar kamu.”
Aku tidak tahu harus menjawab apa.
Clara berdiri tepat di depanku.
“Kami nggak bakal berpura-pura semuanya mudah,” katanya. “Tapi jangan ngambil keputusan tentang perasaan kami cuma karena kamu takut.”
“Aku nggak mau kalian nyesel.”
“Kalau kami nyesel, kami bakal ngomonginnya,” kata Clara.
“Terus kalau kami tetap tinggal, kamu jangan nyuruh kami pergi,” tambah Eve.
Agnes mengangkat tangan. “Kecuali kami benar-benar mau pergi.”
“Tentu.”
Aku mengangguk.
Untuk pertama kalinya, aku menunjukkan kepada mereka ruang penyimpanan yang selama ini kusembunyikan. Bukan semua kunci, bukan seluruh akses, tetapi cukup untuk membuktikan bahwa identitas Zero memang milikku.
Layar menampilkan daftar perusahaan, paten, dan kontrak lisensi.
Eve bersiul pelan.
“Aku mendadak mau minta maaf karena pernah nyebut kamu kere,” katanya.
“Kamu nggak perlu.”
“Tapi aku tetap bakal inget kekayaanmu saat kamu lupa bayar listrik.”
Agnes menatap pola algoritma di layar. “Kamu bikin ini dari mana?”
“Dari masalah yang nggak bisa kuselesaikan.”
“Itu jawaban yang sangat kamu.”
Clara menyentuh tanganku.
“Kamu nggak sendirian sekarang.”
Aku menggenggam tangannya.
Namun sebelum kami bisa membicarakan rencana berikutnya, aku menerima panggilan dari Victor.
Aku menjawab melalui speaker.
“Algo,” katanya. “Aku yakin kita bisa nyelesein ini tanpa bikin keadaan lebih buruk.”
“Kamu tahu siapa aku.”
“Aku tahu siapa Zero.”
Clara menegang.
Victor melanjutkan, “Kamu bisa nyerahin akses utama. Sebagai gantinya, perusahaan Helena tetap aman, dan keluargamu nggak bakal disentuh.”
“Kamu ngancam keluargaku sambil nyebutnya kesepakatan?”
“Aku nawarin jalan keluar.”
“Kamu jual jalur pemulihan Aegis ke Raka.”
Di seberang sana, Victor diam.
“Kamu nggak punya bukti,” katanya.
“Aku punya rekaman email, jejak transaksi, dan suara kamu sekarang.”
“Kamu pikir itu cukup?”
“Buat bikin kamu ngomong lebih banyak? Iya.”
Victor tertawa pelan.
“Kamu terlalu yakin.”
“Kamu terlalu banyak ngomong.”
Aku mematikan panggilan.
Eve mengangkat alis. “Kamu sengaja mancingnya.”
“Aku perlu tahu apakah dia masih punya akses ke jalur internal.”
Agnes memeriksa layar. “Ada koneksi baru.”
Clara menatapku. “Dia lagi nyoba masuk?”
“Bukan dia. Seseorang makai perangkatnya.”
Aku mengaktifkan rekaman penuh.
Nama lokasi muncul di layar.
Hotel dekat data center.
“Mereka mau kita dateng,” kata Clara.
“Iya.”
“Terus kamu mau dateng.”
“Aku harus dateng.”
“Kalau gitu, kami ikut,” kata Eve.
“Nggak.”
Ketiga perempuan itu menatapku bersamaan.
Aku memperbaiki kalimatku.
“Kalian ikut dalam rencana. Tapi kalian nggak masuk ke area utama.”
Clara mendekat. “Kamu baru aja buka identitasmu. Jangan tutup lagi pintunya.”
Aku memandang mereka.
“Baik,” kataku. “Kita lakukan bersama.”
Clara menciumku lebih dulu. Ciumannya dalam, tegas, dan membuat seluruh keberanianku terasa seperti sesuatu yang tidak perlu kusembunyikan.
Setelah dia mundur, Eve menarik kerah bajuku.
“Giliran aku,” katanya.
Agnes tertawa gugup, tetapi akhirnya ikut mendekat.
Di antara tiga ciuman itu, aku menyadari sesuatu yang lebih menakutkan daripada kehilangan uang atau identitas.
Aku mulai memiliki rumah.
Dan rumah adalah sesuatu yang paling mudah digunakan untuk membuat seseorang menyerah.
Sebelum mereka keluar dari ruang kerja, aku membagikan peran masing-masing.
Clara akan berhadapan dengan pihak perusahaan dan memastikan tidak ada keputusan dewan yang mengalihkan aset. Eve akan mengurus komunikasi, merekam setiap percakapan, dan memantau kendaraan yang muncul di sekitar lokasi. Agnes akan menjaga jalur bukti serta menyiapkan sistem cadangan.
“Kamu?” tanya Eve.
“Aku bakal jadi Zero.”
“Nggak bisa sedikit lebih spesifik?”
“Aku bakal bikin mereka percaya bahwa mereka hampir menang.”
Clara menatapku. “Terus kalau mereka benar-benar hampir menang?”
“Aku bakal ngasih tahu kalian.”
“Bukan nyembunyiin?”
“Bukan nyembunyiin.”
Agnes menyodorkan tangannya. “Kesepakatan?”
Aku menggenggam tangannya. “Kesepakatan.”
Rencana kami sederhana di atas kertas, tetapi tidak sederhana jika dilakukan. Kami akan membiarkan jalur palsu terlihat seperti kelemahan, memancing Raka mendekat, lalu mengunci aksesnya ketika bukti sudah terkirim kepada penyidik.
“Kalau mereka nyadar kita mancing?” tanya Agnes.
“Mereka bakal ngubah rencana,” jawabku.
“Terus kita?”
“Kita ngubah rencana lebih cepat.”
Clara menatapku. “Kamu kedengeran sangat tenang.”
“Aku nggak tenang.”
Eve memiringkan kepala. “Kamu keliatan tenang.”
“Itu berbeda.”
Ketiganya diam. Aku menyadari bahwa selama ini aku membuat wajah tenang agar orang lain tidak melihat kekacauan di kepalaku. Namun sekarang aku tidak perlu menyembunyikannya sepenuhnya.
“Aku takut,” kataku. “Bukan karena mereka bisa ngambil algoritma. Aku takut kalau satu keputusan buruk dariku bikin kalian terluka.”
Clara menggenggam tanganku. “Maka jangan ngambil keputusan sendirian.”
“Itu aturan pertama kita,” kata Eve.
Agnes mengangguk. “Terus aturan itu berlaku untukmu juga.”
Malam itu, untuk pertama kalinya, aku tidak menghapus riwayat lokasi, menyembunyikan perangkat, atau mematikan semua saluran komunikasi sebelum tidur.
Aku membiarkan tiga orang itu memiliki akses ke bagian hidupku yang selama ini selalu kukunci.
Rasanya menakutkan.
Tapi untuk pertama kalinya, rasa takut itu tidak terasa seperti alasan untuk melarikan diri.
- 1 Bab 1 — Pernikahan Ayahku
- 2 Tiga Putri dan Satu Meja
- 3 Perjanjian Anti-Pewaris
- 4 Kamar Tamu dan Kamera Tersembunyi
- 5 Pria Biasa di Ruang Direksi
- 6 Kebocoran Pertama
- 7 Masalah Clara
- 8 Skandal Eve
- 9 Proyek Agnes
- 10 Satu Payung untuk Tiga Orang
- 11 Makan Malam yang Hampir Damai
- 12 Pembelaan Pertama
- 13 Jam Dua Pagi
- 14 Eve Takut Sendirian
- 15 Agnes Mengatakan yang Tidak Seharusnya
- 16 Victor Mulai Bergerak
- 17 Nama yang Tidak Pernah Dicari
- 18 Satu Tahun Pernikahan
- 19 Status yang Berubah
- 20 Clara Mengajak Berkencan
- 21 Eve Tidak Lagi Bercanda
- 22 Agnes Memilih dengan Sadar
- 23 Clara Melepas Kendali
- 24 Tiga Pengakuan, Satu Keputusan
- 25 Serangan terhadap Aegis
- 26 Clara Menjadi Umpan
- 27 Eve Tidak Mau Diam
- 28 Agnes Menemukan Celah
- 29 Zero Terbuka reading
- 30 Rumah yang Diserang
- 31 Nama yang Keluar dari Bayangan
- 32 Clara Melawan Dewan
- 33 Agnes Membuka Kunci
- 34 Zero di Depan Dunia
- 35 Pilihan yang Tidak Bisa Dibalik
- 36 Tidak Sendirian Lagi