Chapter Twelve
Pembelaan Pertama
POV: Clara
Aku seharusnya tahu makan malam keluarga tidak akan berakhir damai.
Keluarga Wijaya memang terlihat rapi dari luar. Semua orang memakai pakaian bagus, berbicara dengan suara tenang, dan tersenyum di waktu yang tepat.
Tapi di balik meja makan, setiap kalimat biasanya menyimpan maksud lain.
Malam itu, Paman Victor sengaja mengundang beberapa kerabat yang sejak awal tidak menyukai keputusan Mama. Mereka datang dengan senyum terlalu lebar dan pertanyaan yang terlalu pribadi.
Al duduk di samping ayahnya. Dia terlihat tidak tertarik, tetapi aku tahu dia mendengar semuanya.
Aku sendiri berusaha menjaga suasana agar tidak memburuk.
Usaha itu gagal ketika Tante Mira bertanya kepada Damar, “Pak Damar sekarang udah terbiasa tinggal di rumah sebesar ini?”
Damar tersenyum sopan. “Masih belajar.”
“Wajar. Rumah kayak ini emang nggak mudah dirawat.”
“Ada staf yang bantu.”
“Tentu.” Mira mengangguk pelan. “Tapi tetap aja, pasti berbeda dengan kehidupan sebelumnya.”
Aku meletakkan gelas. “Tante, kalau mau ngebahas sesuatu, langsung aja.”
Mira terlihat pura-pura terkejut. “Clara, aku cuma nanya.”
“Pertanyaannya kedengeran kayak tuduhan.”
Victor tertawa dari ujung meja. “Jangan terlalu sensitif. Kita semua cuma mau mastiin Mama baik-baik aja.”
Mama menatapnya. “Aku baik-baik aja.”
“Kami tahu. Tapi pernikahan ini cukup mendadak.”
Damar menurunkan sendoknya.
Aku tahu dia tidak suka menjadi pusat perhatian. Dia akan diam, tersenyum, lalu membiarkan orang lain mengatakan apa pun tentang dirinya.
Mira menoleh kepada Damar. “Maaf kalau aku terlalu terus terang, tapi banyak orang nanya-tanya. Apa sebenarnya yang Pak Damar dapat dari pernikahan ini?”
Udara di meja makan langsung berubah.
Eve berhenti mengunyah. Agnes menatap tajam. Mama mengangkat wajah.
Aku ingin membalas, tetapi Al sudah lebih dulu bicara.
“Kalau maksudnya uang, jawabannya nggak ada.”
Mira menoleh kepadanya. “Kamu yakin?”
“Saya tahu.”
“Kamu anaknya. Wajar kalau belain.”
“Saya nggak lagi belain. Saya jawab pertanyaan.”
Victor menyandarkan tubuh ke kursi. “Kamu baru tinggal beberapa hari di sini. Jangan bersikap seolah paling tahu.”
Al mengambil gelas air, lalu menaruhnya kembali.
“Saya emang nggak tahu semuanya.”
“Bagus kalau sadar.”
“Tapi saya tahu ayah saya.”
Victor tersenyum tipis. “Semua anak merasa tahu ayahnya.”
“Kalau gitu, kenapa Anda terus berusaha buktiin bahwa Anda lebih tahu daripada saya?”
Aku menahan napas.
Al mengatakannya dengan suara biasa. Tidak tinggi, tidak marah, bahkan tidak terlihat tersinggung. Justru itu yang membuat kalimatnya terasa lebih tajam.
Victor menatapnya beberapa detik. “Kamu pikir kamu siapa?”
“Anaknya.”
“Cuma itu?”
“Buat malam ini, cukup.”
Eve menutup mulut, mungkin agar tidak tertawa. Agnes menunduk, tetapi bahunya bergerak.
Aku melihat Damar. Wajahnya terlihat kaku. Dia tidak terbiasa dibela di depan banyak orang.
Mira belum selesai. “Damar, kalau emang nggak ada niat ngambil keuntungan, kenapa putramu tinggal di sini? Bukankah itu keliatan kayak—”
“Cukup,” kataku.
Semua orang menoleh kepadaku.
Aku menatap Mira. “Kalau Tante mau ngeraguin keputusan Mama, bicarakan ke Mama. Jangan jadiin suaminya tontonan.”
Victor tertawa kecil. “Kamu belain mereka berdua sekarang?”
“Aku belain orang yang lagi dihina.”
“Keluarga kita lagi berusaha lindungi aset.”
“Aset bukan alasan buat perlakuin orang kayak tersangka.”
Victor mencondongkan tubuh. “Kamu masih terlalu muda buat paham cara dunia kerja.”
“Mungkin.” Aku berdiri. “Tapi saya cukup tua buat tahu kapan seseorang bersikap kurang ajar.”
Ruangan menjadi sangat sunyi.
Damar menyentuh lengan Al. “Al, duduk.”
Al menatap ayahnya. “Ayah nggak apa-apa?”
Damar mengangguk. “Duduk.”
Al kembali duduk, tetapi aku tetap berdiri.
Aku tidak peduli lagi pada tatapan keluarga. Selama bertahun-tahun, aku belajar menahan diri karena harus menjaga nama keluarga. Namun, malam itu, untuk pertama kalinya, aku merasa menjaga nama keluarga tidak berarti membiarkan semua orang menginjak orang yang tidak bisa melawan.
“Makan malam selesai,” kataku.
Victor menatapku dengan marah. “Kamu nggak punya hak ngatur.”
“Di rumah Mama, saya punya cukup hak buat minta tamu berhenti ngehina.”
Mama berdiri di sampingku. “Clara benar.”
Damar ikut berdiri. “Kita pulang.”
Aku tidak tahu apakah dia bermaksud pulang ke rumah atau meninggalkan acara. Namun, Al sudah mengambil jaket ayahnya dan menyerahkannya.
Ketika kami sampai di mobil, hujan kecil mulai turun.
Damar duduk di belakang bersama Mama. Aku menyetir. Al duduk di sampingku.
Beberapa menit pertama, tidak ada yang bicara.
Kemudian Damar berkata, “Al, kamu nggak perlu belain Ayah kayak gitu.”
“Aku tahu.”
“Ayah bisa ngadepin.”
“Ayah nggak ngadepin.”
Damar terdiam.
Al menatap jalan. “Ayah biarin orang lain ngomong apa aja.”
“Karena nggak semua hal perlu dilawan.”
“Kalau gitu, biar aku yang milih mana yang perlu.”
Aku meliriknya.
Al tidak terlihat seperti pria yang sedang berusaha mengambil hati ayahnya. Dia terlihat seperti seseorang yang benar-benar marah karena ayahnya diperlakukan tidak adil.
Saat sampai di rumah, Al membuka pintu untuk Damar dan Helena. Aku turun setelahnya.
“Clara,” panggil Al.
Aku menoleh.
“Terima kasih.”
“Buat apa?”
“Tadi.”
Aku melipat tangan. “Aku belain Mama dan ayahmu.”
“Tetap terima kasih.”
Aku ingin mengatakan bahwa itu bukan masalah besar. Namun, kata-kata itu terasa tidak tepat.
“Sama-sama,” jawabku akhirnya.
Al mengangguk dan masuk ke rumah.
Aku masih berdiri di teras ketika Eve mendekat.
“Kak.”
“Apa?”
“Kamu sadar nggak, tadi kamu berdiri di sebelah Al kayak lagi belain pasangan?”
“Jangan bicara sembarangan.”
Eve tersenyum. “Aku cuma bilang keliatan.”
“Masuk.”
“Kak Clara.”
“Apa lagi?”
“Kamu udah nggak mau ngusir dia, kan?”
Aku melihat ke arah pintu tempat Al menghilang.
“Belum tentu.”
Eve tertawa kecil. “Jawabanmu makin lama makin mirip dia.”
Aku tidak membalas.
Di dapur, aku melihat Al sedang membantu Damar menyiapkan obat. Mereka berbicara pelan, terlalu pelan untuk didengar dari pintu.
Damar mengatakan sesuatu yang membuat Al menggeleng. Kemudian Al mengambil segelas air dan memeriksa apakah ayahnya sudah meminum obat.
Gerakannya tidak dramatis. Tidak ada kalimat besar tentang keluarga atau pengorbanan. Dia hanya memastikan Damar baik-baik saja, lalu memindahkan kursi agar ayahnya bisa duduk.
Aku tiba-tiba teringat semua pria yang pernah mendekati Mama. Mereka selalu berusaha terlihat mengesankan di depan kami.
Al tidak melakukan apa pun untuk terlihat mengesankan.
Dia hanya menjaga ayahnya, bahkan ketika tidak ada yang melihat.
Tapi malam itu, saat Al melewati ruang kerja dan mengangguk kepadaku, aku tidak lagi melihatnya sebagai orang asing yang harus diawasi.
Aku melihatnya sebagai seseorang yang sudah berdiri di sisi keluargaku.
- 1 Bab 1 — Pernikahan Ayahku
- 2 Tiga Putri dan Satu Meja
- 3 Perjanjian Anti-Pewaris
- 4 Kamar Tamu dan Kamera Tersembunyi
- 5 Pria Biasa di Ruang Direksi
- 6 Kebocoran Pertama
- 7 Masalah Clara
- 8 Skandal Eve
- 9 Proyek Agnes
- 10 Satu Payung untuk Tiga Orang
- 11 Makan Malam yang Hampir Damai
- 12 Pembelaan Pertama reading
- 13 Jam Dua Pagi
- 14 Eve Takut Sendirian
- 15 Agnes Mengatakan yang Tidak Seharusnya
- 16 Victor Mulai Bergerak
- 17 Nama yang Tidak Pernah Dicari
- 18 Satu Tahun Pernikahan
- 19 Status yang Berubah
- 20 Clara Mengajak Berkencan
- 21 Eve Tidak Lagi Bercanda
- 22 Agnes Memilih dengan Sadar
- 23 Clara Melepas Kendali
- 24 Tiga Pengakuan, Satu Keputusan
- 25 Serangan terhadap Aegis
- 26 Clara Menjadi Umpan
- 27 Eve Tidak Mau Diam
- 28 Agnes Menemukan Celah
- 29 Zero Terbuka
- 30 Rumah yang Diserang
- 31 Nama yang Keluar dari Bayangan
- 32 Clara Melawan Dewan
- 33 Agnes Membuka Kunci
- 34 Zero di Depan Dunia
- 35 Pilihan yang Tidak Bisa Dibalik
- 36 Tidak Sendirian Lagi