Chapter One
Bab 1 — Pernikahan Ayahku
POV: Al
Namaku Algo Djikstra. Kebanyakan orang memanggilku Al.
Aku baru tahu ayahku menikah ketika foto pernikahan itu muncul di grup keluarga.
Foto itu dikirim oleh nomor yang nggak kukenal.
Seorang perempuan cantik berusia sekitar lima puluhan berdiri di samping ayahku. Mereka sama-sama tersenyum ke arah kamera. Perempuan itu mengenakan kebaya putih sederhana. Ayah memakai jas hitam yang kelihatannya terlalu mahal untuk dipakai ke acara keluarga biasa.
Di bawah foto itu ada satu kalimat pendek.
Selamat datang di keluarga Wijaya.
Aku menatap layar ponsel cukup lama.
Lalu aku menoleh ke arah ayah yang sedang mencuci piring di dapur.
“Ayah.”
“Hm?”
“Ini apa?”
Ayah mematikan keran. Dia nggak langsung menoleh.
“Foto.”
“Aku tahu itu foto.”
“Kalau tahu, kenapa tanya?”
Aku menggeser layar ponsel ke arahnya. “Ayah nikah?”
Ayah mengelap tangan dengan kain lap, lalu duduk di kursi makan kecil yang catnya sudah mengelupas di beberapa bagian.
“Iya.”
Jawabannya terlalu tenang untuk sebuah kabar pernikahan.
Aku ikut duduk di depannya.
“Kapan?”
“Tiga hari lalu.”
“Tiga hari lalu?”
“Mhm.”
“Kenapa baru bilang?”
Ayah mengangkat bahu. “Kamu lagi sibuk.”
Aku menatapnya datar. “Aku lagi benerin kipas angin tetangga.”
“Ya, itu juga sibuk.”
Aku menghela napas. Sejak ibu meninggal lima tahun lalu, ayah nggak pernah membicarakan perempuan lain. Bahkan ketika tetangga sebelah beberapa kali menawarkan kenalan, ayah selalu menolak dengan alasan sudah terlalu tua untuk memulai hubungan baru.
Sekarang, dia tiba-tiba menikah dengan seorang perempuan kaya dan mengatakannya seperti sedang memberi tahu kalau harga beras naik.
“Siapa namanya?”
“Helena.”
“Helena siapa?”
“Helena Wijaya.”
Aku diam.
Nama itu kukenal. Semua orang juga pasti tahu. Helena Wijaya adalah pemilik salah satu grup perusahaan terbesar di kota kami. Namanya sering muncul di berita bisnis, majalah, bahkan iklan televisi.
Ayah menyandarkan punggung ke kursi.
“Ayah tahu kamu bakal mikir macam-macam.”
“Aku belum mikir apa-apa.”
“Wajahmu sudah mikir macam-macam.”
“Wajahku memang begini.”
Ayah tertawa kecil, tetapi tawanya segera hilang.
“Ayah mau kamu tinggal di rumah Helena mulai minggu ini.”
Aku menatapnya.
“Nggak.”
“Kamu belum dengar alasannya.”
“Nggak perlu.”
“Al.”
“Aku bisa tetap tinggal di sini.”
“Rumah ini sudah mau roboh.”
“Belum.”
“Atap kamar mandi bocor.”
“Bisa diperbaiki.”
“Kulkasnya bunyi seperti truk.”
“Masih dingin.”
“Dan kamu tidur di sofa karena kamar kamu penuh kabel.”
Aku melirik ruang tengah. Sebagian besar sofa memang tertutup kabel, hard disk, dan dua laptop yang belum sempat kurapikan sejak tiga hari lalu.
“Aku nyaman.”
“Ayah cuma mau kamu ikut tinggal bersama Ayah.”
Kali ini aku nggak langsung menjawab.
Ayah jarang meminta sesuatu. Biasanya dia cuma mengeluh sedikit, lalu memperbaiki semuanya sendiri. Kalau sekarang dia meminta aku datang, berarti ada alasan yang lebih besar daripada sekadar rumah besar dan kamar yang lebih layak.
“Mereka tahu aku akan datang?” tanyaku.
“Tahu.”
“Mereka setuju?”
Ayah menggaruk pelipisnya.
“Nggak semuanya.”
Aku sudah menduga.
“Aku cuma perlu tinggal sampai kapan?”
“Belum tahu.”
“Ayah.”
“Setidaknya sampai keadaan agak tenang.”
“Keadaan apa?”
Ayah nggak menjawab.
Itu cukup untuk membuatku tahu bahwa hidupku akan menjadi lebih merepotkan.
Rumah keluarga Wijaya punya gerbang tinggi, taman luas, dan tiga mobil yang harganya mungkin cukup untuk membeli seluruh rumahku beserta isinya.
Aku turun dari mobil sambil membawa satu tas ransel hitam.
Ayah menurunkan dua kardus kecil dari bagasi.
“Cuma ini?”
“Aku nggak pindah permanen.”
“Helena sudah menyiapkan kamar.”
“Aku juga punya kamar.”
“Kamar kamu penuh kabel.”
“Kabelnya penting.”
“Kamar itu juga penting.”
Aku nggak menjawab.
Pintu utama terbuka sebelum kami sempat mengetuk. Seorang perempuan berdiri di sana dengan blus putih dan celana panjang hitam. Rambutnya diikat rapi. Wajahnya cantik, tetapi sorot matanya membuat suasana di depan rumah langsung terasa seperti ruang pemeriksaan.
Clara.
Aku pernah melihat fotonya di internet. Putri sulung Helena. Direktur operasional perusahaan keluarga. Usianya dua puluh delapan, tetapi cara berdirinya membuat dia terlihat seperti orang yang sudah memimpin rapat selama tiga puluh tahun.
Matanya turun ke tasku, kemudian ke kardus yang dibawa ayah.
“Itu semua barangmu?”
“Iya.”
Clara menatapku sebentar. “Kamu nggak punya barang lain?”
“Ada. Tapi nggak penting.”
“Atau memang nggak punya?”
Ayah menarik napas. “Clara.”
“Aku cuma tanya.”
“Cara tanya kamu seperti sedang menuduh.”
“Karena memang ada yang harus dituduh.”
Dari tangga, seorang perempuan lain menyandarkan tubuhnya pada pagar. Usianya kurang lebih sama denganku. Dia mengenakan kaus longgar, celana pendek, dan wajah yang terlalu cantik untuk terlihat tidak peduli.
“Jadi ini anaknya?”
“Namanya Al,” kata Ayah.
Perempuan itu menatapku dari atas sampai bawah. “Aku tahu. Cuma kelihatannya lebih biasa dari yang kubayangin.”
“Eve,” tegur Clara.
“Apa? Aku nggak bilang jelek.”
“Kamu juga nggak bilang bagus.”
“Memangnya harus?”
Aku masuk melewati mereka tanpa menunggu dipersilakan.
Eve langsung menoleh. “Hei. Kamu nggak mau jawab?”
Aku berhenti.
“Pertanyaannya yang mana?”
Eve terdiam sebentar, lalu tersenyum miring. “Oh. Kamu tipe yang menyebalkan, ya?”
“Katanya aku biasa.”
“Biasa tapi menyebalkan.”
“Berarti masih biasa.”
Ayah tertawa kecil di belakangku.
Dari ruang tengah, seorang gadis yang lebih muda mendengus. Dia sedang duduk sambil memegang ponsel, tetapi jelas nggak benar-benar memperhatikan layar.
“Aku nggak ngerti kenapa Mama harus membawa orang asing ke rumah.”
“Agnes,” kata Helena dari belakangnya.
Helena muncul dengan senyum tenang. Dia terlihat jauh lebih hangat daripada ketiga putrinya, tetapi aku langsung bisa melihat bahwa perempuan itu terbiasa membuat orang mengikuti keputusannya.
“Al, selamat datang.”
Aku mengangguk. “Terima kasih.”
Helena memandang tasku. “Kamarmu sudah disiapkan.”
“Aku bisa tidur di ruang kerja.”
“Nggak perlu. Kamu bagian dari keluarga ini.”
Agnes langsung menatap ibunya.
“Ma.”
Helena menoleh. “Apa?”
“Jangan langsung bilang begitu.”
“Kenapa?”
“Dia baru datang.”
“Justru karena baru datang, kita harus membuatnya merasa diterima.”
Clara tertawa pendek tanpa humor.
“Dia nggak akan merasa diterima cuma karena kita menyebutnya keluarga.”
Aku menaruh tasku di dekat sofa.
“Tenang. Aku juga nggak berharap diterima.”
Tiga pasang mata langsung mengarah kepadaku.
Aku baru sadar kalimat itu mungkin terdengar lebih kasar daripada yang kumaksudkan.
Aku menambahkan, “Aku cuma tinggal sementara.”
“Sementara sampai kapan?” tanya Clara.
“Aku belum tahu.”
“Kalau begitu aku kasih tahu.” Clara melipat tangan di depan dada. “Kamu punya waktu satu minggu untuk pergi dari rumah ini.”
Ayah langsung memanggil namanya, tetapi Clara nggak bergeming.
“Aku nggak peduli Ayah dan Mama punya kesepakatan apa. Aku juga nggak peduli kamu pura-pura sederhana atau memang benar-benar sederhana. Kami nggak butuh orang baru di rumah ini.”
Eve bersiul kecil. “Kak, itu pembukaan yang lumayan ramah.”
Agnes menatapku, seolah sedang menunggu aku marah.
Aku justru mengambil tasku lagi.
“Boleh.”
Clara terlihat sedikit terkejut. “Boleh?”
“Aku pergi seminggu lagi.”
“Serius?”
“Iya.”
Aku menoleh kepada ayah.
“Tapi selama seminggu ini, aku minta satu hal.”
“Apa?” tanya Clara.
“Jangan ajak aku bicara kalau nggak penting.”
Eve menutup mulutnya, menahan tawa. Agnes tampak tersinggung. Clara justru menatapku semakin tajam.
“Kamu memang selalu bicara seperti itu?”
“Nggak.”
“Lalu?”
“Biasanya aku lebih singkat.”
Aku mengambil tas dan berjalan menuju tangga.
Di belakangku, Eve tertawa kecil.
“Mama, aku mulai suka dia.”
“Eve,” kata Clara memperingatkan.
“Bukan suka romantis. Jangan tegang begitu.”
Aku nggak menoleh.
Di lantai dua, seorang pelayan menunjukkan kamar yang sudah disiapkan untukku. Ruangan itu lebih besar daripada seluruh kamar kos yang pernah kutinggali, lengkap dengan tempat tidur lebar, meja kerja, dan jendela menghadap taman.
Aku meletakkan tas di lantai.
Ponselku bergetar.
Satu pesan masuk dari nomor luar negeri.
The Singapore node is under attack. We need your decision, Zero.
Di dunia maya, aku dikenal sebagai Zero.
Di rumah ini, aku cuma Al yang dianggap numpang.
Aku melihat pesan itu sebentar, lalu membalas singkat.
Patch it. Don’t involve me unless it gets worse.
Kusimpan ponsel ke saku.
Dari lantai bawah terdengar suara Eve dan Agnes yang sedang berdebat, suara Clara yang menyuruh mereka diam, dan suara ayah yang mencoba menengahi.
Rumah itu baru saja menjadi tempat paling berisik yang pernah kutinggali.
Aku menatap ranjang besar di depanku.
“Seminggu,” gumamku.
Aku belum tahu bahwa tujuh hari itu akan menjadi awal dari kekacauan terbesar dalam hidupku.
- 1 Bab 1 — Pernikahan Ayahku reading
- 2 Tiga Putri dan Satu Meja
- 3 Perjanjian Anti-Pewaris
- 4 Kamar Tamu dan Kamera Tersembunyi
- 5 Pria Biasa di Ruang Direksi
- 6 Kebocoran Pertama
- 7 Masalah Clara
- 8 Skandal Eve
- 9 Proyek Agnes
- 10 Satu Payung untuk Tiga Orang
- 11 Makan Malam yang Hampir Damai
- 12 Pembelaan Pertama
- 13 Jam Dua Pagi
- 14 Eve Takut Sendirian
- 15 Agnes Mengatakan yang Tidak Seharusnya
- 16 Victor Mulai Bergerak
- 17 Nama yang Tidak Pernah Dicari
- 18 Satu Tahun Pernikahan
- 19 Status yang Berubah
- 20 Clara Mengajak Berkencan
- 21 Eve Tidak Lagi Bercanda
- 22 Agnes Memilih dengan Sadar
- 23 Clara Melepas Kendali
- 24 Tiga Pengakuan, Satu Keputusan
- 25 Serangan terhadap Aegis
- 26 Clara Menjadi Umpan
- 27 Eve Tidak Mau Diam
- 28 Agnes Menemukan Celah
- 29 Zero Terbuka
- 30 Rumah yang Diserang
- 31 Nama yang Keluar dari Bayangan
- 32 Clara Melawan Dewan
- 33 Agnes Membuka Kunci
- 34 Zero di Depan Dunia
- 35 Pilihan yang Tidak Bisa Dibalik
- 36 Tidak Sendirian Lagi