Chapter Eleven
Makan Malam yang Hampir Damai
POV: Al
Sejak malam hujan itu, rumah keluarga Wijaya terasa sedikit berbeda.
Tidak banyak. Clara masih sering menatapku seperti sedang membaca dokumen rahasia. Eve masih suka mengganggu ketika aku bekerja. Agnes masih pura-pura tidak peduli setiap kali meminta bantuan.
Tapi sekarang mereka tidak langsung pergi ketika aku masuk ruangan.
Pagi itu, Helena meminta semua orang sarapan bersama.
Aku turun paling akhir dan menemukan meja makan sudah penuh makanan. Damar duduk sambil membaca koran, Clara memeriksa tablet, Eve memotret roti panggangnya, dan Agnes sedang menekan-nekan laptop dengan wajah kesal.
“Kamu duduk di sini,” kata Helena sambil menunjuk kursi di sampingnya.
Aku melihat kursi kosong di ujung meja. “Di sana juga kosong.”
“Aku udah nyiapin makanan untukmu.”
“Makanan bisa dipindahin.”
Helena menatapku. “Al.”
Aku akhirnya duduk di sampingnya.
Eve menurunkan ponsel. “Kamu takut sama Mama?”
“Aku cuma ngehargain orang yang masak.”
“Mama nggak masak. Koki yang masak.”
“Berarti aku ngehargain orang yang ngasih kerja koki.”
Helena tersenyum puas. “Jawaban yang bagus.”
Clara melirikku dari balik tablet. “Jangan bikin Mama semakin manjain kamu.”
“Aku belum dimanjain.”
“Kamu dapet kamar paling besar setelah kamar Mama.”
“Aku nggak minta.”
“Itu bukan berarti kamu nggak nikmatin.”
Aku mengambil telur. “Kasurnya terlalu empuk.”
Agnes mendongak dari laptop. “Ada orang yang ngeluh karena kasur terlalu empuk?”
“Aku sulit tidur.”
“Kamu bisa tidur di sofa.”
“Sofanya penuh kabel.”
“Itu karena kamu yang naruh kabel di sana.”
“Berarti kita punya masalah yang sama.”
Eve tertawa. Clara memandang kami dengan wajah yang semakin sulit dibaca.
Setelah sarapan, Helena mengumumkan bahwa malam itu kami akan makan bersama keluarga besar. Victor dan beberapa saudara Helena akan datang.
Aku langsung ingin kembali ke kamar.
“Aku nggak perlu ikut, kan?” tanyaku.
“Perlu,” kata Helena.
“Kenapa?”
“Karena kamu suamiku.”
“Ayah yang suami.”
“Kamu anaknya.”
“Hubungannya?”
“Kamu bakal ngerti nanti.”
Aku melihat Damar. Dia hanya mengangkat bahu.
Sore harinya, rumah menjadi lebih ramai. Pelayan membawa bunga, meja makan diperpanjang, dan Eve memaksa Agnes mengganti pakaian karena menurutnya kaus Agnes terlihat seperti pakaian untuk tidur.
Aku membantu Damar memindahkan beberapa kursi.
“Kamu nggak perlu ikut semua urusan ini,” katanya.
“Aku cuma mindahin kursi.”
“Maksud Ayah soal rumah ini.”
Aku menaruh kursi di tempat yang sudah ditentukan. “Ayah mau aku pergi?”
“Nggak.”
“Helena mau?”
“Juga nggak.”
“Terus?”
Damar melihat ke arah ruang tengah, tempat Helena sedang berbicara dengan Clara. “Ayah cuma nggak mau kamu merasa harus tinggal karena Ayah.”
“Aku emang tinggal karena Ayah.”
“Al.”
“Tapi bukan berarti aku nggak bisa milih buat tetap di sini.”
Damar diam. Kemudian dia menepuk bahuku pelan.
“Kamu udah mulai suka sama mereka?”
Aku melihat Eve yang sedang bertengkar dengan Agnes karena memilihkan aksesori, lalu Clara yang memisahkan mereka.
“Mereka berisik.”
“Itu bukan jawaban.”
“Jawabannya tetap.”
Malamnya, meja makan penuh oleh orang-orang yang namanya sulit kuingat. Ada paman, bibi, sepupu, dan dua orang yang hanya memperkenalkan diri sebagai rekan keluarga.
Aku duduk di sebelah Damar. Clara berada di seberangku. Eve dan Agnes duduk berdekatan, mungkin karena Helena menyuruh mereka tidak membuat keributan.
Awalnya semua berjalan cukup tenang. Orang-orang membicarakan perusahaan, perjalanan, dan rencana akhir pekan. Aku lebih banyak makan dan menghindari percakapan.
Sampai salah satu paman Helena bertanya kepadaku.
“Al, kamu kerja di perusahaan mana?”
“Nggak ada.”
“Maksudnya?”
“Saya kerja sendiri.”
“Oh, freelancer.” Dia tersenyum kecil. “Berarti belum punya perusahaan.”
“Belum.”
“Bagus juga. Bisa belajar dari Clara nanti.”
Clara meletakkan gelasnya. “Paman.”
“Aku cuma bercanda.”
“Kedengarannya nggak kayak bercanda.”
Helena memotong dengan pertanyaan lain. Aku tidak memperpanjang.
Beberapa saat kemudian, Eve menceritakan kejadian di acara hujan. Dia melebih-lebihkan bagian ketika kami bertiga berjalan di bawah satu payung sampai Agnes melempar serbet ke arahnya.
“Al bahkan ngasih jaketnya,” kata Eve.
“Karena laptopmu,” kata Agnes cepat.
“Laptopku emang penting.”
“Bukan kamu yang penting?”
“Aku juga penting.”
“Kata siapa?”
“Aku sendiri.”
Aku mengambil lauk dan berkata, “Setidaknya dia konsisten.”
Meja makan mendadak sunyi selama satu detik.
Kemudian Damar tertawa. Eve ikut tertawa. Bahkan Clara menunduk untuk menyembunyikan senyum.
Aku tidak yakin apa yang lucu, tetapi akhirnya ikut tersenyum sedikit.
Helena melihat kami dengan wajah hangat. “Begini lebih baik.”
“Apa?” tanya Clara.
“Kalian keliatan kayak keluarga.”
Tidak ada yang langsung menjawab.
Aku melihat piring di depanku. Kata keluarga masih terdengar asing kalau ditujukan kepadaku dalam rumah sebesar ini.
Namun, malam itu tidak terasa buruk.
Eve masih banyak bicara. Agnes masih membantah. Clara masih sesekali mengoreksi semua orang. Damar dan Helena saling mengambilkan makanan tanpa diminta.
Dan untuk beberapa jam, tidak ada yang membicarakan harta, perjanjian, atau siapa yang akan pergi dari rumah ini.
Saat semua tamu pulang, aku membantu membereskan meja.
Clara berdiri di sebelahku sambil membawa tumpukan piring.
“Kamu nggak perlu ngelakuin itu,” katanya.
“Aku tahu.”
“Tapi tetap kamu lakukan.”
“Piringnya ada di sini.”
Clara menatapku sebentar. “Kamu selalu punya alasan sederhana buat hal-hal yang sebenarnya nggak sederhana.”
Aku mengambil piring berikutnya. “Piring ini juga sederhana.”
Dia menggeleng, tetapi kali ini tersenyum.
Malam itu, ketika naik ke kamar, aku baru sadar bahwa tidak ada seorang pun yang menyuruhku pergi.
Sebelum naik ke kamar, Helena memanggil kami untuk berfoto di ruang tengah. Aku hampir menolak, tetapi Damar sudah berdiri di sampingnya dan Eve menarik lengan bajuku.
“Cuma satu foto,” kata Eve.
“Biasanya nggak pernah cuma satu.”
“Kalau kamu terus ngeluh, aku bakal ngambil sepuluh.”
Aku berdiri di antara Damar dan Agnes. Clara berada di sisi Helena, sementara Eve berdiri paling depan dengan senyum yang terlalu lebar.
Ketika kamera mengambil gambar, aku tidak tersenyum. Namun, saat Eve melihat hasilnya, dia tidak menghapus foto itu.
“Lumayan,” katanya.
“Aku keliatan kayak orang yang dipaksa.”
“Emang.”
Foto itu kemudian masuk ke grup keluarga. Aku melihatnya sebentar sebelum menyimpan ponsel.
Mungkin keluarga ini memang belum menerima aku sepenuhnya.
Tapi setidaknya, mereka sudah mulai menyediakan tempat di meja makan.
- 1 Bab 1 — Pernikahan Ayahku
- 2 Tiga Putri dan Satu Meja
- 3 Perjanjian Anti-Pewaris
- 4 Kamar Tamu dan Kamera Tersembunyi
- 5 Pria Biasa di Ruang Direksi
- 6 Kebocoran Pertama
- 7 Masalah Clara
- 8 Skandal Eve
- 9 Proyek Agnes
- 10 Satu Payung untuk Tiga Orang
- 11 Makan Malam yang Hampir Damai reading
- 12 Pembelaan Pertama
- 13 Jam Dua Pagi
- 14 Eve Takut Sendirian
- 15 Agnes Mengatakan yang Tidak Seharusnya
- 16 Victor Mulai Bergerak
- 17 Nama yang Tidak Pernah Dicari
- 18 Satu Tahun Pernikahan
- 19 Status yang Berubah
- 20 Clara Mengajak Berkencan
- 21 Eve Tidak Lagi Bercanda
- 22 Agnes Memilih dengan Sadar
- 23 Clara Melepas Kendali
- 24 Tiga Pengakuan, Satu Keputusan
- 25 Serangan terhadap Aegis
- 26 Clara Menjadi Umpan
- 27 Eve Tidak Mau Diam
- 28 Agnes Menemukan Celah
- 29 Zero Terbuka
- 30 Rumah yang Diserang
- 31 Nama yang Keluar dari Bayangan
- 32 Clara Melawan Dewan
- 33 Agnes Membuka Kunci
- 34 Zero di Depan Dunia
- 35 Pilihan yang Tidak Bisa Dibalik
- 36 Tidak Sendirian Lagi