← Tiga Putri Jatuh Cinta

Chapter Twenty One

Eve Tidak Lagi Bercanda

POV: Eve

Aku tahu Clara sedang menyembunyikan sesuatu ketika dia pulang dengan wajah yang terlalu tenang.

Clara tidak pernah terlihat gugup. Bahkan saat menghadapi dewan direksi, dia tetap bisa mengoreksi posisi gelas di atas meja sebelum menghancurkan argumen orang lain.

Tapi sore itu, dia masuk rumah sambil memegang ponsel dan menyimpan senyum kecil yang tidak berhasil disembunyikan.

Aku langsung tahu.

“Kak,” panggilku dari sofa.

Clara berhenti. “Apa?”

“Kamu habis dari mana?”

“Kantor.”

“Bohong.”

“Aku emang dari kantor.”

“Tapi bukan cuma dari kantor.”

Clara menatapku beberapa detik, lalu berjalan menuju tangga.

Aku mengikutinya.

“Kamu pergi sama Al?” tanyaku.

Dia tidak berhenti. “Itu bukan urusanmu.”

“Berarti benar.”

Clara menoleh tajam. “Eve.”

“Aku cuma nanya.”

“Jangan mulai.”

Aku tersenyum. “Kalian kencan?”

Clara tidak menjawab.

Itu lebih jelas daripada jawaban apa pun.

Aku kembali ke ruang tengah dengan perasaan aneh. Seharusnya aku kesal. Seharusnya aku merasa didahului. Seharusnya aku membuat lelucon yang cukup menyebalkan sampai Clara mengaku semuanya.

Tapi di balik semua itu, aku merasa takut.

Kalau Clara mulai serius, lalu Agnes masih menyukai Al, apa yang akan terjadi pada kami?

Dan kalau aku juga menyukai Al, aku harus berdiri di pihak siapa?

Malamnya, aku menemukan Al di dapur. Dia sedang membuat kopi dan memakai kaus hitam yang sama seperti kemarin.

Aku bersandar di meja. “Kak Clara kencan sama kamu?”

Al mengambil cangkir. “Kamu udah tahu.”

“Aku mau dengar dari kamu.”

“Iya.”

“Cuma itu?”

“Pertanyaannya iya atau nggak.”

“Kalian ciuman?”

Al berhenti bergerak.

Aku mengangkat alis. “Nah.”

“Nggak.”

“Pegangan tangan?”

“Iya.”

“Lama?”

“Cukup.”

“Kamu suka?”

Al menatapku. “Eve.”

“Aku cuma nanya.”

“Pertanyaanmu mulai terlalu pribadi.”

“Kamu jawab aja.”

“Aku nggak jawab.”

Aku turun dari meja dan berdiri di depannya. “Kalau aku ngajak kamu kencan, kamu mau?”

Al memegang cangkir dengan kedua tangan. “Kamu lagi bercanda?”

“Nggak.”

“Biasanya kamu bercanda.”

“Sekarang nggak.”

Dia diam cukup lama sampai aku mulai menyesal sudah bertanya.

“Kamu yakin?” tanyanya.

Aku tertawa kecil. “Kamu bahkan bikin pertanyaan sederhana kedengeran kayak kontrak.”

“Karena ini bukan hal sederhana.”

“Aku tahu.”

“Clara tahu kamu di sini?”

Aku menatapnya. “Kenapa harus tahu?”

“Karena aku nggak mau ada yang merasa dibohongin.”

“Kami emang nggak lagi ngebahas hubungan.”

“Tapi kamu ngajak aku.”

“Terus kamu belum jawab.”

Al meletakkan cangkir. “Besok.”

“Besok apa?”

“Kita ngomong.”

“Itu bukan kencan.”

“Aku belum bilang kencan.”

“Kamu nyebelin.”

“Aku tahu.”

Keesokan sorenya, Al benar-benar datang ke kamarku. Dia tidak membawa bunga, hadiah, atau kalimat romantis. Dia hanya berdiri di depan pintu sambil memegang kunci mobil.

“Mau pergi?” tanyanya.

Aku menatapnya. “Kamu benar-benar datang.”

“Aku bilang besok.”

“Aku kira kamu bakal lupa.”

“Aku jarang lupa.”

“Termasuk orang yang ngajak kamu kencan?”

“Termasuk itu.”

Aku mengganti sepatu dan mengikutinya.

Al membawaku ke sebuah tempat yang tidak pernah kuduga. Bukan restoran mahal, bukan bar, bukan acara sosial. Dia membawaku ke toko buku tua di belakang kampus, lalu ke kedai kecil yang menjual mi rebus dan teh panas.

“Ini kencan paling sederhana yang pernah kulakukan,” kataku.

“Kamu pernah ngelakuin kencan yang nggak sederhana?”

“Pernah.”

“Berhasil?”

“Nggak.”

“Berarti tempat ini lebih aman.”

Aku tertawa.

Kami duduk berhadapan. Aku menceritakan banyak hal yang biasanya tidak kuceritakan kepada siapa pun. Tentang bagaimana aku selalu merasa dibandingkan dengan Clara, tentang bagaimana aku menggunakan lelucon untuk menghindari percakapan serius, dan tentang rasa takutku bahwa semua orang hanya menyukaiku ketika aku menyenangkan.

Al mendengarkan tanpa menyela.

“Kamu nggak perlu selalu ngehibur orang,” katanya.

“Kalau aku berhenti, mereka bisa pergi.”

“Orang yang pergi cuma karena kamu nggak tersenyum bukan orang yang harus kamu pertahankan.”

Aku menatapnya. “Kamu sadar kalimatmu bisa bikin perempuan jatuh cinta?”

“Nggak.”

“Sekarang kamu tahu.”

“Aku tetap nggak ngerti.”

Aku berdiri setelah selesai makan. “Kalau gitu, aku harus jelasinnya.”

Al menatapku ketika aku mendekat.

“Eve.”

“Aku tahu.”

“Apa yang kamu tahu?”

“Kamu bakal bilang kita harus hati-hati.”

“Emang.”

“Kita udah bukan keluarga secara hukum.”

“Aku tahu.”

“Aku nggak minta kamu milih aku malam ini.”

“Terus?”

Aku meletakkan tanganku di kerah bajunya. “Aku cuma mau kamu tahu bahwa aku serius.”

Aku mencium Al lebih dulu.

Ciuman itu singkat. Tidak dramatis. Tidak seperti adegan film. Tapi ketika aku mundur, Al masih menatapku dengan wajah yang sulit dibaca.

“Kamu menyesal?” tanyaku.

“Nggak.”

“Kamu bakal bales?”

Al menarikku kembali dengan satu tangan di belakang leherku.

Ciuman kedua lebih lama. Lebih dalam. Tidak ada candaan yang bisa kupakai untuk melindungi diri.

Ketika kami berpisah, napasku tidak teratur.

“Sekarang kamu percaya aku nggak bercanda?” tanyanya.

Aku tersenyum. “Belum. Lakukan lagi.”

Al menggeleng, tetapi dia tetap mendekat.

Al tidak langsung mundur. Dia hanya menatapku seolah sedang memastikan aku tidak sedang memakai keberanian palsu.

“Kamu masih bisa bilang aku bercanda,” kataku.

“Aku nggak bakal bilang begitu.”

“Kamu suka aku?”

Pertanyaan itu akhirnya keluar juga. Sederhana, tapi membuat tenggorokanku terasa kering.

Al menatap meja, lalu kembali menatapku. “Aku tertarik.”

Aku mengerutkan dahi. “Tertarik itu jawaban paling aman yang bisa kamu pilih.”

“Aku lagi berusaha jujur tanpa janjiin sesuatu yang belum bisa kupastikan.”

“Kamu tahu, kadang orang cuma mau denger jawaban yang jelas.”

“Aku suka kamu, Eve.”

Aku terdiam.

Kalimat itu tidak diucapkan dengan suara dramatis. Al bahkan mengatakannya seperti sedang menyampaikan fakta yang sudah lama dia simpan di kepalanya. Justru itu yang membuatnya terasa lebih berat.

“Kamu suka aku, tapi kamu tetap bakal ngomong sama Agnes dan Clara?”

“Iya.”

Dadaku sempat mencelos, tetapi aku memaksa diri untuk tidak membuat lelucon. Kalau aku benar-benar ingin diperlakukan sebagai seseorang yang serius, aku harus berani mendengar jawaban yang tidak selalu sesuai keinginanku.

“Aku nggak suka berbagi,” kataku.

“Aku tahu.”

“Aku mungkin cemburu.”

“Itu juga wajar.”

“Kalau aku mulai bersikap nyebelin?”

“Bilang dulu sebelum nyimpulin.”

Aku menatapnya lama. “Kamu selalu punya jawaban yang masuk akal. Nyebelin.”

“Aku bisa pergi kalau kamu mau nenangin diri.”

“Jangan.”

Jawaban itu keluar terlalu cepat. Al berhenti, sementara aku merasakan panas naik ke wajahku.

“Maksudku, jangan pergi dulu,” kataku. “Aku belum selesai ngomong.”

Aku mengambil napas. Selama ini aku mengira orang hanya akan tinggal kalau aku membuat mereka tertawa. Malam itu, untuk pertama kalinya, aku mencoba meminta seseorang tinggal tanpa memberi pertunjukan apa pun.

“Aku bakal ngomong sama Clara dan Agnes,” kataku. “Bukan karena aku mau minta izin. Aku cuma nggak mau mereka tahu dari orang lain.”

“Itu keputusan yang baik.”

“Jangan kedengeran kayak guru.”

“Aku nggak lagi ngajar.”

“Kamu selalu begitu.”

Al tersenyum tipis. “Kamu tetap mau aku ngelakuin lagi?”

Aku menggigit bibir, lalu menarik kerah bajunya sekali lagi. “Jangan banyak ngomong.”

Ciuman berikutnya lebih lembut. Tidak terburu-buru, tidak untuk membuktikan siapa pun menang. Aku membiarkan diriku menikmati detik-detik ketika Al memegang pinggangku dan tidak mencoba menghindari perasaan yang sudah terlalu jelas.

Saat kami kembali ke rumah, lampu ruang tengah masih menyala. Eve yang biasanya paling berisik mendadak berjalan pelan, seolah suara langkah bisa membocorkan semuanya.

Di tangga, Al berhenti. “Kamu yakin nggak mau nunggu sampai besok buat ngomong sama mereka?”

“Aku takut kalau nunggu, aku bakal berubah jadi pengecut lagi.”

“Kamu nggak pengecut.”

“Aku sering bersembunyi di balik lelucon.”

“Itu bukan pengecut. Itu cara bertahan.”

Aku menatapnya. “Kalau gitu, mulai besok aku bakal belajar cara bertahan yang baru.”

Untuk pertama kalinya, aku tidak mencium Al demi mendapatkan reaksi.

Aku menciumnya karena aku benar-benar ingin dia tahu bahwa perasaanku bukan lelucon.