Chapter Fourteen
Eve Takut Sendirian
POV: Eve
Aku terbiasa tersenyum ketika sedang panik.
Kata orang, itu membuatku terlihat kuat. Padahal sebenarnya, aku hanya tidak tahu harus melakukan apa lagi.
Skandal video itu belum benar-benar selesai. Bukti sudah kuunggah, beberapa orang mulai membelaku, dan Dion tidak lagi menghubungiku secara langsung.
Tapi komentar tetap berdatangan.
Kamu cuma terkenal karena uang keluarga.
Tidak heran mantanmu pergi.
Perempuan seperti kamu memang pantas dipermalukan.
Aku membaca semuanya sambil tersenyum di depan kamera.
Malam itu, aku menghadiri acara peluncuran salah satu klien. Banyak orang mengenaliku. Mereka menyalamiku, meminta foto, dan bertanya seolah tidak pernah menulis komentar buruk beberapa jam sebelumnya.
Aku membalas semuanya dengan senyum yang sama.
Ketika acara selesai, aku masuk ke mobil dan baru sadar tanganku gemetar.
Aku meminta sopir berhenti di depan rumah. Aku tidak ingin langsung masuk. Kalau masuk, semua orang akan bertanya apakah aku baik-baik saja.
Aku tahu mereka akan peduli.
Entah kenapa, justru itu yang membuatku lebih sulit bernapas.
Aku masuk lewat pintu samping dan naik tangga tanpa menyalakan lampu. Di lantai dua, aku duduk di anak tangga paling ujung.
Aku mencoba menarik napas.
Satu.
Dua.
Tiga.
Dada terasa semakin sempit.
Aku menutup mulut dengan tangan agar tidak mengeluarkan suara. Rumah ini terlalu besar untuk seseorang yang sedang takut sendirian.
“Eve.”
Aku menoleh.
Al berdiri beberapa anak tangga di bawahku. Dia memakai kaus abu-abu dan membawa gelas air.
“Kamu ngagetin aku.”
“Aku nggak bersuara.”
“Tetap aja.”
Al tidak langsung mendekat. Dia duduk di anak tangga yang berjarak dua langkah dariku.
“Kamu baik-baik aja?”
Aku tertawa, tetapi suara yang keluar terdengar aneh. “Pertanyaan yang sangat sulit.”
“Kalau nggak bisa jawab, nggak perlu.”
Aku memejamkan mata.
Al meletakkan gelas di antara kami. “Tarik napas pelan.”
“Aku lagi berusaha.”
“Aku tahu.”
“Jangan lihat aku.”
“Oke.”
Dia memalingkan wajah ke arah jendela.
Aku tidak tahu kenapa itu membantu. Mungkin karena dia tidak memaksaku bercerita. Mungkin karena untuk pertama kalinya malam itu, seseorang tidak meminta senyum dariku.
Aku menarik napas perlahan.
“Hitung,” kata Al.
“Apa?”
“Tarik empat hitungan. Tahan dua. Buang enam.”
“Kamu pernah ngalamin ini?”
“Nggak.”
“Terus kok tahu?”
“Banyak baca.”
Aku mengikuti instruksinya.
Tarik empat hitungan. Tahan dua. Buang enam.
Beberapa kali kemudian, dada terasa sedikit lebih longgar.
Al masih melihat ke arah jendela.
“Kamu boleh lihat sekarang,” kataku.
Dia menoleh. “Udah lebih baik?”
“Sedikit.”
“Minum.”
Aku mengambil gelas air. Tangan masih gemetar, tetapi tidak separah tadi.
“Aku benci ini,” kataku.
“Apa?”
“Perasaan bahwa semua orang bisa lihat aku.”
Al diam.
“Aku kerja di dunia yang bikin orang merasa berhak nilai hidupku. Kalau aku keliatan bahagia, mereka bilang aku pura-pura. Kalau aku marah, mereka bilang aku nggak dewasa. Kalau aku diam, mereka bilang aku kalah.”
“Orang bakal tetap bicara.”
“Mudah buatmu bilang begitu. Kamu nggak peduli pada pendapat orang.”
“Aku peduli.”
Aku menoleh kepadanya. “Serius?”
“Kalau nggak, aku nggak bakal ngunci pintu kamar.”
Aku tertawa kecil. “Itu bukan peduli.”
“Buatku iya.”
Aku memeluk lutut. “Aku selalu keliatan kayak orang yang paling bahagia di ruangan. Itu bikin capek.”
“Kamu nggak harus keliatan begitu setiap saat.”
“Kalau aku berhenti tersenyum, orang-orang bakal tahu aku sebenarnya kacau.”
“Biarkan mereka tahu.”
“Kamu benar-benar nggak ngerti cara kerja dunia sosial.”
“Aku ngerti. Orang suka makai kelemahan orang lain.”
“Nah.”
“Tapi kamu yang ngasih mereka kunci.”
Aku menatapnya. “Apa?”
“Kamu biarin komentar mereka nentuin kapan kamu boleh tenang.”
Aku tidak langsung menjawab.
Al mengambil gelas kosong dari tanganku. “Jangan kasih kunci itu.”
“Kedengarannya kayak nasihat motivasi.”
“Aku nggak suka nasihat motivasi.”
“Kamu baru aja ngasih aku.”
“Aku cuma bilang.”
Aku tersenyum tipis. Kali ini tidak dipaksakan.
Kami duduk dalam diam beberapa menit. Aku mulai sadar bahwa Al tidak pernah berusaha menyentuhku atau membuat situasi ini terasa lebih romantis. Dia hanya duduk di sana, cukup dekat untuk membuatku tidak merasa sendirian dan cukup jauh untuk tidak membuatku tertekan.
Itu sangat menyebalkan.
Karena aku mulai menyukainya.
Aku menatap tangannya yang berada di anak tangga. Jari-jarinya panjang, ada bekas gores kecil di dekat ibu jari, mungkin karena memperbaiki sesuatu.
Aku mengulurkan tangan dan menyentuh pergelangan tangannya.
Al menoleh.
“Terima kasih,” kataku.
“Sama-sama.”
“Kamu nggak mau nanya kenapa aku nyentuh kamu?”
“Kamu udah jawab.”
“Aku bisa aja punya alasan lain.”
“Kamu emang punya?”
Aku kehilangan keberanian.
Al tidak menarik tangannya. Jarak kami kembali terasa terlalu dekat.
Aku mencondongkan tubuh sedikit. Bukan banyak. Hanya cukup untuk membuat napasku menyentuh pipinya.
Al memanggil namaku pelan. “Eve.”
Aku berhenti.
Nada suaranya tidak marah, tetapi jelas memperingatkan.
Aku mundur dan tertawa kecil. “Santai. Aku cuma mau lihat apakah kamu bakal panik.”
“Aku nggak panik.”
“Wajahmu nggak nunjukin apa-apa.”
“Emang.”
“Nyebelin.”
“Kamu udah bilang.”
Aku berdiri lebih dulu. “Jangan bilang ke siapa-siapa aku tadi hampir nyium kamu.”
“Aku nggak bakal bilang.”
“Termasuk Clara dan Agnes.”
“Aku nggak punya alasan.”
“Bagus.”
Aku berjalan menuju kamar, lalu menoleh lagi.
“Al.”
“Hm?”
“Kalau nanti aku panik lagi…”
“Panggil Helena.”
Aku menatapnya tajam.
“Atau Damar,” tambahnya.
“Kamu benar-benar nggak romantis.”
“Itu bukan tujuan.”
Aku masuk kamar sambil tersenyum.
Malam itu, untuk pertama kalinya sejak video itu tersebar, aku bisa tidur tanpa memeriksa komentar setiap sepuluh menit.
Keesokan paginya, aku turun lebih awal dan menemukan Al sedang membuat kopi. Dia menoleh sebentar ketika aku masuk.
“Tidur?”
“Lumayan.”
“Nggak meriksa komentar?”
“Aku nyoba.”
“Bagus.”
Aku duduk di kursi dekat meja. “Kamu nggak bakal nyeritain kejadian semalam ke siapa-siapa?”
“Nggak.”
“Bahkan kalau Clara nanya?”
“Terutama kalau Clara nanya.”
Aku tersenyum. “Kamu mulai bisa bercanda.”
“Aku cuma jagain rahasia.”
“Kedengarannya kayak sesuatu yang dilakuin orang romantis.”
“Nggak.”
“Kamu bahkan belum biarin aku selesai.”
“Aku udah tahu arahnya.”
Aku mengambil cangkir yang dia letakkan di depanku. Rasanya tidak terlalu manis, persis seperti yang kusukai.
“Kamu ingat?”
“Apa?”
“Gula.”
“Kamu selalu ngeluh kalau terlalu manis.”
Aku memandang kopi itu, lalu menunduk agar dia tidak melihat senyumku.
Mungkin karena Al tidak melihatku sebagai perempuan yang harus selalu terlihat sempurna.
Mungkin karena di depan dia, aku bisa menjadi Eve yang takut, berantakan, dan tidak tahu harus tersenyum atau tidak.
- 1 Bab 1 — Pernikahan Ayahku
- 2 Tiga Putri dan Satu Meja
- 3 Perjanjian Anti-Pewaris
- 4 Kamar Tamu dan Kamera Tersembunyi
- 5 Pria Biasa di Ruang Direksi
- 6 Kebocoran Pertama
- 7 Masalah Clara
- 8 Skandal Eve
- 9 Proyek Agnes
- 10 Satu Payung untuk Tiga Orang
- 11 Makan Malam yang Hampir Damai
- 12 Pembelaan Pertama
- 13 Jam Dua Pagi
- 14 Eve Takut Sendirian reading
- 15 Agnes Mengatakan yang Tidak Seharusnya
- 16 Victor Mulai Bergerak
- 17 Nama yang Tidak Pernah Dicari
- 18 Satu Tahun Pernikahan
- 19 Status yang Berubah
- 20 Clara Mengajak Berkencan
- 21 Eve Tidak Lagi Bercanda
- 22 Agnes Memilih dengan Sadar
- 23 Clara Melepas Kendali
- 24 Tiga Pengakuan, Satu Keputusan
- 25 Serangan terhadap Aegis
- 26 Clara Menjadi Umpan
- 27 Eve Tidak Mau Diam
- 28 Agnes Menemukan Celah
- 29 Zero Terbuka
- 30 Rumah yang Diserang
- 31 Nama yang Keluar dari Bayangan
- 32 Clara Melawan Dewan
- 33 Agnes Membuka Kunci
- 34 Zero di Depan Dunia
- 35 Pilihan yang Tidak Bisa Dibalik
- 36 Tidak Sendirian Lagi