Chapter Twenty Two
Agnes Memilih dengan Sadar
POV: Agnes
Aku tahu Eve dan Al pergi berkencan karena Eve tidak bisa menyimpan rahasia lebih dari satu hari.
Dia pulang dengan wajah bersinar, bibir sedikit bengkak, dan senyum yang membuatku ingin melempar bantal.
“Jangan tanya,” katanya ketika melihatku di ruang tengah.
Aku tidak bertanya.
Aku hanya menatapnya.
Eve akhirnya duduk di sampingku. “Oke, kamu boleh tanya.”
“Kalian ciuman?”
Eve tersenyum. “Iya.”
Dadaku terasa kosong.
Aku sudah tahu perasaan ini akan muncul. Aku hanya tidak siap ketika benar-benar melihatnya.
“Bagaimana?” tanyaku.
“Bagus.”
Aku menatapnya tajam.
“Maksudku, dia masih nyebelin,” lanjut Eve. “Tapi ciumannya bagus.”
Aku berdiri.
“Kamu marah?”
“Nggak.”
“Kamu keliatan marah.”
“Aku mau ke kamar.”
“Agnes.”
Aku berhenti.
Eve tidak lagi tersenyum. “Aku nggak bermaksud nyakitin kamu.”
“Kamu nggak ngelakuin apa-apa.”
“Aku tahu kamu masih suka sama dia.”
Aku menoleh. “Terus?”
“Aku nggak mau kita saling nyakitin.”
Aku tertawa kecil. “Kita bahkan belum ngelakuin apa-apa.”
Aku naik ke kamar dan menutup pintu.
Malam itu, aku duduk di depan laptop tanpa mengerjakan proyek. Aku terus memikirkan ciuman Eve, pengakuanku sendiri, dan cara Al menolakku dengan sangat hati-hati.
Dia tidak pernah mengatakan perasaanku salah.
Dia hanya mengatakan waktunya belum tepat.
Sekarang waktunya sudah tepat.
Tapi aku tetap merasa tertinggal.
Keesokan paginya, aku mengirim pesan kepada Al.
Aku ingin bertemu. Berdua.
Balasannya datang beberapa menit kemudian.
Tentang proyek?
Bukan.
Kalau begitu?
Aku mengetik cukup lama sebelum mengirim.
Aku ingin kencan.
Tidak ada balasan selama sepuluh menit.
Aku hampir menghapus pesan itu ketika ponselku bergetar.
Baik. Kapan?
Aku memilih tempat yang tidak terlalu ramai. Sebuah pusat teknologi kecil yang sedang mengadakan pameran perangkat lunak mahasiswa. Aku ingin Al melihat sesuatu yang berasal dari duniaku, bukan hanya membawaku ke tempat yang dia pilih.
Al datang tepat waktu dengan pakaian sederhana. Dia membawa dua botol air dan sebuah tas kecil.
“Kamu bawa apa?” tanyaku.
“Obat sakit kepala.”
“Aku nggak sakit.”
“Kamu biasanya sakit kepala kalau berada di tempat ramai.”
Aku menatapnya. “Kamu ingat?”
“Kamu pernah ngeluh.”
Aku menerima botol air itu.
Kami berjalan melewati stan-stan pameran. Aku menjelaskan beberapa aplikasi yang dibuat mahasiswa. Al mendengarkan dengan serius, bahkan ketika aku membicarakan hal yang tidak sepenuhnya dia pahami.
Di salah satu stan, aku menunjukkan prototipe aplikasi milikku.
“Ini masih jauh dari selesai,” kataku.
“Tapi strukturnya lebih baik.”
“Kamu belum lihat kodenya.”
“Aku lihat cara kamu jelasinnya.”
Aku menatapnya. “Kamu lagi muji aku?”
“Sedikit.”
“Aku bakal inget ini.”
“Jangan.”
“Terlambat.”
Kami makan di kantin kecil setelah pameran selesai. Aku sengaja memilih meja paling pojok.
“Aku nggak mau kamu nganggep aku kayak anak kecil lagi,” kataku.
Al meletakkan sendok. “Aku nggak pernah nganggep kamu anak kecil.”
“Kamu selalu perlakuin aku kayak seseorang yang harus diselametin.”
“Aku bantu karena kamu minta.”
“Terus kalau aku nggak minta?”
“Aku bakal tetap bantu kalau situasinya perlu.”
“Itu sama aja.”
“Nggak.”
“Kenapa?”
“Karena bantu seseorang nggak berarti nganggep lemah.”
Aku diam.
Al menatapku dengan tenang. “Kamu mau dianggep dewasa?”
“Iya.”
“Maka jangan maksa dirimu keliatan kuat setiap saat.”
Aku menunduk. “Kamu nggak adil.”
“Kenapa?”
“Kamu selalu tahu cara bikin aku nggak bisa bales.”
“Aku nggak lagi berdebat.”
“Justru itu.”
Setelah makan, kami berjalan ke taman kecil di belakang gedung. Tempatnya sepi. Hanya ada beberapa bangku dan pohon yang daunnya bergerak terkena angin.
Aku berhenti di dekat pagar.
“Aku masih suka sama kamu,” kataku.
Al tidak terlihat terkejut.
“Aku tahu.”
“Sekarang kita udah bukan keluarga secara hukum.”
“Iya.”
“Aku nggak lagi terbawa suasana rumah. Aku nggak lagi merasa berutang karena kamu bantuin aku. Aku udah mikirin ini setiap hari.”
Al menatapku. “Agnes.”
“Aku tahu kamu bakal hati-hati.”
“Aku emang harus hati-hati.”
“Tapi jangan perlakukan aku kayak keputusan yang harus kamu lindungi.”
Al diam.
Aku berdiri lebih dekat. “Aku milih ini sendiri.”
“Kamu yakin?”
“Kalau nggak yakin, aku nggak bakal ngajak kamu.”
Al mengangkat tangan, menyentuh pipiku, lalu berhenti seolah memberi kesempatan untuk mundur.
Aku tidak mundur.
Ciuman pertama kami terasa canggung karena aku terlalu sadar pada setiap gerakannya. Aku memegang ujung bajunya, sementara tangannya tetap di pipiku.
Ketika kami berpisah, wajahku terasa panas.
“Kamu boleh tertawa,” kataku.
“Aku nggak tertawa.”
“Wajahmu keliatan mau.”
“Aku lagi berpikir.”
“Tentang apa?”
“Kamu berani.”
Aku menatapnya. “Aku nggak mau kalah dari Eve.”
“Ini bukan perlombaan.”
“Aku tahu.”
Aku menggenggam tangannya. “Makanya aku nggak bakal nyembunyiin apa aja.”
Al membalas genggamanku.
Kami tidak langsung pulang setelah itu. Aku mengajak Al duduk di bangku taman, meski angin mulai terasa dingin dan pameran sudah hampir benar-benar sepi.
“Aku pernah ngajak seseorang kencan,” kataku.
Al menunggu.
“Dia bilang aku terlalu muda. Padahal umur kami cuma berbeda beberapa tahun.”
“Dia nggak tahu cara ngehargain kamu.”
“Atau mungkin aku emang keliatan terlalu muda.”
“Kamu keliatan muda.”
Aku memukul lengannya. “Jangan bantu.”
“Tapi keliatan muda bukan berarti nggak dewasa.”
Aku menatap sepatu sendiri. “Di rumah ini, semua orang punya alasan buat lindungin aku. Clara karena dia kakak. Eve karena dia merasa paling tahu. Kamu karena kamu selalu lihat masalah sebelum aku lihatnya.”
“Terus kamu mau berhenti dilindungi.”
“Aku mau boleh milih kapan nerima bantuan.”
Al mengangguk. “Itu bisa kita lakukan.”
Aku meliriknya. “Kita?”
“Kalau kamu ngizinin.”
Satu kalimat itu membuat hatiku bergerak aneh. Bukan karena terdengar romantis, tetapi karena Al tidak mengambil keputusan untukku. Dia hanya menunggu izin.
“Aku ngizinin,” kataku.
Ponselku bergetar. Pesan dari Eve masuk.
“Udah selesai kencannya?”
Aku menunjukkan layar itu kepada Al.
“Jawab apa?” tanyanya.
“Aku mau jujur.”
Aku mengetik: “Udah. Kami ciuman.”
Balasan Eve datang cepat: “Akhirnya.”
Aku menatap pesan itu dengan kesal. “Dia nggak kaget sama sekali.”
“Mungkin dia udah tahu.”
“Semua orang tahu perasaanku kecuali aku sendiri.”
Al tertawa kecil. Suara itu jarang terdengar, dan aku langsung menyimpannya baik-baik di ingatan.
Sebelum kami berpisah di depan rumah, Al berdiri menghadapku. “Agnes.”
“Hm?”
“Kalau nanti kamu cemburu, jangan nyiksa diri sendiri.”
Aku menelan ludah. “Kamu udah tahu aku bakal cemburu?”
“Kalian semua mungkin bakal cemburu.”
“Termasuk kamu?”
“Mungkin.”
Jawaban itu membuatku tersenyum. “Bagus. Berarti kamu bukan robot.”
“Aku nggak pernah bilang aku robot.”
“Sikapmu sering ndukung dugaan itu.”
Al mengulurkan tangannya. Aku menyambutnya, lalu menggenggam lebih erat daripada sebelumnya.
Ketika masuk rumah, aku menemukan Eve menunggu di dekat dapur. Dia tidak mengejekku. Dia hanya mengangkat alis.
“Aku nggak bakal nanya detail,” katanya.
“Bagus.”
“Tapi aku mau tahu apakah kamu bahagia.”
Pertanyaan itu jauh lebih sulit dijawab.
Aku mengangguk. “Iya. Aku bahagia.”
Eve tersenyum, lalu memelukku sebentar. Tidak ada persaingan dalam pelukan itu. Hanya pengakuan bahwa kami sedang masuk ke sesuatu yang rumit bersama-sama.
Di kamar, aku menulis ulang presentasi aplikasiku sampai hampir tengah malam. Bukan karena Al memintaku memperbaikinya, tetapi karena aku ingin membuktikan kepada diriku sendiri bahwa keberanian dalam perasaan tidak boleh menggantikan usaha dalam hidup.
Sebelum tidur, pesan Al masuk.
“Sampai rumah?”
Aku tersenyum dan membalas, “Udah. Kamu?”
“Udah.”
“Besok jangan perlakuin aku kayak anak kecil.”
“Besok aku bakal nanya apa yang kamu inginkan.”
Aku membaca pesan itu dua kali. Lalu untuk pertama kalinya, aku tidur tanpa membandingkan diriku dengan kakak-kakakku.
Untuk pertama kalinya, aku tidak merasa menjadi putri bungsu yang mengejar seseorang lebih dewasa.
Aku merasa seperti perempuan yang memilih sendiri siapa yang ingin berdiri di sampingnya.
- 1 Bab 1 — Pernikahan Ayahku
- 2 Tiga Putri dan Satu Meja
- 3 Perjanjian Anti-Pewaris
- 4 Kamar Tamu dan Kamera Tersembunyi
- 5 Pria Biasa di Ruang Direksi
- 6 Kebocoran Pertama
- 7 Masalah Clara
- 8 Skandal Eve
- 9 Proyek Agnes
- 10 Satu Payung untuk Tiga Orang
- 11 Makan Malam yang Hampir Damai
- 12 Pembelaan Pertama
- 13 Jam Dua Pagi
- 14 Eve Takut Sendirian
- 15 Agnes Mengatakan yang Tidak Seharusnya
- 16 Victor Mulai Bergerak
- 17 Nama yang Tidak Pernah Dicari
- 18 Satu Tahun Pernikahan
- 19 Status yang Berubah
- 20 Clara Mengajak Berkencan
- 21 Eve Tidak Lagi Bercanda
- 22 Agnes Memilih dengan Sadar reading
- 23 Clara Melepas Kendali
- 24 Tiga Pengakuan, Satu Keputusan
- 25 Serangan terhadap Aegis
- 26 Clara Menjadi Umpan
- 27 Eve Tidak Mau Diam
- 28 Agnes Menemukan Celah
- 29 Zero Terbuka
- 30 Rumah yang Diserang
- 31 Nama yang Keluar dari Bayangan
- 32 Clara Melawan Dewan
- 33 Agnes Membuka Kunci
- 34 Zero di Depan Dunia
- 35 Pilihan yang Tidak Bisa Dibalik
- 36 Tidak Sendirian Lagi