← Tiga Putri Jatuh Cinta

Chapter Sixteen

Victor Mulai Bergerak

POV: Al

Sejak Agnes mengatakan bahwa dia menyukaiku, rumah menjadi lebih sunyi.

Bukan karena orang-orang berhenti bicara. Eve masih tertawa terlalu keras, Clara masih menerima telepon sambil berjalan cepat, dan Helena masih berusaha membuat semua orang duduk bersama saat makan.

Agnes hanya tidak lagi berada di ruangan yang sama denganku.

Kalau aku masuk dapur, dia pergi ke ruang tengah. Kalau aku duduk di teras, dia naik ke kamar. Pesan tentang proyeknya juga berhenti.

Aku tidak mengejarnya.

Bukan karena aku tidak peduli. Justru karena aku peduli, aku tidak ingin membuat keadaan semakin sulit.

Pagi itu, Helena menerima telepon dari kantor. Wajahnya langsung berubah setelah mendengar beberapa kalimat.

“Rapat dewan?” tanya Damar.

Helena mengangguk. “Victor minta rapat darurat.”

Clara meletakkan cangkir kopinya. “Tentang kebocoran?”

“Tentang laporan cabang timur dan kondisi perusahaan.”

Aku baru saja mengambil roti ketika Victor masuk melalui pintu utama. Dia tidak datang sendirian. Dua orang dari tim hukum mengikutinya membawa map tebal.

“Kita perlu ngebahas keputusan strategis,” kata Victor.

Helena menatapnya. “Di rumah?”

“Saya pikir semua orang perlu denger.”

Clara langsung berdiri. “Kalau soal perusahaan, kita bicara di kantor.”

“Kantor udah terlalu banyak orang yang ngambil keputusan tanpa lihat akibatnya.”

Tatapan Victor beralih kepadaku.

Aku mengunyah roti dengan tenang.

“Kebocoran data terjadi setelah putra Damar masuk ke jaringan perusahaan,” lanjutnya. “Laporan keuangan bermasalah ketika dia mulai ikut campur.”

“Aku nggak masuk ke jaringan perusahaan,” kataku.

“Kamu benerin log akses.”

“Dengan izin Clara.”

Victor melihat Clara. “Kamu ngasih dia akses?”

“Akses terbatas.”

“Tetap aja akses.”

Helena memotong. “Victor, langsung ke intinya.”

Victor meletakkan map di meja. “Dewan mau nunjuk pengawas independen buat ngambil alih keputusan operasional sementara.”

Clara tertawa tanpa humor. “Pengawas independen pilihanmu?”

“Pilihan dewan.”

“Dewan yang kamu kendalikan.”

“Hati-hati, Clara.”

“Aku selalu hati-hati.”

Damar berdiri di samping Helena. “Apa yang sebenarnya kamu inginkan?”

Victor menatapnya seperti baru menyadari keberadaannya. “Saya mau perusahaan nggak diseret oleh masalah pribadi.”

“Pernikahan Helena adalah urusan pribadi,” kata Damar.

“Nggak kalau ngaruhin stabilitas pemegang saham.”

Aku menaruh roti di piring.

“Kalau mau ngambil kendali perusahaan, jangan makai kebocoran data sebagai alasan,” kataku.

Victor menoleh. “Kamu pikir kamu ngerti apa?”

“Cukup ngerti bahwa orang yang paling keras nuduh biasanya lagi ngalihin perhatian.”

Clara menatapku, tetapi tidak menyuruhku diam.

Victor tersenyum tipis. “Kamu semakin percaya diri.”

“Aku cuma belum sarapan selesai.”

Eve hampir tersedak kopinya.

Victor mengumpulkan map. “Rapat dewan bakal berlangsung besok. Kalau Helena nggak nyerahin sebagian wewenangnya, kami bakal ngajuin pemungutan suara.”

“Kamu nggak punya cukup suara,” kata Clara.

“Belum.”

Dia pergi setelah meninggalkan suasana yang jauh lebih berat daripada sebelumnya.

Setelah pintu tertutup, Helena memijat pelipisnya.

“Dia udah nunggu kesempatan ini,” kata Clara.

“Kita punya bukti kebocoran berasal dari sistem internal,” kataku.

Clara menoleh. “Bukti yang cukup?”

“Belum.”

“Apa yang kurang?”

“Perangkat yang dipakai buat nyalin data.”

Helena menatapku. “Kamu bisa nemuin?”

“Mungkin.”

“Aku minta kamu berhati-hati.”

“Aku selalu berhati-hati.”

Eve menyandarkan tubuh ke kursi. “Kamu nggak keliatan kayak orang yang hati-hati.”

“Aku keliatan kayak apa?”

“Kayak orang yang bakal masuk ke ruangan terbakar cuma karena penasaran.”

“Aku nggak penasaran.”

“Kamu bahkan baru kenal kami tapi udah ikut rapat perusahaan.”

“Itu karena Clara nyeret aku.”

Clara tidak membantah.

Sore harinya, aku kembali memeriksa salinan log. Ada satu pola yang belum sempat kuperhatikan. Perangkat palsu itu muncul di jaringan internal bukan hanya saat laporan dibuka. Dua hari sebelumnya, perangkat yang sama mengakses folder kontrak lama milik Helena.

Seseorang tidak sekadar ingin merusak reputasi perusahaan.

Dia sedang mencari dokumen tertentu.

Aku mengirim salinan pola tersebut kepada Clara, lalu menutup laptop.

Beberapa menit kemudian, pesan masuk dari nomor yang sama seperti malam sebelumnya.

Kamu sudah diperingatkan.

Aku tidak membalas.

Di bawah pesan itu muncul satu foto. Foto Damar keluar dari rumah sakit, diambil dari seberang jalan.

Aku berdiri dari kursi.

Aku mengirim foto itu kepada Mikael dan meminta dia mencari sumbernya. Lima menit kemudian, dia membalas bahwa foto tersebut diambil dari kamera jalanan, bukan dari perangkat milik Victor.

Itu berarti seseorang sengaja mengawasi Damar dari tempat terbuka.

Aku turun ke ruang tengah. Damar sedang membaca koran, tetapi matanya tidak benar-benar mengikuti tulisan.

“Ayah tahu ada orang yang motret Ayah kemarin?”

Damar menurunkan koran. “Motret?”

Aku menunjukkan foto di ponsel.

Dia melihatnya sebentar, lalu menghela napas. “Mungkin cuma kebetulan.”

“Kebetulan yang ngirim foto ke aku?”

“Dari mana mereka tahu nomor kamu?”

“Itu yang lagi kucari.”

Damar menatapku dengan wajah yang lebih serius. “Al, jangan bikin masalah ini lebih besar.”

“Aku nggak bikin.”

“Kamu tahu maksud Ayah.”

“Aku nggak bakal nyerang siapa aja.”

“Tapi kamu bakal nyari.”

“Iya.”

Damar diam. Dia tahu tidak ada gunanya melarangku kalau aku sudah memutuskan sesuatu.

“Kalau gitu, jangan lakukan sendirian,” katanya.

Aku hampir tertawa. Biasanya ayah yang menyuruhku berhenti. Kali ini dia hanya meminta agar aku tidak menanggung semuanya sendiri.

“Aku bakal hati-hati.”

“Itu bukan jawaban yang ngeyakinin.”

“Tapi itu jawaban yang bisa kuberikan.”

Aku kembali ke kamar dan membuka semua kamera keamanan yang mengarah ke halaman depan. Foto Damar diambil dari sudut yang tidak tertangkap kamera rumah, tetapi bayangan kendaraan terlihat di ujung jalan.

Aku memperbesar gambar tersebut. Nomor platnya tertutup lumpur, namun bentuk lampu belakang dan stiker kecil di kaca cukup untuk memberi petunjuk.

Kendaraan itu pernah masuk ke area parkir kantor Wijaya dua kali dalam seminggu terakhir.

Aku mencatat waktunya, lalu mengirim salinan kepada Clara.

Balasannya datang beberapa menit kemudian.

Kamu tidak tidur?

Belum.

Jangan bergerak sendiri.

Aku sedang duduk.

Al.

Baik. Aku tidak akan keluar rumah.

Dia tidak membalas lagi. Tapi setelah itu, lampu di lorong dekat kamarku menyala. Clara mungkin ingin memastikan aku benar-benar berada di rumah.

Untuk pertama kalinya sejak datang ke rumah ini, rasa malas yang biasanya melindungiku tidak muncul.

Yang muncul hanya satu pikiran: seseorang sudah mulai menyentuh keluargaku.