← Tiga Putri Jatuh Cinta

Chapter Thirty Three

Agnes Membuka Kunci

POV: Agnes

Hari setelah konferensi pers, nama Zero menjadi topik paling banyak dibicarakan di internet.

Sebagian orang menyebut Al jenius. Sebagian lain menyebutnya penipu. Ada yang memuji keputusan transparansinya, ada pula yang menganggap dia hanya mencari perhatian.

Aku membaca semuanya sampai kepala terasa berat.

“Kamu nggak perlu baca komentar,” kata Eve.

“Aku lagi ngumpulin pola.”

“Kamu lagi nyiksa diri.”

“Pola komentar bisa nunjukin sumber kampanye.”

Eve mengambil laptop dari tanganku.

“Kalau aku nggak balikinnya?”

“Aku bakal ngambilnya.”

“Kamu kedengeran kayak Al.”

“Itu penghinaan.”

Dia tertawa, lalu mengembalikan laptop.

Aku memang menemukan sesuatu. Berita pertama muncul dari tiga akun berbeda dalam jarak waktu kurang dari dua menit. Ketiganya memakai frasa yang hampir sama, tetapi bukan hasil salin-tempel biasa. Ada struktur kalimat yang berasal dari dokumen internal.

“Lihat,” kataku.

Clara datang dari ruang kerja. “Apa?”

“Berita ini makai istilah yang cuma ada di laporan hukum Aegis. Dokumen itu belum dirilis.”

“Berarti ada kebocoran baru,” kata Clara.

“Bukan dari perusahaan,” jawabku. “Dokumen itu cuma berada di tiga tempat.”

“Pengacara, penyidik, dan server cadangan,” kata Al.

Dia baru masuk sambil membawa kopi.

Aku menampilkan jalur distribusi dokumen.

“Nggak ada akses ilegal dari server,” kataku. “Tapi ada permintaan metadata dari sebuah sistem pengarsipan pengadilan.”

Clara mengerutkan kening. “Raka ngajuin permohonan pembekuan aset.”

“Terus makai permohonan itu buat baca lampiran.”

Al meletakkan kopinya.

“Dia nyari kunci lain,” katanya.

“Kunci apa?”

“Bukan kunci buat masuk ke Aegis. Kunci buat buktiin bahwa dia punya hak atas bagian algoritma.”

Aku membuka catatan lama yang ditemukan Clara.

Raka tercatat sebagai kontributor pada modul pemulihan. Namun tanda tangannya hanya ada pada salinan yang sudah diubah. Dokumen asli menunjukkan modul itu dibuat setelah dia meninggalkan proyek.

“Dia malsuin tanggal,” kataku.

“Terus nanam jalur pemulihan makai salinan palsu,” kata Al.

Clara membaca dokumen itu. “Kalau kita buktiin ini, permohonan pembekuan asetnya bisa dibatalin.”

“Belum cukup,” kata Al. “Dia masih punya salinan inti.”

Aku menatapnya.

“Di perangkat yang mati?” tanyaku.

“Perangkatnya emang mati, tapi data bisa dipindahin sebelum itu.”

Aku memeriksa log dari malam penyerangan.

Ada satu koneksi yang tidak sempat kami tutup. Berasal dari data center lama, tetapi menuju jaringan lain di luar negeri.

“Dia ngirim sebagian algoritma ke server luar,” kataku.

“Server siapa?” tanya Eve.

Aku memperbesar alamatnya.

“Perusahaan investasi bernama North Vale.”

Clara langsung berdiri. “Itu investor yang dulu dibawa Victor.”

Helena datang setelah mendengar namanya. Wajahnya berubah.

“North Vale ngehubungin saya tiga tahun terus,” katanya. “Mereka mau beli sebagian saham perusahaan.”

“Victor yang ngatur pertemuan,” kata Clara.

“Dia mau makai perusahaan Mama sebagai pintu masuk,” kataku.

Al memandang layar.

“Serangan terakhir belum selesai,” katanya.

“Apa maksudmu?”

“North Vale nggak butuh seluruh algoritma. Mereka cuma perlu bagian validasi. Kalau bagian itu dipasang di sistem mereka, mereka bisa bikin jaringan baru yang keliatan sah.”

“Berarti mereka masih bisa makai data yang dicuri.”

“Iya.”

Aku merasa tangan mulai dingin.

“Di mana servernya?”

Al menatap Mikael melalui panggilan.

“Cari.”

Mikael bekerja selama beberapa menit.

“Kami nemu lokasi,” katanya. “Server berada di pusat data milik perusahaan cangkang. Mereka ngadain demonstrasi teknologi malam ini.”

“Demonstrasi?” tanya Eve.

“North Vale bakal ngumumin platform baru,” jawab Al. “Kalau algoritma itu dipakai dalam demonstrasi, mereka bisa ngeklaim kepemilikan publik.”

Clara memandang Al. “Kita harus ngehentiinnya.”

“Kita nggak bisa nyerbu pusat data asing,” kata Helena.

“Kita nggak perlu nyerbu,” jawabku. “Kita perlu bikin mereka jalanin kode yang bisa buktiin asalnya.”

Semua orang menatapku.

Aku menjelaskan rencana. Kami akan mengirim umpan berupa paket validasi yang tampak seperti pembaruan keamanan. Ketika North Vale memasukkannya ke sistem demonstrasi, paket itu akan membangun jejak autentikasi yang menghubungkan kode tersebut dengan salinan asli Aegis.

“Kalau mereka nggak makai kode itu?” tanya Al.

“Mereka bakal nolak pembaruan.”

“Terus kalau mereka ngeceknya?”

“Mereka bakal lihat sesuatu yang mau mereka gunakan.”

Al menatapku cukup lama.

“Rencana itu berisiko,” katanya.

“Semua rencana kita berisiko.”

“Kalau gagal, mereka bakal tahu kita ngawasin.”

“Kalau nggak dilakuin, mereka bakal jual hasil curian sebagai milik mereka.”

Al mendekat. “Kamu nggak harus buktiin keberanianmu.”

“Aku nggak lagi buktiin apa aja.”

“Kamu berdiri terlalu deket sama bahaya.”

“Aku tahu.”

“Agnes.”

Aku memegang ujung bajunya.

“Jangan nyuruh aku mundur,” kataku. “Aku udah ngomong ini sebelumnya.”

Al menatapku. Kemudian dia menyentuh pipiku.

“Kalau sesuatu terjadi?”

“Kalau sesuatu terjadi, aku bakal bilang.”

“Bukan itu maksudku.”

“Aku tahu.”

Aku mencium dia.

Ciuman itu membuat suara ruangan menghilang. Tangannya memeluk pinggangku, dan untuk beberapa detik aku tidak merasa seperti gadis paling muda di rumah, bukan analis cadangan, bukan seseorang yang selalu diberi perlindungan.

Aku hanya Agnes.

Seseorang yang memilih berada di sisinya.

Ketika kami berpisah, Eve berdeham dari sofa.

“Kalau kalian selesai, aku mau ngingetin bahwa rapat ini punya saksi.”

“Jangan lihat,” kataku.

“Aku udah lihat.”

Clara mengambil alih laptop.

“Kita punya waktu empat jam sebelum demonstrasi dimulai.”

Kami bekerja tanpa berhenti. Eve menghubungi dua jurnalis yang bisa menahan berita sampai bukti siap. Clara mengirim dokumen hukum kepada pengacara. Al dan Mikael menyiapkan jalur autentikasi. Aku membangun paket umpan.

Di tengah proses, muncul satu pesan dari server North Vale.

KAMI TAHU KALIAN MENCOBA MENYISIPKAN KODE.

Aku menatap layar.

“Bagaimana mereka tahu?” tanya Eve.

“Karena pesan itu bukan dari mereka,” kata Al.

“Apa?”

“Ini umpan balik palsu. Mereka mau kita berpikir rencana gagal.”

Aku memeriksa struktur pesannya.

Al benar. Ada satu tanda kecil yang hanya muncul pada sistem yang meniru.

“Aku bisa maksa mereka buka jalur autentikasi,” kataku.

“Bagaimana?”

“Dengan ngirim paket yang tampak rusak.”

Al tersenyum tipis.

“Kamu mulai kedengeran kayak Zero.”

“Aku belajar dari orang yang nyebelin.”

Aku mengirim paket terakhir.

Beberapa menit kemudian, sistem North Vale menerimanya.

Di layar muncul jejak autentikasi.

Bukan hanya bukti bahwa kode itu berasal dari Aegis, tetapi juga bukti bahwa salinan tersebut diakses menggunakan kredensial Victor dan Raka.

Aku menyimpan semuanya.

“Bukti lengkap,” kataku.

Al menutup matanya sebentar.

Konferensi demonstrasi North Vale dimulai. Sebelum mereka sempat menjalankan platform, semua jurnalis yang dihubungi Eve menerima dokumen.

Berita itu berubah arah.

Bukan lagi tentang Zero yang menjadi miliarder anonim.

Kali ini, dunia melihat bahwa North Vale mencoba menjual teknologi curian.

Di layar televisi, pembawa acara membacakan nama Victor dan Raka.

Clara menatap Helena.

“Mama, kamu nggak perlu lindungi mereka.”

Helena mengangguk.

“Nggak,” katanya. “Kali ini aku bakal lindungi kebenaran.”

Aku memandang Al.

“Ini belum selesai,” katanya.

“Aku tahu.”

Di layar, logo North Vale menghilang dari presentasi.

Namun sebuah jendela kecil muncul di laptopku.

Kalau kami jatuh, kami akan membawa Zero bersama kami.

Aku menatap pesan itu.

Sebelum menjalankan rencana, kami mengadakan pertemuan kecil dengan pengacara dan penyidik. Aku menjelaskan jalur pemulihan palsu, sementara Mikael menunjukkan waktu akses dan alamat jaringan.

“Kalau North Vale nyebarin potongan kode ini, mereka bisa nuduh Aegis ngelakuin sabotase,” kata penyidik.

“Karena itu jejak autentikasinya harus disimpen di luar kendali kami,” jawabku.

Pengacara Clara menatapku. “Kamu siap kalau nama kamu disebut dalam dokumen publik?”

“Aku udah siap sejak konferensi pers.”

“Dokumen pengadilan nggak bisa kamu kendalikan.”

“Aku tahu.”

Eve duduk di sampingku. “Kalau mereka nulis hal buruk, kita baca bersama-sama.”

“Aku nggak mau kalian harus ngelakuin itu.”

“Berhenti mutusin apa yang harus kami lakukan,” katanya.

Agnes menyimpan salinan terakhir. “Nggak ada satu pihak pun yang megang seluruh bukti.”

Aku melihat mereka bertiga. Mereka tidak meminta janji romantis. Mereka hanya memastikan aku tidak bisa kembali ke kebiasaan lama.

Dan justru itu yang membuatku merasa dicintai.

Aku menutup laptop lebih pelan dari biasanya. Kalau dulu aku akan menyimpan semua bukti dan menghilang, kali ini aku membiarkan mereka melihat seluruh prosesnya.

Kali ini, aku tidak merasa takut.

Aku hanya membuka laptop lebih lebar.

“Kalau gitu,” kataku, “mari kita pastikan mereka nggak punya tempat buat bersembunyi.”