← Tiga Putri Jatuh Cinta

Chapter Thirty One

Nama yang Keluar dari Bayangan

POV: Eve

Berita itu muncul pukul tujuh pagi, tepat ketika aku sedang memasukkan roti ke mulut.

ZERO TERUNGKAP? PEMILIK ALGORITMA AEGIS DIDUGA BERADA DI DALAM KELUARGA WIJAYA

Aku berhenti mengunyah.

Di bawah judul itu ada foto rumah kami. Bukan foto dari depan seperti yang biasa muncul di internet, tetapi foto dari sudut jalan yang hanya bisa diambil oleh seseorang yang berdiri cukup dekat.

Aku menelan roti dengan susah payah.

“Al,” panggilku.

Dia baru masuk ke ruang makan bersama Clara dan Agnes. Wajahnya masih mengantuk, tetapi ketika melihat layar ponselku, seluruh ekspresinya langsung berubah.

“Jangan buka komentar,” katanya.

“Udah terlambat.”

Aku menggulir layar.

Nama Al belum disebut secara langsung, tetapi ada cukup banyak petunjuk. Usianya, riwayat pendidikan, hubungan dengan Damar, dan kehadirannya di rumah Helena. Seseorang bahkan mengunggah foto Al ketika sedang memperbaiki sistem keamanan perusahaan.

Komentar-komentar itu lebih buruk.

Jenius anonim ternyata anak orang biasa yang numpang keluarga kaya.

Jangan-jangan semua kekayaannya cuma hasil pencucian uang.

Tiga putri itu pasti tahu. Mereka terlibat juga.

Aku mematikan layar.

“Media mana?” tanya Clara.

“Portal teknologi dan dua akun investigasi.”

“Beritanya udah dikonfirmasi?” tanya Agnes.

“Belum,” jawab Al.

Dia duduk, lalu mengambil ponselku. Jemarinya bergerak cepat. Tidak ada kepanikan di wajahnya, tetapi aku mengenalnya cukup baik untuk tahu bahwa dia sedang menahan sesuatu.

Helena datang beberapa menit kemudian. Damar berada di belakangnya.

“Kita harus manggil pengacara,” kata Clara.

“Udah,” jawab Helena. “Mereka lagi menuju sini.”

“Apa yang bakal kita katakan?” tanya Agnes.

Al menaruh ponsel di meja.

“Nggak ada.”

Aku menatapnya. “Nggak ada?”

“Kalau kita ngebantah tanpa bukti, mereka bakal nganggep kita panik. Kalau kita ngakuin tanpa rencana, mereka bakal makai setiap kalimat buat nyerang.”

“Kamu nyuruh kita diam?” tanyaku.

“Aku nyuruh kita nggak bereaksi secara terburu-buru.”

“Kamu sadar mereka udah nyebut rumah kita?”

“Aku sadar.”

“Terus mereka nyebut kami.”

“Aku juga sadar.”

Nada suaranya tetap datar. Itu membuatku ingin mengguncang bahunya.

“Kalau kamu terus jawab kayak robot, aku bakal ngebongkar laptopmu,” kataku.

“Aku punya cadangan.”

“Al.”

Dia menatapku.

“Kami nggak bakal diam kalau nama kami dipakai buat nekan kamu,” lanjutku. “Aku nggak peduli apakah publik percaya atau nggak. Aku nggak mau orang lain nulis cerita tentang kami sementara kami cuma duduk nunggu.”

Clara mengangguk. “Eve benar.”

Al melihat mereka satu per satu.

“Aku bakal ngadain konferensi pers,” katanya.

Helena langsung menoleh. “Nggak.”

“Kalau aku terus bersembunyi, mereka bakal jadiin keluarga ini tameng. Kalau aku muncul, setidaknya arah pertanyaannya jelas.”

“Kamu bakal buka identitasmu,” kata Damar.

“Identitas itu udah terbuka sebagian.”

“Sebagian bukan semuanya,” kata Clara.

Aku melihat Al menggenggam ponselnya. “Kamu takut?”

“Nggak.”

“Bohong,” kataku.

Dia terdiam.

“Takut itu bukan dosa,” lanjutku. “Yang nyebelin adalah kamu selalu nganggep takut berarti harus pergi sendirian.”

Al memandangku cukup lama.

“Kamu mau ngelakuin apa?” tanyanya.

“Aku bakal ngurus narasi publik.”

“Eve.”

“Aku serius. Aku tahu cara orang baca seseorang. Aku tahu kapan mereka lagi nyari kebenaran dan kapan mereka cuma mau keributan.”

Clara menyahut, “Dia juga bisa ngehubungin beberapa jurnalis yang nggak suka nerima informasi mentah.”

“Aku nggak tahu kalian punya akses sejauh itu,” kata Al.

“Kamu nggak pernah nanya,” jawabku.

Untuk pertama kalinya sejak berita itu muncul, sudut bibir Al bergerak sedikit.

Hari itu rumah kami berubah menjadi ruang rapat. Pengacara datang. Tim komunikasi Helena datang. Mikael bergabung melalui panggilan terenkripsi. Semua orang membahas hak paten, kontrak lisensi, kemungkinan penyitaan aset, dan risiko penyebaran identitas.

Aku duduk di samping Al dan mencatat hal-hal yang harus dijawab.

Pertanyaan pertama: apakah Al adalah Zero?

Pertanyaan kedua: apakah Aegis dibangun menggunakan dana ilegal?

Pertanyaan ketiga: apakah hubungan Al dengan keluarga Wijaya membuat perusahaan mendapat keuntungan khusus?

Pertanyaan keempat: apakah Clara, Eve, dan Agnes mengetahui semuanya?

Aku menatap daftar itu.

“Yang terakhir bakal jadi berita utama,” kataku.

Clara mengambil kertas dari tanganku. “Mereka bakal nganggep kami terlibat dalam konspirasi.”

“Padahal kami bahkan baru tahu Al punya uang sebanyak itu,” kata Eve.

Agnes menatap Al. “Kamu nggak pernah makai kekayaanmu buat ngaruhin keputusan kami.”

“Aku nggak punya alasan.”

“Sekarang mereka bakal bilang kamu beli keluarga kami.”

Al diam.

Aku menyentuh punggung tangannya di bawah meja. Dia langsung menoleh.

“Jangan masuk ke kepalamu sendiri,” bisikku.

“Aku nggak.”

“Kamu lagi ngelakuinnya.”

Dia tidak membantah.

Sore harinya, konferensi pers diumumkan. Berita itu menyebar lebih cepat daripada yang kami perkirakan.

Seseorang mengirim pesan ke ponselku.

Kalau Al bicara, kami akan merilis semua rekaman rumah.

Aku menunjukkan pesan itu kepada Clara dan Al.

“Ini bukan lagi soal identitas Zero,” kata Clara. “Mereka mau bikin malu keluarga.”

“Mereka mau bikin kita saling nyalahin,” kata Al.

“Nggak bakal berhasil,” kataku.

Al menatapku. “Kamu yakin?”

“Nggak. Tapi aku bisa bikin mereka nyesel udah nyoba.”

Aku menulis unggahan singkat dan mengirimnya kepada tim komunikasi.

Kami tidak akan memberikan komentar tentang rumor yang tidak disertai bukti. Namun kami akan melindungi privasi keluarga dan menempuh jalur hukum terhadap penyebaran data pribadi, ancaman, serta manipulasi informasi.

Tidak menyebut Al. Tidak menyebut Zero. Tapi dalam satu jam, unggahan itu dibagikan ribuan orang.

Beberapa jurnalis mulai mengubah pertanyaan mereka. Mereka tidak lagi bertanya apakah keluarga Wijaya menyembunyikan miliarder. Mereka mulai bertanya siapa yang menyebarkan foto rumah dan mengapa.

Aku tahu itu belum cukup.

Namun setidaknya, kami tidak lagi hanya menunggu diserang.

Malam sebelum konferensi, aku menemukan Al di balkon.

Dia berdiri dengan kedua tangan di pagar, menatap kota.

“Kamu belum tidur,” kataku.

“Aku lagi mikirin jawaban.”

“Jawaban buat pertanyaan pertama?”

“Buat semuanya.”

Aku berdiri di sampingnya.

“Kalau kamu nggak mau jawab sesuatu, jangan jawab,” kataku.

“Kalau aku nggak jawab, mereka bakal ngarang.”

“Biarkan mereka ngarang. Orang yang kenal kamu bakal tahu mana yang benar.”

“Nggak semua orang kenal aku.”

“Aku kenal kamu.”

Al menoleh.

“Aku kenal Al yang beli mi rebus, Al yang jawab pesan cuma sama satu kata, Al yang selalu bikin orang kesal karena terlalu tenang,” lanjutku. “Aku juga kenal Zero yang nyembunyiin diri karena takut orang cuma lihat harta. Dua-duanya tetap kamu.”

“Kalau publik lihat aku sebagai Zero?”

“Biar aja.”

“Kalau kamu lihat aku berbeda?”

Aku berdiri di depannya.

“Aku udah lihat kamu ketika kamu belum punya nama besar di depan kami. Aku suka sama kamu sebelum tahu jumlah asetmu. Setelah tahu, kamu tetap nyebelin.”

“Jadi nggak ada perubahan?”

“Ada.”

“Apa?”

“Aku sekarang tahu kamu mampu beli seribu porsi mi, tapi masih suka bagi satu.”

Al tertawa kecil.

Aku menarik kerah bajunya.

“Besok jangan keliatan kayak orang yang bakal dihukum mati.”

“Aku bakal berusaha.”

“Jangan berusaha. Lakukan.”

Aku mencium dia. Awalnya lembut, lalu lebih dalam ketika tangannya menarikku mendekat. Ciuman itu membuatku lupa pada kamera, media, dan ribuan orang yang mungkin sedang menunggu dia jatuh.

Ketika kami berpisah, aku menempelkan dahi ke dahinya.

“Besok kami berdiri di belakangmu,” kataku.

“Jangan di belakang.”

Aku tersenyum. “Di sampingmu?”

“Di sampingku.”

“Oke.”

Dari dalam rumah, Clara memanggil kami. Agnes menyusul dengan suara lebih keras, “Kalau kalian selesai berciuman, rapat masih ada!”

Aku tertawa.

Al menatap pintu balkon, lalu kembali memandangku.

“Eve.”

“Hm?”

“Terima kasih karena bikin semuanya kedengeran lebih mudah.”

“Nggak mudah.”

“Aku tahu.”

“Aku cuma nggak mau kamu ngadepin sendirian.”

Al menggenggam tanganku.

Besok, seluruh dunia mungkin akan mengetahui nama Zero.

Tapi malam itu, aku hanya ingin memastikan Al tahu satu hal.

Apa pun nama yang dipakai dunia untuk memanggilnya, bagi kami dia tetap Al.

Dan kami tidak akan membiarkan siapa pun mengambilnya.