← Tiga Putri Jatuh Cinta

Chapter Nineteen

Status yang Berubah

POV: Al

Perceraian Helena dan Damar selesai tiga hari kemudian.

Prosesnya lebih cepat daripada yang kubayangkan karena sejak awal semua dokumen sudah disiapkan. Tidak ada perebutan harta. Tidak ada tuntutan. Tidak ada alasan untuk memperpanjang sesuatu yang memang sejak awal dibuat untuk sementara.

Helena dan Damar pulang dari kantor pengacara menjelang sore.

Eve sudah menunggu di ruang tengah. Clara berdiri di dekat jendela. Agnes duduk di sofa dengan laptop terbuka, tetapi tidak mengetik apa pun.

Aku berada di tangga ketika Helena masuk.

“Selesai,” katanya.

Damar mengangguk. “Selesai.”

Eve berdiri. “Kalian baik-baik aja?”

Helena tersenyum. “Kami nggak mati.”

“Itu bukan jawaban.”

“Kami masih bersama.”

Eve melihat dokumen di tangan ibunya. “Tapi udah bukan suami istri.”

“Secara hukum, bukan.”

“Secara lain?”

Damar menggenggam tangan Helena. “Belum berubah.”

Eve menghela napas lega dan langsung memeluk mereka berdua.

Aku tetap berdiri di tangga.

Seharusnya aku merasa lega. Tidak ada lagi batas hukum antara aku dan tiga putri Helena. Tidak ada lagi alasan resmi yang menghalangi perasaan mereka.

Tapi aku hanya merasa lelah.

Malamnya, aku membuka lemari dan mulai memasukkan barang-barang ke dalam tas.

Aku tidak membawa banyak barang. Beberapa pakaian, laptop, buku, dan charger. Semua bisa selesai dalam waktu kurang dari lima belas menit.

Clara muncul di pintu kamar.

“Kamu mau pergi?”

“Iya.”

“Sekarang?”

“Nggak. Besok.”

Dia melihat isi tas. “Kenapa?”

“Perjanjiannya udah selesai.”

“Perjanjian itu ngomong kamu harus pergi kalau pernikahan berakhir.”

“Aku tahu.”

“Itu bukan berarti kamu harus langsung ngelakuinnya.”

“Aku nggak langsung. Udah tiga hari.”

Clara menyandarkan tubuh ke kusen. “Kamu merasa nggak nyaman karena sekarang kami bukan keluarga secara hukum?”

“Aku merasa keadaan berubah.”

“Keadaan emang berubah.”

“Maka tempat tinggalku juga bisa berubah.”

Clara menatapku tajam. “Kamu selalu nyari alasan buat pergi.”

“Aku nggak nyari alasan.”

“Kamu bahkan belum punya tempat tujuan.”

“Aku bisa nyari.”

“Dengan barang sebanyak itu?”

“Aku bisa beli barang baru.”

Clara terdiam.

Aku memasukkan kabel terakhir ke dalam tas.

“Al,” katanya lebih pelan, “Mama mau kamu tetap tinggal.”

“Helena nggak perlu jagain aku.”

“Dia nggak lagi jagain.”

“Aku tahu.”

“Terus kenapa kamu bersikap kayak lagi diusir?”

Aku menatapnya. “Karena sejak awal aku emang diminta pergi.”

“Itu sebelum kami kenal kamu.”

“Terus sekarang kalian udah kenal aku?”

Clara tidak langsung menjawab.

Dari lorong, Eve muncul membawa dua gelas minuman.

“Aku dengar kata pergi.”

“Al mau pindah,” kata Clara.

Eve meletakkan gelas di meja. “Pindah ke mana?”

“Belum tahu.”

“Kamu nggak bisa bilang begitu terus pergi.”

“Bisa.”

“Kamu nyebelin.”

“Aku tahu.”

Eve menatap tas yang sudah hampir penuh. “Kamu marah karena Agnes?”

Aku berhenti memasukkan pakaian.

Clara menoleh kepada Eve. “Jangan.”

“Aku cuma nanya.”

“Bukan urusanmu,” kataku.

Eve menatapku. “Kalau kamu pergi karena merasa bersalah, itu lebih buruk.”

Aku menutup tas. “Aku nggak merasa bersalah.”

“Bohong.”

“Kamu nggak tahu.”

“Aku tahu karena kamu keliatan kayak orang yang mau kabur dari rumah setelah mecahin sesuatu.”

Clara menarik napas. “Eve.”

“Apa? Dia emang begitu.”

Aku membawa tas menuju pintu.

Agnes berdiri di ujung lorong.

Aku tidak tahu sejak kapan dia ada di sana.

Tatapan kami bertemu. Wajahnya terlihat lebih pucat daripada biasanya.

“Kamu mau pergi?” tanyanya.

“Besok.”

“Karena aku?”

“Bukan.”

“Kamu nggak perlu berbohong.”

“Aku nggak berbohong.”

Agnes tertawa kecil, tetapi terdengar pahit. “Kamu bilang kita bukan keluarga lagi secara hukum. Jadi sekarang apa?”

“Sekarang kita tetap keluarga, kalau kalian mau.”

“Tapi aku masih suka sama kamu.”

Clara dan Eve sama-sama diam.

Aku menahan napas. “Agnes.”

“Aku tahu kamu bakal nyuruh aku berhenti. Aku tahu kamu bakal bilang jangan nunggu. Tapi aku nggak bisa langsung hapus perasaan cuma karena surat perceraian selesai.”

“Aku nggak minta kamu ngehapusnya.”

“Terus kenapa kamu pergi?”

Aku tidak punya jawaban yang bisa membuatnya tidak terluka.

Akhirnya aku berkata, “Karena aku nggak mau keputusanmu dipengaruhin oleh rumah ini.”

Agnes menunduk.

Aku melanjutkan, “Kalau suatu hari kamu masih merasa sama setelah kita nggak tinggal bersama, setelah kamu punya ruang buat milih, kita bisa ngebahasnya.”

Agnes menatapku lagi. “Kamu benar-benar mau aku pergi dari hidupmu dulu?”

“Aku mau kamu milih tanpa merasa berutang.”

Dia tidak menjawab.

Aku membawa tas kembali ke kamar.

Pagi berikutnya, aku mulai mencari apartemen kecil di dekat kantor Clara. Bukan karena ingin menjauh sepenuhnya, tetapi karena aku membutuhkan tempat yang tidak membuat setiap perasaan terasa seperti kewajiban.

Eve menemukan daftar apartemen itu di layar laptopku.

“Kamu nyari tempat yang punya balkon?”

“Iya.”

“Kenapa?”

“Aku suka udara.”

“Kamu bisa buka jendela.”

“Jendela kamar ini ngadep taman.”

“Berarti kamu nggak perlu pindah.”

“Apartemen lebih kecil.”

“Kamu suka tempat kecil?”

“Lebih mudah dibersihin.”

Eve duduk di samping laptopku. “Kamu tahu kami nggak nganggep kamu tamu lagi, kan?”

“Tamu biasanya nggak diminta nandatanganin perjanjian.”

“Itu sebelum kami kenal kamu.”

“Sekarang kalian kenal aku?”

“Sedikit.”

“Berarti masih belum cukup.”

Eve menatapku. “Kamu selalu harus bikin semuanya sulit?”

“Aku lagi nyari tempat tinggal.”

“Itu udah sulit.”

Siangnya, Agnes tidak muncul. Aku menemukan tabletnya di meja kerja, tetapi tidak menyentuhnya. Kalau dia ingin menjaga jarak, aku harus memberinya ruang.

Sore hari, Clara mengembalikan map perjanjian kepadaku.

“Kamu bisa buang ini,” katanya.

“Kenapa?”

“Karena udah nggak berlaku.”

Aku membaca halaman terakhir. Klausul tentang meninggalkan rumah setelah pernikahan berakhir masih terlihat jelas.

“Aku tahu.”

“Kamu nggak perlu nurutin sesuatu yang udah nggak berlaku.”

“Aku nggak nurutin.”

“Terus?”

“Aku cuma mikirin pilihan.”

Clara menatapku lama. “Kalau kamu pergi, jangan pergi karena merasa nggak diterima.”

“Aku pergi karena butuh ruang.”

“Ruang dari siapa?”

“Dari semua orang.”

Dia tidak membalas.

Malam itu, aku tidak jadi pergi.

Bukan karena aku berubah pikiran.

Aku hanya belum tahu bagaimana cara meninggalkan rumah yang sudah mulai terasa seperti tempat pulang.