Chapter Twenty Three
Clara Melepas Kendali
POV: Clara
Aku tahu Eve dan Agnes sudah berkencan dengan Al sebelum mereka mengatakannya.
Eve tidak bisa menyembunyikan ekspresi puas. Agnes justru terlihat terlalu tenang, dan itu berarti dia sedang menyembunyikan sesuatu.
Aku tidak marah.
Setidaknya, itu yang terus kukatakan kepada diri sendiri.
Aku hanya merasa kehilangan kendali atas sesuatu yang belum pernah menjadi milikku.
Al tetap bersikap seperti biasa. Dia membantu Agnes menguji aplikasi, membawakan kopi untuk Eve, dan memperbaiki laporan keamanan yang diberikan kepadaku.
Tidak ada perubahan yang jelas.
Justru itu yang membuatku kesal.
Malam itu, aku menemukannya di balkon. Dia sedang melihat layar ponsel, tetapi tidak mengetik apa pun.
“Besok kamu kosong?” tanyaku.
“Nggak sepenuhnya.”
“Maksudnya?”
“Ada pekerjaan.”
“Selesaikan setelah makan malam.”
Al menatapku. “Kamu merintah?”
“Aku ngajak.”
“Kedengarannya sama.”
“Kalau gitu anggap aja permintaan.”
“Buat apa?”
Aku ingin mengatakan bahwa aku ingin berkencan. Tapi kata itu terasa terlalu ringan untuk sesuatu yang kupikirkan selama berhari-hari.
“Aku mau ngomong.”
“Kita bisa ngomong sekarang.”
“Nggak di sini.”
Al memasukkan ponsel ke saku. “Oke.”
Besok malam, aku membawanya ke rooftop gedung kantor. Tempat itu jarang digunakan setelah jam kerja. Dari sana, lampu kota terlihat jauh di bawah, dan suara kendaraan terdengar seperti dengung yang tidak mengganggu.
Al berdiri di samping pagar, menatap gedung-gedung di seberang.
“Kamu sering bawa orang ke tempat tinggi?” tanyanya.
“Nggak.”
“Bagus.”
“Kenapa?”
“Aku nggak tahu harus ngelakuin apa kalau kamu dorong aku.”
Aku menoleh. “Aku nggak bakal dorong kamu.”
“Kamu keliatan mampu.”
Aku tertawa kecil. “Kamu nganggep aku seagresif itu?”
“Kadang.”
Kami berdiri berdampingan tanpa bicara beberapa saat.
Aku sudah biasa menghadapi rapat, negosiasi, dan orang-orang yang berusaha menjatuhkanku. Tapi berbicara jujur kepada Al terasa jauh lebih menakutkan.
“Aku nggak suka kehilangan kendali,” kataku.
“Aku tahu.”
“Kamu nggak tahu semuanya.”
“Aku tahu cukup.”
Aku memandang lampu kota. “Aku selalu merasa harus ngurus semuanya. Mama, Eve, Agnes, perusahaan, dan sekarang Damar.”
“Damar nggak butuh kamu buat ngurus hidupnya.”
“Aku tahu.”
“Tapi kamu tetap ngelakuinnya.”
“Kalau bukan aku, siapa?”
“Mungkin mereka bisa ngurus diri sendiri.”
Aku menghela napas. “Kamu selalu bikin sesuatu kedengeran mudah.”
“Nggak mudah. Cuma nggak semuanya harus kamu lakukan.”
Aku menoleh kepadanya. “Eve nyium kamu.”
Al tidak terlihat kaget. “Iya.”
“Agnes juga.”
“Iya.”
“Terus kamu bales?”
“Iya.”
Aku mengangguk pelan. “Kamu jujur.”
“Aku udah bilang nggak mau ada hubungan rahasia.”
“Kalau aku ngomong aku juga mau nyium kamu?”
Al menatapku. “Kamu nggak perlu ngomong kalau nggak serius.”
Aku melangkah mendekat. “Aku nggak pernah bercanda soal hal kayak ini.”
“Kamu bawa aku ke rooftop kantor buat ngomong itu?”
“Aku milih tempat yang nggak bakal didengar siapa aja.”
“Kamu masih mikirin orang lain.”
“Aku emang harus mikirin semuanya.”
Al menghela napas. “Clara.”
Aku menyentuh kerah bajunya. “Jangan panggil namaku kalau kamu mau nyuruh aku mundur.”
“Aku nggak mau nyuruh kamu mundur.”
“Bagus.”
Aku mencium Al.
Tidak ada keraguan kali ini. Tidak ada alasan tentang pekerjaan, keluarga, atau perjanjian yang sudah selesai. Aku mencium Al karena aku menginginkannya.
Al membalas dengan tenang, tetapi semakin lama ciuman itu menjadi lebih dalam. Tangannya berada di pinggangku, menahanku agar tidak kehilangan keseimbangan ketika aku menariknya lebih dekat.
Aku bisa merasakan napasnya berubah. Itu membuatku tersenyum di tengah ciuman.
Ketika kami berpisah, dahi kami masih saling menempel.
“Kamu tersenyum,” katanya.
“Aku menang.”
“Ini bukan perlombaan.”
“Semua orang ngomong itu setelah mereka menang.”
Al menggeleng, tetapi tangannya belum melepaskan pinggangku.
Aku menatapnya. “Aku nggak mau kamu milih aku cuma karena aku yang paling tua.”
“Aku nggak milih berdasarkan usia.”
“Aku nggak mau kamu ngasihani aku karena aku terlalu terbiasa ngurus semua orang.”
“Aku nggak ngasihani.”
“Aku mau kamu lihat aku sebagai perempuan.”
Al menatapku lebih lama. “Aku lihat kamu.”
Kalimat pendek itu membuat dadaku terasa penuh.
Aku menunduk, takut dia melihat betapa mudahnya aku runtuh hanya karena beberapa kata.
“Besok,” kataku, “aku mau bertemu lagi.”
“Buat urusan kantor?”
Aku menatapnya tajam.
Al tersenyum kecil. “Aku cuma mastiin.”
“Kencan.”
“Oke.”
“Jangan terlambat.”
“Aku nggak pernah terlambat.”
“Jangan bikin aku nunggu.”
“Aku bakal berusaha.”
Aku menggenggam tangannya saat kami turun dari rooftop.
Di dalam lift, kami berdiri berdampingan tanpa menyentuh satu sama lain. Aku masih bisa merasakan hangat telapak tangannya di pinggangku, dan itu membuatku sulit mengingat bahwa besok pagi aku harus memimpin rapat jam delapan.
“Kamu menyesal?” tanya Al.
Aku menoleh. “Kamu menyesal?”
“Aku nanya lebih dulu.”
“Aku nggak menyesal.”
“Jawabanku sama.”
Pintu lift terbuka. Kami berjalan ke parkiran, tetapi aku belum ingin masuk mobil. Aku berhenti di samping pintu dan menatapnya.
“Apa yang kamu lihat ketika lihat aku?” tanyaku.
Al tidak langsung menjawab.
“Kalau kamu perlu waktu lebih dari lima detik, jawabannya mungkin buruk.”
“Aku lihat seseorang yang selalu berdiri paling depan.”
“Itu bukan jawaban.”
“Aku belum selesai.”
Aku diam.
“Aku lihat seseorang yang marah kalau dianggep lemah, tapi diam-diam lelah karena semua orang nganggep nggak boleh jatuh. Aku lihat orang yang sering ngasih perintah karena takut kalau minta, nggak ada yang datang.”
Aku menahan napas.
“Dan?”
“Aku lihat Clara.”
“Bukan Clara yang mimpin perusahaan. Bukan kakak yang harus ngurus semua orang. Clara.”
Dada terasa sesak. Aku membenci betapa mudahnya dia melewati semua lapisan yang kubangun bertahun-tahun.
“Kamu bikin aku kedengeran nyedihin.”
“Aku nggak merasa kasihan.”
“Aku tahu.”
“Aku justru suka sama kamu karena kamu nggak nyedihin.”
Aku menatapnya. “Itu kalimat yang sangat buruk.”
“Aku lagi berusaha.”
Aku tertawa, lalu menyandarkan punggung ke mobil. “Aku takut.”
Al menunggu.
“Kalau aku nggak berguna, aku takut orang-orang nggak bakal tinggal. Kalau aku berhenti ngatur, aku takut semuanya berantakan. Kalau aku jadi biasa aja, aku takut kamu cuma lihat aku sebagai kakak dari Eve dan Agnes.”
Al mendekat. “Aku nggak ngukur orang dari seberapa berguna mereka.”
“Kamu aja hidupmu kayak daftar tugas.”
“Itu nggak berarti aku mau orang lain hidup begitu.”
Aku menutup mata sebentar. Pengakuan itu terasa memalukan, tetapi juga melegakan.
“Aku nggak mau bersaing sama adik-adikku,” kataku.
“Kamu nggak perlu.”
“Kalau ternyata aku kalah?”
“Nggak ada yang kalah.”
Aku membuka mata. “Kamu benar-benar bakal bikin aturan buat semuanya, ya?”
“Mungkin.”
“Aku benci kalau kamu masuk akal.”
“Aku tahu.”
Aku mencium pipinya lebih dulu. Kali ini singkat, tetapi cukup membuatnya terdiam.
“Itu buat apa?” tanyanya.
“Peringatan.”
“Tentang?”
“Aku nggak selalu bakal nunggu kamu mulai.”
Al tersenyum. “Aku bakal ingetnya.”
Saat tiba di rumah, Eve dan Agnes sedang berada di ruang makan. Keduanya langsung menoleh ketika aku masuk bersama Al.
Eve melihat tangan kami yang masih saling menggenggam. “Kalian udah ngomong?”
“Udah,” jawabku.
Agnes tersenyum kecil. Tidak ada nada menantang di wajahnya, hanya rasa lega.
Aku menatap kedua adikku. “Aku nggak bakal nyembunyiin apa aja dari kalian. Tapi aku juga nggak bakal minta kalian ngasih aku jalan.”
Eve mengangkat gelas. “Akhirnya Kak Clara ngomong kayak manusia.”
“Aku bisa kembali jadi kakak yang nyebelin.”
“Terlambat. Kami udah tahu.”
Aku tertawa bersama mereka. Untuk pertama kalinya malam itu, perasaanku tidak terasa seperti masalah yang harus kukendalikan.
Untuk pertama kalinya, aku tidak memegang tangan seseorang karena harus membimbingnya melewati masalah.
Aku menggenggam tangan Al karena aku ingin dia berjalan di sampingku.
- 1 Bab 1 — Pernikahan Ayahku
- 2 Tiga Putri dan Satu Meja
- 3 Perjanjian Anti-Pewaris
- 4 Kamar Tamu dan Kamera Tersembunyi
- 5 Pria Biasa di Ruang Direksi
- 6 Kebocoran Pertama
- 7 Masalah Clara
- 8 Skandal Eve
- 9 Proyek Agnes
- 10 Satu Payung untuk Tiga Orang
- 11 Makan Malam yang Hampir Damai
- 12 Pembelaan Pertama
- 13 Jam Dua Pagi
- 14 Eve Takut Sendirian
- 15 Agnes Mengatakan yang Tidak Seharusnya
- 16 Victor Mulai Bergerak
- 17 Nama yang Tidak Pernah Dicari
- 18 Satu Tahun Pernikahan
- 19 Status yang Berubah
- 20 Clara Mengajak Berkencan
- 21 Eve Tidak Lagi Bercanda
- 22 Agnes Memilih dengan Sadar
- 23 Clara Melepas Kendali reading
- 24 Tiga Pengakuan, Satu Keputusan
- 25 Serangan terhadap Aegis
- 26 Clara Menjadi Umpan
- 27 Eve Tidak Mau Diam
- 28 Agnes Menemukan Celah
- 29 Zero Terbuka
- 30 Rumah yang Diserang
- 31 Nama yang Keluar dari Bayangan
- 32 Clara Melawan Dewan
- 33 Agnes Membuka Kunci
- 34 Zero di Depan Dunia
- 35 Pilihan yang Tidak Bisa Dibalik
- 36 Tidak Sendirian Lagi