Chapter Twenty
Clara Mengajak Berkencan
POV: Clara
Al tidak jadi pergi malam itu, tetapi sejak pagi dia mulai mencari apartemen.
Aku tahu karena melihat beberapa tab pencarian terbuka di laptopnya ketika dia meminta bantuan memeriksa dokumen perusahaan.
Aku tidak bertanya.
Kalau kutanya, dia pasti menjawab singkat dan membuatku semakin kesal.
Maka aku memilih cara lain.
“Al, kamu ada waktu sore ini?”
Dia sedang membuat kopi di dapur. “Ada.”
“Temani aku ke luar.”
“Buat apa?”
“Ngebahas dokumen perusahaan.”
“Kita bisa ngebahasnya di rumah.”
“Aku mau ngebahasnya di luar.”
Al menatapku sebentar. “Kamu ngajak aku pergi?”
“Aku minta bantuan.”
“Bedanya?”
“Kalau pergi, kamu harus makai pakaian yang pantas.”
“Pakaian ini pantas.”
Dia memakai kaus hitam, celana jeans, dan sandal rumah.
Aku menatapnya dari atas sampai bawah. “Nggak buat tempat yang bakal kita datangi.”
“Tempat apa?”
“Nanti.”
Al menghela napas. “Aku nggak suka kejutan.”
“Aku juga nggak suka orang yang terlalu banyak nanya.”
“Kita punya kesamaan.”
Sore itu, aku membawanya ke sebuah kafe yang cukup tenang di dekat kantor. Bukan restoran mahal. Hanya tempat kecil dengan meja kayu, tanaman di sudut ruangan, dan musik yang tidak terlalu keras.
Al melihat sekeliling. “Ini bukan kantor.”
“Aku tahu.”
“Dokumennya mana?”
“Belum kubawa.”
Al menatapku. “Jadi bukan urusan perusahaan.”
Aku duduk di depannya. “Kamu merasa ditipu?”
“Sedikit.”
“Kamu boleh pulang.”
“Aku udah mesen minuman.”
Aku hampir tersenyum. “Kamu bisa tetap tinggal cuma karena minuman?”
“Aku nggak suka buang makanan dan minuman.”
“Kamu benar-benar sulit diajak berkencan.”
Al mengangkat alis. “Apa?”
Aku baru sadar kalimat itu keluar terlalu cepat.
“Maksudku, sulit diajak pergi.”
“Tadi kamu bilang berkencan.”
“Aku bisa salah bicara.”
“Kamu jarang.”
Aku mengambil gelas air untuk menyembunyikan wajah.
Al menyandarkan tubuh ke kursi. “Jadi ini kencan?”
Aku memaksakan diri menatapnya. “Kalau iya, kenapa?”
“Aku perlu tahu harus bersikap bagaimana.”
“Bersikap biasa aja.”
“Aku emang biasa.”
“Jangan terlalu percaya diri.”
Pelayan datang membawa kopi dan teh. Aku memesan kopi hitam. Al memesan minuman paling murah di menu.
“Kamu boleh milih yang lebih mahal,” kataku.
“Aku nggak mau.”
“Aku yang bayar.”
“Tetap nggak mau.”
“Kenapa?”
“Karena rasanya belum tentu lebih baik.”
Aku menatapnya. Al benar-benar tidak peduli pada hal-hal yang biasanya dianggap penting oleh orang lain.
Kami berbicara tentang hal-hal yang tidak terlalu besar. Tentang kantor, makanan, rumah lama Al, dan kebiasaan Damar yang selalu lupa membawa payung.
Al tidak banyak bercerita, tetapi sesekali dia menjawab pertanyaanku dengan lebih dari satu kalimat.
Aku mulai memahami bahwa diamnya bukan karena dia tidak memiliki sesuatu untuk dikatakan. Dia hanya memilih mana yang layak dibagikan.
“Kamu bakal tetap nyari apartemen?” tanyaku.
“Iya.”
“Kenapa?”
“Biar semua orang punya ruang.”
“Termasuk kamu?”
“Terutama aku.”
Aku menatap permukaan kopi. “Kalau aku minta kamu tetap tinggal?”
“Aku bakal nanya alasannya.”
“Kalau alasannya karena aku nggak mau kamu pergi?”
Al tidak langsung menjawab.
Jantungku berdetak sedikit lebih cepat. Aku membenci tubuh sendiri karena bereaksi lebih jujur daripada wajahku.
“Kamu nggak perlu takut ngomonginnya,” kata Al.
“Aku nggak takut.”
“Kamu ngeremas sendok.”
Aku melihat tanganku. Sendok kecil itu memang hampir bengkok.
“Aku cuma berpikir.”
“Terlalu keras.”
Aku tertawa kecil. “Kamu tahu, sejak awal aku nganggep kamu masalah.”
“Aku juga.”
“Maksudmu aku masalah?”
“Rumah ini.”
“Jawaban aman.”
“Aku lagi berkencan. Harus aman.”
Aku menatapnya. “Jadi kamu ngakuin ini kencan?”
“Kamu yang ngajak.”
“Tapi kamu belum jawab.”
“Sekarang udah.”
Aku ingin tersenyum, tetapi kutahan.
Setelah membayar, kami berjalan keluar kafe. Jalanan mulai ramai. Aku hendak menyeberang ketika sebuah motor melaju terlalu dekat dari arah samping.
Al langsung menarik tanganku.
Tubuhku berhenti di dekatnya. Tangannya masih menggenggam tanganku.
“Hati-hati,” katanya.
“Aku tahu.”
“Tadi nggak keliatan.”
Aku menatap tangan kami yang masih bertaut.
Al menyadarinya, tetapi tidak langsung melepaskan.
“Kamu bisa ngelepasnya,” kataku pelan.
“Bisa.”
“Tapi belum.”
“Jalan masih ramai.”
“Kita udah sampai trotoar.”
Al akhirnya melepaskan tanganku.
Bekas hangatnya tertinggal lebih lama daripada yang seharusnya.
Di dalam mobil, aku duduk di kursi penumpang dan menatap keluar jendela.
“Besok aku mau pergi lagi,” kataku.
“Buat urusan kantor?”
“Nggak.”
“Kalau gitu?”
Aku menoleh kepadanya. “Kencan.”
Al tetap melihat jalan. “Tergantung.”
“Tergantung apa?”
“Kamu bawa dokumen atau nggak.”
Aku tertawa.
Di kafe, setelah percakapan tentang apartemen, aku bertanya tentang masa kecil Al.
Dia tidak langsung menjawab.
“Nggak banyak yang bisa diceritain,” katanya.
“Semua orang punya cerita.”
“Cerita bukan berarti harus dibagiin.”
“Aku nggak minta semuanya.”
Al memutar cangkirnya pelan. “Ayah ngebesarin aku sendiri. Kami nggak punya banyak uang, tapi dia selalu mastiin aku bisa belajar.”
“Itu sebabnya kamu dekat dengannya?”
“Dia nggak pernah bikin aku merasa kekurangan.”
Aku menatapnya. “Padahal kalian emang kekurangan?”
“Beberapa hal.”
“Kamu nggak pernah nyalahin siapa aja?”
“Nyalahin nggak bikin keadaan berubah.”
“Kamu benar-benar selalu berpikir kayak gitu?”
“Nggak. Kadang aku juga mau nyalahin orang.”
“Terus kenapa nggak?”
“Mereka nggak ada di sini buat denger.”
Aku tertawa kecil. Al menatapku seolah memastikan aku tidak sedang menertawakannya.
“Kamu tahu,” kataku, “kalau kamu sesekali bicara lebih banyak, mungkin orang nggak bakal ngira kamu sombong.”
“Aku nggak keberatan.”
“Aku keberatan.”
“Kenapa?”
“Karena aku mau tahu lebih banyak.”
Al terdiam.
Aku baru sadar kalimat itu terlalu jujur. Namun, dia tidak mengalihkan pembicaraan.
“Kamu boleh nanya,” katanya.
“Apa aja?”
“Nggak.”
“Kamu ngerusak suasana.”
“Aku lagi ngatur batas.”
“Batas itu perlu?”
“Buat semua orang.”
Aku menatapnya lebih lama. Dulu, aku mengira batas yang dibuat Al adalah cara untuk menjauh. Sekarang, aku mulai berpikir batas itu mungkin cara dia menjaga orang agar tidak terluka.
Untuk pertama kalinya, aku tidak merasa sedang mengajak seseorang yang menjadi bagian dari keluarga kami.
Aku merasa sedang mengenal seorang pria yang ingin kusukai tanpa alasan lain selain karena dia adalah Al.
- 1 Bab 1 — Pernikahan Ayahku
- 2 Tiga Putri dan Satu Meja
- 3 Perjanjian Anti-Pewaris
- 4 Kamar Tamu dan Kamera Tersembunyi
- 5 Pria Biasa di Ruang Direksi
- 6 Kebocoran Pertama
- 7 Masalah Clara
- 8 Skandal Eve
- 9 Proyek Agnes
- 10 Satu Payung untuk Tiga Orang
- 11 Makan Malam yang Hampir Damai
- 12 Pembelaan Pertama
- 13 Jam Dua Pagi
- 14 Eve Takut Sendirian
- 15 Agnes Mengatakan yang Tidak Seharusnya
- 16 Victor Mulai Bergerak
- 17 Nama yang Tidak Pernah Dicari
- 18 Satu Tahun Pernikahan
- 19 Status yang Berubah
- 20 Clara Mengajak Berkencan reading
- 21 Eve Tidak Lagi Bercanda
- 22 Agnes Memilih dengan Sadar
- 23 Clara Melepas Kendali
- 24 Tiga Pengakuan, Satu Keputusan
- 25 Serangan terhadap Aegis
- 26 Clara Menjadi Umpan
- 27 Eve Tidak Mau Diam
- 28 Agnes Menemukan Celah
- 29 Zero Terbuka
- 30 Rumah yang Diserang
- 31 Nama yang Keluar dari Bayangan
- 32 Clara Melawan Dewan
- 33 Agnes Membuka Kunci
- 34 Zero di Depan Dunia
- 35 Pilihan yang Tidak Bisa Dibalik
- 36 Tidak Sendirian Lagi