Chapter Thirty Two
Clara Melawan Dewan
POV: Clara
Rapat dewan darurat dimulai sebelum konferensi pers Al.
Aku datang dengan tiga map, dua penasihat hukum, dan kesabaran yang tinggal sedikit.
Victor sudah tidak berada di ruangan. Polisi menahannya sementara, tetapi sebagian anggota dewan masih berusaha menyelamatkan posisi mereka. Mereka tidak membela Victor secara terbuka. Mereka hanya ingin memastikan perusahaan tidak ikut jatuh bersama skandal Aegis.
“Kalau Al ngakuin kepemilikan algoritma,” kata Yudi, “investor bakal nganggep perusahaan ini punya konflik kepentingan.”
“Perusahaan ini nggak punya Aegis,” jawabku.
“Tapi makai sistemnya.”
“Dengan kontrak resmi.”
“Kontrak yang selama ini nggak diketahui dewan.”
“Karena lisensinya dikelola badan hukum terpisah.”
Yudi menatapku. “Kamu tahu bagaimana publik bakal lihat ini?”
“Aku tahu.”
“Mereka bakal nganggep keluarga Wijaya nyembunyiin aset.”
“Kalau mereka mau nganggep begitu, itu bukan alasan bagi kita buat malsuin fakta.”
Salah satu anggota dewan menyelipkan dokumen ke tengah meja.
“Usulan saya sederhana. Al harus nyerahin hak kendali atas Aegis ke perusahaan. Sebagai gantinya, Wijaya Group bakal lindungi identitas dan asetnya.”
Aku hampir tertawa.
“Dengan kata lain,” kataku, “kalian mau ngambil alih sesuatu yang bukan milik kalian sebelum konferensi pers dimulai.”
“Clara, ini bukan waktunya emosional.”
“Justru karena ini bukan waktunya emosional, saya baca setiap kata.”
Aku membuka map pertama.
“Ini salinan kontrak lisensi. Ini dokumen pendirian perusahaan pengelola. Ini laporan audit pajak. Dan ini bukti bahwa Victor nyoba mindahin akses lewat vendor yang dia pilih.”
Beberapa orang mulai menunduk.
“Kalau kita nyerahin Aegis ke perusahaan,” lanjutku, “kita bikin tuduhan publik jadi benar. Mereka bakal bilang keluarga ini makai perusahaan buat nyerep kekayaan Al.”
Yudi mengepalkan tangannya. “Kamu belain seorang pria yang tinggal di rumah ini.”
“Aku belain bukti.”
“Dia juga terlibat secara pribadi sama tiga putri Helena.”
Ruangan mendadak hening.
Aku menatap Yudi. “Kalau Anda mau ngebahas kehidupan pribadi kami, silakan lakukan setelah rapat selesai. Tapi jangan makai hubungan itu buat ngaburin penggelapan akses yang dilakuin Victor.”
“Kamu nggak bisa misahin semuanya.”
“Bisa. Karena saya tahu mana urusan keluarga dan mana kejahatan.”
Pintu terbuka.
Helena masuk bersama pengacara utama keluarga.
“Rapat ini bukan tempat buat ngehakimin anak-anak saya,” katanya. “Kalau ada yang mau mundur, silakan. Kalau ada yang mau nuntut, tunggu sampai dokumennya siap.”
Semua orang diam.
Aku melihat Mama duduk di kursi pemilik utama perusahaan. Selama ini dia selalu berusaha menengahi. Hari itu, dia tidak datang untuk menengahi siapa pun.
Dia datang untuk mengambil kembali kendali.
“Kita bakal ngeluarin pernyataan perusahaan,” lanjut Helena. “Wijaya Group nggak ngeklaim kepemilikan Aegis, nggak pernah ngarahin keputusan Zero, dan bakal kerja sama dengan penyidik.”
“Terus soal Algo?” tanya Yudi.
“Algo bakal jawab atas namanya sendiri.”
Namun aku tidak langsung meninggalkan gedung. Di ruang arsip, Pak Surya membantu membuka dokumen lama yang selama ini tidak pernah disentuh siapa pun.
“Ada satu hal yang harus kamu tahu,” katanya.
“Dulu Algo nolak kontrak kepemilikan karena perusahaan itu minta hak buat ngubah algoritma tanpa persetujuannya.”
Aku membaca surat dengan tulisan tangan Al yang berantakan.
Algoritma ini dibuat untuk melindungi pengguna. Saya tidak akan menyerahkan kendali kepada pihak yang bisa mengubahnya menjadi alat untuk menekan orang.
Aku menutup dokumen itu.
“Dia nggak pernah nyeritain ini.”
“Dia jarang nyeritain hal yang bikin keliatan benar.”
Aku tersenyum tipis. “Dia lebih suka keliatan nyebelin.”
“Sejak dulu.”
Kami menyerahkan arsip itu kepada pengacara sebagai bukti kronologi. Setiap tanggal dan penolakan menunjukkan bahwa Al tidak pernah mencuri Aegis dari perusahaan mana pun.
Saat keluar gedung, Al menunggu di dekat mobil.
“Kamu belum pulang?” tanyanya.
“Aku nggak mau pulang sendirian.”
Dia menatapku, lalu membuka pintu mobil.
Untuk pertama kalinya, aku tidak ingin menjadi orang paling kuat di ruangan. Aku hanya ingin tetap hadir ketika kebenaran membuat semua orang tidak nyaman.
Rapat selesai tanpa keputusan besar. Namun saat aku keluar, pengacara menyerahkan satu dokumen tambahan.
“Ini dateng dari pengadilan,” katanya.
Aku membacanya.
Raka mengajukan permohonan untuk membekukan beberapa aset Aegis dengan alasan algoritma dibangun menggunakan sumber daya perusahaan lama.
Aku langsung menelepon Al.
“Dia nyerang lewat hukum,” kataku.
“Aku udah tahu.”
“Kamu punya bukti kepemilikan awal?”
“Ada.”
“Cukup?”
“Nggak kalau mereka muter sejarah.”
“Aku bakal ngumpulin dokumen dari perusahaan Mama.”
“Clara, kamu nggak harus ngurus semuanya.”
“Aku tahu.”
“Benar-benar tahu?”
“Al, kalau kamu ngomong itu sekali lagi, aku bakal dateng ke tempatmu dan matiin semua komputer.”
Dia diam.
“Aku bagian dari ini,” lanjutku. “Bukan karena aku putri pemilik perusahaan. Karena aku milih berdiri di sampingmu.”
“Aku nggak mau keputusanmu dipengaruhin rasa bersalah.”
“Keputusanku dipengaruhin rasa cinta. Jangan samakan keduanya.”
Telepon menjadi sunyi.
Aku mendengar napasnya.
“Clara,” katanya pelan.
“Apa?”
“Aku nggak terbiasa denger kamu ngomong itu.”
“Biasakan.”
Aku mematikan telepon sebelum suaraku berubah.
Di kantor, aku meminta semua arsip lama dibuka. Ada beberapa karyawan senior yang masih menyimpan dokumen proyek Aegis sebelum nama itu resmi dipakai. Salah satunya adalah Pak Surya, kepala pengembangan yang sudah pensiun.
Dia datang sore itu dengan satu kotak kardus.
“Algo dulu ngerjain algoritma ini di ruang kerja kecil,” katanya. “Dia nggak punya dana. Damar yang minjemin komputer, tapi semua rancangan inti dibikin oleh dia.”
“Kenapa nggak pernah masuk ke laporan perusahaan?”
“Karena dia nolak masukin namanya sebagai aset perusahaan.”
“Dia terlalu keras kepala,” kataku.
Pak Surya tersenyum. “Dulu juga begitu.”
Di dalam kotak ada catatan tangan Al, versi awal diagram, dan surat penolakan terhadap tawaran kepemilikan dari perusahaan lama.
Dokumen itu bukan hanya bukti hukum.
Itu adalah sejarah yang selama ini disembunyikan Al dari semua orang.
Aku membawanya ke kantor pengacara.
Malamnya, konferensi pers dimulai.
Al duduk di tengah. Di sebelah kirinya ada Mikael. Di sebelah kanannya ada pengacara. Aku, Eve, dan Agnes berada di baris kedua bersama Helena dan Damar.
Lampu kamera menyala.
Pertanyaan pertama langsung menembak.
“Apakah Anda Zero?”
Al memandang kamera.
“Iya.”
Ruangan dipenuhi suara rana.
Aku menahan napas, meski sudah tahu jawabannya.
“Apakah Aegis dibangun sama dana perusahaan Wijaya?”
“Nggak.”
“Apakah Anda makai identitas anonim buat ngehindarin pajak?”
“Nggak. Semua lisensi dan pendapatan tercatat lewat badan hukum yang sesuai.”
“Apakah keluarga Wijaya tahu kekayaan Anda sebelum hubungan pribadi terbentuk?”
“Nggak.”
“Apakah tiga putri Helena terlibat dalam penyembunyian identitas Anda?”
Al menoleh sebentar ke arah kami.
“Nggak. Mereka tahu identitas saya setelah ancaman terhadap keluarga terjadi. Mereka nggak nerima uang, aset, atau keuntungan dari Aegis.”
Seorang wartawan bertanya, “Apakah Anda punya hubungan romantis sama ketiganya?”
Aku merasakan Eve menegang. Agnes menunduk. Al tidak bergerak.
“Itu urusan pribadi kami,” jawabnya. “Nggak berkaitan sama kepemilikan algoritma, pelanggaran keamanan, atau penyelidikan Victor dan Raka.”
Jawaban itu aman. Namun aku tahu publik tidak akan berhenti.
Konferensi pers selesai setelah satu jam.
Begitu kami masuk ke ruang belakang, Al langsung berdiri dari kursinya.
“Aku nggak suka nyembunyiin jawaban itu,” katanya.
Eve mengangkat alis. “Kamu mau jelasin hubungan kita di depan semua kamera?”
“Nggak.”
“Bagus. Aku belum siap lihat komentar orang.”
Agnes menyentuh lengannya. “Kamu jawab dengan benar.”
Clara menatapku. “Kamu nggak perlu minta maaf karena lindungi privasi kami.”
“Aku bukan minta maaf.”
“Wajahmu keliatan kayak gitu.”
Aku mendekat dan menyentuh dagunya.
“Kamu baru aja berdiri di depan seluruh dunia,” kataku. “Sekarang jangan berdiri sendirian di ruangan belakang.”
“Aku nggak tahu harus bagaimana.”
“Mulai dari nyium aku.”
Dia menatapku, lalu menurut.
Ciuman itu dalam dan penuh tekanan yang akhirnya dilepaskan. Ketika kami berpisah, Eve langsung menarik bahu Al.
“Sekarang giliran yang nggak bikin kamu terlalu serius.”
Agnes tertawa.
Aku melihat mereka bertiga, lalu seluruh kekacauan yang belum selesai terasa sedikit lebih bisa dihadapi.
Di luar ruangan, media terus meneriakkan pertanyaan.
Di dalam, kami berdiri dalam lingkaran kecil yang hanya dipahami oleh kami sendiri.
Identitas Zero sudah terbuka.
Namun bagi kami, yang lebih penting adalah Al tidak lagi bersembunyi dari orang-orang yang mencintainya.
- 1 Bab 1 — Pernikahan Ayahku
- 2 Tiga Putri dan Satu Meja
- 3 Perjanjian Anti-Pewaris
- 4 Kamar Tamu dan Kamera Tersembunyi
- 5 Pria Biasa di Ruang Direksi
- 6 Kebocoran Pertama
- 7 Masalah Clara
- 8 Skandal Eve
- 9 Proyek Agnes
- 10 Satu Payung untuk Tiga Orang
- 11 Makan Malam yang Hampir Damai
- 12 Pembelaan Pertama
- 13 Jam Dua Pagi
- 14 Eve Takut Sendirian
- 15 Agnes Mengatakan yang Tidak Seharusnya
- 16 Victor Mulai Bergerak
- 17 Nama yang Tidak Pernah Dicari
- 18 Satu Tahun Pernikahan
- 19 Status yang Berubah
- 20 Clara Mengajak Berkencan
- 21 Eve Tidak Lagi Bercanda
- 22 Agnes Memilih dengan Sadar
- 23 Clara Melepas Kendali
- 24 Tiga Pengakuan, Satu Keputusan
- 25 Serangan terhadap Aegis
- 26 Clara Menjadi Umpan
- 27 Eve Tidak Mau Diam
- 28 Agnes Menemukan Celah
- 29 Zero Terbuka
- 30 Rumah yang Diserang
- 31 Nama yang Keluar dari Bayangan
- 32 Clara Melawan Dewan reading
- 33 Agnes Membuka Kunci
- 34 Zero di Depan Dunia
- 35 Pilihan yang Tidak Bisa Dibalik
- 36 Tidak Sendirian Lagi