Chapter Eight
Skandal Eve
POV: Eve
Aku tahu hidupku sedang kacau ketika jumlah pesan masuk lebih banyak daripada jumlah napas yang bisa kuambil dalam satu menit.
Pagi itu, ponselku terus bergetar di atas meja. Pesan dari teman, klien, nomor tidak dikenal, dan beberapa orang yang bahkan tidak kukenal sama sekali.
Aku tidak membuka semuanya.
Aku hanya membaca satu pesan dari Dion.
Jangan pura-pura kaget. Kamu tahu video itu akan keluar.
Aku tertawa kecil, tetapi tidak ada yang lucu.
Dion selalu suka mengancam dengan gaya dramatis. Biasanya ancamannya berhenti setelah aku mengabaikannya selama dua hari. Kali ini, dia mengirim sesuatu yang membuat perutku langsung terasa kosong.
Sebuah video.
Di dalamnya, aku terlihat sedang memaki seorang klien dan melempar gelas ke meja. Potongannya hanya berlangsung dua puluh detik, tetapi cukup untuk membuatku terlihat seperti orang paling menyebalkan di kota.
Masalahnya, video itu diedit.
Aku memang marah hari itu, tetapi bukan kepada klien. Aku marah kepada Dion karena dia datang ke kantor tanpa izin dan membuat keributan. Bagian sebelum video dipotong, termasuk saat dia mendorong salah satu stafku.
Aku menekan tombol panggil.
Dion mengangkat setelah dering ketiga.
“Akhirnya.”
“Hapus videonya.”
“Kamu masih suka merintah.”
“Kamu masih suka ngancam.”
“Aku nggak ngancam. Aku cuma nunjukin apa yang sebenarnya terjadi.”
“Versi kamu.”
“Versi kamera.”
“Kamera yang kamu potong.”
Dion tertawa. “Buktikan.”
Aku menutup telepon sebelum mengatakan sesuatu yang akan membuat masalah lebih buruk.
Lima menit kemudian, video itu mulai menyebar.
Aku ingin menangis, tetapi terlalu kesal untuk melakukannya.
Pintu kamarku diketuk. Aku tidak menjawab. Pintu tetap terbuka dan Al muncul dengan kaus hitam polos serta rambut yang masih berantakan.
“Kamu belum makan.”
“Kamu pengawas baru?”
“Bukan.”
“Terus?”
“Aku lewat.”
“Kamar ini di ujung lorong.”
“Berarti aku jalan jauh.”
Aku menatapnya. Dalam kondisi lain, aku mungkin akan tertawa. Pagi itu, aku hanya ingin melempar bantal.
Al melihat ponselku yang terus bergetar. “Masalah?”
“Nggak.”
“Kalau nggak, ponselmu nggak bakal berisik begitu.”
Aku menggeser layar ponsel ke arahnya. “Puas?”
Dia menonton video itu sampai selesai. Wajahnya tidak berubah.
“Video editan,” katanya.
“Aku tahu.”
“Kamu punya rekaman lengkap?”
“Mungkin.”
“Mungkin?”
“Aku nggak tahu siapa yang punya.”
Al mengulurkan tangan. “Buka akun penyimpananmu.”
Aku tertawa pendek. “Kamu mau ngeretas?”
“Nggak. Aku mau lihat apakah akunmu aman.”
“Kenapa?”
“Karena orang yang bisa dapetin potongan video biasanya punya akses ke tempat lain.”
Aku menyerahkan ponsel kepadanya.
Al tidak langsung membuka pesan atau foto. Dia masuk ke pengaturan keamanan, memeriksa perangkat yang terhubung, lalu mengerutkan kening.
“Ada dua perangkat yang nggak kamu kenal.”
“Dion.”
“Hapus.”
“Kalau aku hapus, dia bakal tahu.”
“Dia udah tahu kamu tahu.”
Aku menatapnya. “Kamu selalu sesederhana itu?”
“Biasanya.”
Al mengeluarkan dua perangkat dari akun, mengganti kata sandi, dan menyalakan verifikasi tambahan.
“Sekarang jangan bales pesan siapa aja,” katanya.
“Aku nggak bisa diam aja.”
“Bisa.”
“Aku punya agensi. Klienku harus diberi penjelasan.”
“Berikan penjelasan setelah emosimu turun.”
Aku mengambil ponsel dari tangannya. “Aku nggak lagi emosional.”
“Kamu baru aja ngeremas bantal sampai jahitannya terbuka.”
Aku melihat bantal di tanganku. Ada benang putih yang terlepas di bagian samping.
“Itu bantalnya emang jelek.”
“Tentu.”
Al berjalan keluar.
“Al.”
Dia berhenti.
“Kamu nggak mau tanya siapa yang ngirim video itu?”
“Kalau kamu mau cerita, kamu bakal cerita.”
“Kamu nggak penasaran?”
“Penasaran nggak nyelesein masalah.”
“Tapi biasanya orang mau tahu.”
“Aku bukan biasanya.”
Dia pergi sebelum aku sempat menjawab.
Siang itu, aku menerima telepon dari Clara. Dia tidak banyak bertanya. Dia hanya mengatakan bahwa Mama sudah tahu tentang video tersebut dan meminta aku pulang kalau tidak ingin berada di kantor sendirian.
Aku sebenarnya tidak ingin pulang. Rumah itu penuh orang yang sudah menganggap keluarga kami aneh. Aku tidak ingin menambahkan skandal ke dalam daftar masalah mereka.
Namun, ketika aku tiba, Al sedang duduk di teras belakang dengan laptop di pangkuan.
Dia tidak menoleh ketika aku lewat.
“Kamu juga diusir ke luar?” tanyaku.
“Aku milih duduk di sini.”
“Kenapa?”
“Di dalam berisik.”
Aku duduk di kursi sebelahnya. “Aku juga berisik?”
“Kadang.”
“Aku lagi sedih.”
“Kamu tetap bisa berisik saat sedih.”
Aku menatapnya kesal, tetapi akhirnya tertawa.
Al menutup laptop. “Kamu punya rekaman lengkap?”
“Aku lagi nyariin.”
“Cari dari orang yang berdiri di belakang Dion.”
“Kamu tahu ada orang lain?”
“Bayangan di pantulan kaca.”
Aku mendekat. “Kamu lihat itu dari video pendek?”
“Iya.”
“Kamu benar-benar aneh.”
“Kamu udah ngomong itu.”
Kami mencari rekaman lengkap selama hampir satu jam. Aku menghubungi staf lama, memeriksa kamera kantor, dan meminta salinan dari gedung tempat kejadian.
Al tidak banyak bicara. Dia hanya membantuku menyusun waktu dan sumber rekaman.
Menjelang malam, kami menemukan video dari kamera lorong. Rekaman itu memperlihatkan Dion mendorong stafku lebih dulu.
Aku menatap layar dengan lega.
“Besok aku bakal ngunggah semuanya,” kataku.
“Jangan malam ini.”
“Kenapa?”
“Kamu masih marah.”
“Aku emang berhak marah.”
“Berhak bukan berarti harus ngelakuinnya sekarang.”
Aku menatapnya. “Kamu selalu bicara kayak orang yang udah tua.”
“Aku lebih muda dari Clara.”
“Bukan itu maksudku.”
Al berdiri dan membawa laptopnya. “Makan.”
“Aku nggak lapar.”
Dia meletakkan segelas air di depanku. “Minum dulu.”
“Kamu nyuruh aku terus.”
“Karena kamu nggak ngelakuin apa-apa kalau nggak disuruh.”
Aku menatap gelas itu, lalu menatap punggungnya.
Al masuk ke rumah tanpa menunggu jawabanku.
Malam itu, sebelum tidur, aku menemukan sepiring makanan dan secangkir teh di depan pintu kamar. Tidak ada catatan. Tidak ada pesan.
Aku tahu siapa yang menaruhnya.
Aku juga tahu seharusnya aku tidak merasa hangat hanya karena seseorang mengingatkanku untuk makan.
Aku akhirnya mengunggah rekaman lengkap ke akun resmi agensi, bersama penjelasan singkat dan bukti waktu pengambilan gambar. Tidak ada kalimat dramatis. Tidak ada serangan balik kepada Dion.
Dalam satu jam, beberapa klien mengirim pesan dukungan. Dua orang bahkan mengaku pernah menerima ancaman serupa dari Dion.
Aku membaca semua itu sambil memegang cangkir teh yang sudah mulai dingin.
Pesan dari Al masuk tidak lama kemudian.
Sudah makan?
Aku membalas dengan satu kata.
Sudah.
Balasannya hanya satu kalimat.
Bagus. Jangan buka komentar.
Aku tersenyum tanpa sadar. Entah kenapa, pesan sesingkat itu terasa lebih menenangkan daripada puluhan pesan dukungan dari orang lain.
Namun, saat ponselku kembali bergetar, aku tidak lagi merasa sendirian menghadapi semua orang.
- 1 Bab 1 — Pernikahan Ayahku
- 2 Tiga Putri dan Satu Meja
- 3 Perjanjian Anti-Pewaris
- 4 Kamar Tamu dan Kamera Tersembunyi
- 5 Pria Biasa di Ruang Direksi
- 6 Kebocoran Pertama
- 7 Masalah Clara
- 8 Skandal Eve reading
- 9 Proyek Agnes
- 10 Satu Payung untuk Tiga Orang
- 11 Makan Malam yang Hampir Damai
- 12 Pembelaan Pertama
- 13 Jam Dua Pagi
- 14 Eve Takut Sendirian
- 15 Agnes Mengatakan yang Tidak Seharusnya
- 16 Victor Mulai Bergerak
- 17 Nama yang Tidak Pernah Dicari
- 18 Satu Tahun Pernikahan
- 19 Status yang Berubah
- 20 Clara Mengajak Berkencan
- 21 Eve Tidak Lagi Bercanda
- 22 Agnes Memilih dengan Sadar
- 23 Clara Melepas Kendali
- 24 Tiga Pengakuan, Satu Keputusan
- 25 Serangan terhadap Aegis
- 26 Clara Menjadi Umpan
- 27 Eve Tidak Mau Diam
- 28 Agnes Menemukan Celah
- 29 Zero Terbuka
- 30 Rumah yang Diserang
- 31 Nama yang Keluar dari Bayangan
- 32 Clara Melawan Dewan
- 33 Agnes Membuka Kunci
- 34 Zero di Depan Dunia
- 35 Pilihan yang Tidak Bisa Dibalik
- 36 Tidak Sendirian Lagi