Chapter Three
Perjanjian Anti-Pewaris
Clara menungguku di depan kamar ketika aku turun keesokan paginya.
Dia berdiri sambil membawa map hitam yang cukup tebal. Wajahnya terlihat seperti orang yang sudah menyiapkan lima puluh pertanyaan dan tidak akan menerima satu pun jawaban asal-asalan.
“Pagi,” kataku.
“Kamu terlambat.”
Aku melihat jam di dinding. “Ini baru pukul tujuh.”
“Aku udah nungguin dari jam setengah tujuh.”
“Itu pilihanmu.”
Clara menarik napas panjang. “Kita perlu bicara.”
“Aku belum sarapan.”
“Bicara dulu.”
“Kalau aku pingsan, ngobrolnya malah jadi lebih lama.”
Tatapannya mengeras. “Duduk.”
Aku duduk di kursi dekat jendela. Clara masuk tanpa diminta, lalu menaruh map di atas meja.
“Ini perjanjian tinggal sementara.”
Aku membuka map itu. Halaman pertama berisi judul yang terlalu panjang, diikuti beberapa paragraf dengan bahasa hukum yang membuat kepala terasa berat sebelum dibaca.
“Siapa yang bikin?”
“Pengacara keluarga.”
“Pengacara keluarga yang mana?”
“Kenapa itu penting?”
“Kalau dia dibayar mahal, biasanya kalimatnya lebih panjang.”
Clara tidak tersenyum. “Baca.”
Aku membaca halaman demi halaman. Isinya cukup jelas. Aku tidak boleh mengklaim warisan Helena, menggunakan nama keluarga Wijaya untuk mendapatkan keuntungan, mengakses rekening perusahaan, berbicara kepada media tentang keluarga, atau membawa siapa pun ke rumah tanpa izin.
Aku juga harus meninggalkan rumah jika pernikahan Helena dan Damar berakhir.
“Ada lagi?” tanyaku.
“Itu aja.”
“Klausul tentang ayah?”
“Maksudnya?”
“Kalau ada orang yang nuduh ayahku nikah demi uang, aku boleh ngebantah?”
Clara menyilangkan tangan. “Tergantung caranya.”
“Berarti belum jelas.”
“Al, ini bukan tempat buat berdebat.”
“Aku juga nggak mau berdebat. Aku mau dokumen yang jelas.”
Dia mengambil pena dari meja dan menyerahkannya kepadaku.
Aku membaca ulang bagian terakhir, lalu menunjuk satu paragraf.
“Aku mau tambah ini.”
“Apa?”
“Tidak ada pihak yang boleh merendahkan Damar Adyatama atau menggunakan tuduhan tentang pernikahan ini untuk mempermalukannya.”
Clara menatapku. “Kamu mau lindungi ayahmu lewat perjanjian?”
“Aku mau perjanjiannya berlaku buat semua orang.”
“Bahkan kalau ayahmu emang datang buat ngambil harta Mama?”
“Kalau nanti terbukti, kamu boleh ngusir kami.”
“Kami?”
“Aku nggak bakal ninggalin ayah sendirian.”
Clara terdiam sebentar. Tatapannya turun ke dokumen, kemudian kembali kepadaku.
“Kamu percaya banget sama ayahmu.”
“Dia ayahku.”
“Itu bukan jawaban.”
“Buatku cukup.”
Clara bersandar ke meja. “Kamu bahkan nggak tahu kesepakatan pernikahan mereka.”
“Aku nggak perlu tahu semuanya buat belain ayah.”
“Kalau ternyata dia berbohong?”
“Berarti dia bakal nanggung akibatnya.”
“Termasuk kehilangan semua yang dia punya?”
“Ayah nggak punya apa-apa di rumah ini.”
Aku menutup map itu sebentar. “Jadi dia juga nggak bisa kehilangan sesuatu yang bukan miliknya.”
Clara memperhatikanku dalam diam.
Aku mengambil pena, menuliskan tambahan klausul yang kuminta, lalu menandatangani halaman terakhir.
Clara mengerutkan kening. “Kamu nggak baca semuanya sampai selesai.”
“Aku udah baca.”
“Cepat banget.”
“Bahasanya berulang.”
“Kamu ngerti bahasa hukum?”
“Sedikit.”
“Dari mana?”
“Internet.”
Clara menatapku seakan aku baru saja mengaku belajar operasi jantung dari video pendek.
Pintu kamar terbuka sebelum dia sempat bertanya lagi. Eve muncul sambil membawa gelas kopi.
“Kalian udah mulai rapat rahasia?”
“Keluar, Eve,” kata Clara.
“Aku cuma mau lihat apa Al udah ditawarin uang biar pergi.”
“Belum,” jawabku.
Eve berhenti di ambang pintu. “Belum?”
“Mungkin nanti.”
Dia menatap Clara dengan senyum lebar. “Kak, dia mulai bisa ngikutin cara kita bercanda.”
“Ini bukan bercanda.”
“Makanya lebih lucu.”
Agnes ikut muncul di belakang Eve. Rambutnya masih berantakan dan dia memegang tablet yang layarnya retak di sudut.
“Mama cari Clara,” katanya. Kemudian matanya jatuh ke map di atas meja. “Itu apa?”
“Bukan urusanmu,” jawab Clara.
“Kalau tentang orang baru di rumah, berarti urusanku juga.”
Aku menyerahkan map kepada Clara. “Udah selesai.”
Clara mengambilnya. “Kamu harus nurutin semua isinya.”
“Iya.”
“Jangan mikir tanda tangan itu bikin kamu aman.”
“Aku nggak merasa terancam.”
Eve bersandar di kusen pintu. “Kamu benar-benar nggak takut sama Clara?”
“Harus?”
“Kebanyakan orang takut.”
“Mungkin mereka punya alasan.”
Clara menatapku tajam, tetapi kali ini aku bisa melihat sedikit rasa ingin tahu di balik kemarahannya.
Kami turun ke ruang makan. Helena sedang minum kopi bersama ayah. Clara menyerahkan dokumen yang sudah kutandatangani.
Helena membacanya sekilas, lalu menatapku.
“Kamu nggak perlu nandatanganin perjanjian kayak gini.”
“Aku tahu.”
“Kalau gitu kenapa tetap kamu tanda tangani?”
“Biar Clara tenang.”
Clara langsung memotong, “Aku nggak butuh dikasihani.”
“Aku juga nggak ngasihani.”
“Lalu?”
“Aku mau aturan yang jelas.”
Helena melihat tambahan klausul di halaman terakhir. Senyumnya menghilang sedikit ketika membaca kalimat tentang Damar.
“Kamu yang nambahin ini?”
“Iya.”
“Kenapa?”
“Karena ayah nggak bakal belain dirinya sendiri kalau dituduh macam-macam.”
Ayah mengangkat alis. “Ayah bisa belain diri.”
“Ayah biasanya milih diam.”
“Itu bukan berarti nggak bisa.”
“Aku tahu.”
Helena menutup map. “Oke. Aku bakal minta pengacara ngecek tambahan ini.”
Clara menoleh cepat. “Mama mau nyetujuin?”
“Kenapa nggak?”
“Karena dia baru datang.”
“Justru karena dia baru datang, kita harus perlakuin dia dengan adil.”
Aku mengambil roti dari meja. “Kalau semua udah selesai, aku mau sarapan.”
Eve duduk di kursi sebelahku tanpa izin. “Kamu makan apa biasanya?”
“Makanan.”
“Kamu tahu nggak, jawabanmu itu bisa bikin orang pengin ngelempar sendok?”
“Kamu boleh coba.”
Eve tertawa. Clara memandang kami dengan ekspresi tidak suka, entah karena aku atau karena Eve duduk terlalu dekat.
Agnes berdiri di dekat meja sambil memerhatikan tablet retaknya. Aku melihat layar itu sekilas.
“Kamu jatuhin?” tanyaku.
“Bukan urusanmu.”
“Baterainya menggembung.”
Agnes langsung melihat tabletnya. “Apa?”
“Jangan dipakai.”
“Kamu tahu dari mana?”
“Layarnya terdorong dari dalam.”
Agnes memeluk tabletnya. “Aku baru mau makainya.”
“Kalau mau meledak, ya terserah.”
“Kamu bisa benerin?”
“Bisa, tapi jangan dipakai dulu.”
Agnes tampak ingin membalas, tetapi akhirnya menutup mulut.
Clara memperhatikan percakapan itu dari ujung meja.
Aku tidak tahu kenapa semua orang di rumah ini melihatku seperti sedang menunggu aku melakukan kesalahan.
Mungkin karena bagi mereka, aku memang sebuah kesalahan yang belum terbukti.
Aku menghabiskan roti, lalu berdiri.
“Aku mau ambil barang dari mobil.”
Eve menatapku. “Kamu nggak mau nikmatin sarapan keluarga?”
“Kita baru aja nandatanganin perjanjian.”
“Itu bukan alasan buat nggak sarapan.”
“Aku udah sarapan.”
“Kamu makan setengah roti.”
“Cukup.”
Aku pergi sebelum dia sempat memaksaku duduk lagi.
Di luar rumah, aku memeriksa ponsel. Ada beberapa pesan dari orang-orang yang menungguku menyelesaikan pekerjaan, tetapi semuanya bisa menunggu.
Untuk sementara, masalah terbesarku bukan jaringan yang diretas atau sistem yang gagal.
Masalah terbesarku adalah tiga perempuan yang belum percaya padaku dan satu ayah yang terlalu tenang setelah menikah dengan wanita terkaya yang pernah kukenal.
- 1 Bab 1 — Pernikahan Ayahku
- 2 Tiga Putri dan Satu Meja
- 3 Perjanjian Anti-Pewaris reading
- 4 Kamar Tamu dan Kamera Tersembunyi
- 5 Pria Biasa di Ruang Direksi
- 6 Kebocoran Pertama
- 7 Masalah Clara
- 8 Skandal Eve
- 9 Proyek Agnes
- 10 Satu Payung untuk Tiga Orang
- 11 Makan Malam yang Hampir Damai
- 12 Pembelaan Pertama
- 13 Jam Dua Pagi
- 14 Eve Takut Sendirian
- 15 Agnes Mengatakan yang Tidak Seharusnya
- 16 Victor Mulai Bergerak
- 17 Nama yang Tidak Pernah Dicari
- 18 Satu Tahun Pernikahan
- 19 Status yang Berubah
- 20 Clara Mengajak Berkencan
- 21 Eve Tidak Lagi Bercanda
- 22 Agnes Memilih dengan Sadar
- 23 Clara Melepas Kendali
- 24 Tiga Pengakuan, Satu Keputusan
- 25 Serangan terhadap Aegis
- 26 Clara Menjadi Umpan
- 27 Eve Tidak Mau Diam
- 28 Agnes Menemukan Celah
- 29 Zero Terbuka
- 30 Rumah yang Diserang
- 31 Nama yang Keluar dari Bayangan
- 32 Clara Melawan Dewan
- 33 Agnes Membuka Kunci
- 34 Zero di Depan Dunia
- 35 Pilihan yang Tidak Bisa Dibalik
- 36 Tidak Sendirian Lagi