Chapter Thirty
Rumah yang Diserang
POV: Al
Kami memindahkan server utama ke lokasi cadangan sebelum tengah malam.
Rumah tetap terlihat seperti biasa dari luar. Lampu teras menyala. Mobil Damar berada di garasi. Helena bahkan meminta semua orang makan malam agar tetangga tidak curiga.
Tidak ada yang makan dengan tenang.
Eve memainkan sendoknya. Agnes terus memeriksa laptop. Clara menerima laporan dari keamanan perusahaan.
Aku berdiri di dekat jendela, memandang jalan yang terlalu sepi.
“Kamu mau terus berdiri di sana?” tanya Eve.
“Aku lagi lihat.”
“Kalau kamu lihat cukup lama, jalan itu nggak bakal berubah jadi lebih aman.”
“Aku tahu.”
“Duduk.”
Aku menatapnya.
“Itu bukan permintaan,” lanjut Eve.
Aku duduk.
Helena meletakkan piring di depanku. “Kamu harus makan.”
“Aku nggak lapar.”
“Semua orang di rumah ini nggak lapar. Tetap makan.”
Damar duduk di sebelahnya. Untuk pertama kalinya sejak ancaman dimulai, dia terlihat tidak berusaha memahami sesuatu yang tidak dia mengerti.
“Al,” katanya, “apa aja yang terjadi, kamu nggak perlu ngadepin ini sendirian.”
Aku terdiam.
Damar bukan ayah yang banyak bicara. Dia juga bukan orang yang mudah menunjukkan rasa takut. Namun malam itu, tangannya menggenggam ujung meja terlalu erat.
“Aku nggak mau masalahku nyeret kalian,” kataku.
Helena menatapku. “Kamu udah tinggal di rumah ini. Masalahmu bukan lagi sesuatu yang berdiri di luar pintu.”
Clara mengangguk. “Dia udah bagian dari keluarga.”
Kata keluarga masih terasa asing di kepalaku.
Telepon keamanan masuk.
“Ada kendaraan berhenti di ujung jalan,” kata petugas.
Aku berdiri.
“Jangan keluar,” kata Clara.
“Aku cuma bakal lihat.”
“Lihat dari kamera,” kata Agnes.
Dia memutar layar laptop ke arahku.
Mobil hitam dengan lampu belakang yang sama berhenti tanpa mematikan mesin.
Eve membuka saluran komunikasi dengan petugas. “Jangan dekati dulu.”
Agnes memperbesar gambar.
“Ada tiga orang,” katanya. “Satu turun.”
“Jangan biarkan masuk,” kata Damar.
Bel rumah berbunyi.
Helena memucat, tetapi tetap berjalan ke ruang depan.
Aku menahan lengannya.
“Biar aku yang ngomong.”
“Nggak,” kata Clara. “Kita ngomong bersama.”
Kami berdiri di balik pintu dalam formasi yang sudah disepakati. Damar berada di dekat panel keamanan. Eve memegang ponsel untuk merekam. Agnes terhubung ke kamera. Clara berdiri di sampingku.
Bel berbunyi lagi.
Suara Victor terdengar dari luar.
“Helena, buka pintunya. Kita perlu ngomong.”
Helena memandangku.
“Jangan,” kataku.
Victor tertawa kecil dari luar. “Aku dateng buat bantu.”
“Kamu nggak diundang,” jawab Clara.
“Clara, jangan bikin ini sulit.”
“Kamu yang bikin semuanya sulit sejak jual akses perusahaan.”
Suasana di luar mendadak sunyi.
Aku memberi tanda kepada Eve.
Dia mengangkat ponsel lebih tinggi.
“Aku ngerekam percakapan ini,” kata Eve. “Silakan lanjutkan.”
Victor menghela napas. “Kalian nggak ngerti apa yang lagi kalian hadapi.”
“Kami ngerti cukup,” kata Agnes dari panel komunikasi.
“Kamu makai Nusa Shield buat ngawasin rumah, Asterion buat nyerang Aegis, dan Raka buat buka jalur pemulihan.”
Victor terdiam.
Clara membuka pintu hanya beberapa sentimeter. Rantai pengaman tetap terpasang.
“Apa yang kamu mau?” tanyanya.
“Algo.”
Victor menyebut namaku seperti kami sudah bertahun-tahun bersekutu.
“Serahkan akses Zero,” katanya. “Setelah itu semua selesai.”
“Kamu nggak bakal nyentuh siapa aja di rumah ini?” tanyaku.
“Aku udah ngasih kamu kesempatan.”
“Kamu ngirim orang buat ngerekam keluargaku.”
“Aku ngirim peringatan.”
“Kamu nyebutnya peringatan karena nggak berani nyebutnya ancaman.”
Victor tertawa. “Kamu boleh jadi pahlawan kalau mau. Tapi orang-orang ini bakal bayar harga buat keras kepalamu.”
Agnes berbisik dari belakang, “Al, dia lagi ngaktifin jalur lain.”
Aku menatap layar.
Benar.
Saat Victor berbicara di depan pintu, seseorang mencoba masuk melalui jaringan rumah.
“Clara, tutup pintu.”
Dia langsung menarik pintu dan mengunci semua pengaman.
“Mereka masuk dari sistem kamera,” kata Agnes.
“Putuskan kamera luar.”
“Kalau diputus, kita kehilangan pandangan.”
“Alihkan ke jaringan palsu.”
Agnes mengetik cepat.
Eve memeriksa layar ponselnya. “Ada kendaraan kedua di belakang.”
Damar mengambil telepon rumah.
“Aku hubungi polisi,” katanya.
“Lakukan.”
Aku membuka laptop dan memasukkan kunci protokol gelap.
“Mikael, mulai.”
Suara Mikael terdengar dari perangkat komunikasi. “Semua bukti udah dikirim ke penyidik. Kami cuma perlu bikin mereka tetap terhubung lima menit lagi.”
“Lima menit cukup.”
Victor memukul pintu.
“Buka!”
Helena berdiri di sampingku. Wajahnya pucat, tetapi suaranya tetap tegas.
“Victor, kamu udah selesai.”
“Belum.”
“Kamu salah.”
Dia membuka saluran speaker rumah.
Rekaman email dan panggilan Victor diputar ke halaman depan.
Suara Victor sendiri terdengar mengakui bahwa dia membayar Raka dan memakai perusahaan keamanan untuk memantau rumah.
Orang-orang di luar mulai berteriak.
Victor kehilangan kendali.
“Matikan itu!”
“Nggak bisa,” jawabku.
“Algo, kamu bakal ngancurin semuanya.”
“Nggak. Kamu yang ngelakuinnya.”
Agnes berteriak, “Mereka terjebak di jalur palsu!”
Aku menjalankan protokol terakhir.
Semua koneksi ilegal terputus. Bukti transaksi, rekaman akses, dan jalur komunikasi tersalin ke server penyidik.
Di luar, suara sirene mulai terdengar.
Victor mundur dari pintu.
Clara memegang lenganku. “Selesai?”
“Belum.”
Aku membuka kamera depan.
Raka berdiri di samping kendaraan kedua. Dia mengangkat perangkat kecil yang terhubung ke server portabel.
“Dia masih bawa salinan inti,” kata Agnes.
“Aku tahu.”
Aku mengirim satu perintah terakhir.
Perangkat Raka mati.
Dia menjatuhkannya ke tanah.
Petugas keamanan menahan mereka sebelum polisi masuk ke halaman.
Beberapa menit kemudian, rumah kami kembali dipenuhi suara orang dewasa yang memberi laporan, pertanyaan, dan instruksi.
Aku berdiri di dapur ketika semuanya mulai tenang.
Clara datang lebih dulu.
“Kamu terluka?” tanyanya.
“Nggak.”
Dia memeriksa wajahku seolah jawaban itu tidak cukup.
Eve masuk sambil membawa tiga gelas air.
“Aku nggak tahu siapa yang butuh air, jadi kubawa semuanya.”
Agnes datang terakhir dengan laptop di tangan.
“Bukti udah aman.”
Aku melihat mereka bertiga.
“Terima kasih.”
“Jangan bikin kedengeran kayak kami cuma bantuin kamu,” kata Clara.
“Terus?”
“Kami ngelakuin ini bersama.”
Eve menyerahkan satu gelas kepadaku. “Terus setelah ini, kamu harus berhenti nyimpen semua hal penting sendirian.”
“Aku bakal berusaha.”
“Bukan berusaha.”
“Oke.”
Agnes tersenyum. “Kamu mulai belajar.”
Kami keluar ke taman belakang setelah polisi pergi. Udara malam terasa lebih dingin, tetapi tidak lagi terasa seperti ancaman.
Clara berdiri di sebelah kiriku. Eve di depan. Agnes duduk di tepi kolam kecil.
“Kita masih harus jelasin semuanya ke banyak orang,” kataku.
“Besok,” kata Clara.
“Lusa,” tambah Eve.
“Setelah tidur,” kata Agnes.
Aku tertawa kecil.
Clara menciumku lebih dulu, lembut tetapi dalam. Eve menyusul dengan senyum yang sulit disembunyikan. Agnes menciumku terakhir, tangannya menggenggam ujung bajuku dengan gugup.
Tidak ada kamera tersembunyi. Tidak ada ancaman. Tidak ada layar yang berkedip merah.
Hanya kami.
“Al,” kata Clara, “kamu masih mau hidup tenang?”
Aku memandang rumah yang lampunya menyala di belakang mereka.
“Iya.”
Eve tertawa. “Kamu nggak belajar.”
“Aku mau hidup tenang,” lanjutku. “Tapi sekarang aku tahu tenang nggak selalu berarti sendirian.”
Agnes menyandarkan kepalanya ke bahuku.
Di lantai atas, suara Helena memanggil kami untuk makan. Damar menyusul dengan keluhan bahwa makanan akan dingin.
Aku menatap tiga perempuan di depanku.
Untuk pertama kalinya, rumah ini tidak terasa seperti tempat yang harus kutinggalkan.
Rumah ini terasa seperti sesuatu yang harus kujaga.
Dan untuk pertama kalinya, aku tidak ingin menjaganya sendirian.
Sebelum kami masuk, Clara menerima panggilan dari kantor. Dia menyalakan speaker.
“Rapat dewan ditunda sampai penyelidikan selesai,” kata sekretarisnya. “Tapi ada satu hal lain. Beberapa media mulai ngaitin serangan Aegis sama identitas Zero.”
Eve menatapku.
Agnes mematikan layar laptop.
Helena berdiri di ambang pintu.
Aku tahu masalah belum benar-benar berakhir. Victor bisa ditangkap, Raka bisa diperiksa, dan bukti bisa diamankan. Namun identitas Zero sudah mulai bergerak keluar dari bayangan.
“Besok kita hadapi,” kataku.
Clara menggenggam tanganku.
“Bersama,” katanya.
“Bersama,” ulang Eve.
Agnes mengangguk.
Aku menatap rumah, keluarga, dan tiga orang yang telah mengubah arti hidup tenang bagiku.
Untuk pertama kalinya, aku tidak takut jika dunia tahu siapa aku.
Aku hanya takut kehilangan mereka.
Dan kali ini, aku akan melakukan apa pun yang diperlukan agar itu tidak terjadi.
- 1 Bab 1 — Pernikahan Ayahku
- 2 Tiga Putri dan Satu Meja
- 3 Perjanjian Anti-Pewaris
- 4 Kamar Tamu dan Kamera Tersembunyi
- 5 Pria Biasa di Ruang Direksi
- 6 Kebocoran Pertama
- 7 Masalah Clara
- 8 Skandal Eve
- 9 Proyek Agnes
- 10 Satu Payung untuk Tiga Orang
- 11 Makan Malam yang Hampir Damai
- 12 Pembelaan Pertama
- 13 Jam Dua Pagi
- 14 Eve Takut Sendirian
- 15 Agnes Mengatakan yang Tidak Seharusnya
- 16 Victor Mulai Bergerak
- 17 Nama yang Tidak Pernah Dicari
- 18 Satu Tahun Pernikahan
- 19 Status yang Berubah
- 20 Clara Mengajak Berkencan
- 21 Eve Tidak Lagi Bercanda
- 22 Agnes Memilih dengan Sadar
- 23 Clara Melepas Kendali
- 24 Tiga Pengakuan, Satu Keputusan
- 25 Serangan terhadap Aegis
- 26 Clara Menjadi Umpan
- 27 Eve Tidak Mau Diam
- 28 Agnes Menemukan Celah
- 29 Zero Terbuka
- 30 Rumah yang Diserang reading
- 31 Nama yang Keluar dari Bayangan
- 32 Clara Melawan Dewan
- 33 Agnes Membuka Kunci
- 34 Zero di Depan Dunia
- 35 Pilihan yang Tidak Bisa Dibalik
- 36 Tidak Sendirian Lagi