← Tiga Putri Jatuh Cinta

Chapter Ten

Satu Payung untuk Tiga Orang

POV: Al

Hujan turun sejak sore dan belum menunjukkan tanda-tanda akan berhenti.

Aku sedang duduk di ruang keluarga ketika Helena meminta tolong.

“Al, bisa jemput Clara, Eve, dan Agnes?”

Aku menatapnya dari balik laptop. “Mereka nggak bawa mobil?”

“Mobilnya bermasalah.”

“Ada sopir.”

“Sopirnya nganter Damar ke rumah sakit.”

“Taksi.”

“Mereka ada di tempat yang sama.”

Aku melihat hujan di balik jendela. “Kenapa harus aku?”

Helena tersenyum. “Karena kamu lagi nggak ngelakuin apa-apa.”

Aku menunjuk laptop. “Aku kerja.”

“Kerja sambil duduk di sofa?”

“Posisi nggak nentuin pekerjaan.”

“Kamu tetap harus pergi.”

Aku menutup laptop. Helena selalu punya cara membuat permintaan terdengar seperti keputusan yang sudah dibuat sejak awal.

Lokasi mereka berada sekitar dua puluh menit dari rumah. Sebuah acara kreatif yang dihadiri Eve, rapat perusahaan Clara, dan presentasi proyek Agnes berlangsung di gedung yang sama.

Aku membawa satu payung besar dari dekat pintu. Hanya satu karena yang lain tidak ada di tempatnya.

Ketika tiba, hujan turun lebih deras.

Ketiga perempuan itu berdiri di bawah kanopi gedung. Clara memegang tas kerja, Eve memakai jaket tipis, dan Agnes memeluk laptopnya seperti benda itu lebih penting daripada dirinya sendiri.

Eve melihatku lebih dulu.

“Al datang jemput kita.”

“Aku datang karena diminta Helena,” jawabku.

“Tetap aja jemput.”

Clara melihat payung di tanganku. “Cuma satu?”

“Yang lain hilang.”

“Kita bisa nunggu hujan reda.”

Aku melihat langit. “Bisa. Tapi belum tentu malam ini.”

Agnes memeluk laptopnya lebih erat. “Aku nggak bisa biarin ini basah.”

“Jadi jalan.”

“Dengan satu payung?”

“Payungnya besar.”

Eve tertawa. “Kamu serius mau bikin kami bertiga jalan di bawah satu payung?”

“Aku bawa payung buat kalian.”

“Kamu sendiri?”

“Aku bisa jalan cepat.”

Clara mengerutkan kening. “Jangan bodoh.”

Aku membuka payung. “Kita nggak punya banyak pilihan.”

Awalnya kami berjalan dalam formasi yang tidak nyaman. Aku memegang payung di tengah. Clara di sebelah kiri, Eve di sebelah kanan, dan Agnes paling dekat denganku karena berusaha melindungi laptopnya.

Bahuku langsung basah karena payung terlalu banyak menutupi mereka.

Eve memperhatikan. “Al.”

“Hm?”

“Payungnya miring.”

“Aku tahu.”

“Kamu basah.”

“Aku tahu.”

“Kenapa nggak kamu miringkan ke arahmu?”

“Karena laptop Agnes.”

Agnes langsung menoleh kepadaku, tetapi tidak berkata apa-apa.

Clara mengambil gagang payung dari tanganku. “Sini.”

“Aku bisa megang.”

“Kamu pegangnya terlalu tinggi.”

“Masih nutupin.”

“Tapi kamu basah.”

Clara memegang payung lebih rendah. Kali ini air hujan tidak langsung mengenai bahuku.

Eve menyelipkan diri sedikit lebih dekat. “Kalau begini, kita keliatan kayak keluarga yang akur.”

“Jangan bikin kesimpulan dari payung,” kata Clara.

“Aku cuma bilang keliatan.”

Agnes tiba-tiba berhenti.

“Ada apa?” tanyaku.

Dia melihat bagian bawah laptopnya. “Air masuk ke tas.”

Aku membuka jaket dan menyerahkannya kepadanya.

“Bungkus laptopnya.”

Agnes menatap jaketku. “Terus kamu?”

“Aku masih punya kaus.”

“Kamu bakal kedinginan.”

“Nggak.”

“Al.”

“Pakai aja.”

Agnes menerima jaket itu dengan ragu, kemudian membungkus laptopnya. Tangannya menyentuh tanganku sebentar. Dia langsung melihat ke arah lain.

Eve memperhatikan semuanya dengan senyum kecil.

“Kamu perhatian juga, ya.”

“Aku lindungi barang elektronik.”

“Bukan orangnya?”

“Orangnya bawa barang elektronik.”

Eve menahan tawa. Clara melirikku dari samping.

“Kamu selalu punya alasan buat segala hal?”

“Biasanya.”

“Melelahkan.”

“Kalian tetap jalan di bawah payungku.”

“Karena kami nggak punya pilihan,” kata Clara.

“Berarti pilihannya cukup terbatas.”

Kami akhirnya sampai di area parkir. Mobil yang akan kami gunakan berada cukup jauh karena pintu utama ditutup sebagian untuk acara malam.

Aku membuka pintu belakang. Agnes masuk lebih dulu, kemudian Eve. Clara duduk di depan bersamaku.

Sebelum menyalakan mesin, aku menoleh ke belakang. Agnes masih memegang jaketku dengan kedua tangan.

“Kalau udah sampai, jemur jaketnya.”

“Aku bisa nyuci.”

“Nggak perlu.”

“Kenapa?”

“Karena sabunmu terlalu banyak.”

Agnes terlihat tersinggung. “Kamu tahu dari mana?”

“Kamar mandi.”

Eve tertawa dari sampingnya. “Kamu ngamatin sabun kami juga?”

“Aku tinggal di rumah yang sama.”

Clara memasang sabuk pengaman. “Jalankan mobilnya, Al.”

Aku menyalakan mesin.

Sepanjang perjalanan, suasananya tidak setegang biasanya. Eve bercerita tentang acara yang dihadirinya, Agnes sesekali menyela untuk membela proyeknya, dan Clara memberi komentar singkat ketika pembicaraan mulai terlalu berisik.

Aku lebih banyak diam.

Namun, untuk pertama kalinya, diamku tidak dianggap sebagai penolakan.

Saat sampai di rumah, hujan masih turun. Aku memarkir mobil dekat teras. Eve turun lebih dulu, lalu berlari menuju pintu. Clara mengambil payung dan menunggu Agnes turun.

Agnes mengembalikan jaketku.

“Terima kasih,” katanya.

“Jangan lupa laptopnya.”

“Aku bilang terima kasih.”

“Aku dengar.”

“Terus?”

“Nggak apa-apa.”

Agnes menatapku dengan wajah kesal. “Kamu emang nggak bisa nerima ucapan terima kasih dengan normal?”

“Aku lagi belajar.”

Clara berdiri di samping kami. “Belajarnya lambat.”

“Aku nggak terburu-buru.”

Eve berteriak dari teras, “Kalian mau berdiri di sana sampai besok?”

Clara mengangkat payung. “Kita masuk.”

Kami bertiga berjalan menuju pintu. Clara masih memegang payung, Eve mengambil tas Agnes tanpa diminta, dan Agnes terus memeriksa laptopnya.

Tidak ada yang menyuruhku pergi malam itu.

Tidak ada yang menanyakan berapa uang yang kumiliki.

Tidak ada yang menyebut ayahku sebagai pria biasa yang harus dicurigai.

Untuk beberapa menit, rumah keluarga Wijaya terasa seperti rumah biasa.

Malam itu, setelah semua orang masuk ke kamar masing-masing, aku kembali ke ruang kerja. Ada beberapa pesan pekerjaan yang belum kubalas dan satu permintaan mendesak dari luar negeri yang harus kuperiksa.

Aku menyalakan laptop, tetapi suara tawa dari lantai bawah membuatku berhenti.

Eve sedang menceritakan sesuatu dengan suara terlalu keras. Agnes menyela setiap beberapa detik. Clara beberapa kali menyuruh mereka mengecilkan suara, tetapi dari nadanya aku tahu dia juga sedang tersenyum.

Di rumah ini, kebisingan biasanya terasa seperti gangguan.

Malam itu, untuk pertama kalinya, kebisingan tersebut terdengar seperti tanda bahwa seseorang masih menungguku turun.

Aku menutup pesan pekerjaan tanpa membalas.

Besok masih ada waktu untuk menjadi Zero.

Malam ini, aku hanya ingin duduk sebentar di rumah yang mulai terasa sedikit tidak asing.

Dan anehnya, aku tidak langsung ingin keluar dari sana.