← Tiga Putri Jatuh Cinta

Chapter Fifteen

Agnes Mengatakan yang Tidak Seharusnya

POV: Agnes

Aku mulai menghindari Al setelah malam di tangga.

Bukan karena dia melakukan sesuatu yang salah. Justru itu masalahnya. Dia selalu bersikap baik dengan cara yang membuatku sulit mempertahankan kebencian.

Dia memperbaiki tabletkku. Dia membantu proyekku. Dia memberikan jaket ketika hujan. Dia bahkan tidak pernah mengungkit kamera tersembunyi yang kupasang di kamarnya.

Semakin lama, semakin sulit meyakinkan diri sendiri bahwa dia datang untuk mengambil keuntungan dari keluarga kami.

Aku mulai mencari alasan untuk berada di dekatnya.

Aku juga mulai kesal setiap kali melihat Clara bekerja bersamanya atau Eve duduk terlalu dekat saat bercanda.

Rasa kesal itu tidak masuk akal.

Aku tahu itu.

Tapi mengetahui sesuatu tidak membuatnya hilang.

Sore itu, aku menemukan Al di ruang kerja. Dia sedang duduk di depan laptop, memakai earphone, dan menatap layar dengan wajah serius.

Aku berdiri di pintu cukup lama.

“Kalau mau masuk, masuk aja,” katanya tanpa menoleh.

Aku langsung masuk. “Aku nggak mau ganggu.”

“Kamu udah ganggu.”

“Aku baru berdiri.”

“Itu juga ganggu.”

Aku duduk di kursi seberangnya. “Aku mau ngebahas sesuatu.”

Al melepas earphone. “Tentang proyek?”

“Bukan.”

“Kalau tentang tablet, baterainya udah datang.”

“Bukan itu.”

Al menatapku. “Kamu sakit?”

“Nggak.”

“Butuh uang?”

“Nggak.”

“Kamu ngerusak sesuatu?”

“Nggak.”

“Berarti bukan masalah.”

Aku menggenggam ujung bajuku. “Kamu selalu nganggep semua hal bisa diselesein dengan pertanyaan?”

“Biasanya lebih cepat.”

Aku ingin tertawa, tetapi tidak bisa.

Al mematikan layar laptop. “Ada apa?”

Aku sudah merencanakan kalimatnya sejak pagi. Aku bahkan menuliskannya di catatan ponsel, menghapusnya, lalu menulis lagi.

Tapi ketika Al benar-benar melihatku, semua kalimat itu terasa bodoh.

“Kamu suka Clara?” tanyaku.

Al berkedip. “Apa?”

“Aku cuma nanya.”

“Kenapa?”

“Jawab dulu.”

“Nggak.”

Jawabannya terlalu cepat.

Aku menatapnya. “Eve?”

“Nggak.”

“Kamu yakin?”

“Iya.”

“Kamu nggak pernah suka sama siapa aja?”

“Pernah.”

“Siapa?”

“Orang lain.”

Aku menutup wajah sebentar. “Kamu nyebelin.”

“Kamu udah bilang.”

“Aku serius.”

“Aku juga.”

Aku berdiri dan berjalan ke jendela. Di luar, taman terlihat basah setelah hujan siang. Lampu-lampu kecil mulai menyala di sepanjang jalan setapak.

“Al.”

“Hm?”

“Aku suka kamu.”

Ruangan langsung terasa terlalu sunyi.

Aku tidak berani menoleh kepadanya.

“Aku tahu ini aneh,” lanjutku. “Aku juga tahu kita baru tinggal serumah beberapa hari. Aku tahu kamu mungkin nganggep aku kekanak-kanakan dan nyebelin.”

“Aku nggak pernah bilang kekanak-kanakan.”

“Kamu nggak perlu bilang. Wajahmu bilang.”

Al berdiri dari kursinya.

Aku memejamkan mata. “Tapi aku benar-benar suka kamu. Bukan karena kamu bantu proyekku. Bukan karena kamu berbeda. Aku suka kamu karena…”

Aku berhenti.

Karena apa?

Karena dia membuatku merasa aman? Karena dia memperlakukanku seperti orang dewasa? Karena ketika bersamanya, aku tidak perlu menjadi putri bungsu yang selalu dibandingkan dengan Clara dan Eve?

“Aku nggak tahu,” kataku akhirnya. “Aku cuma tahu aku suka.”

Al berdiri beberapa langkah di belakangku.

“Agnes.”

Nada suaranya membuat dadaku terasa lebih berat.

“Kalau kamu mau nolak, jangan terlalu panjang.”

“Aku nggak mau bikin kamu malu.”

Aku berbalik. “Aku nggak bakal malu kalau kamu nolak.”

Itu bohong.

Al menatapku dengan ekspresi yang jarang kulihat. Tidak datar. Tidak cuek. Ada sesuatu yang sangat lembut di sana, dan justru itu membuatku lebih takut.

“Aku percaya kamu suka sama aku,” katanya.

“Tapi?”

“Tapi kita belum bisa ngelakuin apa aja.”

Aku tertawa kecil. “Karena aku lebih muda?”

“Bukan.”

“Karena aku anak manja?”

“Bukan.”

“Karena aku nggak cukup cantik?”

“Agnes.”

“Jangan panggil namaku kayak gitu kalau nggak mau jawab.”

Al menarik napas. “Karena secara hukum, kita masih keluarga.”

Aku terdiam.

Aku tahu itu. Tentu saja aku tahu. Tapi sebagian diriku berharap dia akan mengabaikannya seperti aku.

“Pernikahan Mama dan ayahmu cuma kesepakatan,” kataku.

“Tetap sah.”

“Mereka nggak saling cinta.”

“Bukan berarti batasnya nggak ada.”

Aku menatapnya. “Kamu nggak suka sama aku?”

Al tidak langsung menjawab.

Jeda singkat itu terasa lebih menyakitkan daripada penolakan.

“Aku peduli padamu,” katanya.

“Aku nggak nanya itu.”

“Aku tahu.”

“Jawab.”

Al menurunkan pandangan sebentar. “Aku nggak bakal ngomong sesuatu yang bikin kamu berharap.”

Aku merasa wajahku panas. “Berarti nggak.”

“Berarti sekarang bukan waktunya.”

“Jangan bikin kedengeran lebih baik.”

“Aku nggak lagi benerin jawaban.”

“Aku benci kamu.”

“Aku tahu.”

Air mataku hampir jatuh dan itu membuatku semakin marah. Aku tidak ingin menangis di depannya. Aku tidak ingin menjadi gadis bodoh yang mengaku suka lalu menangis ketika ditolak.

Aku berjalan menuju pintu.

“Agnes.”

Aku berhenti, tetapi tidak menoleh.

“Aku nggak nganggep perasaanmu memalukan.”

“Tapi kamu nggak nerimanya.”

“Aku nggak bisa.”

“Karena masih keluarga?”

“Karena aku nggak mau manfaatin perasaanmu ketika keadaan kita belum jelas.”

Aku menoleh. “Kalau suatu hari pernikahan mereka berakhir?”

Al menatapku cukup lama.

“Jangan nungguin aku.”

Kalimat itu membuatku benar-benar terluka.

Aku tertawa tanpa suara. “Tenang aja. Aku nggak bakal nunggu.”

Aku keluar dari ruang kerja dan menutup pintu.

Di lorong, aku menyandarkan punggung ke dinding. Aku menutup mulut agar isakanku tidak terdengar.

Aku tahu Al melakukan hal yang benar.

Aku tahu dia tidak ingin membohongiku.

Tapi mengetahui seseorang melakukan hal yang benar tidak membuat penolakan terasa lebih ringan.

Beberapa menit kemudian, ada ketukan pelan di pintuku.

Aku tidak menjawab.

Ketukan itu terdengar sekali lagi, lalu berhenti. Ketika kubuka pintu, tidak ada siapa pun di lorong. Hanya ada satu piring makanan dan tabletku yang sudah dipasangi baterai baru.

Aku tahu siapa yang membawanya.

Aku membawa tablet itu ke meja dan menyalakannya. Aplikasiku berjalan normal. Di layar, ada satu pesan pendek dari Al.

Besok perbaiki bagian notifikasi.

Tidak ada kalimat yang menanyakan apakah aku baik-baik saja. Tidak ada permintaan agar aku berhenti menangis.

Tapi dia tetap mengantarkan makanan dan memperbaiki tabletkku.

Aku menghapus pesan itu, lalu memulihkannya lagi dari tempat sampah.

Malam itu, aku mematikan ponsel dan tidak turun untuk makan.

Untuk pertama kalinya sejak Al datang, aku berharap dia benar-benar pergi setelah satu minggu.