← Tiga Putri Jatuh Cinta

Chapter Two

Tiga Putri dan Satu Meja

Malam itu, aku hampir berhasil menghilang ke kamar sebelum seseorang memanggilku dari bawah.

“Al, makan malam.”

Suara Helena terdengar tenang, tetapi tetap punya nada yang membuat orang sulit menolak.

Aku melihat jam di dinding. Baru pukul tujuh lewat sedikit. Di rumah lamaku, makan malam biasanya berlangsung sambil berdiri di dekat kompor atau duduk di depan laptop. Kalau ada yang memanggil, biasanya karena nasi sudah habis.

“Aku udah makan,” jawabku.

“Kamu baru minum air sejak datang.”

Aku menoleh ke arah pintu. Helena berdiri di sana dengan tangan terlipat di depan dada.

“Itu cukup.”

“Buat tanaman mungkin.”

Aku memandangnya sebentar. Entah kenapa, dia tampak lebih santai kalau sedang menyindir.

“Turun aja. Damar juga nungguin.”

Kalau ayah yang menunggu, aku masih bisa pura-pura nggak dengar. Kalau Helena yang meminta, rasanya lebih sulit.

Aku akhirnya turun.

Meja makan keluarga Wijaya bisa menampung dua belas orang. Malam itu, hanya ada enam orang yang duduk di sekelilingnya, tetapi suasananya terasa seperti rapat penting.

Helena duduk di ujung meja. Ayah berada di sebelahnya. Clara duduk di sisi kanan, Eve di seberangnya, dan Agnes duduk paling dekat dengan pintu seolah siap kabur kapan saja.

Aku memilih kursi kosong yang paling jauh dari semuanya.

Eve langsung mengangkat alis. “Kamu duduk di sana?”

“Kursinya kosong.”

“Kami nggak menggigit.”

“Aku nggak bilang kalian menggigit.”

“Tapi kamu duduk kayak lagi makan bareng tersangka kriminal.”

Clara menatap Eve. “Jangan mulai.”

“Aku cuma pengin mencairin suasana.”

“Suasananya baik-baik aja,” kataku.

Agnes mendengus. “Menurut siapa?”

“Menurut aku.”

“Ya, karena kamu yang bikin suasananya makin aneh.”

Aku mengambil sendok. “Berarti kita impas.”

Ayah menunduk, pura-pura sibuk mengambil lauk. Bahunya bergerak sedikit. Dia sedang menahan tawa.

Makan malam dimulai tanpa doa atau percakapan panjang. Makanan di atas meja terlalu banyak untuk jumlah orang yang ada. Ada sup, ikan bakar, sayuran, daging panggang, dan beberapa hidangan yang namanya bahkan nggak kukenal.

Aku mengambil nasi secukupnya, lalu memilih sayur dan ikan.

Eve memperhatikanku. “Kamu nggak mau coba yang lain?”

“Nggak.”

“Kenapa?”

“Aku nggak kenal.”

“Itu makanan, bukan orang.”

“Tetap nggak kenal.”

Eve menahan tawa. “Kamu serius banget.”

“Aku lagi makan.”

Helena tersenyum kecil, lalu menuangkan sup ke mangkuk ayah. Gerakannya sederhana, tetapi sangat terbiasa. Ayah menerima mangkuk itu tanpa mengucapkan terima kasih. Sebaliknya, dia mengambilkan lauk yang tidak pedas untuk Helena.

Aku memperhatikan mereka sebentar.

Pernikahan itu mungkin dimulai karena alasan yang aneh, tetapi mereka terlihat seperti dua orang yang sudah lama saling memahami.

Clara melihat arah pandangku. “Jangan salah paham.”

Aku menoleh. “Tentang apa?”

“Pernikahan mereka.”

“Aku nggak bilang apa-apa.”

“Aku tahu.”

“Kalau tahu, kenapa dijelaskan?”

Clara meletakkan sendoknya. “Karena kami semua tahu kenapa ayahmu ada di sini.”

Ayah menghela napas. “Clara, ini bukan waktunya.”

“Justru harus dibahas dari awal.”

Helena tidak terlihat tersinggung. Dia hanya menatap putrinya dengan tenang.

“Kita bahas setelah makan.”

“Kenapa setelah makan?”

“Karena aku nggak mau makanan dingin.”

Eve tertawa kecil. Agnes memutar mata.

Clara masih terlihat tidak puas, tetapi akhirnya kembali mengambil sendok.

Beberapa menit kemudian, dia mulai bertanya kepadaku.

“Kamu kerja apa?”

“IT.”

“IT apa?”

“Macam-macam.”

“Itu bukan jawaban.”

“Pertanyaannya terlalu luas.”

Eve menyandarkan dagu di tangannya. “Jadi kamu programmer?”

“Kadang.”

“Kadang?”

“Kalau lagi nggak tidur.”

Eve terkekeh. “Oke, ternyata kamu bisa bercanda.”

“Aku nggak bercanda.”

Kali ini bahkan Helena ikut tersenyum.

Clara tetap serius. “Kamu punya penghasilan tetap?”

“Cukup.”

“Cukup buat apa?”

“Hidup.”

“Hidup kayak apa?”

Aku meletakkan sendok. “Clara, kalau kamu mau tahu apa aku datang buat ngambil uang ibumu, jawabannya nggak.”

Ruangan langsung lebih sunyi.

Aku melanjutkan, “Aku nggak tahu kenapa ayah nikah sama Helena. Aku juga nggak tahu kesepakatan mereka apa. Tapi aku nggak datang ke sini buat minta harta, rumah, atau jabatan.”

Clara menatapku tajam. “Semua orang bilang begitu di awal.”

“Bagus. Berarti nanti kamu bisa nilai sendiri dari kelakuanku.”

“Terus kalau kelakuanmu tetap mencurigakan?”

“Kamu boleh ngusir aku.”

“Aku emang bakal ngusir kamu.”

“Berarti kamu nggak perlu repot nyari alasan.”

Agnes menatapku dengan kesal. “Kamu selalu jawab kayak gitu?”

“Tadi Clara udah nanya hal yang sama.”

“Aku bukan Clara.”

“Aku tahu.”

“Terus kenapa kamu jawab?”

“Karena kamu nanya.”

Agnes membuka mulut, tetapi tidak menemukan jawaban. Eve menutup bibirnya dengan tangan agar tidak tertawa terlalu keras.

Setelah makan selesai, Helena meminta semua orang tetap duduk. Seorang pelayan mengambil piring-piring kotor, kemudian pergi meninggalkan kami di ruangan yang mendadak terasa lebih luas.

Helena menatap ketiga putrinya. “Aku sama Damar punya kesepakatan. Buat sementara, kami bakal jalanin pernikahan ini sebagai pasangan yang sah secara hukum.”

“Kami tahu,” kata Clara. “Yang kami nggak tahu itu kenapa Al harus ikut tinggal di sini.”

“Karena Damar suamiku.”

“Itu bukan alasan.”

“Buatku, itu cukup.”

Damar menyentuh punggung tangan Helena. “Helena.”

Helena menggeleng kecil. “Aku nggak mau nyembunyiin apa-apa dari kalian. Tapi aku juga nggak mau kalian ngehakimi orang cuma karena dia datang dari keluarga sederhana.”

Clara menatap ayahku. “Kami cuma mau lindungi Mama.”

“Aku tahu,” kataku.

Tiga saudari itu kembali melihatku.

Aku menyandarkan punggung ke kursi. “Tapi ayahku juga bukan orang yang perlu dilindungi dari tuduhan kalian.”

Damar menatapku dengan wajah yang sulit kubaca. Mungkin dia ingin menyuruhku diam. Mungkin juga dia lega karena aku mengatakannya.

Clara berdiri lebih dulu. “Besok pagi, kita perlu bicara.”

“Tentang apa?”

“Banyak hal.”

“Kalau penting, kirim pesan.”

“Aku serius, Al.”

“Aku juga.”

Clara meninggalkan meja dengan langkah cepat. Eve menyusul sambil tersenyum kecil kepadaku.

“Selamat malam, Al. Semoga kamu nggak terlalu kaget tinggal di rumah penuh perempuan.”

“Aku udah kaget.”

“Baru hari pertama.”

“Itu masalahnya.”

Eve tertawa, lalu pergi.

Agnes masih duduk di tempatnya. Dia menatapku beberapa detik sebelum berdiri.

“Aku tetap nggak percaya sama kamu.”

“Nggak apa-apa.”

“Kamu nggak tersinggung?”

“Nggak.”

“Kenapa?”

Aku melihat meja makan yang terlalu panjang dan rumah yang terlalu besar. “Karena aku juga belum percaya sama kalian.”

Agnes pergi tanpa membalas.

Ayah menunggu sampai kami hanya bertiga di ruangan itu.

“Kamu nggak perlu melawan mereka terus,” katanya.

“Aku nggak melawan.”

“Kamu bikin mereka kesal.”

“Mereka udah kesal sebelum aku datang.”

Helena tertawa pelan. “Dia emang kayak gitu dari kecil?”

“Lebih parah,” jawab ayah.

Aku berdiri. “Aku naik dulu.”

“Al,” panggil Helena.

Aku menoleh.

“Makasih udah mau datang.”

Aku nggak tahu harus menjawab apa. Jadi aku hanya mengangguk dan berjalan ke tangga.

Di rumah ini, semua orang sepertinya ingin mengetahui sesuatu tentangku.

Padahal aku sendiri cuma ingin makan malam tanpa harus menjelaskan kenapa aku tidak tertarik pada harta mereka.