Chapter Five
Pria Biasa di Ruang Direksi
Aku tidak punya rencana pergi ke kantor keluarga Wijaya.
Rencana awalnya sederhana: mengambil hard disk yang tertinggal di mobil ayah, mengembalikannya kepada pemilik, lalu pulang ke rumah sebelum makan siang.
Rencana itu gagal ketika Clara muncul di garasi dengan wajah terburu-buru.
“Kamu ikut aku.”
Aku sedang memeriksa kabel charger. “Nggak.”
“Aku belum selesai bicara.”
“Aku udah selesai jawab.”
Clara mengambil hard disk dari tanganku. “Ini punya kantor.”
“Makanya aku mau balikin.”
“Kamu ikut ke kantor.”
“Kirim lewat kurir.”
“Aku lagi ada rapat.”
“Semoga lancar.”
Clara menatapku beberapa detik. “Al, aku nggak punya waktu buat berdebat.”
“Kita sepakat soal itu.”
“Kalau kamu nggak ikut, aku bakal bilang ke Helena kalau kamu nolak bantu keluarga.”
Aku menatapnya. “Itu ancaman?”
“Anggap aja permintaan.”
“Kedengerannya tetap kayak ancaman.”
“Kamu mau ikut atau nggak?”
Aku melihat hard disk di tangannya. Ayah meminta benda itu dikembalikan hari itu juga. Kalau aku tidak ikut, Clara mungkin akan meninggalkannya di tempat lain dan menyalahkan ayah ketika data di dalamnya hilang.
“Aku ikut.”
“Bagus.”
“Tapi aku duduk di belakang.”
“Terserah.”
Perjalanan ke kantor berlangsung hampir tanpa percakapan. Clara menyetir sendiri dengan kecepatan yang membuatku sedikit menyesal tidak membawa kendaraan sendiri.
Dia beberapa kali menerima panggilan, menjawab singkat, lalu memutus sambungan. Dari potongan percakapan, aku tahu ada masalah dengan laporan penjualan salah satu anak perusahaan.
Di lampu merah, Clara menoleh. “Kamu emang selalu sesusah ini?”
“Aku lagi duduk diam.”
“Itu malah masalahnya.”
“Kamu mau aku bicara?”
“Nggak.”
“Berarti nggak ada masalah.”
Clara kembali melihat jalan. “Kamu tahu nggak, kebanyakan orang bakal berusaha bikin kesan baik di depanku.”
“Aku bukan kebanyakan orang.”
“Kamu bahkan nggak berusaha keliatan sopan.”
“Aku udah bilang selamat pagi tadi.”
Clara menekan pedal gas lebih dalam.
Gedung kantor Wijaya jauh lebih besar daripada yang kubayangkan. Lobi utamanya dipenuhi lantai marmer, layar digital, dan orang-orang yang berjalan cepat sambil memegang tablet.
Aku mengikuti Clara masuk ke lift. Beberapa orang langsung memberi salam kepadanya. Tidak ada yang bertanya siapa aku, tetapi cara mereka melihatku sudah cukup untuk memberi tahu bahwa mereka sedang menebak-nebak.
Di lantai dua puluh satu, Clara menyerahkan hard disk kepada asistennya.
“Taruh ini di ruang rapat. Aku nyusul.”
Asistennya mengangguk, lalu pergi.
Clara menunjuk kursi di dekat dinding. “Tunggu di sini.”
“Aku bisa pulang.”
“Tunggu.”
“Aku bukan anak kecil.”
“Aku tahu. Anak kecil biasanya lebih gampang diatur.”
Aku duduk karena berdebat dengannya terasa lebih melelahkan daripada menunggu.
Di depan ruang rapat ada layar besar yang menampilkan laporan penjualan. Aku tidak bermaksud memperhatikannya, tetapi grafik berwarna-warni itu terlihat dari tempatku duduk.
Aku membaca angka-angkanya sambil menunggu.
Ada sesuatu yang tidak cocok.
Cabang utama mencatat kenaikan transaksi sebesar dua belas persen, tetapi jumlah pelanggan aktif turun hampir tujuh persen. Di laporan lain, nilai pembelian rata-rata naik terlalu rapi selama empat minggu berturut-turut.
Angka yang terlalu rapi biasanya bukan kabar baik.
Clara keluar dari ruang rapat untuk mengambil dokumen. Aku menunjuk layar.
“Ini data asli?” tanyaku.
Dia menoleh. “Apa?”
“Laporan penjualan.”
“Iya.”
“Siapa yang bikin?”
“Tim keuangan.”
“Mereka salah.”
Clara berjalan mendekat. “Kamu bahkan belum masuk ruang rapat.”
“Nggak perlu.”
“Al.”
Aku menunjuk grafik. “Nilai transaksi naik, pelanggan aktif turun. Itu masih mungkin. Tapi rata-rata pembelian yang naik dengan pola seragam selama empat minggu hampir nggak mungkin terjadi secara alami.”
Clara melipat tangan. “Kamu baca laporan bisnis sekarang?”
“Aku baca angka.”
“Itu bukan bidangmu.”
“Angka tetap angka.”
Clara melihat layar lebih lama. “Kamu nemu apa?”
“Kemungkinan transaksi duplikat atau data yang udah dibersihin sebelum masuk laporan.”
“Kemungkinan?”
“Aku belum lihat data mentah.”
“Kalau gitu jangan bikin kesimpulan.”
“Aku nggak bikin kesimpulan.”
“Tadi kamu bilang mereka salah.”
“Itu pengamatan.”
Pintu ruang rapat terbuka. Seorang pria berusia sekitar lima puluhan keluar bersama dua anggota dewan. Wajahnya mirip Helena, tetapi senyumnya jauh lebih tipis.
Victor Wijaya.
Aku tahu namanya dari berita.
Matanya langsung jatuh kepadaku. “Ini siapa?”
Clara menjawab cepat, “Al.”
“Al siapa?”
“Anak Damar.”
Victor mengamati pakaian sederhanaku, kemudian melihat Clara. “Dia ikut rapat?”
“Nggak.”
“Bagus.” Victor tertawa kecil. “Perusahaan ini udah cukup banyak ngadepin orang yang nggak paham bisnis.”
Aku tidak menjawab.
Clara menatapku, mungkin berharap aku juga diam.
Victor berjalan pergi bersama yang lain. Sebelum masuk kembali ke ruang rapat, Clara berbisik, “Jangan ngomong apa-apa di dalam.”
“Aku nggak punya rencana.”
“Bagus.”
Aku tetap masuk karena asistennya meminta membawa dokumen tambahan.
Ruang rapat dipenuhi orang-orang yang memakai jas dan membawa laptop. Ayah tidak ada di sana. Helena duduk di salah satu sisi meja, sementara Victor berada di ujung lainnya.
Clara memulai presentasi.
Aku duduk di belakang, dekat pintu. Selama dua puluh menit, semuanya berjalan seperti rapat biasa. Angka penjualan ditampilkan, proyeksi keuntungan dijelaskan, dan beberapa orang mengangguk seolah sudah memahami semuanya.
Lalu grafik yang sama muncul di layar.
Aku mengangkat tangan sebelum sempat berpikir.
Clara langsung menatapku.
Aku menurunkan tangan lagi.
Victor melihat gerakanku. “Ada yang mau disampaikan?”
“Nggak,” jawab Clara.
“Saya nanya ke dia.”
Semua orang menoleh kepadaku.
Aku menatap layar. “Angka transaksi cabang timur terlalu tinggi.”
Clara menutup mata sebentar.
Victor tersenyum. “Terus kamu tahu itu dari mana?”
“Dari laporan.”
“Kamu kerja di bagian keuangan?”
“Nggak.”
“Punya pengalaman ngelola perusahaan?”
“Nggak.”
“Terus kenapa merasa perlu ngomentarin kerjaan orang lain?”
Aku melihat grafik itu sekali lagi. “Karena datanya nggak masuk akal.”
Ruangan menjadi hening.
Clara berdiri. “Kita lanjut sesuai agenda.”
Victor masih tersenyum. “Tentu. Lagi pula, orang luar sering lihat sesuatu yang nggak keliatan sama kita.”
Nada suaranya terdengar seperti pujian, tetapi maksudnya jelas.
Rapat berlanjut. Aku tidak bicara lagi.
Satu jam kemudian, Clara keluar lebih dulu. Dia berjalan cepat menuju lift, dan aku mengikutinya.
“Kamu sengaja?” tanyanya.
“Apa?”
“Ngangkat tangan di rapat.”
“Nggak.”
“Kamu bikin aku keliatan nggak bisa ngendaliin ruangan.”
“Aku cuma ngomong sekali.”
“Itu udah cukup.”
Ponsel Clara berdering. Dia menjawab, lalu wajahnya berubah sedikit.
“Apa?” tanyaku.
Dia menutup telepon. “Tim audit nemu transaksi duplikat di cabang timur.”
Aku mengangguk. “Berarti pengamatanku benar.”
Clara menatapku. “Jangan keliatan senang.”
“Aku nggak senang.”
“Kamu tersenyum.”
“Bukan senyum.”
“Terus apa?”
“Otot wajah bergerak.”
Pintu lift terbuka. Clara masuk lebih dulu, tetapi kali ini dia tidak menyuruhku tinggal di luar.
Di dalam lift, dia berdiri di sampingku tanpa bicara.
Beberapa detik kemudian, dia bertanya, “Kamu sebenarnya kerja apa?”
“IT.”
“Itu bukan jawaban.”
Aku melihat pantulan kami di pintu lift. “Aku udah jawab.”
Clara tidak membalas.
Namun, sejak saat itu, cara dia melihatku berubah sedikit.
Belum menjadi percaya.
Hanya tidak lagi sepenuhnya menganggapku tidak berguna.
- 1 Bab 1 — Pernikahan Ayahku
- 2 Tiga Putri dan Satu Meja
- 3 Perjanjian Anti-Pewaris
- 4 Kamar Tamu dan Kamera Tersembunyi
- 5 Pria Biasa di Ruang Direksi reading
- 6 Kebocoran Pertama
- 7 Masalah Clara
- 8 Skandal Eve
- 9 Proyek Agnes
- 10 Satu Payung untuk Tiga Orang
- 11 Makan Malam yang Hampir Damai
- 12 Pembelaan Pertama
- 13 Jam Dua Pagi
- 14 Eve Takut Sendirian
- 15 Agnes Mengatakan yang Tidak Seharusnya
- 16 Victor Mulai Bergerak
- 17 Nama yang Tidak Pernah Dicari
- 18 Satu Tahun Pernikahan
- 19 Status yang Berubah
- 20 Clara Mengajak Berkencan
- 21 Eve Tidak Lagi Bercanda
- 22 Agnes Memilih dengan Sadar
- 23 Clara Melepas Kendali
- 24 Tiga Pengakuan, Satu Keputusan
- 25 Serangan terhadap Aegis
- 26 Clara Menjadi Umpan
- 27 Eve Tidak Mau Diam
- 28 Agnes Menemukan Celah
- 29 Zero Terbuka
- 30 Rumah yang Diserang
- 31 Nama yang Keluar dari Bayangan
- 32 Clara Melawan Dewan
- 33 Agnes Membuka Kunci
- 34 Zero di Depan Dunia
- 35 Pilihan yang Tidak Bisa Dibalik
- 36 Tidak Sendirian Lagi