← Tiga Putri Jatuh Cinta

Chapter Twenty Six

Clara Menjadi Umpan

POV: Clara

Aku tidak tidur setelah membaca pesan itu.

We know where you live.

Kalimatnya masih berada di layar ponsel ketika langit mulai memucat. Aku duduk di tepi ranjang sambil memandangi jendela, mencoba menghitung kemungkinan orang yang bisa mengetahui alamat rumah kami. Daftarnya terlalu panjang.

Yang membuatku gelisah bukan ancamannya. Yang membuatku gelisah adalah cara Al membaca pesan itu. Dia tidak panik. Dia juga tidak terlihat terkejut. Wajahnya hanya menjadi lebih tenang, seperti seseorang yang baru menerima kepastian dari sesuatu yang sudah lama dia curigai.

Pukul enam lewat sedikit, aku turun ke ruang makan. Al sudah berada di sana. Dia duduk di ujung meja sambil membaca laporan dari tablet. Di sampingnya ada dua cangkir kopi, tetapi dia belum menyentuh salah satunya.

“Kamu tidur?” tanyaku.

“Nggak banyak.”

“Kamu bisa jawab lebih manusiawi.”

“Aku lagi nyoba.”

Aku duduk di depannya. “Mikael udah ngirim laporan?”

“Tiga kali.”

“Terus kamu masih belum ngasih tahu Mama?”

“Aku bakal ngasih tahu setelah punya bukti yang cukup.”

“Kita udah punya ancaman langsung.”

“Ancaman bukan bukti siapa pelakunya.”

Jawaban itu masuk akal, tetapi membuatku ingin melempar tablet ke dinding.

“Victor ngadain rapat dewan pagi ini,” kataku.

“Aku tahu.”

“Dia bakal makai serangan ini buat nekan Mama. Dia udah nyebarin isu bahwa sistem keamanan perusahaan gagal karena terlalu banyak keputusan dibikin tanpa persetujuan dewan.”

“Dia mau ngambil alih pengelolaan keamanan.”

“Bukan cuma keamanan. Kalau dia berhasil, dia bisa ngakses semua jalur operasional.”

Al diam.

“Aku bakal dateng ke rapat itu,” lanjutku.

“Nggak.”

“Aku belum selesai ngomong.”

“Jawabanku tetap nggak.”

“Aku bukan anak kecil.”

“Aku nggak bilang kamu anak kecil.”

“Tapi kamu perlakuin aku kayak aku nggak boleh berada deket masalah.”

Al menutup tabletnya. “Aku perlakuin kamu kayak seseorang yang lagi dijadiin target.”

“Kalau aku terus bersembunyi, mereka bakal nyerang orang lain.”

“Aku bisa ngatur pengamanan.”

“Terus aku bisa jadi umpan.”

Ruangan mendadak terasa lebih sunyi.

Al menatapku terlalu lama. “Nggak.”

“Kenapa?”

“Karena kamu nggak tahu siapa yang bersembunyi di balik jaringan itu.”

“Kamu juga nggak tahu.”

“Aku tahu lebih banyak.”

“Itu bukan alasan buat mutusin semuanya sendirian.”

Al berdiri, lalu berjalan ke jendela. Dia terlihat seperti ingin pergi dari percakapan itu sebelum emosinya ikut bicara.

Aku mengikuti sampai jarak kami hanya beberapa langkah. “Kamu bilang kami nggak boleh berdiri di luar ketika kamu ngadepin sesuatu yang besar. Sekarang kamu ngelakuin hal yang sama.”

Bahunya menegang.

“Aku nggak minta kamu biarin aku jalan ke bahaya tanpa perlindungan,” lanjutku. “Aku minta kamu biarin aku milih peranku.”

Al memejamkan mata sebentar.

“Kalau aku bilang nggak?”

“Aku tetap pergi.”

“Clara.”

“Aku serius.”

Dia menoleh. Tatapannya membuatku sadar betapa takutnya dia. Bukan takut pada serangan, bukan takut kehilangan uang atau identitas. Dia takut sesuatu terjadi padaku dan dia tidak bisa mengendalikan hasilnya.

“Aku nggak suka ini,” katanya.

“Aku juga nggak suka.”

“Kamu bakal berada dalam pengamanan.”

“Oke.”

“Kamu nggak bakal bergerak sendiri.”

“Oke.”

“Kalau ada sesuatu yang aneh, kamu keluar dari ruangan.”

“Aku bakal mikirin.”

“Clara.”

“Aku bakal keluar.”

Dia baru terlihat sedikit tenang.

Rapat dewan berlangsung di lantai dua puluh satu gedung Wijaya Group. Aku datang bersama Al, dua petugas keamanan, dan dokumen yang sudah kusiapkan semalaman.

Victor sudah menunggu di dalam. Jasnya rapi, senyumnya tenang, dan di sampingnya duduk Yudi, salah satu anggota dewan yang biasanya tidak pernah bicara sebelum melihat arah angin.

“Kamu bawa orang luar ke rapat internal?” tanya Victor.

“Al konsultan keamanan.”

“Dia nggak terdaftar dalam agenda.”

“Sekarang terdaftar.”

Victor tersenyum tipis. “Kamu selalu suka ngubah aturan.”

“Aku lebih suka ngubah aturan daripada biarin orang makainya buat ngambil alih perusahaan.”

Beberapa anggota dewan mulai berbisik.

Victor menampilkan laporan di layar. “Serangan yang terjadi tadi malam buktiin sistem kita nggak aman. Saya ngusulin penggantian total vendor teknologi dan pembentukan komite darurat di bawah pengawasan saya.”

“Asterion adalah perusahaan yang kamu usulkan,” kataku. “Mereka terhubung sama vendor yang lagi diselidikin.”

“Nggak ada bukti mereka terlibat dalam kejadian ini.”

“Aku belum bilang mereka terlibat. Aku bilang kita nggak boleh nyerahin akses sebelum audit selesai.”

Al berdiri di belakangku tanpa menyela. Aku bisa merasakan tatapannya setiap kali seseorang mengangkat suara.

Ponselku bergetar.

Pesan baru muncul dari nomor tak dikenal.

Jangan membuat rapat ini terlalu lama. Kami sudah melihat dari dalam.

Jari-jariku menegang.

Al melihat perubahan wajahku. Aku tidak menoleh, hanya mematikan layar dan menggeser ponsel ke arahnya ketika dia berdiri di samping kursiku.

Dia membaca pesan itu.

“Keluar,” bisiknya.

“Belum.”

“Sekarang.”

“Kalau aku keluar, Victor bakal mimpin keputusan.”

“Clara.”

Aku berdiri dan menatap seluruh ruangan.

“Sebelum keputusan dibikin, saya mau semua anggota dewan nandatanganin persetujuan audit independen. Nggak ada perubahan vendor, nggak ada akses darurat, dan nggak ada pengalihan server sebelum sumber serangan ditemuin.”

Victor bangkit. “Kamu nggak bisa maksain itu.”

“Aku nggak maksa. Aku ngingetin bahwa perusahaan ini masih punya pemilik.”

Helena masuk tepat ketika suasana mulai memanas. Wajahnya terlihat lelah, tetapi suaranya tetap tegas.

“Clara benar. Nggak ada keputusan besar hari ini.”

Victor menatapnya dengan marah yang cepat disembunyikan.

Rapat ditunda. Begitu pintu tertutup, Al menarikku ke lorong.

“Kamu hampir bikin dirimu jadi sasaran langsung.”

“Aku emang sasaran.”

“Itu bukan sesuatu yang bisa kamu katakan dengan tenang.”

“Kalau aku panik, mereka menang.”

Al mengusap wajahnya. “Kamu benar-benar keras kepala.”

“Kamu baru sadar?”

“Aku udah sadar dari hari pertama.”

Kami naik ke rooftop setelah keamanan memastikan area itu kosong. Angin sore menerpa rambutku dan membuat kepalaku sedikit lebih jernih.

“Kamu marah?” tanyaku.

“Iya.”

“Karena aku nggak menurut?”

“Karena aku peduli.”

Kalimat itu sederhana, tetapi membuat semua pembelaan yang kusiapkan hilang.

Aku berdiri di depannya. “Kalau kamu peduli, jangan cuma jagain aku dari jauh.”

Al menatapku. “Aku lagi belajar.”

“Belajar cepat.”

“Kamu nggak ngasih banyak waktu.”

Aku tersenyum kecil, lalu mencium dia.

Ciuman itu tidak terburu-buru. Aku ingin dia mengerti bahwa aku tidak sedang meminta izin untuk hidup. Aku sedang mengajaknya berjalan di sisiku.

Ketika kami berpisah, tangannya masih berada di pinggangku.

“Kamu jadiin dirimu umpan,” katanya.

“Terus kamu dateng nangkep aku.”

“Aku nggak mau nangkep kamu. Aku mau kamu nggak perlu jatuh.”

“Kalau gitu, pastikan aku nggak sendirian.”

Al menciumku lagi, lebih dalam, sampai pikiranku berhenti memikirkan rapat, Victor, dan pesan ancaman.

Di saku jasnya, ponsel bergetar.

Al memeriksa layar.

Wajahnya langsung berubah.

“Apa?” tanyaku.

Dia menyerahkan ponselnya kepadaku.

Kalian berdua terlihat serasi. Sayang, kamera di rooftop juga aktif.

Aku melihat ke sudut gedung.

“Kalau kamera itu aktif, berarti mereka mau kita tahu bahwa kita lagi diawasin,” kataku.

“Atau mereka mau kita takut,” jawab Al.

“Aku nggak bakal biarin mereka nentuin cara kita bergerak.”

Al menatapku. “Kamu nggak harus selalu jadi orang yang paling berani.”

“Aku nggak berusaha jadi paling berani. Aku cuma nggak mau jadi orang pertama yang mundur.”

Dia menggenggam tanganku. “Kalau keadaan berubah, kamu ikut perintahku.”

“Kalau perintahmu masuk akal.”

“Clara.”

“Oke. Aku bakal ikut perintahmu selama kamu juga dengerin keputusanku.”

Al mengangguk. Kami berdiri cukup lama di rooftop, bukan sebagai dua orang yang sedang bermain umpan dan penjaga, melainkan sebagai dua orang yang sadar bahwa keputusan berikutnya bisa menentukan nasib banyak orang.

Untuk pertama kalinya hari itu, aku menyadari bahwa umpan yang kami pasang mungkin bukan untuk menangkap mereka.

Mungkin sejak awal, kami yang sedang diarahkan.